VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Siapa Orang yang di Maksud Wicaksono?


__ADS_3

Wicaksono tersenyum dan lalu ikut duduk di lantai, disamping Chandra, dia juga merangkul tubuh Chandra, mencoba memberikan suasana akrab dan kenyamanan pada Chandra.


"Jadi, kamu Chandra." ucap Wicaksono.


"Ya. Apa Bapak kenal saya?" tanya Chandra, menoleh dan menatap wajah Wicaksono yang masih merangkulnya.


"Tidak secara langsung seperti ini, aku tau nama kamu dari seseorang , dia yang kenal kamu." ujar Wicaksono, tersenyum penuh arti menatap wajah Chandra.


"Orang itu datang berkunjung menemuiku di rumah tahanan ini, lalu, dia bilang, akan ada seseorang yang akan di pindahkan ketahanan ini, namanya Chandra." ungkap Wicaksono, melepaskan rangkulannya dari tubuh Chandra.


"Saat kamu masuk ke dalam sini tadi, aku perhatikan, ciri cirinya sama dengan yang dijelaskan orang itu, makanya aku tau, itu kamu yang dimaksudnya." ujar Wicaksono, memberi penjelasan pada Chandra.


"Oh, begitu, siapa orang itu?" tanya Chandra, menatap wajah Wicaksono yang tersenyum penuh arti memandang wajahnya.


"Itu rahasia, belum saatnya kamu tau, nanti saja. Kamu akan tau." ucap Wicaksono, berdiri sambil tersenyum.


Chandra diam, dia menatap wajah Wicaksono yang sudah berdiri dihadapannya, lalu, Wicaksono berbalik badan dan berjalan mendekati Gentong dan Pijar.


"Gentong, pijitin aku!" ujar Wicaksono.


"Siap, Bos." Jawab Gentong.


Dengan cepat, Gentong langsung berjalan ke belakang Wicaksono, dan lantas, dia mulai memijat punggung Wicaksono yang duduk di lantai itu.


Chandra di pojokan diam memperhatikan mereka bertiga, raut wajahnya masih menunjukkan rasa penasaran dengan orang yang tadi di katakan Wicaksono.


"Siapa orang yang katanya kenal aku itu? Apakah dia berencana mau membunuhku, dan menyuruh pak Wicaksono ?" Gumam bathin Chandra bicara.


"Kalo gitu, aku harus hati hati dan waspada, jangan sampai lengah dan dibunuh dalam sel ini." lanjut suara hati Chandra.


Chandra terus menatap wajah Wicaksono yang duduk dilantai sedang menikmati pijatan Gentong. Sementara Pijar hanya diam saja memainkan karet gelang ditangannya.


Mobil Adiwinata meluncur dijalan raya, lalu, saat di persimpangan jalan, Adiwinata berbelok ke kiri jalan. Lalu mobil melaju menyusuri jalanan.


Suasana jalanan yang saat ini di lalui Adiwinata sepi, hanya beberapa kendaraan yang terlihat berlalu lalang lewat dijalan yang dilalui Adiwinata.


Adiwinata terus saja menyetir mobilnya dengan tenang dan santainya, mobil terus melaju, hingga, saat mobilnya tiba di ujung jalan. Adiwinata heran, karena di depannya, ada mobil yang memalang di tengah jalan, menghalangi jalannya.


Dengan cepat Adiwinata lantas menghentikan mobilnya, mobil berhenti tepat di depan mobil yang memalang ditengah jalan.


Ada dua orang yang berdiri tegak di depan mobil bersiap siap dengan memegang pistol ditangannya masing masing.


Dari dalam mobil, Adiwinata melihat kedua orang yang berdiri menghadang jalannya, nalurinya berkata, bahwa dia saat ini tengah berada dalam bahaya, dan nyawanya sedang terancam, sebab, dia melihat, kedua orang itu memegang pistol ditangannya. Seperti bersiap siap hendak menembak.


Adiwinata lalu perlahan membuka dashboard mobilnya, lantas, dia mengambil pistol yang memang sudah di siapkannya untuk berjaga jaga dan melindungi dirinya.


