VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terjun Bebas


__ADS_3

Gunadi tampak menemui Sutoyo di ruang kantornya. Ditangannya, dia memegang sebuah map yang berisi berkas berkas.


"Ini berkas riwayat hidup dan akte kelahiran Yanto, yang Bapak minta." ujar Gunadi.


Gunadi memberikan map berisi berkas pada Sutoyo, Sutoyo lantas mengambil map tersebut dari tangan Gunadi.


"Bagus, Gun!" Ujar Sutoyo, tersenyum senang.


"Dalam berkas itu lengkap tentang masa lalu Yanto, anak Sanusi, dan juga, di panti asuhan mana dia tinggal sebelum di adopsi." Jelas Gunadi, dengan wajah serius.


"Dia di adopsi?" Tanya Sutoyo, heran.


"Ya, Pak. Dia di adopsi dari panti asuhan, dan pindah ke luar negri bersama orang tua angkatnya." tegas Gunadi, menjelaskan.


Sutoyo mengangguk angguk mengerti dan paham, dia menatap berkas yang ada di tangannya, di dalam berkas, ada photo Yanto saat berumur 10 tahun.


"Ya, aku ingat wajah anak ini." Ujar Sutoyo, melihat photo Yanto kecil.


"Dari berkas itu tertulis Pak, bahwa yang membawa Yanto, anak Sanusi ke panti asuhan Gatot!" Tegas Gunadi.


"Gatot?!!" Sutoyo terhenyak kaget.


"Ya, sepertinya, Gatot menyelamatkan Yanto dari kebakaran rumahnya dulu, lalu membawanya ke panti asuhan, kemudian di adopsi keluarga lain." Ungkap Gunadi.


"Gatot?! Ternyata dia yang menyelamatkan anak Sanusi, pantas saja, anak itu masih hidup dan berkeliaran mau membalas dendam!" ujar Sutoyo, geram dan marah.


"Ini semua gara gara Gatot!! Kalo dia gak menyelamatkan anak Sanusi, kasus puluhan tahun itu pasti akan tetap membeku !" Tegas Sutoyo marah.


"Ada satu hal yang akan membuat Bapak kaget dan tak menyangka!" tegas Gunadi, menjelaskan.


"Apa itu?!" tanya Sutoyo, geram dan marah.


"Liat saja dalam berkas itu, Pak!" Ujar Gunadi.


"Jelaskan saja sama saya! Kamu kan udah liat dan baca berkas ini, buat apa saya baca, kalo kamu udah tau, lebih baik kamu bilang langsung ke saya!!" Hardik Sutoyo marah.


"Iya, Maaf Pak." ujar Gunadi memberi hormat.


"Yanto, anak Sanusi, di adopsi oleh satu keluarga yang sebelumnya juga sudah mengadopsi anak laki laki, Pak." Ujar Gunadi, menjelaskan.


"Lantas?" tanya Sutoyo, dengan wajah penasaran.


"Anak laki laki yang lebih dulu di adopsi itu Teguh, Pak ! Dari divisi Gatot !" Tegas Gunadi, memberi laporan.


"Teguuh?!!" Bentak Sutoyo marah.


"Kurang ajaar!! Pantas aja, selama ini, Yanto gak bisa mereka tangkap, ternyata mereka sengaja ngulur ngulur waktu, bahkan sengaja membiarkan Yanto balas dendam!!" Ujar Sutoyo, dengan emosi marah.


"Sepertinya begitu, Pak." Ujar Gunadi.


"Karena Teguh ternyata abang tiri Yanto, karena mereka sama sama di adopsi oleh keluarga yang sama!" tegas Gunadi, dengan wajahnya yang serius.


"Bedebaaah Teeguuuh!! Ini gak bisa di biarkan!!" Bentak Sutoyo, penuh amarah.


"Ok, mulai saat ini, kamu dan juga Rasid, awasi pergerakan Teguh!! Amati, dan cari tau, apa dia selama ini terus berhubungan dengan Yanto!!" Tegas Sutoyo.


