VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Lolos dari Vonis


__ADS_3

Andre dan Masto datang ke rumah saksi , mereka sengaja datang untuk bertemu dengan Chandra ditempat tersebut.


Dengan senang hati Chandra pun menyambut kedatangan mereka berdua. Mereka duduk di sofa ruang tamu yang ada di ruangan rumah saksi tersebut.


"Sidang Pengadilan Samsudin akan dilaksanakan bulan depan." ujar Andre, memberi tahu Chandra.


"Oh, ya? Syukurlah, mudah mudahan saja Samsudin berhasil kalian jebloskan ke penjara." ujar Chandra berharap.


"Aku yakin, kali ini, Samsudin gak akan bisa lolos, bukti bukti dari kamu itu sudah sangat jelas dan kuat, dia gak bakal bisa menghindar." jelas Andre.


"Ya, mudah mudahan." ucap Chandra, dengan ekspresi wajahnya yang datar datar saja.


Andre dan Masto saling pandang, mereka heran melihat sikap Andre yang seperti biasa saja dan terkesan tak bersemangat itu.


"Kamu kenapa, Chan? Kok keliatan gak senang, kami menangkap Samsudin?" tanya Masto heran.


"Bukan gak senang, aku lega malah, karena akhirnya Samsudin ditangkap, tapi, aku gak yakin aja, dia bakal mendapatkan hukuman yang setimpal atas kejahatannya." ujar Chandra menjelaskan.


"Maksudmu?" tanya Andre.


"Samsudin itu tangan kanan Binsar, ketua Inside, dia juga menkopolkam di negara ini, pastinya, di belakangnya, banyak yang akan melindungi dia, apalagi kalo Binsar sampai turun tangan dan ikut campur, aku yakin, Samsudin bebas!" tegas Chandra, menjelaskan dengan rasa pesimisnya.


"Kamu tenang saja, Chan, semua sudah di atur pihak kehakiman dan kejaksaan, Hakim yang memimpin sidang nanti bukan orang Inside , percayalah padaku. Kita akan memenangkan kasus ini, dan Samsudin akan mendapatkan hukumannya." ujar Andre, mencoba menyemangati Chandra.


"Ya, kita liat saja nanti, sejauh mana usaha Samuel dalam mengungkap kejahatan Samsudin di pengadilan." ujar Chandra.


"Apa kamu akan datang menyaksikan jalannya persidangan nantinya?" tanya Andre, menatap tajam wajah Chandra yang duduk dihadapannya.


"Ya, aku pasti datang, aku mau liat, bagaimana reaksi Samsudin selama di persidangan , aku juga ingin tau, bagaimana pengacaranya nanti berusaha membela dia." ujar Chandra menegaskan.


"Baiklah, kalo kamu mau datang, aku akan menugaskan beberapa anak buahku untuk melindungimu, karena, bagaimana pun kamu saksi kunci kami, kamu harus mendapat perlindungan selama menjalani persidangan tersebut." ungkap Andre, menjelaskan dengan wajahnya yang serius.


"Ya, atur aja bagaimana baiknya." ujar Chandra.


"Okay." Angguk Andre, tersenyum.


---


Sementara itu di rumah bilik milik Pak Sarono, tampak Gavlin duduk tercenung di ruang tengah rumah tersebut.


Raut wajahnya tampak sedang berfikir keras, dia juga tengah memikirkan semua perkataan Chandra kepadanya, yang ingin meneruskan misi balas dendam mereka berdua.


"Aku merasa, ada yang aneh dari sikap Chandra, apa yang akan dia lakukan nanti?" Gumam Gavlin, berfikir keras.


"Apa Chandra akan nekat membunuh Samsudin di persidangan nanti? Ah, tapi gak mungkin, gila aja kalo dia berani melakukan hal itu." lanjutnya.


"Kalo Chandra bertindak nekat, sama saja dia bunuh diri, polisi yang ada di ruang pengadilan pasti gak tinggal diam, mereka pasti akan menembak atau menangkap dia." tegasnya berfikir.


Gavlin lalu menghela nafasnya, dia memutar otaknya, berfikir, mencari jalan keluar, guna mencegah tindakan nekat dan bodoh Chandra, jika dia melakukan pembunuhan langsung di persidangan kepada Samsudin.


