
Beberapa hari kemudian, Maya menghampiri Gavlin yang tengah menyeduh kopi di dapur.
"Vlin, ada pesan dari Ayahku." ujar Maya.
"Pesan apa?" tanya Gavlin, sambil menuangkan air ke dalam gelas berisi kopi.
"Pak Richard minta ketemu kamu sore ini, di Apartemen Lunar, kamar 315." ujar Maya.
"Jam berapa?" tanya Gavlin.
"Jam empat sore katanya." lanjut Maya, menjelaskan.
"Ya, bilang, nanti aku datang, tapi, kalo Richard mencurigakan, jangan salahkan aku, kalau aku membunuhnya langsung nanti!" tegas Gavlin.
Gavlin mengancam, karena dia belum yakin dan percaya sepenuhnya pada sosok Richard.
"Ya, Vlin, aku tau itu. Tapi aku yakin, pak Richard orang baik, dan kamu pasti bisa berteman dengannya." ujar Maya, tersenyum senang.
Gavlin diam tak menjawab, dia lantas pergi dari dapur sambil membawa gelas berisi kopi yang sudah diseduhnya.
Maya pun lantas mengikuti Gavlin yang berjalan dan duduk di ruang keluarga rumahnya.
---
Sore harinya, Gavlin pun memenuhi janjinya, dengan memakai topi serta jaket untuk menyamarkan dirinya dari di kenali orang lain, Gavlin pun datang ke kamar apartemen yang dimaksud Richard.
Gavlin lantas mengetuk pintu kamar Apartemen, terdengar suara Richard dari dalam kamar.
"Masuk aja, Vlin, gak di kunci." teriak Richard, dari dalam kamarnya.
Gavlin pun kaget, karena Richard menyebut namanya dan seperti sudah akrab saja. Gavlin pun membuka pintu kamar.
Gavlin masuk ke dalam kamar, dia melihat Richard berdiri menghampirinya.
"Apa kabar, Vlin." ujar Richard tersenyum ramah, menyambut Gavlin.
"Baik." Jawab Gavlin datar.
"Apa yang mau anda bahas dengan saya?" tanya Gavlin, langsung ke pokok permasalahan.
Gavlin tak mau ada basa basi, dia langsung bertanya pada Richard , tujuannya memanggil dia ke apartemen tersebut.
"Sabar dulu, Vlin, sebaiknya duduk dulu." ujar Richard, ramah.
"Aku gak ada waktu buat bersantai, Maaf." ujar Gavlin, dengan sikap dingin.
"Baiklah, kalau begitu. Saya paham." ujar Richard tersenyum ramah.
Dia tak marah atas sikap dan ucapan Gavlin kepadanya, Richard memaklumi Gavlin, karena, dia sudah banyak tahu tentang Gavlin, dari Gatot, yang menjelaskan bagaimana pribadi dan sifat Gavlin.
"Begini, Vlin, Saya hanya mau bertanya, apa benar, kamu mau membalas dendam atas kematian kedua orang tuamu?" tanya Richard.
"Ya, benar!" tegas Gavlin, dengan sikap dinginnya.
"Baiklah, Saya akan membantumu menemukan Bramantio dan Jafar, tapi, kamu juga harus bantu saya." tegas Richard.
"Bantu apa?" tanya Gavlin.
"Kamu harus menangkap satu persatu musuh musuh besarku, kamu bisa?" ujar Richard bertanya.
"Siapa mereka?" tanya Gavlin, dengan wajah yang serius.
"Mereka orang orang yang juga turut andil dalam menjebak bapakmu dulu." jelas Richard.
__ADS_1
"Dulu, saya dan Gatot, gak bisa menangkap mereka, karena mereka licik dan bekerja sama menghilangkan bukti serta memutar balik fakta dan memainkan hukum sesuka mereka!" jelas Richard.
"Siapa aja mereka itu?" ujar Gavlin, mulai geram.
"Mentri kehakiman, Herman, Kapolda Peter Sceimikel, Kepala Intelijen Dody Mulyadi, Wakil dewan rakyat Prawira, serta Jack Hutabarat, jaksa agung!" tegas Richard.
"Kamu sanggup, menjalankan tugas itu?" tanya Richard, dengan wajah serius.
"Ya, aku sanggup !" tegas Gavlin, penuh keyakinan.
"Sebenarnya, tidak harus mereka semua, cukup salah satu dari mereka aja, cari yang terlemah diantara mereka, Saya hanya butuh satu orang untuk mengakui perbuatan mereka dulu, dan membongkar rahasia kejahatan komplotannya." tegas Richard, dengan wajah serius.
