
Gavlin terus berjalan sambil mengendap endap disamping rumah peristirahatan milik Binsar, ketika dia melihat ada sebuah jendela, dia menghentikan langkahnya, lalu, Gavlin mencoba mengintip dan melihat ke dalam rumah dari celah celah jendela yang ada disamping rumah tersebut. Namun, tak ada Samsudin di dalam rumah, Gavlin hanya melihat dua orang penjaga saja berdiri di ruangan yang ada dalam rumah peristirahatan tersebut.
Lalu, Gavlin melanjutkan langkahnya lagi, dia berjalan hendak ke belakang rumah, Gavlin berniat akan mengitari rumah peristirahatan milik Binsar terlebih dulu sambil mencari cari celah, agar dia bisa menyusup masuk ke dalam rumah tersebut.
Saat dia berjalan, tak sengaja dia berpapasan dengan dua penjaga yang sedang melakukan patroli keliling rumah. Gavlin kaget melihat mereka, begitu juga dua penjaga tersebut.
"Siapa kamu?!!" Bentak salah seorang Penjaga pada Gavlin.
Gavlin tak menjawab, dia langsung melepaskan tembakan pada ke dua penjaga tersebut dengan pistol ditangannya. Kedua Penjaga melompat, mereka berdua menghindari tembakan Gavlin.
Suara tembakan dari pistol Gavlin cukup keras, terdengar sampai ke depan rumah, dan di sekitar halaman rumah peristirahatan, para Penjaga yang sedang berjaga jaga tersentak kaget mendengar suara letusan senjata dari arah samping rumah.
Dengan gerak cepat para Penjaga tersebut lantas berlari ke arah suara tembakan, mereka berlari lari menuju samping rumah peristirahatan Binsar.
Sementara itu, Gavlin terus menembaki dua penjaga yang memergoki dia tadi, tiba tiba, dari arah belakangnya, seorang Penjaga menembak Gavlin.
Untung saja tembakan Penjaga itu meleset dan tidak mengenai Gavlin, Gavlin langsung cepat menghindar, dia bersembunyi di balik pohon kelapa yang ada di samping rumah tersebut.
Gavlin melihat di depan ada dua Penjaga memegang pistol siap menembak, lalu, dia melihat ke belakang, ada sekitar 10 Penjaga yang juga memegang pistol sedang bersiap siap menembak.
Gavlin terkepung, dia tak bisa melarikan diri, karena di depan mau pun di belakang, ada para Penjaga yang mengepungnya, tak ada ruang bagi Gavlin untuk bisa melarikan diri saat ini.
Satu satunya jalan yang harus dia pilih adalah berperang dengan para penjaga itu. Lalu, Gavlin pun menyimpan pistol di pinggangnya, Dia kemudian mengambil senapan mesinnya yang tergantung di bahunya, Gavlin lantas berbalik badan ke belakang, lalu, dengan cepat, Gavlin pun menembakkan senapan mesinnya kepada 10 Penjaga yang ada di belakang dirinya.
Para Penjaga itu berhamburan kalang kabut, berusaha melindungi diri masing masing agar tak terkena tembakan Gavlin. Namun naas, 3 Penjaga yang tak sempat lari dan bersembunyi tertembak, tubuhnya di tembus peluru peluru dari senapan mesin milik Gavlin, hingga langsung mati terkapar di tanah.
Dengan kalap Gavlin membabi buta menembakkan senapan mesinnya ke arah belakang dan depan, dia menembak sambil memutar badannya.
Para Penjaga yang bersembunyi di balik semak semak terkena tembakan Gavlin lalu mati, Para Penjaga itu sekarang hanya sisa 5 saja, dua di depan, dan tiga di belakangnya.
Gavlin tak menghentikan aksinya, dia terus menembakkan senapan mesinnya ke depan, pada dua Penjaga yang juga menembak Gavlin dengan pistol mereka.
Aksi tembak menembak pun terjadi diantara Gavlin dan para Penjaga Samsudin tersebut.
Gavlin lantas bersembunyi kembali di balik pohon, untuk sesaat dia menghentikan aksinya menembakkan senapan mesinnya.
Sementara itu, Para Penjaga yang ada di depan dan belakang dan bersembunyi terus menembakkan pistolnya ke arah Gavlin yang berlindung di balik pohon .
