
Seorang Petugas Kepolisian yang ditugaskan sebagai supir yang akan membawa Richard ketahanan kejaksaan tampak berdiri menunggu di samping mobilnya yang masih parkir di halaman parkir gedung kantor kepolisian.
Dengan diam diam, Gavlin menyelinap dari belakang petugas polisi, lalu, dengan cepat, Gavlin menyergap dan menggorok leher petugas polisi tersebut.
Gavlin lantas memindahkan tubuh petugas polisi yang sudah menjadi mayat tersebut. Dia membawanya pergi dari tempat itu, sambil berjalan dengan mengendap endap agar tak diketahui orang orang.
Gavlin menyelinap jalan mendekati mobilnya yang juga parkir tak jauh dari mobil si petugas polisi yang baru saja dia bunuh, lalu, Gavlin memasukkan mayat petugas polisi ke dalam bagasi mobilnya. Lantas, Gavlin cepat membuka dan melucuti seluruh pakaian serta topi petugas kepolisian yang sudah menjadi mayat.
Dengan cepat, Gavlin berganti pakaian, dia memakai baju seragam milik petugas polisi yang mati. Gavlin lalu bergegas kembali ke mobil petugas polisi. Dia menyamar menjadi supir yang akan membawa Richard nantinya.
Gavlin nekat, dia tahu, Richard akan di pindahkan dari tahanan kepolisian ke tahanan kejaksaan untuk menjalani persidangan kasus yang dia lakukan. Untuk itu Gavlin sudah merencanakan dengan matang semuanya. Dia sengaja menyamar menjadi salah satu petugas polisi, agar dia bisa membawa dan meringkus Richard saat dalam perjalanan.
Gavlin tahu, akan ada pengawalan dari pihak kepolisian, dan Andre pasti menugaskan anak buahnya untuk mengawal Richard hingga sampai ke tahanan kejaksaan. Namun, Gavlin tak gentar, dia tak takut, apalagi khawatir, sebab, dia sudah merencanakan semuanya.
Gavlin tampak tenang, berdiri di samping mobil dengan memakai seragam dinas kepolisian dan menutupi kepalanya dengan topi. Gavlin juga menambahkan aksesoris kumis dan jambang panjang di wajahnya, untuk menyamarkan dirinya, agar tak diketahui dan tak ada yang mengenali wajahnya.
Tak berapa lama, keluar Richard bersama dua petugas tahanan kepolisian yang tadi membawa Richard dari dalam sel tahanan. Dan di luar, di halaman gedung kantor kepolisian, sudah ada dua petugas polisi lainnya yang berdiri menunggu. Mereka lengkap membawa senjatanya. Dan mereka lah yang ditugaskan Andre untuk mengawal Richard selama berada dalam perjalanan menuju tahanan kejaksaan.
Richard di bawa kemobil Gavlin yang menunggu. Gavlin cepat membuka pintu belakang mobilnya. Lalu, ke dua petugas polisi segera membawa masuk Richard ke dalam mobil.
Dengan tangan yang diborgol, Richard masuk ke dalam mobil, dia duduk di jok belakang mobil dan di apit oleh kedua petugas tahanan kepolisian yang duduk di samping kanan dan kirinya.
Kedua petugas tahanan kepolisian tak menyadari, bahwa supir sudah berganti orang, dan sekarang, Gavlin lah yang bertindak sebagai supir mereka.
Sementara, Dua polisi bersenjata lengkap yang ditugasi mengawal juga masuk ke dalam mobil mereka, yang juga terparkir di dekat mobil Gavlin.
Gavlin lantas bergegas masuk ke dalam mobilnya, dia duduk di jok depan, di belakang stir mobil, dan bertindak sebagai supir yang akan membawa Richard ke kantor kejaksaan.
Tak berapa lama, Mobil Gavlin pun bergerak, lalu berjalan pergi meninggalkan halaman parkir, mobil dua petugas polisi yang mengawal lantas mengikutinya dari belakang.
Gavlin mengendarai mobil tersebut, dari kaca spion depan di dalam mobilnya, mata Gavlin melirik ke arah Richard yang duduk dibelakang dengan di apit dua petugas polisi.
Gavlin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya, di belakang mobilnya, mobil pengawal melaju mengikuti.
Selama di dalam mobil, Richard tampak diam, wajahnya kaku, dan tampak jelas raut wajahnya menyiratkan ketakutan dan juga rasa menyesal yang mendalam.
