
Gavlin berlari membuka pintu rumah saat mendengar suara mobil Maya datang, dia lantas segera membuka pintu lalu keluar untuk menghampiri Maya.
Maya berjalan dari arah garasi rumah menuju teras, dia menenteng kantong plastik berisi makanan siap saji yang dia beli tadi.
Gavlin berdiri di teras depan rumah menunggu Maya. Maya tersenyum senang, berjalan mendekati Gavlin yang sudah menunggunya.
"Kok lama banget, May ?" tanya Gavlin.
"Biasa, ada urusan dikit tadi." ujar Maya santai.
Dia lantas masuk ke dalam rumahnya, Gavlin pun segera menyusulnya, dia juga ikut masuk ke dalam rumahnya.
Maya meletakkan makanan yang dia beli di atas meja makan, Gavlin menghampirinya di ruang makan.
"Bentar ya, aku nyimpan tasku dulu." ujar Maya tersenyum.
"Iya." Angguk Gavlin.
Maya lantas pergi meninggalkan Gavlin, Gavlin menarik kursi meja makan, lalu, dia pun duduk di kursi. Beberapa saat kemudian, Maya datang mendekati Gavlin yang duduk menunggu diruang makan.
Gavlin menarik kursi, Maya pun duduk di kursi yang disediakan Gavlin, lalu, dia meletakkan ponselnya di atas meja makan.
Maya lantas mengeluarkan makanan siap saji yang dia beli, Maya memberikan satu kotak makanan pada Gavlin, dan satunya lagi buat dia.
"Yuk, makan Vlin." ujar Maya.
Gavlin mengangguk tersenyum. Lalu, mereka berdua pun makan, tampak keduanya sangat menikmati makanan yang dibeli Maya.
"Enak nih, lezat rasanya, beli dimana, May?" tanya Gavlin.
"Agak jauh sih tadi belinya." ujar Maya, sambil terus makan.
"Oh, gitu." ujar Gavlin.
Dia pun lantas melanjutkan makanannya, karena memang lapar, Gavlin pun dengan cepat menghabiskan makanannya. Maya tertawa melihat Gavlin sudah duluan habis makanannya.
"Kamu lapar banget ya, Vlin?" tanya Maya, tertawa kecil.
"Heeh, banget!" ujar Gavlin tertawa juga.
"Maaf ya, Vlin, kamu lama nunggu aku." ujar Maya manja.
"Tapi tenang aja, Vlin. Aku akan membuatmu senang nanti." ujar Maya tersenyum penuh arti.
"Buat aku senang?" tanya Gavlin heran.
"Iya, pokoknya kamu tenang aja deh, nanti kamu juga tau." ujar Maya tersenyum penuh arti.
Gavlin pun diam, dia tampak berfikir, kira kira apa yang akan di lakukan Maya untuk membuatnya senang.
Maya selesai makan, dia mengambil tisu yang ada di meja makan, lalu, dia membersihkan mulutnya dengan tisu.
Kemudian, Maya pun menghabiskan minumannya, Gavlin masih diam duduk di kursinya, menunggu Maya.
"Yuk, Vlin. Kita ke ruang keluargaku." Ajak Maya.
"Ayo." Jawab Gavlin.
Lalu, mereka berdua berdiri, Maya mengambil dua kotak bekas makanan mereka dan ponselnya, mereka berdua pun lantas berjalan, Maya membuang kotak ke dalam tempat sampah yang ada di dapur.
Kemudian, Maya dan Gavlin masuk keruang keluarga, Gavlin duduk di sofa panjang, Maya pun ikut duduk disampingnya.
"Tadi itu sebenarnya aku mau beli makanannya di restoran korea, tapi gak jadi." jelas Maya.
"Kenapa gak jadi?" tanya Gavlin heran.
"Soalnya, pas aku mau masuk, di dalam restoran, aku liat setan !" ujar Maya, dengan wajah serius.
"Ah, ngaco kamu!" ujar Gavlin.
"Serius, Vlin, aku gak bohong! Aku benar benar liat setan di dalam restoran itu." tegas Maya, dengan wajah yang serius.
Gavlin menatap lekat wajah Maya, dia perhatikan, Maya memang serius mengucapkan perkataannya.
"Kalo kamu gak percaya, aku kasih buktinya, ya. Aku photo setan itu!" ujar Maya serius.
"Masa setan bisa di photo." ujar Gavlin nyengir.
Maya diam, tak menjawab perkataan Gavlin, dia lantas membuka layar ponselnya, lalu, dia membuka file galeri photo di ponselnya.
"Liat, ini setannya!" ujar Maya serius.
Maya menunjukkan photo di ponselnya pada Gavlin, Gavlin pun lantas melihat photo yang ada di ponsel Maya.