Gavlin mengintip, dia melihat ke belakangnya, Gavlin menemukan tempat persembunyian ke tiga Penjaga , Gavlin tersenyum sinis, lalu, dia mengambil pistol dari pinggangnya, senapan mesin di letakkannya di tanah.
Gavlin sambil tetap bersembunyi di balik pohon lalu berjongkok, kemudian, pistol ditangannya di arahkan ke depan, ke arah salah seorang Penjaga yang tengah bersembunyi dibalik semak semak.
Lalu, Gavlin melepaskan tembakan dari pistolnya, Peluru melesat dan langsung menghantam kening seorang Penjaga, Penjaga yang keningnya tertembus peluru dari pistol Gavlin langsung mati terkapar di tanah.
Lalu, Gavlin mengarahkan pistolnya lagi ke arah satu Penjaga lainnya, dan lantas, dia menembakkan pistolnya lagi ke arah Penjaga tersebut. Kali ini tembakannya tepat mengenai dada dan menghantam jantung si Penjaga, darah segar menyembur dari dada si Penjaga, lalu dia terkapar di tanah, sudah tak bernyawa.
Tersisa satu Penjaga lagi di belakangnya sedang bersembunyi, Gavlin dengan kondisi tetap berjongkok, melangkah maju ke depan, dia berpindah tempat, mencari tempat yang mudah untuk menembak. Sebab, Satu Penjaga yang tersisa itu bersembunyi di balik pohon besar.
Gavlin lalu menghentikan langkahnya, dia tetap berjongkok, Gavlin melihat pada Si Penjaga yang bersembunyi di balik pohon, lalu, dia merasa, kalau pandangannya sudah tak terhalang lagi.
Dengan cepat, Gavlin lantas berdiri dan menembakkan pistolnya ke arah Penjaga tersebut. Penjaga itu kaget, Peluru dari pistol Gavlin menghantam perut dan dadanya, Si Penjaga masih sempat melepaskan tembakan pada Gavlin sebelum limbung dan jatuh lalu terkapar di tanah, dan tembakannya meleset, hanya menyerempet telinga kiri Gavlin saja.
Gavlin memegang telinganya yang di serempet peluru, ada darah ditangannya, dari telinganya, Gavlin lantas berbalik , dia cepat berlari ke tempat persembunyiannya tadi.
__ADS_1
Dua Penjaga terus melepaskan tembakannya ke arah Gavlin, setibanya Gavlin di tempat persembunyiannya, dengan cepat dia menyimpan pistol di pinggangnya lagi, lalu meraih senapan mesin yang dia letakkan di atas tanah, lalu , dengan senapan mesin tersebut, Gavlin pun menembak ke dua Penjaga yang menembaknya.
Peluru peluru dari senapan mesin melesat dan menghantam tubuh kedua Penjaga tersebut, hingga akhirnya mereka tewas seketika.
Melihat lawan lawannya sudah mati semuanya, Gavlin lantas berbalik badan dan berjalan menuju ke halaman depan rumah peristirahatan milik Binsar tersebut.
Saat Gavlin berjalan dan berbelok dari samping rumah ke halaman depan rumah, ada beberapa Penjaga di situ, Gavlin cepat menembakkan senapan mesinnya pada para Penjaga yang tersisa tersebut, hingga mereka mati semuanya.
Sementara itu, di kamar Samsudin, seorang Pengawal Pribadinya menemui Samsudin yang kaget karena mendengar suara tembakan di luar rumah.
"Bapak harus sembunyi sekarang, ada yang menyerang dan mau membunuh Bapak, dia Gavlin." ujar Pengawal Pribadi Samsudin.
"Gavlin? Kenapa dia bisa menemukan rumah ini?!" ujar Samsudin, dengan wajah penuh khawatir dan rasa takutnya pada Gavlin.
"Gak ada waktu membahasnya, Pak. Mari ikut saya." ujar Pengawal Pribadi.
"Mau kamu bawa kemana Saya?" tanya Samsudin, menatap wajah Pengawalnya.
