VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Akhirnya, Bertemu Jalal


__ADS_3

Andre berdiri di ruang tamu rumah Binsar, para anak buahnya masih sibuk menggeledah seluruh ruangan di dalam rumah Binsar. Namun, mereka tak juga menemukan keberadaan Binsar beserta keluarganya.


Masto lalu segera menghampiri Andre yang berdiri menunggu di ruang tamu, Andre melihat kedatangan Masto yang menghampirinya.


"Bagaimana?" tanya Andre, menatap serius wajah Masto yang berdiri dihadapannya.


"Hmm...begitu." Gumam Andre.


"Sepertinya pak Binsar dan keluarganya memang benar benar sudah pergi keluar negeri secara diam diam, Pak." ujar Masto, mencoba menjelaskan pada Andre.


"Ya, sepertinya begitu." ucap Andre


"Ya, sudah , tarik mundur pasukan, kita segera pergi dari sini." ujar Andre.


"Siap, Pak." ujar Masto, memberi hormat.


Lalu, Masto bergegas pergi meninggalkan Andre yang masih berdiri menunggu kembalinya timnya dari menggeledah rumah Binsar.


Tak berapa lama, tim Andre sudah berkumpul, mereka berdiri berbaris dihadapan Andre, menunggu perintah, Masto ada diantara mereka.


"Kita pergi sekarang." ujar Andre, pada timnya.


12 tim kepolisian memberi hormat pada Andre, lalu, mereka bergegas jalan mengikuti Andre yang sudah berjalan lebih dulu keluar dari dalam rumah Binsar. Paling belakang, Masto berjalan ikut keluar bersama pasukan kepolisian.


Andre terus berjalan menuju ke mobilnya, dia cuek saja melewati para pengawal Binsar yang masih pada berdiri menunggu dihalaman rumah.


Andre masuk ke dalam mobilnya, para pasukan kepolisian dan juga Masto pun lantas masuk juga ke mobil mereka masing masing.


Para Pengawal Binsar yang ditugaskan menjaga rumah Binsar mengamati Andre dan timnya. Mereka melihat, mobil Andre bergerak lalu melaju pergi meninggalkan halaman rumah Binsar di ikuti dengan mobil mobil unit Kepolisian dan juga mobil Masto.


Setelah kepergian Andre dan pasukannya, pimpinan pengawal memberi perintah.


"Kembali ke posisi kalian masing masing!" tegas Pemimpin Pengawal Pribadi Binsar.


"Siap !" Ujar Para Pengawal , secara serentak.


Lalu mereka bergegas kembali ke tempatnya masing masing , untuk melaksanakan tugasnya, menjaga rumah Binsar.


---


Di belakang pasar, tempat tongkrongan Jalal dan pasukannya, bisa di bilang, lokasi tersebut adalah markas Jalal dan pasukannya.


Gavlin masih mengintai dan mengamati para pembunuh bayaran yang asik bermain catur di halaman depan markas tersebut.


Gavlin mulai bete , sudah beberapa jam dia menunggu dan mengintai, namun, tanda tanda Jalal datang tidak ada, Gavlin masih penasaran dengan sosok Jalal.


Karena jenuh lama berdiam diri dalam pengintaiannya, Gavlin akhirnya memutuskan untuk menemui para pembunuh bayaran yang sedang serius bermain kartu tersebut.


Gavlin mengambil dua pistol dari pinggangnya, lalu, dia bergegas berjalan menghampiri para pembunuh bayaran yang duduk di rusbang halaman rumah sambil bermain kartu.


Salah seorang diantara pembunuh bayaran melihat kedatangan Gavlin , dia kaget melihat di kedua tangan Gavlin memegang pistol.


Namun, belum sempat dia mengam bil senjatanya yang tergeletak disamping dan memberi tahu teman temannya yang serius bermain kartu, tiba tiba saja Gavlin menembakkan pistolnya ke arah dirinya.


Seketika, Pembunuh bayaran yang melihat kedatangan Gavlin mati, tergeletak di atas rusbang, tubuhnya menindih kartu kartu.