Richard takut, dirinya akan tersiksa selama berada dalam tahanan nantinya dan mendapatkan hukuman mati atas perbuatannya, di sisi lain, Richard menyesal, karena dia mudah panik dan kalap, hingga tak sadarkan diri sudah menembak empat polisi dan juga istrinya sendiri.
Gavlin terus menyetir mobilnya, terlihat bibir Gavlin tersungging, dia tersenyum sinis melihat Richard yang diam saja di belakang, bagaikan anjing yang kehilangan giginya dan mengalami sakit keras.
---
Jack dan Herman sedang berkumpul bersama Peter di sebuah restoran kelas mewah, mereka sedang bicara serius.
__ADS_1
"Hari ini, kata anak buahku yang menjadi mata mata di timnya Andre, Richard akan di pindahkan ke tahanan kejaksaan dari tahanan kantor polisi." jelas Peter, dengan wajahnya yang serius.
"Ya, Karena Richard akan menjalani sidang pertama kasusnya. Aku sudah menanda tangani surat pelaksanaan persidangan, dan aku juga sudah menunjuk jaksa penuntut yang akan mengurus kasus Richard." jelas Jack, serius.
"Ya, Hakim, Jaksa, sudah kita tugaskan untuk memberi vonis hukuman mati, atau seumur hidup pada Richard." tegas Herman.
"Lantas, bagaimana dengan rencana kita membantai Richard saat nanti dalam tahanan khusus?" tanya Peter, dengan wajahnya yang serius.
"Tetap kita jalani seperti rencana kita semula. Di pengadilan, itu kan hanya tuntutan yang akan di berikan pihak hakim dan Jaksa, selanjutnya, terserah kita kan?" ujar Herman santai.
"Iya, benar katamu. Biar pun Richard nanti di vonis hukuman mati atau seumur hidup, tetap dia akan kita bunuh!" tegas Peter.
"Iya." jawab Herman mengangguk.
Mereka bertiga tampak senang, karena musuh bebuyutan mereka, yakni Richard dengan sendirinya tertangkap oleh kejahatan dan kebodohan yang dia lakukan.
Mereka bertiga lupa dengan Gavlin, mereka terlalu focus dengan Richard sehingga melupakan Gavlin yang diam diam tetap mengintai dan memburu mereka bertiga.
---
Mobil yang membawa Richard masih melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya, di ikuti mobil dua petugas polisi yang mengawal di belakang.
Mobil yang di kendarai Gavlin lantas berbelok di perempatan jalan, melaju ke arah kanan, ke tempat tujuan, dimana kantor kejaksaan bertempat.
Mobil melaju di jalanan yang rusak, jalanan itu sepi, tidak lebar dan juga tidak sempit. Namun, jalanan tersebut hanya bisa di lalui mobil mobil kecil saja, truk tak akan bisa masuk ke jalanan tersebut, karena akan menghabisi badan jalan.
Gavlin melirik Richard dari kaca spion depan mobilnya, dia melihat Richard masih diam duduk di jok belakang.
Di belakang, kedua petugas polisi yang mengawal tampak serius, mata mereka terus melihat ke depan, mengawasi mobil di depan yang membawa Richard.
Salah seorang petugas polisi yang mengawal memegang pistolnya, dia memeriksa peluru di dalam pistol, peluru terisi penuh. Dia sengaja memeriksa pistolnya, karena saat ini mereka berada dijalanan yang sangat sepi, dan jarang di lalui kendaraan kendaraan lainnya.
Memang jalan ini, jalanan yang lebih cepat untuk sampai ke kantor kejaksaan, jika mereka tetap melalui jalan raya, akan lama sampainya, sebab, jalan raya ramai dan macet. Sementara, Richard harus tiba di tahanan kejaksaan tepat waktu, seperti yang sudah ditetapkan pihak kejaksaan.
Mobil terus melaju, meluncur dijalanan yang sepi, sambil menyetir mobilnya, diam diam Gavlin menekan tombol dari remote mini yang dari tadi di genggamnya ditangannya.
Sesaat setelah Gavlin menekan tombol remote mini ditangannya, tiba tiba terdengar suara ledakan dari arah belakang.
Kedua petugas tahanan kepolisian dan Richard tersentak kaget mendengar suara ledakan keras, Gavlin juga berpura pura kaget, dengan cepat dia menghentikan mobilnya.
Mereka semua yang ada di dalam mobil melihat kearah belakang, kedua petugas tahanan kepolisian melihat, mobil dua petugas polisi yang mengawal meledak, hancur di jalanan. Gavlin tersenyum sinis, melihat mobil meledak.