Saat dia memegang pistol ditangannya dan menutup kembali dashboard mobilnya, dia kaget, karena Ramon berdiri disamping mobil sambil mengetuk ketuk keras kaca pintu depan mobilnya.


Adiwinata membuka sedikit kaca pintu depan, lalu, dia melihat keluar , Ramon sedikit mundur dan membungkuk, agar Adiwinata melihatnya dengan jelas.


"Apa kabar, pak mantan Presiden?" ujar Ramon, berbasa basi.


"Mau apa kamu?" tanya Adiwinata dengan tegas.


"Tolong keluar, Pak." ujar Ramon, dengan nada tegas, sambil mengarahkan pistolnya pada kaca pintu depan mobil.


"Baik." jawab Adiwinata.


Lalu, Adiwinata segera keluar dari dalam mobilnya, kemudian, dia berdiri tepat dihadapan Ramon. Adiwinata menatap tajam wajah Ramon.


"Ada apa kamu menghadang jalanku?" tanya Adiwinata dengan suara lantang dan tegasnya.

__ADS_1


Ramon diam tak menjawab, dia hanya tersenyum sinis melirik wajah Adiwinata yang menatapnya tajam.


Lalu, Ramon melirik pada kedua anak buahnya dan memberikan isyarat, kedua anak buahnya langsung menodongkan pistol ke arah Adiwinata, dan Ramon mundur tiga langkah, berdiri di belakang kedua anak buahnya.


Adiwinata cepat mengangkat pistol dan mengarahkannya juga pada kedua anak buah Ramon. Ramon tersenyum sinis melihat Adiwinata yang ternyata punya pistol juga.


"Jangan coba coba menembak, Saya gak akan segan segan menembak kalian!" bentak Adiwinata dengan wajah geram, sambil mengarahkan pistolnya pada kedua anak buah Ramon.


"Ternyata, Bapak sudah siap siaga." ujar Ramon tersenyum sinis.


"Dapat salam dari pak Binsar, Pak." ucap Ramon tersenyum sinis.


Ramon tiba tiba saja menembak kaki Adiwinata. Adiwinata langsung jatuh tersungkur di tanah, karena kakinya di tembak Ramon secara tiba tiba.


Lalu, seorang anak buah Ramon langsung menendang tangan Adiwinata yang memegang pistol, Pistol pun lantas terlepas dari genggaman tangan Adiwinata , seorang anak buah Ramon langsung menendang pistol milik Adiwinata, membuangnya jauh.


Adiwinata yang tersungkur ditanah meringis menahan sakitnya, dia melihat, kakinya terluka dan mengeluarkan darah segar, Adiwinata menatap tajam wajah Ramon yang berdiri tersenyum sinis melihatnya.


"Dasar pengecut !!" ucap Adiwinata penuh kebencian dan amarah menatap tajam wajah Ramon.


"Habisi dia!!" ujar Ramon pada kedua anak buahnya.


Kedua anak buah Ramon mengangguk, mengiyakan perintah Ramon, lalu, keduanya pun lantas bersiap siap memegang pistol ditangannya masing masing dan diarahkan kepada Adiwinata yang bersimpuh di tanah, karena tak bisa berdiri, sebab kakinya tertembak.


Ramon lalu berbalik badan, dia pergi meninggalkan Adiwinata yang tersungkur bersimpuh ditanah, dia membiarkan dan memberikan kesempatan pada kedua anak buahnya untuk mengeksekusi Adiwinata saat ini juga.


Lalu, kedua anak buah Ramon melepaskan tembakannya, mereka berdua menembak Adiwinata. Terkena tembakan beberapa kali, Adiwinata pun langsung jatuh tersungkur dan rebah ditanah. Dari keningnya yang bolong terkena peluru, keluar darah segar.


Seketika itu juga, Adiwinata tewas di bunuh dua anak buah Ramon, dari depan mobil, Ramon berdiri menyaksikan kematian Adiwinata.