Para Pembunuh bayaran yang sedang bermain kartu terperanjat kaget mendengar suara letusan senjata, lalu, mereka semakin kaget saat melihat teman mereka tewas dengan luka tembak di kepalanya.


Mereka lantas melihat ke arah Gavlin, Gavlin sambil berjalan mendekati terus menembakkan peluru dari pistolnya.


Para pembunuh bayaran itu pun tergeletak di rusbang, ada yang terjatuh ke tanah , mereka tewas seketika karena di tembak Gavlin.


Seorang Pembunuh bayaran lainnya keluar dari dalam rumah yang di jadikan markas tersebut, karena mendengar suara tembakan dia langsung keluar sambil memegang senjata ditangannya.


Gavlin melihatnya keluar dari dalam rumah, dan Gavlin langsung menyerangnya, Gavlin menembak, dan tembakannya mengenai tangan si pembunuh bayaran hingga senjata terlepas dari tangannya.


Dengan gerak cepat, Gavlin segera menghampiri pembunuh bayaran itu, lalu, dia menodongkan pistolnya di kepala pembunuh bayaran.


"Katakan, dimana Jalal?!" ujar Gavlin.


Pembunuh bayaran itu meringis memegang tangannya yang terluka akibat terkena tembakan peluru dari pistol Gavlin, dia juga takut, karena pistol Gavlin tengah menempel di dahinya.


"Pak Jalal sedang istirahat di kamarnya." ujar si Pembunuh Bayaran.


"Di mana tepatnya kamarnya?" tanya Gavlin, dengan tegas, sambil menatap tajam wajah si pembunuh bayaran yang ketakutan itu.


"Di kamar utama, kamar paling pojok." ujar si Pembunuh bayaran memberitahu keberadaan Jalal.


"Apa ada teman temanmu yang lain didalam rumah itu?" bentak Gavlin bertanya.


"Gak ada, semua sudah kamu bunuh, hanya tinggal aku saja dan pak Jalal dikamarnya." ujar si Pembunuh bayaran dengan wajah yang penuh ketakutan itu.


Gavlin pun tersenyum sinis , lalu, Gavlin pun lantas menembakkan pistolnya ke dahi si pembunuh bayaran itu hingga mati seketika dan tubuhnya terjatuh lalu tergeletak di tanah.


Di kamarnya, Jalal kaget mendengar suara tembakan dari arah halaman rumah, lalu, dengan cepat, Jalal meraih pistol dan pedangnya yang tergantung di dinding kamar.


Lalu, perlahan lahan Jalal keluar dari dalam kamarnya, dia lantas bersembunyi di belakang pintu ruang tengah.


Dari tempat persembunyiannya itu dia melihat Gavlin yang tengah masuk ke dalam rumah, Jalal pun bersiap siap untuk menyerang Gavlin.


Kemudian, dengan cepat, Gavlin segera masuk ke dalam rumah, markas Jalal dan pasukannya.


Saat dia berjalan hendak masuk ke dalam ruangan lainnya di dalam rumah, dan menuju kamar utama untuk mencari Jalal. Gavlin menghentikan langkahnya, dia tersenyum sinis melihat ke lantai ruangan.


Di lantai ruangan, ada bayangan seseorang yang tengah bersembunyi di balik pintu dengan memegang senjata, Gavlin mengira senjata itu golok dan pistol.


Lalu, secara perlahan lahan, Gavlin pun melangkahkan kakinya, dia berjalan mendekati Jalal yang bersembunyi dibalik pintu.


Jalal mengintip sedikit, dia juga melihat bayangan Gavlin mendekat ke arahnya, dia bersiap siaga menyambut kedatangan Gavlin.


Saat Gavlin tiba di dekatnya, dengan cepat Jalal keluar dari persembunyiannya dan langsung menyerang Gavlin dengan pedang ditangannya.


Gavlin menghindar, dia tahu, kalau Jalal akan menyerangnya dengan melihat gerakan bayangan Jalal di lantai ruangan, karena itu Gavlin mudah menghindar dari tebasan pedang Jalal.


