VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Melarikan Diri dengan bantuan Sosok Misterius


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu sejak Gavlin terluka parah dan harus dirawat di rumah sakit.


Dan kini luka luka di tubuh Gavlin sudah semakin mengering, dan kesehatannya pun berangsur angsur pulih dan semakin membaik. Gavlin sudah segaran dan terlihat seperti sedia kala. Namun, dia masih di borgol dalam kamar ruang rawat rumah sakit.


Ya, sejak kesehatannya pulih, Gavlin di pindahkan keruang rawat rumah sakit, dan tidak lagi berada di ruang ICU, guna memulihkan kembali staminanya. Dan pihak kepolisian tetap memberikan penjagaan ketat pada Gavlin.


Dan sebagai Buronan utama pihak kepolisian, Gavlin harus tetap di borgol tangannya dengan ranjang tempat dia tidur, agar dia tak bisa kemana mana.


Kabar tentang kesehatan Gavlin yang pulih sampai ke telinga Chandra yang masih berada di rumah perlindungan saksi kepolisian.


Mengetahui kesehatan Gavlin sudah semakin pulih, Chandra tampak lega dan sangat senang sekali, dia menjadi tenang, karena Gavlin sudah tidak lagi dalam kondisi kritis seperti sebulan sebelumnya.


Chandra merasa berhutang nyawa pada Gavlin, sebab, karena pertolongan Gavlin lah dia selamat dari pembunuhan yang dilakukan organisasi Inside, dan jika tak ada Gavlin yang menolongnya, tentunya, yang berada di rumah sakit bukanlah Gavlin, tapi dirinya, atau mungkin saja dia juga sudah mati terbunuh, pengorbanan Gavlin terlalu besar bagi Chandra, dia benar benar merasa tak mampu untuk membalas hutang budi berupa nyawa pada Gavlin.


Itu sebabnya, Chandra senang sekali mengetahui Gavlin sudah sehat kembali, dengan begitu, dia bisa menjalankan hidupnya lagi, walau pun saat ini dalam pengawasan pihak kepolisian yang menetapkannya sebagai tersangka dari kasus peledakan gedung kantor kepolisian, pembunuhan Kapolri dan banyak kasus lainnya, yang memang selama ini di lakukan Gavlin.


Andre sebagai Komandan kepolisian tidak bisa membiarkan Gavlin lolos begitu saja, walau pun Gavlin saudara tiri Teguh, walau pun dia janji pada Teguh untuk tidak bermusuhan dengan Gavlin, namun, sebagai Polisi, wajib bagi Andre untuk menangkap dan menahan Gavlin atas kejahatan yang selama ini sudah dia lakukan.


Satu satunya jalan untuk menghentikan balas dendam Gavlin hanya dengan cara menangkap dan menahannya, dengan begitu, Gavlin tidak bisa terus membunuh, dan langkah pihak polisi bersama kejaksaan pun akan menjadi lebih mudah dalam memberantas kejahatan yang sudah di lakukan organisasi Inside.


Jika Gavlin berkeliaran bebas, itu akan menyulitkan pihak kepolisian dan kejaksaan dalam menangkap anggota anggota Inside, sebab, Gavlin akan merusak rencana mereka, dengan cara melaksanakan misinya sendiri menghancurkan Inside.


Andre banyak tahu tentang Gavlin, sebab dulu, saat Teguh datang meminta bantuannya untuk mengungkap kasus kejahatan kelompok Herman, Teguh menceritakan dan menjelaskan tentang siapa Gavlin, bagaimana Gavlin selama ini bergerak, berfikir dan bertindak dalam membalaskan dendam kedua orang tua nya. Dan Andre tahu, bagaimana bahayanya seorang Gavlin jika sudah beraksi membalas dendam.


Andre tak ingin Gavlin lebih banyak lagi membunuh, sudah saatnya kali ini pihak polisi dan kejaksaan yang bergerak dan bertindak serta turun tangan menangkap anggota kejahatan organisasi Inside, apalagi mereka sudah banyak mengantongi bukti bukti kuat untuk meringkus semua anggota anggota Inside yang sudah berbuat kejahatan selama ini.


Di rumah perlindungan saksi kepolisian, tampak Chandra menemui Masto yang terlihat bersiap siap hendak pergi siang itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Chandra.


"Ke rumah sakit, melihat perkembangan terakhir kondisi Gavlin." ujar Masto.


"Untuk apa? Bukankah Gavlin sudah sehat dan sudah dipindahkan keruang rawat saat ini?" ujar Chandra, menatap lekat wajah Masto.