"Pasti Teguh tau, dimana persembunyian Yanto itu!!" lanjut Sutoyo geram.


"Baik, Pak. Akan saya kerjakan!" tegas Gunadi.


"Kalo kamu udah tau, dimana persembunyian Yanto, segera tangkap dia!! Jangan biarkan dia lepas, atau melarikan diri, bila perlu, tembak di tempat!!" Tegas Sutoyo, memberi perintah.


"Baik, Pak!" ujar Gunadi, dengan wajah serius.


"Ya, sudah, sekarang, kerjakan tugasmu!" tegas Sutoyo.


"Oh,ya. Rasid dimana?!" tanya Sutoyo.


"Dia sedang bersama Gatot dan Teguh, Pak. Mencari tau, sejauh mana Gatot udah menemukan bukti bukti kejahatan Bramantio!" tegas Gunadi.


"Okay, bilang Rasid, kalo dia menemukan bukti yang mengarah pada Bramantio, atau pun saya, segera lenyapkan bukti bukti itu!" tegas Sutoyo, memberi perintah.


"Siap, Pak!" Ujar Gunadi.


"Ya, sudah, sana pergi!" Ujar Sutoyo.


Gunadi memberi hormat, lantas, dia pun segera pergi keluar dari dalam ruang kantor Sutoyo.


Setelah kepergian Gunadi, Sutoyo pun mengamuk, dia melemparkan berkas di atas meja.


"Keparaaat kalian Gatot, Teguh! Mau coba coba melawan kekuasaanku!! Akan ku hancurkan hidup kalian!! Kalian gak akan jadi polisi lagi!! Kalian akan jadi gembel yang sangat melaraaat!!" teriak Sutoyo, mengamuk marah.


---


Beberapa hari kemudian, tampak Rasid tengah berdiri di depan meja kerja Gatot, dia sedang melihat lihat berkas kasus milik Gatot, yang ada di atas meja. Gatot datang, dia pun tampak curiga melihat Rasid, yang seperti diam diam membaca laporan berkas kasus pembunuhan Sanusi.


"Ngapain kamu di mejaku?!" Hardik Gatot, dengan wajah kesal.


"Oh, cuma liat liat berkas kasus belasan tahun lalu aja." ujar Rasid, cuek.


"Buat apa?!" Tanya Gatot kesal.


"Aku kan udah jadi bagian tim kamu, jadi, wajar kan, aku mau tau, sudah sejauh mana, kamu menemukan bukti bukti pembunuhan dulu itu!" Ujar Rasid, dengan sikap cuek, dan santainya.

__ADS_1


"Kalo kamu tau, lantas, mau apa?!" tanya Gatot, curiga.


"Ya, nangkap penjahatnya, kan? Masa di biarkan aja!" ujar Rasid nyengir sinis.


Gatot pun diam, dia tak mau menjawab perkataan Rasid yang terkesan mengejeknya, Gatot tidak suka dengan Rasid, karena dia tahu, Rasid dan Gunadi hanya ditugaskan untuk memata matai pekerjaannya.


Rasid dengan tenang dan cuek lalu berbalik badan, dia pun meninggalkan Gatot, yang tampak kesal, Gatot segera merapikan berkas berkas yang berserakan di atas meja.


Teguh datang dan menghampiri Gatot, dia heran, karena melihat wajah Gatot yang seperti marah itu.


"Kenapa, Pak?" tanya Teguh, heran.


"Rasid, diam diam, pas aku gak ada tadi, dia buka buka berkas kasus pembunuhan Bapaknya Yanto dulu!" ujar Gatot geram.


"Aku curiga, jangan jangan, mereka mau berusaha melenyapkan bukti bukti yang mengarah pada Bram dan Sutoyo!" tegas Gatot, penuh rasa curiga.


"Kita harus lebih berhati hati lagi! Jangan sampai, bukti penting bocor, dan diketahui Gunadi juga Rasid!" tegas Gatot serius.


"Ya, Pak." Jawab Teguh, mengangguk mengerti.


