
Richard masuk ke dalam ruangan rumah bawah tanah Gavlin, dia heran, karena banyak sekali petugas polisi penyidik di dalam ruangan, ada juga para petugas medis dan tim forensik.
Richard melihat beberapa petugas medis membawa mayat mayat yang sudah menjadi patung, wajah Richard pun kaget, dia juga heran, mengapa ada mayat mayat di dalam rumah bawah tanah Gavlin.
Gatot yang melihat kedatangan Richard segera menghampiri Richard yang berdiri dengan wajah kebingungan.
"Ada apa ini? Mengapa banyak tim penyidik kepolisian dan petugas forensik? Terus, mayat mayat siapa itu yang dibawa petugas medis?!" tanya Richard dengan wajahnya yang heran dan bingung.
"Mayat mayat warga warga kampung rawas yang menghilang dari kamar jenazah!" tegas Gatot, menjelaskan pada Richard.
"Apa ?!! Kenapa ada di sini?!" tanya Richard kaget dan marah.
"Entahlah, sepertinya Gavlin yang membawanya, dan sengaja menyembunyikannya di ruang rahasia." jelas Gatot, dengan wajahnya yang serius.
"Ruang rahasia?!" Tanya Richard kaget.
"Ya. Ternyata, di dalam ruang bawah tanah ini, masih ada ruang bawah tanah lainnya lagi, yang digunakan Gavlin untuk menyembunyikan mayat mayat warga kampung rawas!" jelas Gatot.
"Kenapa Gavlin mencuri mayat warga warga kampung rawas?!" tanya Richard, dengan wajah penasarannya.
"Gavlin menjadi tersangka pembantaian dan pembakaran warga serta rumah rumah di kampung rawas ! Mungkin dia sengaja mencuri mayat mayat , karena takut jejaknya terlacak!" tegas Gatot.
"Keterlaluan Gavlin! Kalo dia pelaku pencurian mayat, Gavlin harus di tangkap !" tegas Richard dengan wajah marah.
"Kamu sabar dulu, biar aku bicara dengan Gavlin, aku akan menginterogasi Gavlin, mencari tau alasan dan maksud serta tujuannya mencuri lalu menyimpan mayat mayat itu di ruang rahasia dan dijadikannya patung lilin!" tegas Gatot, menjelaskan.
"Patung lilin? Gavlin buat patung lilin?!" tanya Richard semakin heran.
"Bukan, sepertinya dia bekerja sama dengan Yanto, si seniman pembuat patung lilin dalam menjalani aksi balas dendam Gavlin selama ini, dan hubungan mereka berdua, gak pernah kita ketahui!" jelas Gatot.
"Aku akan memaksa Gavlin untuk mengaku, jika dia bersekongkol dengan Yanto selama ini, dan mereka saling kenal aku akan menangkap mereka berdua nantinya!" tegas Gatot, dengan wajahnya yang serius.
"Baik, Kamu urus semuanya sampe beres, jika benar Gavlin pelakunya, jangan sampai dia dilepaskan begitu saja! Kamu harus menangkap Gavlin biar bagaimana pun juga!" tegas Richard, geram dan marah.
"Lantas, bagaimana kerjasama kita dengan Gavlin untuk menangkap Herman dan komplotannya?" tanya Gatot serius.
"Aaah, itu sudah bukan urusan Gavlin!! Gavlin sudah membuat saya kecewa !! Dia gak jujur !! Ternyata diam diam, dia yang mencuri mayat mayat dari ruang kamar jenazah!" tegas Richard, dengan wajah marah.
"Artinya, kita gak tinggal dan bersembunyi di sini lagi?" tanya Gatot.
"Ya, mau tidak mau, kita harus angkat kaki dari sini, saya akan mencarikan tempat persembunyian yang baru buat kamu dan anakmu!" jelas Richard, dengan wajah menahan marahnya.
"Kalo kita membiarkan perbuatan Gavlin, sama saja kita seperti Gavlin!!" tegas Richard.
"Saya mengajaknya kerjasama untuk menangkap Herman dan komplotannya, tapi bukan berarti, semua kejahatan Gavlin akan saya hapus! Dia tetap buronan kepolisian!!" tegas Richard marah.
Gatot terhenyak kaget mendengar perkataan Richard, Gatot tak menyangka, Richard hanya memanfaatkan Gavlin untuk menangkap Herman dan komplotannya, Gatot tampak terdiam, ada rasa kecewa di hatinya pada Richard.