"Siapa kamu?! Mau apa kamu ke sini?!" bentak Jalal, menatap tajam wajah Gavlin.


Gavlin hanya diam saja tersenyum sinis berdiri dihadapan Jalal, jarak mereka tak jauh. Gavlin menatap tajam wajah Jalal yang memegang pedang ditangannya .


"Apa kamu Jalal?" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Jalal.


"Ya, aku Jalal. Ada perlu apa kamu mencariku?" hardik Jalal, penuh emosi marah.


"Aku datang karena ingin menyampaikan pesan dari Chandra. Katanya, dia kirim salam padamu." ujar Gavlin.

__ADS_1


"Chandra bilang, selamat bepergian ke neraka, dan dia minta maaf, karena gak bisa mengantarkanmu ke neraka, dan aku yang akan mengantarkanmu ke neraka!" tegas Gavlin menyeringai sadis menatap wajah Jalal.


"Keparaat kamu!!" bentak Jalal.


Jalal lantas menyerang Gavlin, dia menebaskan pedangnya kembali ke arah Gavlin, Gavlin melompat dan mundur menghindari tebasan pedang Jalal.


Melihat Jalal memakai Pedang, Gavlin pun tak mau berlama lama meladeni Jalal. Saat Jalal kembali menyerang dirinya dengan pedang di tangannya, dengan sikap dinginnya Gavlin menembakkan pistolnya ke arah kedua kaki Jalal.


Jalal pun langsung tersungkur jatuh, bersimpuh di lantai, lalu, Gavlin menembak lagi, kali ini dia menembak tangan Jalal, sehingga pedang terlepas dari genggamannya.


Jalal pun lantas meringis kesakitan, dia merintih dan menggerung gerung kesakitan, memegangi tangannya yang tertembak, serta kedua kakinya yang juga di tembak.


Gavlin dengan sikap tenang dan wajah dinginnya berjalan mendekati Jalal yang tersungkur bersimpuh di lantai ruangan karena terkena tembakan.


Lalu, Gavlin mengambil pedang milik Jalal yang tergeletak di lantai, kemudian, Gavlin mengarahkan pedang yang sudah ditangannya itu ke leher Jalal.


Jalal tersentak kaget, karena pedang menempel di lehernya, wajahnya pun langsung pucat pasi.


Sebagai pemimpin dari kelompok pembunuh bayaran dan mantan tentara, tetap saja, Jalal takut dengan kematian juga.


"Dimana Samsudin berada?" bentak Gavlin, menatap tajam wajah Jalal.


"Mau apa kamu bertanya tentang pak Samsudin?" tanya Jalal, menatap tajam wajah Gavlin yang berdiri tepat dihadapannya.


"Jangan balik tanya kalo aku sedang bertanya padamu, paham!!" bentak Gavlin.


"Jawab saja apa yang aku tanyakan, dan diam, jika kamu bertanya lagi, ku tebas lehermu dengan pedang ini!" bentak Gavlin penuh amarah.


Jalal pun lantas diam, dia takut dengan ancaman Gavlin yang akan menebas lehernya dengan pedang ditangan Gavlin.


Jalal tahu, kalau pedang itu sangat tajam sekali, dan sudah banyak korban yang dia bunuh dengan pedang tersebut.


"Cepat katakan, dimana Samsudin?!!" bentak Gavlin, dengan nada keras dan penuh emosi amarah.


"Baik, baik, akan aku katakan. Aku gak hafal nama jalannya, kalo kamu mau, aku bisa mengantarkan kamu ke tempat persembunyiannya." ujar Jalal, menatap lekat wajah Gavlin.


"Kamu jangan coba coba menipuku Jalal !! Kalo kamu nanti mengarahkan aku ke tempat lain, dan bukan ke tempat persembunyian Samsudin, kamu akan ku bunuh!!" bentak Gavlin, mengingatkan dan mengancam Jalal.


"Aku pasti akan mengantarkan kamu ke sana, aku gak tau nama nama jalannya, tapi, aku hafal dan tau jalan ke lokasi persembunyian pak Samsudin itu!" tegas Jalal menjelaskan pada Gavlin.