Kedua petugas tahanan kepolisian panik, melihat mobil yang mengawal mereka meledak, dan dua petugas polisi yang ada di dalam mobil mati seketika, terkena ledakan bom yang menghantam keras.
Belum sempat mereka keluar dari dalam mobil, dan mereka berdua focus pada mobil yang meledak, mereka tak menyadari, jika Gavlin sudah mengarahkan pistolnya pada mereka berdua.
"Hei, kalian !!" bentak Gavlin.
__ADS_1
Kedua petugas tahanan kepolisian sama sama menoleh ke arah depan mobil, mereka melihat Gavlin sudah menodongkan pistolnya pada mereka berdua.
Tanpa basa basi, Gavlin langsung menembak kepala kedua petugas tahanan kepolisian. Richard tersentak kaget, dia takut, melihat kedua petugas tahanan kepolisian ditembak , tepat di sampingnya.
"Ss...si..apa...kamu...!!" tanya Richard, dengan gugup dan wajah yang ketakutan.
Gavlin tersenyum sinis, dia mengarahkan pistol ditangannya ke wajah Richard yang ketakutan, panik dan gemetaran.
Perlahan lahan, Gavlin melepaskan jambang dan kumis palsunya, lalu, dia membuka topi yang dipakainya.
"Apa kabar Richard?" Sapa Gavlin, dengan wajah kaku dan sikap dinginnya.
Richard syock, dia kaget melihat Gavlin ada tepat dihadapannya sambil menodongkan pistol pada dirinya.
"Sudah aku bilang Richard, aku akan secepatnya menemuimu lagi." ujar Gavlin tersenyum sinis.
"Apa kamu mau menculikku?!" tanya Richard dengan wajah yang penuh ketakutan.
Richard berusaha melepaskan borgol yang ada ditangannya, dia mau melarikan diri, namun usahanya sia sia, sebab, dia tak bisa membuka borgolnya.
Richard semakin panik melihat Gavlin menyeringai jahat menatap wajahnya. Sorot mata Gavlin tajam, dan sangat mengerikan. Richard tak berani berlama lama menatap wajah sadis dan kejam Gavlin, dia takut melihat Gavlin.
"Aku menyelamatkanmu dari tahanan kejaksaan, Richard. Kenapa kamu gak berterima kasih padaku?" ujar Gavlin tersenyum sinis.
"Apa? Jadi, kamu sengaja merencanakan ini semua, untuk menolongku?" ujar Richard dengan wajah seriusnya.
"Mengapa kamu berubah pikiran dan lantas mau menolongku, agar aku gak dijebloskan ke penjara?!" tanya Richard lagi, dengan wajah penasaran dan ingin tahu.
Richard terlihat senang, karena dia mengira, Gavlin benar benar sengaja datang untuk menolong dan menyelamatkan dirinya.
Dia tak tahu, apa yang ada dalam pikiran Gavlin, dan rencana apa yang akan di jalani Gavlin pada Richard nantinya.
"Aku sengaja memasang ranjau bom bom di sekitar jalanan ini, karena aku tau, untuk lebih cepat ke kantor kejaksaan dari kantor polisi pusat, hanya ini jalan satu satunya jalan pintas, yang lebih cepat dari jalanan lainnya." jelas Gavlin.
"Aku lantas meledakkan bom bom yang kupasang, agar polisi yang mengawal mati, dan kamu aman." lanjut Gavlin, dengan wajah seriusnya.
"Terima kasih, Vlin." ujar Richard, dengan wajah senang.
"Jangan senang dulu Richard, karena akan ada sesuatu yang akan ku berikan padamu." jelas Gavlin dingin.
"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Richard heran.
"Ke Neraka !!" ujar Gavlin.
Gavlin lantas menghantamkan gagang pistol ditangannya dengan kuat ke kepala Richard. Kepala Richard mendapatkan hantaman dan pukulan berkali kali dari gagang pistol hingga mengeluarkan darah segar, lalu, Richard pun pingsan.
Gavlin tersenyum sinis, lalu, dia segera menjalankan mobilnya, pergi dari jalanan tersebut.
__ADS_1
Sementara, mobil petugas polisi yang meledak terlihat mulai terbakar, dan dua petugas polisi mati di dalam mobil dan tubuh mereka berdua pun lantas ikut terbakar oleh kobaran api yang sudah menjalar dengan cepatnya membakar mobil yang hancur dan meledak tersebut.
Mobil Gavlin meluncur dan sudah menjauh dari mobil yang meledak tersebut.