Gatot pun lantas diam, dia tampak tengah berfikir keras, dia mencari cara, bagaimana menghindar dari intaian Gunadi dan Rasid.


"Oh, ya Pak. Saya udah menemukan lokasi persembunyian Jafar!" Jelas Teguh, memberi laporan.


"Dari mana kamu dapatkan!?" tanya Gatot, dengan wajah serius.


"Kartu kredit Jafar, Pak. Beberapa kali dia terlacak menggunakan kartu kreditnya di beberapa tempat!" Ujar Teguh.


"Dan yang lebih rutin, kartu kredit itu dia gunakan di hotel Nirwana!" lanjut Teguh, memberi penjelasan.


Tanpa di ketahui Teguh dan Gatot, diam diam, Rasid mengintip dan menguping, mencuri dengar pembicaraan mereka.


Rasid pun tersenyum sinis, dia berhasil mendapatkan informasi secara tak langsung dari Teguh tentang keberadaan Jafar.


Rasid pun tetap bersembunyi ditempatnya, menunggu, apa lagj informasi yang disampaikan Teguh pada Gatot.


"Ok. Kalo gitu, Kamu bawa beberapa anggota, tangkap Jafar!" tegas Gatot, memberi perintah.


"Baik, Pak." ujar Teguh.


Teguh pun lantas segera pergi meninggalkan Gatot, Gatot tampak menahan geram dan marahnya.


Melihat Teguh pergi, Rasid pun cepat mengikutinya.


"Jafar, akhirnya, aku bisa menangkapmu!!" Tegas Gatot, penuh amarah.


Teguh tampak berjalan keluar dari dalam kantornya, dia berjalan sambil menelpon Gavlin, tanpa di sadarinya, diam diam, Rasid mengikutinya di belakang.


"Aku mau nangkap Jafar sekarang juga!" lanjut Teguh, di telepon.


"Tunda dulu, bang Bro! Biar aku dulu yang bertindak! Aku mau, dengan tanganku sendiri membunuh Jafar! Kalo kalian menangkapnya, sampai kapanpun aku gak bisa bunuh Jafar!" tegas Gavlin, dari seberang telepon.


"Oke, aku akan beri kesempatan buatmu, Yan! Temui Jafar, dia selama ini tinggal di hotel Nirwana, kamar 2052, lantai 20." ujar Teguh, di telepon.


Lalu, Teguh pun menutup teleponnya, kemudian, dia terus berjalan keluar kantornya. Rasid menghentikan langkahnya.


Rasid tersenyum sinis, dia mendengarkan semua perkataan Teguh di telepon.


Lalu, dengan cepat, Rasid pun berbalik badan, kemudian, dia segera pergi.


---


Gavlin pun tampak bersiap siap, dia ingin segera menemui jafar, setelah mendapatkan informasi dari Teguh, tentang keberadaan Jafar.


Gavlin mengambil rambut wig panjang, kumis dan jenggot palsu, serta perlengkapan menyamar menjadi Sosok Yanto lainnya.


Dia sengaja akan menjadi sosok Yanto, saat menyerang dan membantai jafar, agar Jafar tidak mengenali wajahnya yang sebenarnya nanti.


---


Di dalam ruang kantor Sutoyo, Rasid sedang memberi laporan penting pada Sutoyo.


"Ternyata benar, Pak. Selama ini, Teguh berhubungan dengan Yanto, saya mendengar, Teguh membocorkan lokasi persembunyian Jafar!" tegas Rasid dengan serius.


"Beedeeebaaah!! Jafar dalam bahaya sekarang!!" Ujar Sutoyo marah.


"Cepat kamu ikuti Teguh, halangi dia, jika dia mau menangkap Jafar!! Kalo Jafar sampai tertangkap dia pasti akan membongkar semua rahasia kami!!" tegas Sutoyo, dengan marah.


"Kalo Teguh atau Gatot menghalangi kamu dan Gunadi!! Bunuh mereka!!" tegas Sutoyo marah.


"Baik, Pak! Saya permisi!" ujar Rasid, memberi hormat.