"Aku harus datang ke pengadilan, aku harus menjaga Chandra, agar dia gak bertindak gegabah nantinya. Jangan sampai, gara gara tindakannya itu, gagal semua rencana balas dendamku." ujar Gavlin, berfikir keras.


"Ya, aku akan datang ke pengadilan nanti." tegasnya lagi.

__ADS_1


Gavlin lalu kembali menarik nafasnya dalam dalam, dia menenangkan dirinya yang resah memikirkan Chandra yang akan bertindak membalas dendam pada Samsudin.


Ada rasa khawatir dalam diri Gavlin Kalau Chandra bertindak gegabah, dia malah akan mati konyol nantinya, dan Gavlin tak ingin itu terjadi, dia pun lantas bertekat untuk menghentikan tindakan Chandra jika nanti dia benar benar bertindak nekat saat berada di dalam ruang pengadilan.


---


Beberapa minggu kemudian, sidang kasus kejahatan Samsudin pun mulai di gelar di pengadilan, Samuel bertindak sebagai Jaksa penuntut yang akan mengadili Samsudin menuntut hukuman mati atas semua kejahatan yang sudah dilakukan Samsudin bersama kelompok organisasi inside.


Jalannya persidangan sangat sengit, bantahan dan sanggahan dilancarkan oleh pengacara dari pihak Samsudin, pengacara tersebut sangat handal dalam bermain kata kata dan memutar balik fakta, setiap bukti yang di tampilkan Samuel pada pengadilan, dengan mudah di bantah atau di patahkannya. Bahkan acapkali pengacara mengatakan bahwa bukti yang di miliki Samuel tak sah.


Hal itu membuat geram para khalayak yang datang hadir menyaksikan persidangan tersebut, mereka marah, karena pengacara terlalu berlebihan dalam membela Samsudin.


Samsudin tampak tersenyum senang, melihat kehandalan pengacaranya yang diberikan langsung oleh ketua Inside, yakni Binsar, Samsudin merasa aman, dia yakin, dirinya bakal lolos dari penjara dan tak akan dikenakan hukuman apapun juga oleh hakim dalam putusannya nanti.


Para pengunjung yang hadir di persidangan itu terlihat sangat ramai sekali dan riuh, beberapa kali terdengar protes dan sorakan para pengunjung persidangan, karena mereka memprotes sanggahan dan penjelasan pengacara Samsudin, hal itu membuat suasana jadi berisik dan tak tenang lagi, sehingga beberapa kali Hakim terpaksa mengingatkan agar para khalayak yang hadir untuk diam, atau akan dikeluarkan paksa dari dalam persidangan karena sudah mengganggu ketenangan dan jalannya persidangan.


Akhirnya, para khalayak yang hadir pun patuh, mereka diam menyimak dan mendengarkan adu argumentasi antara Samuel dari Jaksa penuntut umum dan lawannya, yakni Pengacara yang membela Samsudin.


Diantara pengunjung yang hadir di dalam ruang sidang itu terlihat Chandra duduk ditemani dua orang petugas kepolisian yang duduk di sebelah kanan dan kirinya, kedua petugas itu ditugaskan langsung oleh Andre untuk melindungi dan menjaga Chandra, selama dia hadir di persidangan dan menyaksikan jalannya persidangan.


Diantara khalayak yang hadir didalam ruangan itu, ada juga seorang Bapak tua yang sudah penuh dengan uban dan badannya sedikit bongkok. Berkumis tebal dan berwajah tirus, dia duduk diam dibangku dan memperhatikan jalannya persidangan.


Sesekali pria yang berpenampilan kakek kakek tua renta itu melirik ke arah Chandra yang duduk di bangku, tak jauh dari dia duduk.


Kakek itu adalah Gavlin , ya , dia sengaja datang dan hadir kepersidangan dengan membuat penyamaran dirinya sebagai seorang kakek kakek tua renta, agar, kehadirannya tak dapat diketahui dan tidak dikenali siapapun juga.


Sebagai seniman handal pembuat patung lilin, mudah saja bagi Gavlin membuat penyamaran dengan merubah ubah bentuk wajah dan porsi tubuhnya sesuai kebutuhan yang dia inginkan. Seperti saat ini, dia menyamar sebagai kakek tua renta yang hadir di dalam ruang persidangan.



