
Saat ini, sedang di langsungkan acara pemakaman Mulyono, Makam Mulyono ditempatkan tepat di samping makam anaknya dan istri anaknya.
Istri Mulyono terlihat menangis berdiri di samping makam, dia ditemani istri Richard dan juga Richard, dan Gatot bersama Maya juga hadir di pemakaman Mulyono.
Sangat banyak yang menghadiri proses pemakaman Mulyono, yang seorang tokoh dan pejabat penting negara, banyak para pejabat pejabat, anggota anggota parlemen, serta para jajaran mentri, dan juga dari kepolisian hadir , menyaksikan pemakaman Mulyono.
Tampak istri Mulyono terus menangis dengan sedihnya, dia sangat sedih, karena harus kehilangan orang tersayangnya, yakni suami dan anak semata wayangnya.
Istri Richard mengusap usap lembut punggung istri Mulyono, dia mencoba untuk memberikan ketenangan pada istri Mulyono, agar tidak terus meratapi kematian Mulyono dan anaknya.
Di kejauhan, di atas gundukan tanah yang tinggi, tampak Gavlin berdiri melihat ke arah makam. Maya melihat Gavlin.
"Gavlin datang, Yah." Bisik Maya di telinga Gatot.
"Dimana dia?" tanya Gatot, berbisik di telinga Maya.
"Liat lurus ke depan, di atas gundukan tanah yang tinggi itu." ujar Maya berbisik kembali.
Gatot pun lantas melihat Gavlin yang sedang berdiri di gundukan tanah yang tinggi sambil mengamati sekitar makam.
"Kenapa Gavlin berani datang ke pemakaman, Kalo ada yang melihat dan mengenalinya, dia bisa dapat masalah." bisik Gatot pada Maya.
"Entah, aku gak tau." bisik Maya.
Lalu, para pejabat yang hadir di pemakaman tampak membubarkan diri, satu persatu mereka pulang dan menyalami serta mengucapkan duka cita dan belasungkawa kepada istri Mulyono.
Semua yang hadir sudah pergi meninggalkan pemakaman, hanya tinggal Istri Mulyono besert istri Richard dan Richard.
Gatot dan Maya lantas menyalami istri Mulyono, mereka berdua juga mengucapkan duka cita dan belasungkawa atas meninggalnya Mulyono dan anaknya, Gatot menyemangati istri Mulyono agar kuat, tegar dan tabah serta ikhlas menerima kepergian Mulyono dan anaknya.
Istri Mulyono yang masih terisak menangis sedih mengucapkan terima kasih pada Gatot dan Maya, lalu, Maya dan Gatot pun segera pergi dari pemakaman.
Tinggal lah istri Mulyono dan Richard serta istri Richard, Istri Richard menatap lembut wajah Istri Mulyono.
"Kita pulang yuk, Mbakyu. Biar KangMas Mul istirahat dengan tenang bersama Minto dan istri Minto." ujar Istri Richard.
Istri Richard berhubungan baik dengan istri Mulyono, sebab, antara dirinya dan Mulyono ada hubungan saudara.
Istri Mulyono pun menuruti perkataan Istri Richard, lantas, mereka pun pergi meninggalkan makam Mulyono dan anaknya, Richard juga pergi, dia berjalan di depan Istrinya dan istri Mulyono.
Maya dan gatot masuk ke dalam mobil, Maya yang menyetir mobil, karena mereka datang ke pemakaman dengan memakai mobil Maya.
Saat Maya menyalakan mesin mobil dan bersiap siap menjalankan mobilnya, tiba tiba pintu di buka, lalu, dengan cepat, Gavlin masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang mobil.
Gatot yang duduk di depan, disamping Maya yang menyetir mobil menoleh ke belakang, dia kaget melihat Gavlin.
"Gavlin?!" ujar Gatot, kaget.
Maya pun lantas menoleh ke belakang melihat Gavlin yang duduk di jok belakang mobil.
"Kenapa kamu nekat datang ke sini, Vlin?" tanya Maya.
"Aku mau melihat, apa diantara orang yang datang, ada komplotan Herman juga datang." jelas Gavlin.
"Satu pun dari komplotan Herman gak ada yang datang ke pemakaman, perwakilannya saja gak ada!" ujar Gatot geram.