"Iya, benar, rencananya, besok pagi, Gavlin akan di keluarkan dari rumah sakit. Karena Dokter sudah memberi pernyataan, bahwa Gavlin sudah sembuh dan sehat kembali." jelas Masto.


"Oh, begitu. Maksudmu, Gavlin akan di lepaskan?" tanya Chandra.


"Tidak, dia gak mungkin di lepaskan begitu saja , mengingat dia sebagai buronan utama pihak kepolisian, Kami akan tetap menahannya." ujar Masto, memberi penjelasan.


"Oh, begitu. Lantas, mau kalian bawa kemana Gavlin?" tanya Chandra.


Chandra ingin tahu, dia penasaran, akan dibawa kemana Gavlin setelah dia di keluarkan dari rumah sakit nantinya.


"Gavlin akan di masukkan kedalam tahanan kepolisian, sebelum dia dibawa ke kejaksaan nantinya untuk di proses dan menjalani sidang atas kasus kejahatan yang dia lakukan selama ini." jelas Masto dengan wajah serius menatap Chandra.


"Oh, begitu." ujar Chandra, mengangguk mengerti dan paham.


Telepon Masto berbunyi, dia cepat mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, dia melihat, nama Andre sebagai penelpon.

__ADS_1


"Sebentar, Pak Andre telpon." ujar Masto.


"Ya." Angguk Chandra.


Masto berpindah tempat agak jauh dari Chandra yang berdiri, Chandra diam, wajahnya tampak memikirkan sesuatu hal, dia melirik ke arah Masto yang serius menerima telepon dari Andre.


"Baik, Pak. Saya akan ke sana sekarang juga." ujar Masto, bicara di telepon.


Lantas, Masto menutup ponsel dan menyimpannya kembali ke dalam kantong celananya, lalu, dia mendekati Chandra yang masih berdiri diam dan berfikir.


"Aku pergi dulu." ujar Masto.


"Ya." Angguk Chandra.


Masto lantas bergegas pergi meninggalkan Chandra, Chandra menatap kepergian Masto, dia lantas menghela nafasnya. Chandra diam dan berfikir kembali.


Ada sesuatu hal yang saat ini sedang di pikirkan Chandra, wajahnya terlihat tegang dan cemas, Chandra berjalan mendekati jendela rumah, dia mengintip keluar.


Chandra melihat Masto sudah pergi dengan mobilnya, dan para petugas kepolisian masih banyak berjaga jaga di luar rumah perlindungan tersebut.


Chandra diam tercenung, dia berfikir sesaat, lalu, dia pun berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam kamarnya yang ada di rumah perlindungan tersebut.


---


Malam harinya, suasana di rumah sakit terlihat hening, Dua petugas kepolisian berdiri didepan pintu masuk ruang rawat, mereka berjaga jaga.


"Mengapa aku di borgol?" tanya Gavlin.


"Maaf, kamu sekarang menjadi tahanan kepolisian." ujar Masto.


"Tahanan kepolisian?" ujar Gavlin, kernyitkan keningnya.


"Ya, kamu buronan kepolisian selama ini, dan saat ini, kami menahanmu, besok, kamu akan dipindahkan ke tahanan kepolisian untuk di proses lebih lanjut." ujar Masto.


Gavlin diam mendengar penjelasan Masto, raut wajah Gavlin terlihat sedang memikirkan sesuatu hal. Masto lantas berbalik badan, dia pergi begitu saja meninggalkan Gavlin yang terbaring di ranjang dengan tangan kirinya terborgol di besi tepi ranjang.


Masto keluar dari dalam kamar rawat Gavlin, dia mendekati dua petugas kepolisian yang berdiri menjaga di depan pintu masuk kamar rawat.


"Kalian harus tetap di sini, jaga Gavlin." ujar Masto.


"Siap!" jawab kedua petugas kepolisian hampir bersamaan.


Masto lantas pergi meninggalkan kedua petugas kepolisian, mereka tak tahu, jika saat ini, ada sosok pria yang mengintip dan mengawasi mereka, sosok pria itu memakai pakaian serba hitam dan penutup wajah hitam, karena memakai penutup wajah, sosok pria itu tak bisa di kenali.


Sosok Pria yang bersembunyi dan mengintai melihat kepergian Masto yang meninggalkan kamar rawat Gavlin. Sosok pria itu pun tahu, bahwa di dalam kamar yang ada petugas polisi berjaga ada Gavlin.