"Mengapa anda baru bertindak sekarang? Kenapa gak dari dulu?" tanya Gavlin, marah.
"Karena dulu, saya gak punya kekuatan melawan mereka, jabatan mereka dulu lebih tinggi, dan kalo sekarang, saya sudah punya kekuatan, banyak yang mendukung langkah saya, sebagian dari lawan lawan politik mereka!" tegas Richard, dengan wajah serius.
Gavlin pun diam , dia berfikir sesaat, lalu, dia menatap lekat wajah Richard yang terlihat serius itu.
"Aku akan membunuh mereka semua!" ujar Gavlin, geram dan menahan marahnya.
Richard pun diam, tak membantah perkataan Gavlin, dia paham, jika Gavlin di bantah, maka, Gavlin akan semakin marah, dan itu akan merusakkan rencananya.
"Saya akan kirim alamat persembunyian Jafar dan Bramantio ke hape Maya, anaknya Gatot nanti." jelas Richard.
"Ya." Jawab Gavlin, dingin.
"Masih ada yang mau dibahas? Atau udah selesai?" tanya Gavlin dingin.
"Udah, sementara, hanya itu. Saya hanya berpesan, kamu berhati hati, Herman sudah tau tentang kamu, dan Saya yakin, dia akan menugaskan pasukannya memburu kamu." jelas Richard.
"Ya." Jawab Gavlin, dengan sikap dinginnya.
Lalu, tanpa pamit, Gavlin pun berbalik badan, dia lantas pergi meninggalkan Richard didalam kamar apartemen.
---
Gavlin menghampiri Maya yang sedang santai membaca buku di sofa ruang tamu rumahnya.
"Gimana hasil pertemuan kamu, Vlin?" tanya Maya, dengan wajah ingin tahu.
Dia meletakkan buku kriminal yang dibacanya ke atas meja. Gavlin duduk di samping Maya, dia menghela nafasnya.
"Biasa aja, gak ada yang penting." ujar Gavlin.
"Masa sih gak penting, aku gak percaya!" ujar Maya.
"Dia cuma mau kasih tau persembunyian Bramantio dan Jafar, sementara, aku juga udah niat mau jebak Bram pake nomor teleponnya Ronald. Jadi, percuma kan." ujar Gavlin.
Gavlin tak mau menjelaskan pada Maya, bahwa, sebenarnya Richard memintanya untuk menangkap salah satu dari pejabat pejabat penting dan tertinggi yang pro pada Sutoyo.
Gavlin tak ingin Maya cemas, jika dia tahu tentang hal itu, Gavlin pun bertekat, untuk menangkap komplotan Sutoyo dan Bramantio.
Gavlin selama ini tidak tahu menahu tentang mereka, dia baru tahu, setelah Maya menjelaskannya, dan dia juga bertemu Richard.
Dia baru menyadari, ternyata banyak orang yang berada di belakang Bramantio, hanya untuk menjebak Bapaknya.
"Kamu melamun, Vlin?" tanya Maya, heran.
"Ah, nggak, aku cuma lagi mikir, gimana cara mengeluarkan Ayahmu dari rumah sakit, tanpa diketahui polisi polisi yang menjaganya." ujar Gavlin, dengan wajah serius.
"Oh, gitu." ujar Maya.
"Kayaknya sulit sih, Vlin. Aku liat, ruangan Ayahku ketat penjagaannya." jelas Maya.
__ADS_1
Gavlin pun diam, dia tak menjawab perkataan Maya, Gavlin tampak berfikir, dia tetap nemikirkan cara, untuk membawa Gatot keluar dari rumah sakit.
Gavlin tak mau berlama lama, jika benar Sutoyo punya komplotan, maka nyawa Gatot tetap terancam walau dia di jaga ketat polisi.
Gavlin tak mau menyesal, jika semua yang dia khawatirkan terjadi, sebelum semua terlambat, Gavlin bertekat, akan mengeluarkan Gatot dari rumah sakit, untuk menyelamatkan nyawanya.
"May, aku pergi dulu ya?" ujar Gavlin.
"Mau kemana?" tanya Maya heran.
"Ke tempat persembunyianku, aku mau menyiapkan peralatanku sebelum bertemu Bramantio." ujar Gavlin, menjelaskan.
"Oh, baiklah." ujar Maya.
Lalu, Gavlin pun berjalan keluar dari dalam rumah Maya, Maya lantas mengikutinya, dia juga ikut keluar menemani Gavlin.