Dia tersenyum puas, karena sudah menyelesaikan tugas yang diberikan Binsar kepadanya. Lalu, Ramon segera mengambil ponselnya, dia memotret mayat Adiwinata yang sudah berlumuran darah dan tak bernyawa di tanah.


Ramon segera menghubungi Binsar, dia juga mengirimkan photo mayat Adiwinata, sebagai bukti, bahwa Adiwinata sudah dihabisinya.


"Ya, saya sudah liat photonya, kerja yang bagus. Segera kembali ke tempat saya." ujar Binsar, bicara dari seberang telepon.


"Baik, Pak." jawab Ramon diteleponnya.


Ramon menutup telepon dan menyimpannya ke dalam kantong celananya, dia kemudian memanggil kedua anak buahnya yang masih berdiri didepan mayat Adiwinata.


"Ayo pergi!!" ujar Ramon memberi perintah.


"Bagaimana dengan mayatnya?" tanya salah seorang anak buah Ramon.


"Biarkan saja, nanti juga ada yang liat dan mengamankannya, tugas kita udah selesai!" tegas Ramon padà anak buahnya.


"Baiklah." jawab salah seorang anak buah Ramon.


Lalu, Ramon bersama kedua anak buahnya bergegas masuk ke dalam mobil, kemudian , mobil pun langsung berjalan pergi meninggalkan lokasi pembunuhan Adiwinata.


"Tinggal satu lagi tugasku, membunuh Gavlin." Gumamnya didalam mobil.


Ramon tersenyum sinis, dia yakin, pasti bisa membunuh Gavlin dengan mudah, dan dia sudah tak sabar bertemu Gavlin, dan segera menghabisinya.


Ramon terlihat meremehkan Gavlin, dia sama sekali tak tahu dan tak mengenal siapa sesungguhnya sosok Gavlin itu.


Keesokan harinya , masyarakat umum kembali di gegerkan dengan berita eksklusif. Hampir seluruh media televisi dan media cetak seperti surat kabar dan majalah mengabarkan berita eksklusif itu.


Ya, berita duka cita, kematian mantan Presiden Adiwinata yang di bunuh secara sadis, di tembak di jalanan yang sepi.


Di televisi terlihat, saat saat petugas penyidik kepolisian datang kelokasi kejadian pembunuhan, dan terlihat dari tayangan televisi, mayat Adiwinata dibawa petugas medis dengan menggunakan kereta dorong , lalu di masukkan ke dalam mobil ambulance, sementara petugas forensik tengah sibuk menyelidiki sekitar lokasi, mereka mencari jejak jejak dan bukti bukti pembunuhan, mencari tahu, siapa pelakunya yang telah membunuh mantan Presiden Adiwinata.

__ADS_1


Di ruang kerjanya, Andre terhenyak kaget, saat dia mendapatkan kabar dari Masto yang datang ke lokasi pembunuhan bersama tim penyidik kepolisian.


Andre sama sekali tak menyangka bahwa korban pembunuhan yang ditemukan salah seorang warga yang sedang lewat dijalan sepi dengan mengendarai motornya adalah Adiwinata, sang mantan Presiden, yang baru saja meletakkan jabatannya dan memberi pernyataan di kantor polisi.


Andre duduk terdiam di kursi kerjanya, dia yang memang sedang menunggu kedatangan Adiwinata untuk menjalani interogasi lagi terhenyak. Dia syock, sama sekali tak menyangka, Adiwinata mati dibunuh.


"Ini pasti ulahnya Binsar !!" Gumam Andre, dengan wajah geram dan menahan amarah.


"Ya, aku yakin, pasti Binsar yang memberi perintah membunuh pak Adiwinata karena berkhianat pada organisasi Inside dan mengundurkan diri jadi presiden, aku yakin itu!" tegas Andre, bicara pada dirinya sendiri.


"Binsar sudah semakin keterlaluan dan merajalela, ini gak bisa di biarkan, Binsar harus segera dihentikan !!" ujarnya, dengan wajah penuh amarah.


Lalu, Andre mengambil kunci mobilnya dari dalam laci meja kerjanya, kemudian, dia bergegas pergi keluar dari dalam ruang kerjanya.