Gavlin pun diam mendengarkan penjelasan Gatot, dia tampak sedang memikirkan sesuatu, Maya lantas menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Mobil pun lalu berjalan pergi meninggalkan pemakaman, mobil melaju di jalanan.
Maya terus menyetir mobilnya di jalan raya yang cukup ramai dan padat.
"Sebenarnya, apa yang terjadi, Om? Kenapa Pak Mentri meninggal?" tanya Gavlin, ingin tahu.
"Awalnya, Pak Mulyono memaksa untuk ikut aku dan Richard mendatangi kantor Herman buat menggeledah kantornya mencari bukti buku data kasus 18 tahun yang di palsukan Herman tanggal kadaluwarsanya." jelas Gatot.
"Sudah ku duga, ini semua permainan Herman! Karena aku sangat ingat jelas, kapan tanggal kejadian itu terjadi, Om. Aku ada catatannya! Makanya aku gak percaya kalo kasus Bapakku sudah kadaluwarsa, karena habis jangka waktunya!" Ujar Gavlin.
"Masih tersisa waktu 2 minggu lebih lagi, sebelum benar benar kadaluwarsa!" tegas Gavlin.
"Ya, kamu benar, Vlin." ujar Gatot.
Maya terus menyetir mobilnya, sambil tetap menyimak pembicaraan Gavlin dan Ayahnya di dalam mobil.
"Lantas, kenapa Pak Mulyono bisa meninggal?" tanya Gavlin lagi.
"Singkatnya, pas kami membawa Herman dari kantornya, Mulyono langsung menembak Herman, karena panik dan kaget, petugas polisi pun langsung menembaki pak Mulyono, karena pak Mulyono melepaskan tembakan pada Herman hingga membuat Herman terkapar." Jelas Gatot.
"Pak Mulyono pun mati di tempat, karena tubuhnya di penuhi lubang peluru peluru dari anggota kepolisian." ujar Gatot, menjelaskan.
"Lalu, Herman mati?" tanya Gavlin.
"Masih hidup . Dia berhasil melewati masa kritisnya, sekarang masih di rawat di rumah sakit, aku menugaskan anak buahku menjaga Herman, agar komplotannya gak bisa datang membawa Herman pergi!" Jelas Gatot dengan wajah serius.
"Di rumah sakit mana, Om?" tanya Gavlin.
"Nanti saja Om kasih tau, ya. Kamu tenang dulu, jangan langsung bertindak, serahkan Herman pada Om dan Pak Richard." jelas Gatot.
"Karena ulah Jafar, Bapakmu yang menanggung akibatnya!" tegas Maya.
Gavlin terdiam mendengarkan penjelasan Maya. Dia tampak berfikir, ada benarnya yang dikatakan Maya padanya.
"Kamu kejar Jafar, dan biarkan Herman serta komplotannya jadi urusan Ayahku dan Pak Richard, bagaimana pun, kamu kan harus membalas dendam sama Jafar!" tegas Maya.
"Ya, May. Kamu benar." ujar Gavlin.
"Tapi, Aku juga gak bisa mengabaikan Herman dan komplotannya yang tersisa, Mereka harus mendapatkan balasannya atas perbuatan jahat mereka pada Bapakku!" tegas Gavlin.
"Aku pasti akan membunuh mereka juga nanti, karena aku udah membunuh Prawira dan Dody, komplotan Herman." ujar Gavlin.
Gatot pun terdiam mendengar perkataan Gavlin, dia pun jadi tahu, kalau, Prawira dan Dody sudah di bunuh Gavlin. Maya pun diam mendengar perkataan Gavlin yang tetap ngotot mau membunuh Herman dan komplotannya.
"Sisakan Herman padaku, biar bagaimana pun Herman harus menjalani hukuman penjara, Vlin!" ujar Gatot.
"Hukuman yang pantas di berikan pada Herman dan komplotannya adalah hukuman mati, Om, bukan penjara ! Karena , kalo hanya di penjara aja, mereka pasti di bebaskan nantinya!" ujar Gavlin.
Gatot pun terdiam mendengar perkataan Gavlin, dia lantas tidak menanggapi Gavlin lagi, Gavlin tampak geram dan menahan amarahnya. Mobil Maya melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya.