"Baiklah, kalo begitu, kita pergi kesana sekarang!!" tegas Gavlin.


"Gimana aku bisa berjalan? Kedua kakiku terluka parah, karena kamu menembaknya. Dengan apa aku berjalan?!" tanya Jalal, menatap tajam wajah Gavlin.


Gavlin terdiam, untuk sesaat dia berfikir, lalu, Gavlin melihat kalau Jalal memakai ikat pinggang di celananya.


"Lepaskan ikat pinggangmu itu!" ujar Gavlin.


Jalal melihat ikat pinggangnya, lalu, dengan cepat, dia pun melepaskan ikat pinggang dari celananya, dengan satu tangannya. Setelah dia melepaskan ikat pinggangnya, dia pun memberikannya pada Gavlin.


Gavlin mengambil ikat pinggang dari tangan Jalal, lalu, dengan cepat, dia mengikatkan ikat pinggang tersebut ke leher Jalal, Ikatannya terlihat kuat. Jalal terlihat sedikit susah bernafas.


Lalu, Gavlin berdiri sambil tetap memegang pedang ditangannya, sementara, di tangan lainnya pistol juga masih di pegangnya.


Kemudian, Gavlin langsung menyeret Jalal, dia menarik ikat pinggang yang melingkar terikat di leher Jalal. Jalal pun terjatuh kelantai, lalu, dia terseret dibawa Gavlin.


Gavlin menyeret Jalal terus keluar dari dalam rumah, bagaikan menarik seekor kambing saja, Gavlin menyeret tubuh Jalal ke mobilnya. Jalal meronta ronta kesakitan, karena lehernya tercekik ikat pinggang yang mengikat kuat di lehernya, Gavlin tak perduli Jalal berteriak teriak, dia terus menyeret Jalal, membawanya ke mobilnya yang dia sembunyikan tak jauh dari tempat markas Jalal dan komplotannya itu.


Gavlin dan Jalal pergi meninggalkan markas, di halaman markas, tergeletak mayat mayat anak buah Jalal yang di bunuh Gavlin. Andre berdiri di ruang tamu rumah Binsar, para anak buahnya masih sibuk menggeledah seluruh ruangan di dalam rumah Binsar. Namun, mereka tak juga menemukan keberadaan Binsar beserta keluarganya.


Masto lalu segera menghampiri Andre yang berdiri menunggu di ruang tamu, Andre melihat kedatangan Masto yang menghampirinya.


"Bagaimana?" tanya Andre, menatap serius wajah Masto yang berdiri dihadapannya.


"Hmm...begitu." Gumam Andre.


"Sepertinya pak Binsar dan keluarganya memang benar benar sudah pergi keluar negeri secara diam diam, Pak." ujar Masto, mencoba menjelaskan pada Andre.


"Ya, sepertinya begitu." ucap Andre


"Ya, sudah , tarik mundur pasukan, kita segera pergi dari sini." ujar Andre.


"Siap, Pak." ujar Masto, memberi hormat.


Lalu, Masto bergegas pergi meninggalkan Andre yang masih berdiri menunggu kembalinya timnya dari menggeledah rumah Binsar.


Tak berapa lama, tim Andre sudah berkumpul, mereka berdiri berbaris dihadapan Andre, menunggu perintah, Masto ada diantara mereka.


"Kita pergi sekarang." ujar Andre, pada timnya.


12 tim kepolisian memberi hormat pada Andre, lalu, mereka bergegas jalan mengikuti Andre yang sudah berjalan lebih dulu keluar dari dalam rumah Binsar. Paling belakang, Masto berjalan ikut keluar bersama pasukan kepolisian.


Andre terus berjalan menuju ke mobilnya, dia cuek saja melewati para pengawal Binsar yang masih pada berdiri menunggu dihalaman rumah.


Andre masuk ke dalam mobilnya, para pasukan kepolisian dan juga Masto pun lantas masuk juga ke mobil mereka masing masing.