__ADS_1
Gatot berfikir, Richard membuat kesepakatan sama Gavlin, dan jika Gavlin berhasil menangkap Herman dan komplotannya, maka Gavlin akan dibebaskan dari segala tuduhan kasus pembunuhan dan pembantaian yang selama ini di lakukan Gavlin.
"Cepat kemasi barang barang kalian, kita pergi dari sini! Saya gak mau ketemu Gavlin, bisa ngamuk saya sama Gavlin kalo liat mukanya!!" ujar Richard, penuh amarah.
"Iya." ujar Gatot getir.
Richard lantas bergegas keluar dari dalam rumah bawah tanah Gavlin, para petugas tim forensik masih sibuk menyelidiki dan mencari cari bukti bukti di dalam ruang rahasia, sementara, para petugas medis tampak sibuk mundar mandir membawa para mayat warga warga kampung rawas yang sebagian sudah menjadi patung lilin, dan sebagian masih tersisa badan manusianya.
Gatot menghela nafasnya dengan berat, dia menatap kepergian Richard yang tampak marah itu, Gatot tak bisa membantah Richard, sebab Richard adalah pimpinannya di kepolisian, Gatot pun lantas berbalik badan.
Saat dia hendak berjalan, dia tersentak kaget, karena Maya sudah berdiri dari tadi dibelakangnya, wajah Maya tampak sedih dan menunjukkan rasa penyesalan yang besar.
"Yah, Maya salah ya, kasih tau Ayah soal mayat mayat itu?" ujar Maya, dengan wajah sedihnya.
"Kamu gak salah, May. Tindakan kamu sudah benar dan tepat!" jelas Gatot, menenangkan Maya.
"Tapi, Gara gara ini semua, Pak Richard tadi marah marah, dia juga marah besar sama Gavlin, dan menugaskan Ayah untuk menangkap Gavlin!" tegas Maya.
"Kalau tau akhirnya Pak Richard marah dan benci sama Gavlin, lalu menjadi musuh, bahkan mau menangkap Gavlin, Maya gak mau bilang ke Ayah!" ujar Maya, dengan wajah sedih dan rasa menyesalnya.
"Maya benar benar menyesal !! Maya merasa bersalah!! Ini sama saja seperti Maya sudah mengkhianati kepercayaan Gavlin, Yah!" ujar Maya mulai menangis sedih.
"Maya secara gak langsung udah menyerahkan Gavlin pada Polisi untuk ditangkap !! Maya jahat sama Gavlin, Maya jahaaat!!" teriak Maya sambil menangis penuh penyesalan.
Suaranya yang keras, membuat para penyidik polisi, para petugas medis melihat ke arah Maya, mereka heran melihat Maya menangis dan berteriak di depan Gatot.
"Kamu gak salah, May. Kamu gak salah. Percayalah. Gavlin gak akan menyalahkan kamu karena semua ini!" ujar Gatot, memberi ketenangan pada Maya.
"Bagaimana kalo Gavlin marah dan benci sama Maya?!!" ujar Maya sambil menangis sedih.
"Gavlin gak akan marah, apalagi sampai membencimu, May. Kamu kan tau, Gavlin sangat mencintaimu selama ini." jelas Gatot, menenangkan sambil menepuk nepuk pelan punggung Maya.
Gatot lantas melepaskan pelukannya dari tubuh Maya, kemudian, dia menatap lekat wajah Maya yang menangis sedih dengan wajah penuh merasa bersalah dan menyesal pada Gavlin.
Gatot tersenyum lembut menatap wajah Maya, lalu, dihapusnya air mata Maya, Maya pun mencoba menarik nafasnya dan menenangkan dirinya.
"Kamu bereskan semua pakaianmu, ya. Kita pergi dari sini." ujar Gatot, tersenyum lembut.
"Kenapa harus pergi dari sini, Yah? Ini kan tempat aman?" tanya Maya heran.
"Ayah harus menuruti perintah pak Richard sebagai Pemimpin Ayah. Pak Richard gak mau ke sini lagi dan bertemu Gavlin." jelas Gatot, dengan wajah serius.
"Lantas, mau tinggal dimana kita? Balik kerumah kita gak akan aman, Yah. Apalagi Gavlin gak ada!" tegas Maya.