"Ke Bunker bawah tanah, Pak. Agar Bapak bisa melarikan diri dan selamat dari kejaran Gavlin. Nanti Bapak bisa keluar di tempat lain melalui Bunker tersebut." ucap Pengawal Pribadi menjelaskan pada Samsudin.
"Oh, baiklah." Angguk Samsudin.
Samsudin lantas mengikuti Pengawal Pribadinya keluar dari dalam kamarnya, wajahnya terlihat pucat, ada rasa khawatir dalam dirinya.
Samsudin dan Pengawalnya berlari cepat di ruangan dalam rumah, bertepatan dengan Gavlin yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.
Gavlin melihat Samsudin sedang berlari bersama Pengawal Pribadinya, Dia lantas geram melihat ke arah Samsudin.
Samsudin dan Pengawalnya kaget, di tembak Gavlin dari belakang dengan senapan mesin, mereka sempat berhenti, menghindari tembakan.
"Ayo, cepat lari ,Pak. Jangan sampai Gavlin menangkap Bapak!" tegas Pengawal Pribadinya.
Samsudin mengangguk, dia mengiyakan perkataan Pengawalnya itu, lalu, bergegas lari kembali, Di belakangnya, Gavlin terus berjalan mengejarnya sambil terus menembakkan senapan mesinnya ke arah Samsudin yang berlari.
Lalu, Samsudin dan Pengawalnya tiba di depan pintu masuk Bunker, dengan cepat Pengawalnya membuka pintu rahasia tersebut, lalu, dia segera menarik tangan Samsudin, dan membawanya masuk ke dalam Bunker.
Gavlin berlari cepat, saat dia tiba di depan Bunker, pintu rahasia bunker tertutup rapat secara otomatis, Gavlin mencoba menekan tombol di tembok, dia sempat melihat, Pengawal tadi menekan tombol tersebut dan lalu pintu rahasia terbuka.
Namun, pintu tak bisa terbuka, Gavlin menekan berkali kali tombol itu, tapi, pintu sudah terkunci secara otomatis dari dalam, dan membukanya hanya bisa dari dalam saja sekarang, karena , setelah kunci di dalam Bunker aktif, maka, kunci di luar Bunker sudah tak berfungsi lagi, itu sebabnya Gavlin tak bisa membuka pintu Bunker tersebut.
"Siaaaalllaaaannn!!" teriak Gavlin sekeras kerasnya penuh emosi amarahnya.
Lantas, dengan kalap , Gavlin menembakkan senapan mesinnya ke arah pintu rahasia Bunker, Gavlin mengamuk, dia emosi, karena Samsudin berhasil melarikan diri melalui Bunker tersebut.
Peluru di senapan mesin Gavlin habis, dia lantas membuang begitu saja senapan mesinnya di lantai, lalu, Gavlin mengambil senjata bom roket yang juga di bawanya di pundaknya.
Gavlin mundur enam langkah ke belakang, lalu, dia mengarahkan senjata bom roketnya ke pintu rahasia Bunker, Gavlin tampak bersiap siap melepaskan bom roketnya.
Lalu, Gavlin pun lantas melepaskan tembakan bom roketnya ke arah pintu Bunker, seketika, Pintu meledak dan hancur serta terbuka. Terlihat lorong dalam Bunker tersebut.
Tanpa membuang waktu lagi, Gavlin sambil membawa senjata bom roketnya berlari masuk ke dalam Bunker untuk melanjutkan pengejarannya terhadap Samsudin yang sudah melarikan diri bersama Pengawalnya, jauh di depannya.
Samsudin menghentikan langkahnya, dia kaget mendengar suara ledakan dari arah luar Bunker tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya Gavlin meledakkan pintu masuk menggunakan bom." ujar Samsudin ketakutan.
"Sudah, biar saja, Pak. Yang penting kita terus lari, Bapak harus bisa menyelamatkan diri Bapak. Sebelum Gavlin mendekat, Bapak harus sudah keluar di tempat lain!" tegas Pengawal Pribadi menjelaskan pada Samsudin.
"Ya. Memang, tembus kemana Bunker ini?" tanya Samsudin.
"Kantor Bea dan Cukai, Pak. Dari sana, Bapak bisa pergi nantinya." jelas Pengawal Pribadi.
"Oh, baiklah." Angguk Samsudin senang.