Para Pengawal Binsar yang ditugaskan menjaga rumah Binsar mengamati Andre dan timnya. Mereka melihat, mobil Andre bergerak lalu melaju pergi meninggalkan halaman rumah Binsar di ikuti dengan mobil mobil unit Kepolisian dan juga mobil Masto.


Setelah kepergian Andre dan pasukannya, pimpinan pengawal memberi perintah.


"Kembali ke posisi kalian masing masing!" tegas Pemimpin Pengawal Pribadi Binsar.


"Siap !" Ujar Para Pengawal , secara serentak.


Lalu mereka bergegas kembali ke tempatnya masing masing , untuk melaksanakan tugasnya, menjaga rumah Binsar.


---


Di belakang pasar, tempat tongkrongan Jalal dan pasukannya, bisa di bilang, lokasi tersebut adalah markas Jalal dan pasukannya.


Gavlin masih mengintai dan mengamati para pembunuh bayaran yang asik bermain catur di halaman depan markas tersebut.


Gavlin mulai bete , sudah beberapa jam dia menunggu dan mengintai, namun, tanda tanda Jalal datang tidak ada, Gavlin masih penasaran dengan sosok Jalal.


Karena jenuh lama berdiam diri dalam pengintaiannya, Gavlin akhirnya memutuskan untuk menemui para pembunuh bayaran yang sedang serius bermain kartu tersebut.


Gavlin mengambil dua pistol dari pinggangnya, lalu, dia bergegas berjalan menghampiri para pembunuh bayaran yang duduk di rusbang halaman rumah sambil bermain kartu.


Salah seorang diantara pembunuh bayaran melihat kedatangan Gavlin , dia kaget melihat di kedua tangan Gavlin memegang pistol.


Namun, belum sempat dia mengam bil senjatanya yang tergeletak disamping dan memberi tahu teman temannya yang serius bermain kartu, tiba tiba saja Gavlin menembakkan pistolnya ke arah dirinya.


Seketika, Pembunuh bayaran yang melihat kedatangan Gavlin mati, tergeletak di atas rusbang, tubuhnya menindih kartu kartu.

__ADS_1


Para Pembunuh bayaran yang sedang bermain kartu terperanjat kaget mendengar suara letusan senjata, lalu, mereka semakin kaget saat melihat teman mereka tewas dengan luka tembak di kepalanya.


Mereka lantas melihat ke arah Gavlin, Gavlin sambil berjalan mendekati terus menembakkan peluru dari pistolnya.


Para pembunuh bayaran itu pun tergeletak di rusbang, ada yang terjatuh ke tanah , mereka tewas seketika karena di tembak Gavlin.


Seorang Pembunuh bayaran lainnya keluar dari dalam rumah yang di jadikan markas tersebut, karena mendengar suara tembakan dia langsung keluar sambil memegang senjata ditangannya.


Gavlin melihatnya keluar dari dalam rumah, dan Gavlin langsung menyerangnya, Gavlin menembak, dan tembakannya mengenai tangan si pembunuh bayaran hingga senjata terlepas dari tangannya.


Dengan gerak cepat, Gavlin segera menghampiri pembunuh bayaran itu, lalu, dia menodongkan pistolnya di kepala pembunuh bayaran.


"Katakan, dimana Jalal?!" ujar Gavlin.


Pembunuh bayaran itu meringis memegang tangannya yang terluka akibat terkena tembakan peluru dari pistol Gavlin, dia juga takut, karena pistol Gavlin tengah menempel di dahinya.


"Pak Jalal sedang istirahat di kamarnya." ujar si Pembunuh Bayaran.


"Di mana tepatnya kamarnya?" tanya Gavlin, dengan tegas, sambil menatap tajam wajah si pembunuh bayaran yang ketakutan itu.


"Di kamar utama, kamar paling pojok." ujar si Pembunuh bayaran memberitahu keberadaan Jalal.


"Apa ada teman temanmu yang lain didalam rumah itu?" bentak Gavlin bertanya.


"Gak ada, semua sudah kamu bunuh, hanya tinggal aku saja dan pak Jalal dikamarnya." ujar si Pembunuh bayaran dengan wajah yang penuh ketakutan itu.