"Pak Richard akan mencarikan tempat persembunyian yang aman buat kita. Sudahlah, cepat kamu kemasi barang barangmu, Ayah juga mau berkemas." ujar Gatot, dengan wajah serius.
Para petugas medis dan tim forensik serta para penyidik kepolisian sudah selesai melakukan tugas mereka di dalam ruang rahasia dan rumah bawah tanah Gavlin.
__ADS_1
Salah seorang petugas penyidik kepolisian mendekati Gatot yang hendak pergi.
"Lapor, Pak. Semua sudah beres, kami izin balik ke markas!" ujar Petugas penyidik kepolisian.
"Ya, silahkan." jawab Gatot.
Lantas, Para petugas penyidik kepolisian pun pergi dari dalam rumah bawah tanah, seketika suasana di dalam ruangan hening dan sepi.
Semua para petugas penyidik kepolisian, petugas medis dan tim ahli forensik sudah pergi dengan membawa mayat mayat warga warga kampung rawas yang berjumlah puluhan itu.
Gatot menghela nafasnya dengan berat, lalu, dia pun berjalan menuju kamarnya untuk berbenah dan berkemas.
---
Mobil Gavlin masuk ke dalam garasi ruang bawah tanah rumahnya, Setelah mesin mobil dimatikannya, Dia pun keluar dari dalam mobilnya.
lalu, dengan tenang dan santai Gavlin berjalan masuk ke dalam ruang rumah bawah tanahnya.
Gavlin berjalan masuk ke ruang tengah, dia hendak duduk di sofa untuk menghilangkan rasa lelahnya, namun, matanya tertuju pada Lemari yang masih bergeser dan pintu rahasia terbuka, lemari itu tetap bergeser dan tidak pada tempatnya, sebab, para petugas penyidik kepolisian sengaja mengganjal lemari agar tidak menutup secara otomatis, saat para petugas medis membawa mayat mayat dari dalam ruang rahasia. Petugas penyidik kepolisian lupa menutup kembali lemari.
Gavlin pun terperanjat kaget, dia dengan cepat melompat dan berjalan mendekati lemari yang telah bergeser dan pintu rahasianya terbuka.
"Kurang ajaar!! Siapa yang membuka ini !!" bentak Gavlin, geram dan marah.
Dengan cepat Gavlin pun berlari dan masuk ke dalam ruang rahasianya itu.
Saat dia sudah berada di dalam ruang rahasia yang terang benderang sebab lampunya masih menyala dan tak dimatikan para petugas penyidik polisi, Gavlin semakin terperanjat kaget melihat seisi ruangan.
Ruangan itu sudah kosong melompong, tak ada lagi mayat mayat yang sudah dijadikannya patung di dalam ruang rahasia itu.
"Kepaaaaraaaattt!!! Siaaaalaaaan!!" teriak Gavlin, melampiaskan amarahnya di dalam ruang rahasia.
"Siapa yang lancang membawa mayat mayat itu dari sini?!!" Bentak Gavlin, dengan suaranya yang keras penuh amarah.
"Kalian berani mengacak ngacak rumahku, dan membawa pergi patung patung lilinku!! Akan ku bantaaai kalian, akan kucari kalian sampai ke dasar kerak neraaakaaa!!" teriak Gavlin, penuh emosi amarah yang telah memuncak.
Wajah Gavlin merah padam, dia sangat marah sekali, emosinya memuncak, dia tak terima, mayat mayat yang disimpannya di bawa pergi.
Gavlin benar benar marah, sorot matanya tajam , sangat mengerikan, dia tak bisa menahan emosinya yang sudah meledak dan meluap luap.
"Kalian kira, aku gak akan bisa menemukan kaliaaan?!!" teriak Gavlin, melampiaskan amarahnya.
"Aaaaarrrrgggghhhhh !!" teriak Gavin melepaskan amarahnya di dalam ruang rahasia tersebut.
Amarah Gavlin kali ini dua kali lipat dari biasanya jika dia marah, Gavlin sangat marah, karena mayat warga kampung rawas sangat penting dan berarti bagi dirinya.
Dengan menghilangnya mayat mayat yang sudah dijadikannya patung sebagian, itu membuat amarah Gavlin muncul. Dia tak terima, mayat mayat koleksinya di curi dan di bawa secara diam diam dari ruang rahasia rumah bawah tanahnya.
__ADS_1