Lalu, mereka berdua segera melanjutkan pelariannya, sementara, jauh di belakang, Gavlin berlari mengejar mereka berdua.
Gavlin terus berlari menyusuri lorong lorong dalam Bunker yang sangat panjang tersebut. Dia heran, ternyata Binsar sengaja membuat Bunker untuk persembunyian dan pelarian dirinya jika nyawanya terancam.
Dan sekarang, Bunker tersebut di gunakan Samsudin , yang berusaha untuk bisa lolos dari kejaran Gavlin.
Gavlin terus berlari sambil memegangi senjata bom roket di tangannya.
Samsudin terlihat lelah, dia seperti kehabisan nafas, karena sudah sangat jauh berlari larian dari tadi, Pengawal Pribadinya berdiri cemas di depannya.
"Ayo, Pak. Bapak harus kuat, sebentar lagi, kita akan sampai ke pintu rahasia ke dua, dan setelah itu, Bapak sudah bisa menghilang, Gavlin gak akan menemukan Bapak lagi setelah ada di kantor Bea cukai tersebut." ujar Pengawal, menjelaskan dan meyakinkan Samsudin, agar dia menguatkan dirinya untuk melanjutkan larinya.
"Tunggu sebentar saja, aku mau ambil nafas, aku benar benar capek, sebentar aja." ucap Samsudin, dengan suara yang terengah engah kelelahan dan kehabisan nafas karena terus berlari lari.
Pengawal Pribadi yang berdiri didepan Samsudin, menghela nafasnya melihat Samsudin yang sudah kelelahan, padahal, hanya tinggal sedikit lagi saja, dan mereka bisa keluar dari dalam Bunker tersebut.
Gavlin terus berlari kencang, dia sudah semakin dekat dengan Samsudin yang sedang beristirahat kelelahan, Pengawal melihat Gavlin dikejauhan berlari lari semakin mendekat ke arah mereka.
"Gavlin hampir mendekat, Pak. Ayo kita lari lagi." ujar Pengawal pada Samsudin.
"Aku gak kuat lari lagi, kakiku gemetaran, aku benar benar udah gak sanggup lari dan menggerakkan kakiku, lorong Bunker ini sangat panjang sekali, kayak gak ada ujungnya, aku capek!" ujar Samsudin dengan lemah.
Pengawal menghela nafasnya melihat kondisi Samsudin yang malah terduduk lemas di lantai Bunker, Pengawal melihat Gavlin semakin mendekat ke arah mereka.
Pengawal Pribadi Samsudin berfikir , tak ada jalan lain saat ini, dia harus menghadapi Gavlin, untuk melindungi Samsudin yang tengah kelelahan tersebut.
Sebagai Pengawal Pribadi Samsudin, sudah menjadi tugasnya, dia harus bisa menjaga dan melindungi Samsudin .
Gavlin tiba di hadapan Pengawal dan juga Samsudin. Samsudin kaget melihat Gavlin sudah sampai di dekat mereka , dia tak sanggup berdiri, masih tetap terduduk lemas di lantai.
"Akhirnya, ketemu juga sama kamu Samsudin keparat!!" ujar Gavlin , dengan wajah geram dan penuh amarah.
"Jika kamu mau membunuh pak Samsudin, langkahi dulu mayatku." ujar Pengawal Pribadi, menatap tajam wajah Gavlin.
Gavlin yang berdiri dihadapan Pengawal Pribadi tersenyum sinis menatap Pengawal tersebut, lalu, Gavlin melirik Samsudin yang terduduk lemas di lantai Bunker.
Gavlin lantas menyeringai dan menatap tajam Pengawal Samsudin, lalu, dengan sikap tenangnya, Gavlin lantas meletakkan senjata bom roketnya di lantai, tepat di belakangnya.
Lalu, dengan sikap dingin dan tenang, Gavlin melangkahkan kakinya ke depan, dia berjalan mendekati Pengawal Pribadi Samsudin.
Pengawal itu pun maju dua langkah, dan Samsudin sekarang ada di belakangnya, Pengawal berusaha melindungi Samsudin.
Gavlin dan Pengawal tersebut berdiri saling berhadapan dengan sangat dekatnya, dan mereka berdua saling bertatapan mata, bersiap untuk duel.
__ADS_1