Rasid lantas segera pergi keluar dari dalam ruang kantor sutoyo. Sutoyo pun menghempaskan tubuhnya. Wajahnya tampak geram dan marah.


Sutoyo lantas mengambil teleponnya, di Ponselnya, dia mencari cari nomor telepon Jafar, dia ingat, kalau Jafar pernah menghubungi dia, beberapa waktu lalu, sebelum kematian Wijaya.


Sutoyo tampak senang, karena dia menemukan nama Jafar, di kontak teleponnya. Dengan cepat, Sutoyo pun lantas menelpon Jafar.


"Hallo, Far ! Dimana kamu?!" tanya Sutoyo, dengan wajah tegang dan serius, di telepon.


"Di jalan, mau balik ke hotel, ada apa? Tumben telpon aku?" ujar Jafar cuek, dari seberang telepon.


"Kamu jangan ke Hotel sekarang! Polisi dan Yanto, anak Sanusi sedang ke hotel!! Mereka mau menangkapmu!! Lebih baik, kamu pindah tempat persembunyian!!" tegas Sutoyo, di telepon.

__ADS_1


Di dalam mobilnya, wajah Jafar pun tampak tegang dan marah, dia menutup teleponnya, dan meletakkan telpon di jok samping dia, lalu, dengan cepat, Jafar memutar balik mobilnya.


Dia menyetir mobilnya ke arah lain, mengurungkan niatnya untuk kembali ke hotel, wajah Jafar tampak tegang dan menahan marahnya. Sebab, lokasi persembunyiannya terlacak.


"Masayu ! Dia harus segera pergi dari hotel!!" Gumamnya dengan wajah tegang.


Jafar teringat pada Masayu yang ada di kamar hotel saat ini sendirian. Jafar mengambil ponselnya, lalu, dia pun segera menghubungi ponsel Masayu.


Di lobby kamar hotel kelas VIP, tampak Masayu berdiri di pinggir pagar pembatas lobby, dia memandangi ke bawah dan sekitarnya.


Dengan memegang gelas berisi minuman, dia tampak sangat menikmati pemandangan indah di sekitar hotel.


Tiba tiba, Ponsel Masayu yang tergeletak di atas meja ruang tamu kamar hotel berdering keras, Masayu pun berbalik badan, dia hendak mengambil ponselnya.


Namun, langkahnya terhenti, dia terhenyak kaget, Gelas terlepas ditangannya, dan hancur berantakan.


Mata Masayu terbelalak lebar, dia tampak Syock, tubuhnya gemetaran, keringat dingin perlahan lahan keluar dari tubuhnya. Matanya terbelalak tajam menatap ke depan.


Tampak Yanto, dengan penampilan rambut gondrong, kumis dan jenggotnya, tengah tersenyum menyeringai jahat menatap wajah Masayu yang gemetar ketakutan.


"Yaan...Yanto?!" Ujar Masayu, penuh ketakutan.


Masayu sangat kenal dengan Yanto, sebab, Yanto sangat terkenal sebagai seniman pembuat patung lilin.


"Mana Jafar?!" tanya Yanto, dengan suara datar, berat dan tatapan mata yang dingin.


Masayu diam, dia semakin gemetar ketakutan, saat Yanto bertanya tentang Jafar, dia tahu, Yanto datang untuk mencari Jafar.


Masayu semakin ketakutan, karena di tangan Yanto, ada pisau belati yang sangat tajam. Secara perlahan lahan, dia pun melangkahkan kakinya mundur.


Yanto menyeringai geram, dia pun perlahan melangkahkan kakinya ke depan, mendekati Masayu yang ketakutan.


"Jangan mendekat!" Ujar Masayu, dengan penuh ketakutan.


Yanto tak perduli, dia terus mendekati Masayu, melihat Yanto terus melangkah mendekatinya, dia pun mundur selangkah demi selangkah.


Hingga akhirnya, langkah Masayu pun terhenti, karena dia sudah terpojok, dan menyentuh Pagar pembatas lobby luar hotel.