Gavlin pun tersenyum sinis , lalu, Gavlin pun lantas menembakkan pistolnya ke dahi si pembunuh bayaran itu hingga mati seketika dan tubuhnya terjatuh lalu tergeletak di tanah.


Di kamarnya, Jalal kaget mendengar suara tembakan dari arah halaman rumah, lalu, dengan cepat, Jalal meraih pistol dan pedangnya yang tergantung di dinding kamar.


Lalu, perlahan lahan Jalal keluar dari dalam kamarnya, dia lantas bersembunyi di belakang pintu ruang tengah.


Dari tempat persembunyiannya itu dia melihat Gavlin yang tengah masuk ke dalam rumah, Jalal pun bersiap siap untuk menyerang Gavlin.


Kemudian, dengan cepat, Gavlin segera masuk ke dalam rumah, markas Jalal dan pasukannya.


Saat dia berjalan hendak masuk ke dalam ruangan lainnya di dalam rumah, dan menuju kamar utama untuk mencari Jalal. Gavlin menghentikan langkahnya, dia tersenyum sinis melihat ke lantai ruangan.


Di lantai ruangan, ada bayangan seseorang yang tengah bersembunyi di balik pintu dengan memegang senjata, Gavlin mengira senjata itu golok dan pistol.


Lalu, secara perlahan lahan, Gavlin pun melangkahkan kakinya, dia berjalan mendekati Jalal yang bersembunyi dibalik pintu.


Jalal mengintip sedikit, dia juga melihat bayangan Gavlin mendekat ke arahnya, dia bersiap siaga menyambut kedatangan Gavlin.


Saat Gavlin tiba di dekatnya, dengan cepat Jalal keluar dari persembunyiannya dan langsung menyerang Gavlin dengan pedang ditangannya.


Gavlin menghindar, dia tahu, kalau Jalal akan menyerangnya dengan melihat gerakan bayangan Jalal di lantai ruangan, karena itu Gavlin mudah menghindar dari tebasan pedang Jalal.


"Siapa kamu?! Mau apa kamu ke sini?!" bentak Jalal, menatap tajam wajah Gavlin.


Gavlin hanya diam saja tersenyum sinis berdiri dihadapan Jalal, jarak mereka tak jauh. Gavlin menatap tajam wajah Jalal yang memegang pedang ditangannya .


"Apa kamu Jalal?" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Jalal.


"Ya, aku Jalal. Ada perlu apa kamu mencariku?" hardik Jalal, penuh emosi marah.


"Aku datang karena ingin menyampaikan pesan dari Chandra. Katanya, dia kirim salam padamu." ujar Gavlin.


"Chandra bilang, selamat bepergian ke neraka, dan dia minta maaf, karena gak bisa mengantarkanmu ke neraka, dan aku yang akan mengantarkanmu ke neraka!" tegas Gavlin menyeringai sadis menatap wajah Jalal.


"Keparaat kamu!!" bentak Jalal.


Jalal lantas menyerang Gavlin, dia menebaskan pedangnya kembali ke arah Gavlin, Gavlin melompat dan mundur menghindari tebasan pedang Jalal.


Melihat Jalal memakai Pedang, Gavlin pun tak mau berlama lama meladeni Jalal. Saat Jalal kembali menyerang dirinya dengan pedang di tangannya, dengan sikap dinginnya Gavlin menembakkan pistolnya ke arah kedua kaki Jalal.


Jalal pun langsung tersungkur jatuh, bersimpuh di lantai, lalu, Gavlin menembak lagi, kali ini dia menembak tangan Jalal, sehingga pedang terlepas dari genggamannya.


Jalal pun lantas meringis kesakitan, dia merintih dan menggerung gerung kesakitan, memegangi tangannya yang tertembak, serta kedua kakinya yang juga di tembak.


Gavlin dengan sikap tenang dan wajah dinginnya berjalan mendekati Jalal yang tersungkur bersimpuh di lantai ruangan karena terkena tembakan.


Lalu, Gavlin mengambil pedang milik Jalal yang tergeletak di lantai, kemudian, Gavlin mengarahkan pedang yang sudah ditangannya itu ke leher Jalal.