---
Mobil Jafar berhenti dihalaman gedung perkantoran Bramantio, dia lantas segera keluar dari dalam mobilnya, lalu dia berjalan menuju kantor Bramantio.
Jafar menghentikan langkahnya, dia terdiam dan berdiri tepat di depan pintu masuk gedung perkantoran.
Di kaca pintu masuk, ada selembar kertas pengumuman yang menempel, Jafar pun membaca tulisan pengumuman di lembar kertas tersebut.
__ADS_1
"Kantor ini di Tutup dan Di Segel, Dalam penyitaan Bank!"
Begitu bunyi tulisan pengumuman yang di baca Jafar. Jafar pun tampak kesal.
"Kunyyyuuukkk!! Kantornya di sita Bank!! Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kamu kemana Braaam?!!" teriak Jafar, melampiaskan amarahnya.
"Keparaat!! Kalo kantornya juga di tutup begini, pasti semua barang barang dan harta Bramantio sudah di sita Bank!!" ujar Jafar geram.
"Siaaal!! Kalo begini, kemana aku cari uang?! Bisa mati kelaparan aku!!" ujar Jafar, kesal dan marah.
Dengan wajah penuh amarah, Jafar lantas berjalan ke mobilnya, lalu, dia pun masuk ke dalam mobilnya.
Sesaat kemudian, mobilnya pun meluncur pergi keluar dari halaman gedung perkantoran Bramantio.
Dengan wajah kesal dan marahnya, Jafar menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia mengebut di jalanan, melampiaskan kekesalan dan amarahnya serta kecewanya, sebab dia tidak mendapatkan uang yang sangat di butuhkannya.
"Kemana aku harus cari si Bram?!" ujar Jafar berfikir, sambil terus menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan.
---
Di ruang kerja Jack Hutabarat di gedung kantor Kejaksaan Agung, Peter datang menemui Jack. Wajahnya terlihat tegang dan panik.
"Herman di tembak Mulyono, Mensesneg ! Lalu, si Mulyono mati di tembak petugas polisi!" ujar Peter, dengan wajah serius.
"Kenapa Herman bisa di tembak Mulyono?" tanya Jack heran.
"Menurut informasi dari anggotaku, Richard dan Gatot datang membawa surat perintah penggeledahan dan penangkapan Herman." ujar Peter.
"Mereka memborgol Herman dan membawanya, Mulyono ternyata ikut dengan Richard, dia menunggu di luar, Lalu, Mulyono menembak Herman!" lanjut Peter menjelaskan.
"Lantas, Herman mati?" tanya Jack.
"Nggak, Herman masih hidup, dia tapi sekarat, dan di rawat di rumah sakit sekarang!" tegas Peter, dengan wajahnya yang serius.
"Kalo gitu, kita kerumah sakit sekarang, kita temui Herman di sana!" ujar Jack, dengan wajah cemasnya.
"Jangan Jack, kita jangan langsung ke sana!" ujar Peter.
"Loh, kenapa? Kamu gak mau liat Herman?" tanya Jack.
"Bukan begitu, Kita gak bisa langsung datang begitu saja kerumah sakit, soalnya, menurut anak buahku, Herman di jaga ketat oleh anak buah Gatot dan Richard!" jelas Peter.
"Sebelum kesana, kita harus mencari cara, bagaimana agar kita bisa melarikan Herman dari rumah sakit itu tanpa sepengetahuan anak buah Gatot dan Richard yang menjaganya!!" tegas Peter, menjelaskan.
"Oh, begitu rupanya!" ujar Jack.
"Jadi saat ini Herman dalam tahanan Gatot dan Richard?" ujar Jack geram.
"Ya, begitulah." jawab Peter, dengan wajahnya yang serius.
"Kamu punya ide, buat membebaskan Herman?" tanya Jack.
"Saat ini belum ada, tapi aku akan mencari cara, secepatnya akan ku kabari, jika aku udah menemukan ide buat membawa lari Herman dari rumah sakit!" tegas Jafar, dengan wajah Serius.
"Ok ! Sebaiknya , kamu cepat mendapatkan ide, agar Herman gak keburu di masukkan ke dalan penjara sama Richard!" tegas Jack serius.
"Ya." Angguk Peter.
__ADS_1