Sosok pria sudah tak melihat Masto lagi, karena sudah menjauh, Sosok Pria itu melihat dua petugas kepolisian yang berdiri di depan pintu masuk berjaga jaga, Sosok pria itu diam, dia tampak untuk sesaat berfikir sejenak.


Lalu, beberapa saat kemudian, sosok pria berpakaian serba hitam cepat keluar dari tempat persembunyiannya, dengan langkah cepat dia bergerak mendekati dua petugas kepolisian.

__ADS_1


Sosok Pria mendekat dan langsung menyerang petugas polisi yang berjaga, kedua petugas polisi kaget, mendapat serangan mendadak dari sosok pria tersebut.


Kedua Petugas kepolisian melawan, mereka menyerang sosok Pria tersebut. Sosok Pria berpakaian serba hitam melepaskan tembakan dari pistolnya, suara tèmbakan tidak terdengar, karena dia memakai peredam pada pistolnya.


Sosok Pria menembak kaki kedua petugas polisi yang berjaga hingga jatuh tersungkur di lantai. Sosok Pria itu lantas mendekati keduanya sambil menodongkan pistolnya. Kedua Petugas polisi menahan sakit di kakinya yang di tembak.


"Serahkan pistol dan kunci borgol!" ujar Sosok Pria tersebut.


Mau tak mau, Petugas polisi pun memberikan pistol mereka pada sosok pria yang lantas mengambil pistol pistolnya, salah seorang petugas polisi lantas memberikan kunci borgol pada sosok pria berpakaian serba hitam itu.


"Borgol tangan kalian!" ujar Sosok Pria, memberi perintah pada kedua petugas polisi.


Mau tak mau, kedua petugas polisi pun menuruti perintah sosok pria, mereka lantas saling memborgol tangan mereka, dan kedua petugas polisi itu pun kini dalam keadaan terborgol bersama.


Sosok Pria lantas menghantamkan ujung pistolnya ke kepala kedua petugas kepolisian hingga jatuh pingsan.


"Maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini pada kalian." ujar Sosok Pria.


Untuk sesaat dia berdiri diam memandangi kedua petugas polisi yang pingsan di lantai, dia lantas bergegas masuk ke dalam kamar rawat.


Sosok Pria masuk ke dalam kamar rawat, dia menutup pintu kamar, lalu, bergegas jalan mendekati Gavlin yang terbaring di atas ranjangnya.


Gavlin yang belum tidur kaget melihat sosok pria dengan memakai pakaian serba hitam dan penutup wajah berjalan mendekatinya sambil memegang pistol ditangannya.


"Siapa kamu? Mau apa kamu ?!" bentak Gavlin.


Gavlin bangun dan duduk di ranjang, dia berusaha melepaskan diri, namun, Gavlin tak bisa bergerak, karena tangan kirinya terborgol pada ranjang.


Sosok Pria berpakaian serba hitam mendekat dan berdiri di samping ranjang, dia menatap tajam wajah Gavlin yang terlihat geram menatapnya.


"Apa kamu datang mau membunuhku?!" bentak Gavlin.


"Kamu suruhan Inside?! Jawab!" bentak Gavlin , marah.


Sosok Pria menatap tajam wajah Gavlin yang tampak marah itu.


"Jangan banyak tanya , gak ada waktu menjawab pertanyaanmu!" ujar Sosok Pria.


Mendengar perkataan Sosok pria yang berpakaian serba hitam itu, Gavlin pun heran, dia menatap tajam wajah sosok pria.


"Jika kamu bukan orang suruhan Inside, siapa kamu?" bentak Gavlin bertanya.


Gavlin ingin tahu sosok pria tersebut, namun, sosok pria tak menjawab pertanyaan Gavlin, dia malah melepaskan borgol ditangan Gavlin dengan kunci yang dia ambil dari petugas polisi yang berjaga di luar kamar.


Gavlin semakin heran karena sosok pria melepaskan borgolnya, Gavlin memegang pergelangan tangannya yang sudah terbebas dari borgol, rasa nyeri dan sakit di pergelangan tangannya dirasakan Gavlin, dia memegang pergelangan tangannya.


"Cepat, pergi dari sini, sebelum polisi polisi datang !" ujar Sosok Pria.


Dengan wajah herannya Gavlin pun lantas turun dari ranjangnya, dia lalu bergegas keluar dari dalam kamar rawat, Sosok Pria juga keluar kamar , dia mengikuti Gavlin yang sudah berlari duluan keluar dari dalam kamar ruang rawat rumah sakit tersebut.

__ADS_1


__ADS_2