Jalal tersentak kaget, karena pedang menempel di lehernya, wajahnya pun langsung pucat pasi.


Sebagai pemimpin dari kelompok pembunuh bayaran dan mantan tentara, tetap saja, Jalal takut dengan kematian juga.


"Dimana Samsudin berada?" bentak Gavlin, menatap tajam wajah Jalal.


"Mau apa kamu bertanya tentang pak Samsudin?" tanya Jalal, menatap tajam wajah Gavlin yang berdiri tepat dihadapannya.


"Jangan balik tanya kalo aku sedang bertanya padamu, paham!!" bentak Gavlin.


"Jawab saja apa yang aku tanyakan, dan diam, jika kamu bertanya lagi, ku tebas lehermu dengan pedang ini!" bentak Gavlin penuh amarah.


Jalal pun lantas diam, dia takut dengan ancaman Gavlin yang akan menebas lehernya dengan pedang ditangan Gavlin.


Jalal tahu, kalau pedang itu sangat tajam sekali, dan sudah banyak korban yang dia bunuh dengan pedang tersebut.


"Cepat katakan, dimana Samsudin?!!" bentak Gavlin, dengan nada keras dan penuh emosi amarah.


"Baik, baik, akan aku katakan. Aku gak hafal nama jalannya, kalo kamu mau, aku bisa mengantarkan kamu ke tempat persembunyiannya." ujar Jalal, menatap lekat wajah Gavlin.


"Kamu jangan coba coba menipuku Jalal !! Kalo kamu nanti mengarahkan aku ke tempat lain, dan bukan ke tempat persembunyian Samsudin, kamu akan ku bunuh!!" bentak Gavlin, mengingatkan dan mengancam Jalal.


"Aku pasti akan mengantarkan kamu ke sana, aku gak tau nama nama jalannya, tapi, aku hafal dan tau jalan ke lokasi persembunyian pak Samsudin itu!" tegas Jalal menjelaskan pada Gavlin.


"Baiklah, kalo begitu, kita pergi kesana sekarang!!" tegas Gavlin.


"Gimana aku bisa berjalan? Kedua kakiku terluka parah, karena kamu menembaknya. Dengan apa aku berjalan?!" tanya Jalal, menatap tajam wajah Gavlin.


Gavlin terdiam, untuk sesaat dia berfikir, lalu, Gavlin melihat kalau Jalal memakai ikat pinggang di celananya.


"Lepaskan ikat pinggangmu itu!" ujar Gavlin.


Jalal melihat ikat pinggangnya, lalu, dengan cepat, dia pun melepaskan ikat pinggang dari celananya, dengan satu tangannya. Setelah dia melepaskan ikat pinggangnya, dia pun memberikannya pada Gavlin.


Gavlin mengambil ikat pinggang dari tangan Jalal, lalu, dengan cepat, dia mengikatkan ikat pinggang tersebut ke leher Jalal, Ikatannya terlihat kuat. Jalal terlihat sedikit susah bernafas.


Lalu, Gavlin berdiri sambil tetap memegang pedang ditangannya, sementara, di tangan lainnya pistol juga masih di pegangnya.


Kemudian, Gavlin langsung menyeret Jalal, dia menarik ikat pinggang yang melingkar terikat di leher Jalal. Jalal pun terjatuh kelantai, lalu, dia terseret dibawa Gavlin.

__ADS_1


Gavlin menyeret Jalal terus keluar dari dalam rumah, bagaikan menarik seekor kambing saja, Gavlin menyeret tubuh Jalal ke mobilnya. Jalal meronta ronta kesakitan, karena lehernya tercekik ikat pinggang yang mengikat kuat di lehernya, Gavlin tak perduli Jalal berteriak teriak, dia terus menyeret Jalal, membawanya ke mobilnya yang dia sembunyikan tak jauh dari tempat markas Jalal dan komplotannya itu.


Gavlin dan Jalal pergi meninggalkan markas, di halaman markas, tergeletak mayat mayat anak buah Jalal yang di bunuh Gavlin.


__ADS_2