Selain itu, Chandra pun duduk sebagai Saksi kunci, dia dihadirkan atas permintaan Jaksa penuntut umum, dan Chandra pun menjelaskan semua yang dia lihat dan dkketahuinya selama ini, dia juga menjelaskan pada hakim bagaimana dia bisa mendapatkan bukti bukti kuat hasil kejahatan Samsudin.


Bantahan demi bantahan serta sanggahan terus terjadi diantara kedua belah pihak, sehingga persidangan berlangsung lama. Tiga bulan sudah berjalan, sidang tidak juga selesai.


Hingga pada akhirnya, tiba juga saat yang di tunggu tunggu, sidang terakhir dilaksanakan.


Yakni, sidang keputusan dari hakim pada akhirnya, sebelum hakim memberikan pernyataan dan keputusannya atas vonis terhadap Samsudin, terlebih dulu Hakim mempersilahkan jaksa penuntut umum dan juga pengacara masing masing membacakan dan menyampaikan kata kata terakhir mereka sebagai penutup dari persidangan yang telah berlangsung.


Di akhir katanya, Samuel, sebagai jaksa penuntut tetap meminta pada hakim agar memberikan hukuman mati pada Samsudin, karena alasannya, kejahatan Samsudin sangat banyak sekali, selain kasus penggelapan, penjualan akses negara, korupsi besar besaran dari tender dan proyek proyek yang berhubungan dengan pembangunan negara, Samsudin juga terlibat dalam kasus pembunuhan Sanusi dan juga Syamsul Bahri.


Dan semua bukti bukti sudah ditampilkan dan disampaikan dalam persidangan, Hakim juga sudah menerima bukti bukti kuat tersebut.


Chandra dari bangkunya melirik Samsudin yang tersenyum sinis dan cuek, Samsudin merasa diatas angin, dia percaya dan yakin dengan kemampuan pengacaranya, dan terlihat jelas dari raut wajahnya kalau dia yakin sekali akan bebas.


Melihat sikap cuek Samsudin yang menjijikan itu membuat Chandra geram sekali, dia terlihat mengepalkan jari jemari tangannya, menahan amarahnya pada Samsudin. Chandra tak tahan dengan sikap sombong dan angkuh Samsudin tersebut.


Gavlin, yang menyamar sebagai kakek tua renta memperhatikan Chandra yang terus menoleh pada Samsudin, pada suatu kesempatan Gavlin melihat, tangan kiri Chandra perlahan lahan hendak mengambil sesuatu dari balik bajunya.


Melihat gelagat yang mencurigakan dari Chandra itu, Gavlin lantas cepat berdiri dari duduknya di bangku, lalu, dia pun terbatuk batuk hebat. Gavlin berpura pura terbatuk batuk agar orang orang perhatiannya tertuju pada dirinya.


Gavlin sambil terbatuk batuk keras terus berjalan ke arah Chandra yang duduk di bangku. Melihat Kakek tua renta terbatuk batuk berjalan tertatih tatih mendekatinya, Chandra pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengambil pistol dari dalam bajunya. Chandra membawa pistolnya dengan diam diam keruang persidangan.


Karena dia hadir sebagai saksi, dia lolos dari pemeriksaan saat masuk ke dalam ruang pengadilan tersebut.

__ADS_1


Hakim mengetuk palu, menyuruh diam orang orang yang ramai dan riuh akibat mendengar suara batuk keras Gavlin yang menyamar sebagai kakek tua renta.


"Maaf, Maaf, saya kurang sehat." ujar Gavlin yang menyamar sebagai kakek tua renta kepada orang orang yang hadir di persidangan dan juga hakim.


Lalu, Gavlin pun duduk dibangku, tepat disamping Chandra, dia menggeser petugas polisi yang sebelumnya duduk disamping Chandra.


Mau tak mau, melihat orang tua dan batuk batuk yang duduk, petugas kepolisian pun memberikan tempat duduknya, lalu dia sendiri berpindah duduk ke belakang Chandra dan Gavlin.


Gavlin mendekati wajah Chandra yang duduk dengan menahan geramnya pada Samsudin.


"Jangan gegabah, Chandra, kalo kamu menembak Samsudin di sini kamu akan menyesal, kamu akan ditembak juga atau ditangkap." bisik Gavlin.