"Tolong, berhenti!! Jangan mendekat!!" Teriak Masayu, ketakutan.


Masayu melihat ke bawah, sangat tinggi sekali dia lihat, antara tempatnya berdiri dan lantai paling bawah hotel.


Lalu, Masayu menatap tajam wajah Yanto yang terus mendekatinya.


"Mau apa kamu?!" Bentak Masayu, gemetar ketakutan.


"Kalo kamu gak mau mati, cepat bilang, dimana Jafar?!" ujar Yanto, dengan sikap tenang dan wajah dinginnya.


"Aku gak tau dimana dia!! Dari pagi dia pergi dan belum kembali!!" Ujar Masayu, penuh ketakutan.


Ponsel Masayu terus berdering, Yanto pun tersenyum sinis memandang wajah Masayu yang ketakutan.


"Itu pasti dari Jafar ! Biarkan aku menerima teleponnya!" ujar Masayu, gemetar ketakutan.


Yanto diam, dia tersenyum sinis, Yanto mengabaikan perkataan Masayu, dengan menyeringai jahat, Yanto pun mendekati Masayu.


Masayu semakin ketakutan melihat wajah seram Yanto yang mendekatinya, Masayu memegangi pagar dengan kedua tangannya.


Yanto berdiri tepat di depan Masayu sambil memegangi pisau belati di tangannya, wajah Masayu semakin takut, melihat pisau tersebut.


Yanto menyeringai jahat, lalu, tiba tiba, dia mendorong tubuh Masayu dengan sekuat tenaga. Masayu pun terjatuh, terbang dari lantai 20 kamar hotel, terhempas di tanah, lantai paling dasar hotel.


Seketika, Masayu terkapar mati di tanah, dia mati karena di dorong jatuh Yanto, Masayu terjun bebas dari lantai 20 kamar hotelnya.


Yanto dengan sikap dinginnya tersenyum sinis, dia pun berbalik badan, lalu dia berjalan dan mengambil ponsel milik Masayu yang terus berbunyi itu.


Yanto menerima panggilan telepon dari Jafar, dia diam, mendengarkan suara Jafar di telepon.


"Kemana aja kamu, kenapa lama baru angkat telepon?!" ujar Jafar cemas, dari seberang telepon.


"Masayu lagi pergi ke Neraka." ujar Yanto, dengan sikap dingin, ditelepon.


Di dalam mobilnya, tampak Jafar kaget, karena mendengar suara laki laki yang bicara di telepon Masayu.


"Siapa kamu?!" bentak Jafar, di telepon.


"Apa kabar, Jafar? Aku Yanto, anaknya Sanusi, kamu ingatkan?!" Jawab Yanto, dari seberang telepon.


Mendengar itu, Jafar pun syock, dia lantas segera mematikan ponselnya, di lemparnya ponsel ke jok di sampingnya.


"Bedebaaah, siaaalaaan!!" Teriaknya marah di dalam mobilnya.


"Gak, aku gak bisa ninggalin Masayu, Nyawa Masayu terancam, aku harus nyelamati dia!!" Ujar Jafar, bicara sendiri.


Lantas, dia pun memacu mobilnya dengan cepat, saat dia melihat ada putaran balik di jalanan , dia pun dengan cepat berputar balik.


Jafar kembali ke hotel, dia tak mau melarikan diri sendiri, dia tak bisa meninggalkan Masayu sendirian, karena Jafar sangat mencintai Masayu.


Dengan wajah tegang dan penuh amarah, Jafar pun menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera sampai di hotel, untuk menyelamatkan Masayu.


Di kamar hotel, Yanto tampak menyimpan ponsel milik Masayu dalam kantong celananya, dia sengaja membawa ponsel Masayu, agar dia bisa menghubungi Jafar kapan saja. Karena nomor Jafar, ada di kontak telepon milik Masayu.


Dengan tenang dan wajah dingin, Yanto pun berjalan keluar dari dalam kamar hotel, dia berjalan di koridor lantai kamar, menuju lift.

__ADS_1


__ADS_2