"Ronald?!" ujar Gavlin kaget.
"Iya, dia setannya!" ujar Maya, dengan wajah serius.
__ADS_1
"Kamu ketemu manusia laknat itu?" ujar Gavlin, dengan wajah geram.
"Iya, aku liat dia lagi makan di dalam restoran, jadi aku sembunyi, terus aku photo, biar kamu nanti tau." jelas Maya.
"Ternyata si Ronald tau, kalo aku ngawasi dia, terus, diam diam dia ngikuti aku Vlin." tegas Maya, menjelaskan.
"Terus?! Kamu gak di apa apainnya?!" ujar Gavlin cemas.
"Hampir sih, Vlin, pas aku keluar dari restoran, tiba tiba aku liat si Ronald jalan dekati aku dengan wajah marah." jelas Maya.
"Langsung aja spontan aku teriak minta tolong, aku bilang, si Ronald perampok yang mau ngerampok aku!" tegas Maya.
"Dia langsung lari terbirit birit dikejar orang banyak sama petugas polisi." Lanjut Maya, tertawa senang.
"Terus, diam diam, aku ikuti aja si Ronald yang kabur dari kejaran massa dan polisi." jelas Maya.
"Terus?" tanya Gavlin, penasaran.
Maya diam, dia tak melanjutkan perkataannya, Maya lantas mencari photo lainnya, setelah menemukannya, dia pun menunjukkannya pada Gavlin.
"Ini liat." Ujar Maya.
Gavlin pun lantas melihat photo yang di tunjukkan Maya, dia heran melihat photo di ponsel Maya.
"Rumah siapa ini, May?" tanya Gavlin heran.
"Ini tempat persembunyian si Ronald." tegas Maya, memberi tahu Gavlin.
"Tempat persembunyiannya? Kamu nekat kesana May?" tanya Gavlin serius.
"Iya, aku ikuti si Ronald, pas aku liat dia belok dan masuk kerumah ini, aku langsung berhenti, dan aku photo rumahnya, buat kasih ke kamu." jelas Maya, dengan wajah serius.
"Nekat kamu, May. Lain kali, jangan gitu. Kalo si Ronald tau kamu ngikuti dia kan bahaya, nyawamu bisa terancam, Ronald itu gila, dia psikopat !" Jelas Gavlin, menegaskan dengan wajah serius.
"Aku tau, Vlin. Tapi aku pikir, ini kesempatan buatku, kapan lagi kamu tau tempat persembunyian Ronald, kamu kan udah lama nyari dia tapi belum ketemu juga." jelas Maya serius.
"Iya, memang aku belum bisa menemukan keberadaan Ronald." ujar Gavlin.
"Nah, tanpa di duga, aku ketemu Ronald, ya aku gak mau nyia nyiakan kesempatan dong, Vlin." Tegas Maya.
"Langsung aja aku ikuti dia, aku mau tau, sebenarnya selama ini dia sembunyi dimana." jelas Maya.
"Pas aku tau tempatnya, aku pun langsung pulang, buat ngasih tau kamu." Lanjut Maya, menjelaskan.
"Dimana alamatnya May." ujar Gavlin dengan wajah serius dan bersemangat.
Gavlin tampak senang, karena Maya memberikan informasi jelas tentang keberadaan Ronald, dengan ditemukannya tempat persembunyian Ronald, maka, dia bisa mendatangi Ronald dan membalaskan dendam Gatot serta Maya, juga dirinya sendiri.
"Ok, May. Aku akan datangi si Ronald." ujar Gavlin geram dan menahan amarahnya.
"Kamu harus hati hati Vlin, jangan lengah, Ronald itu kan licik, kamu juga bilang, kalo dia sangat berbahaya." ujar Maya, khawatir.
"Ya, May. Aku gak akan lengah kayak waktu itu lagi. Aku gak akan terluka." tegas Gavlin.
"Kapan kamu datangi si Ronald?" tanya Maya.
"Secepatnya, May. Aku akan persiapkan segala peralatanku dulu sebelum menemui Ronald, si manusia laknat itu!" Ujar Gavlin geram dan marah.
"Iya, Vlin." Jawab Maya.
Gavlin tersenyum senang memandangi wajah Maya, melihat Gavlin terus memandangi wajahnya, Maya pun jadi memerah malu wajahnya.
"Apaan sih kamu, mandangi aku gitu amat. Nafsu ya?" ledek Maya, tertawa.
"Iya, tiap saat aku nafsu sama kamu." ujar Gavlin tersenyum genit.
"Hmm, Nakal. Tapi, kamu gak bisa nyentuh aku kali ini, soalnya, aku lagi palang merah." ujar Maya tertawa.