Chandra tersentak kaget mendengar bisikan Gavlin ditelinganya, dia lantas menoleh pada Gavlin yang duduk disampingnya.


"Gavlin?!" ujar Chandra tak bersuara menyebut nama Gavlin, hanya gerakan mulutnya saja.


Gavlin mengangguk angguk tersenyum, Chandra heran melihat penampilan Gavlin yang berubah menjadi sosok kakek tua renta.


Gavlin memberi isyarat, agar Chandra tak focus pada dirinya, Gavlin menunjuk kepersidangan, agar Chandra memperhatikan apa yang akan disampaikan Hakim sebagai penutup dari hasil persidangan tersebut.


Chandra pun paham maksud dari isyarat Gavlin kepada dirinya, lalu dia melempar pandangannya ke depan persidangan, dengan wajah yang serius Chandra memperhatikan Hakim dan mendengarkan apa yang dikatakan sang Hakim sebagai keputusan terakhir.


"Karena bukti bukti yang meragukan dan di dapat dari cara ilegal, dan tidak bisanya Jaksa penuntut menghadirkan saksi lainnya yang menguatkan bukti yang didapat jaksa, maka, Hakim memutuskan, bahwa tersangka Samsudin, dibebaskan dari segala tuduhan tindak kejahatannya tersebut." ucap Hakim, mengetuk palunya.


Chandra terhenyak kaget, dia syock, Hakim membebaskan Samsudin dan dinyatakan tak bersalah, begitu juga dengan Gavlin. Dia geram.


Gavlin melihat Samsudin yang tertawa tawa senang bersalaman dengan para pengacara yang membelanya, lalu, Gavlin melihat sebuah gerakan mencurigakan, dimana Samsudin bermain mata dengan sang Hakim.


Gavlin pun akhirnya paham, bahwa ini semua permainan, dan Hakimnya orang Inside sendiri, karena itu, dia membebaskan Samsudin, tak perduli walau bukti bukti sudah lengkap, dan dia mengatakan masih belum cukup bukti.


Kekecewaan bukan saja menghampiri Chandra dan juga Gavlin, namun, Samuel sebagai Jaksa penuntut pun terlihat sangat kecewa dengan keputusan sang Hakim yang berat sebelah, terlihat jelas hakim malah membela Samsudin sebagai tersangka.


Begitu juga dengan Andre, dia terhenyak di tempat duduknya, tak percaya dengan apa yang baru saja di putuskan hakim. Orang orang yang hadir juga terlihat protes fsn tak puas dengan keputusan hakim namun, mereka tak bisa berbuat apapun juga. Hanya bisa menerima saja keputusan hakim.


Chandra tampak geram dan marah sekali, dia terlihat tidak terima dengan keputusan sang Hakim yang membebaskan Samsudin.


Samsudin berjalan keluar dari dalam ruang persidangan bersama para pengacara pengacaranya, Chandra geram, cepat dia berdiri.


Saat Chandra hendak mengambil pistolnya, tangan Gavlin sudah berada di pinggangnya, menahan tangan Chandra yang hendak mengambil pistolnya.


"Lepaskan Vlin, biar aku membunuhnya !!" tegas Chandra geram dan marah.


"Apa ini rencana yang kamu bilang padaku, Chan?" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Chandra.


"Ya, rencanaku akan membunuh Samsudin dipersidangan, karena aku udah yakin, dia pasti bebas, satu satunya cara ya membunuhnya!! Agar dia gak ada di dunia ini lagi!!" tegas Chandra penuh amarah.


"Tahan dirimu, Chan, jangan di sini kamu melakukannya, di sini banyak orang, tunda rencanamu." ujar Gavlin.


"Tapi Vlin, aku gak tahan melihat tingkah Samsudin itu!" tegas Chandra marah.


"Sudah, serahkan padaku, biar aku yang urus semuanya, cara seperti ini bukan milikmu, tapi milikku, aku terbiasa melakukannya, sementara kamu tidak, jadi, biar aku yang menyelesaikan rencana itu." ujar Gavlin, menatap serius wajah Chandra yang berdiri disampingnya.


"Baiklah." ujar Chandra.

__ADS_1


Akhirnya, Chandra mau tak mau menuruti perkataan Gavlin, dia menyerahkan semuanya pada Gavlin untuk menuntut balas pada Samsudin.


__ADS_2