Bukan hanya di luaran dan masyarakat umum saja yang digegerkan dengan kematian Adiwinata, mantan Presiden mereka.


Tapi , di dalam rumah tahanan juga. Para Narapidana yang tengah berkumpul diruang makan dan sedang menikmati makanannya dikejutkan dengan berita yang ada di televisi, mengabarkan tentang kematian Adiwinata, Sang Mantan Presiden.


"Gila !! Nekat orang yang membunuhnya ! Langsung ditembak dijalanan sepi!!" ujar Gentong, sambil menatap televisi yang sedang menyiarkan berita kematian Adiwinata yang dibunuh secara sadis.


Wicaksono yang duduk disamping Gentong dan Pijar diam saja, dia melirik wajah Chandra yang terdiam duduk di kursinya, dihadapan Wicaksono.


"Kamu kaget dengan berita itu,Chan?" tanya Wicaksono pada Chandra.


Chandra sebenarnya kaget, dia juga tak menyangka , Adiwinata dibantai dijalanan yang sepi.


"Sedikit kaget, tapi aku tau pelakunya." ucap Chandra dengan suara datar dan sikap dinginnya.


"Siapa?" tanya Wicaksono menatap tajam wajah Chandra.


Wicaksono ingin tahu, karena penasaran dengan perkataan Chandra yang mengatakan bahwa dia tahu pelakunya.


Chandra melirik lalu menatap tajam wajah Wicaksono yang bertanya pada dirinya, ada kecurigaan dalam diri Chandra, dia masih belum bisa percaya sepenuhnya pada Wicaksono yang terkesan misterius orangnya.


"Siapa pelakunya?" tanya Wicaksono lagi, ingin tahu.


"Kamu penasaran, mau tau?" tanya Chandra, menatap tajam wajah Wicaksono yang penasaran itu.


"Ya, aku mau tau." ucap Wicaksono serius dan bersungguh sungguh.


"Apa kamu juga salah satu anggota Inside? Yang ditugaskan akan membunuhku juga?!" tanya Chandra menatap sinis wajah Wicaksono.


Wicaksono tersentak kaget, sementara Gentong masih serius melihat televisi, dan Pijar asyik sendiri menikmati makanannya.


"Kenapa kamu menuduhku?" tanya Wicaksono.


"Aku curiga padamu, sepertinya semua sudah diatur dengan baik, dan aku sengaja ditempatkan satu sel denganmu, agar kamu mudah mengawasi, lalu membunuhku!" tegas Chandra, menatap sinis pada Wicaksono.


Wicaksono tersenyum, lalu, tiba tiba saja dia tertawa terbahak bahak, Wicaksono lalu menatap tajam wajah Chandra yang melihatnya dengan raut wajah serius.


"Kamu salah Chandra, aku gak tau bagaimana organisasi Inside, aku gak kenal siapa saja orang orang Inside." ujar Wicaksono tertawa.


"Kamu pasti curiga padaku, karena aku bilang, ada seseorang yang datang menemuiku, dan bilang kamu akan ditahan di sini, benarkan?" ujar Wicaksono, menatap wajah Chandra.


"Ya." jawab Chandra tegas.


"Orang itu gak ada hubungannya dengan organisasi Inside, musuhmu itu, orang yang menemuiku itu malah menjadi musuh besar Inside, Chandra!" ungkap Wicaksono serius, menjelaskan.


"Kamu jangan bohongi aku! Kalo bukan orang Inside, siapa dia!!" tegas Chandra bertanya.


"Maaf, atas permintaannya, untuk saat ini aku belum bisa kasih tau kamu, tapi aku janji, nanti, aku pasti akan menjelaskan semuanya padamu, dan mengatakan siapa orang itu." tegas Wicaksono.

__ADS_1


Chandra terdiam dan berfikir, dia bertanya tanya, siapa orang yang dimaksud Wicaksono. Chandra sangat penasaran, dia ingin tahu siapa orangnya, tapi, Wicaksono tak mau memberitahunya.


__ADS_2