Maya mendekati Gavlin, Gavlin masuk ke dalam mobilnya, Mesin mobil menyala, Maya mundur tiga langkah, agar dia tidak tersenggol mobil Gavlin.
Sesaat kemudian, mobil Gavlin pun berjalan, lalu, pergi keluar dari rumah Maya menuju jalanan. Maya berdiri tersenyum memandangi kepergian Gavlin.
Lalu, Maya pun berjalan masuk ke dalam rumahnya, dia menutup dan mengunci pintu rumahnya, kemudian, Maya duduk di sofa, dia pun lantas membaca buku kriminalnya lagi.
---
Di ruang bawah tanah, dalam rumah Gavlin yang sudah hancur berantakan, Gavlin sedang berada di dalam kamar tempat dia menyimpan senjata senjatanya.
Gavlin terlihat sedang.memasukka senjata senjata yang dia perlukan ke dalam kantong tas besar dan panjan, Gavlin tampak bersiap siap untuk menjalankan aksinya kembali.
Dengan senjata senjatanya itu, dia akan memulai kembali perburuannya pada musuh musuhnya.
Wajah Gavlin tampak tegang, ada kemarahan terlihat jelas dalam dirinya. Dia sangat marah sekali, saat mengetahui, bahwa ternyata, masih ada orang lain di belakang Sutoyo dan Bramantio.
Gavlin selesai memasukkan semua senjata senjata yang dia butuhkan, dia lantas membawa tas besar dan panjang.
Gavlin keluar dari dalam kamar khususnya, lalu, dia pun berjalan ke garasi mobil. Gavlin meletakkan tas besar dan panjang berisi senjata senjata ke dalam bagasi mobil.
Lalu, setelah menutup pintu bagasi, dia pun bergegas masuk ke dalam mobilnya. Lalu, mobil pun meluncur keluar dari garasi ruang bawah tanah, menembus jalana disamping rumahnya.
---
Di rumah sakit, tepatnya di depan kamar ruang ICU tempat Sutoyo sedang dirawat, terlihat, 15 petugas kepolisian berjaga jaga, diantara mereka, ada yang memakai seragam kepolisian, menunjukkan, jika mereka dari kepolisian, dan ada yang memakai baju biasa, menunjukkan jika mereka intelijen, yang ditugaskan Dody Mulyadi menjaga Sutoyo.
Tiba tiba saja, sebuah benda berbentuk kaleng menggelinding di lantai koridor menuju ke arah para petugas kepolisian dan intel yang tengah berjaga.
Asap tebal keluar dari benda seperti kaleng tersebut, Para Petugas Polisi dan Intel panik, melihat asap tebal menyelimuti dan mengganggu pandangan mata mereka.
Mereka pun tampak bersiap siap, berjaga jaga, insting mereka merasa, akan ada bahaya yang akan mengancam mereka.
Dan benar saja, belum sempat mereka bersiap siaga, karena sibuk menghilangkan asap tebal yang mengganggu pandangan mereka.
Terdengar tembakan dari senapan mesin ke arah mereka, seketika, Para Petugas Polisi dan Intel yang berjaga di depan kamar ruang ICU Sutoyo pun terkapar mati, terkena peluru dari senapan mesin.
Gavlin, sambil membawa senapan mesin ditangannya, dan memakai masker yang menutupi seluruh wajahnya berjalan mendekati mereka.
Gavlin berdiri di depan pintu masuk kamar ruang ICU, dia melihat, Para petugas polisi dan Intel mati terkabar, ada satu petugas polisi yang bergerak, dengan cepat, dan tanpa ampun, Gavlin menembaknya hingga mati.
Terdengar alarm tanda bahaya berbunyi di rumah sakit, memberi tahu, bahwa saat ini ada sesuatu yang terjadi. Seorang Suster yang mendengar suara tembakan dan berada di dalam kamar salah satu pasien membunyikan alarm bahaya, setelah dia melihat Gavlin menembak petugas polisi yang berjaga jaga.
Gavlin membuka pintu kamar ruang ICU, lalu, dia segera masuk, Gavlin melihat, Sutoyo tergeletak di atas ranjang, denga kedua tangan tergantung diatas dan dibalut perban seluruh tangannya, serta kedua kakinya menggantung ke atas denga memakai gips.
Di wajah dan tubuh Sutoyo ada perban yang membalut seluruh wajah dan tubuhnya.
__ADS_1
Gavlin berdiri dengan sikap dingin dan tenang di samping ranjang, dia menatap wajah Sutoyo yang tak sadarkan diri.
Gavlin pun tersenyum sinis pada Sutoyo yang terlihat sekarat diatas ranjangnya.