"Ya, pantesan, tumben kamu nolak, biasanya, paling duluan minta jatah!" ujar Gavlin tertawa senang.
Maya pun ikut tertawa mendengar perkataan Gavlin tersebut.
Gavlin lantas diam, dia menatap wajah Maya.
"Jadi, teringat aku, yang kamu bilang, aku pasti senang, karena kamu kasih info soal si Ronald?" tanya Gavlin, dengan wajah serius.
"Iya." Angguk Maya tersenyum.
"Oh, itu ternyata, iya sih, aku senang, karena akhirnya, bisa tau persembunyian si Ronald." ujar Gavlin tersenyum senang.
"Ya udah deh, May. Kalo gitu, aku pergi dulu, ya." ujar Gavlin.
"Loh, mau kemana?" tanya Maya heran.
"Mau nyiapin peralatan tempurku, aku kan mau datangi Ronald, aku gak mau lama lama, ntar dia malah kabur dari tempat persembunyiannya, susah lagi aku nyari dia!" tegas Gavlin, dengan wajah yang serius.
"Iya juga sih. Ya udah deh, gak apa Vlin, kalo kamu mau pergi, aku gak kan larang." ujar Maya tersenyum.
__ADS_1
"Trima kasih ya May. Nanti aku ke sini lagi." ujar Gavlin tersenyum senang.
"Vlin, kalo aku gak ada dirumah, berarti aku di rumah sakit, nemani Ayahku, ya." ujar Maya tersenyum.
"Iya, aku tau." Jawab Gavlin tersenyum.
"Aku pergi May." ujar Gavlin.
Gavlin mengecup dahi Maya, lalu, dia segera pergi meninggalkan Maya, Maya tersenyum senang melihat kepergian Gavlin yang keluar dari dalam rumahnya.
Lantas, Maya pun menutup dan mengunci pintu rumahnya, lalu, dia berjalan dan masuk ke dalam kamarnya, untuk berganti baju dan istirahat.
---
Di dalam rumahnya, di sebuah ruangan, tampak Ronald sedang menghubungi Bramantio di ponselnya.
"Apa kabar, bang Bram, lama gak ketemu?" Sapa Ronald, ditelepon.
"Kemana aja kamu, Nald? Sutoyo mencari carimu, aku juga!" Ujar Bramantio, dari seberang telepon.
"Aku sibuk nyari persembunyian, selain itu, aku juga harus berjuang mencari makan, Bang. Makanya, untuk sementara waktu aku menghilang." ujar Ronald, ditelepon.
"Sekarang, aku udah punya usaha, bisnis kecil kecilan, aku jadi juragan sapi." ujar Ronald, tertawa di telepon.
"Tukang jagal, gak jauh jauh dari motong daging!" ujar Bramantio, tertawa di seberang telepon.
"Abang dimana sekarang, kapan kita ketemu dan nemui Sutoyo?" tanya Ronald,tertawa ditelepon.
"Nanti aku cari waktunya, aku belum ketemu Sutoyo lagi, nanti aku kabari kamu lagi." ujar Bramantio, dari seberang telepon.
"Ok, Bang, aku tunggu ya." ujar Ronald di telepon.
Lalu, Ronald pun menutup ponselnya, lalu, dia menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya, dia lantas berjalan menuju kamarnya.
Tiba tiba sebuah peluru tajam melesat dan menembus kaca jendela rumahnya hingga pecah. Ronald pun kaget, dia langsung merebahkan tubuhnya di lantai.
Ronald bersembunyi di balik dinding rumahnya sambil rebahan dilantai, dia kaget sekaligus penasaran, siapa yang telah menembak dia.
Perlahan lahan, Ronald pun bergerak, dengan posisi merangkak di lantai, Ronald berpindah tempat. Sebuah peluru melesat kembali, dan hampir saja mengenai Ronald.
"Kepaaaraaat, dia bisa melihatku!!" Ujar Ronald geram dan marah.
Ronaldpun merebahkan tubuhnya, dia lantas bergerak dengan posisi tengkurap dilantai, bagaikan tentara yang sedang latihan tempur, merangkak dengan posisi tengkurap dilantai.
Ronald dengan cepat lalu bersembunyi di balik dinding pembatas kamarnya. Dia mencoba untuk mengintip, namun, sebuah peluru kembali melesat.
Dan kali ini, peluru itu berhasil menyerempet telinga Ronald, Ronald pun kaget, dia lantas memegangi ujung telinganya.
Dia kaget, karena telinganya tergores dan berdarah, akibat terserempet peluru panas yang melesat ke arahnya.
"Setaaan alaaaas!! Siapa dia !! Berani beraninya nembak aku diam diam!!" ujarnya geram dan marah.
Lalu, Ronald pun masuk ke dalam kamarnya, dengan mindik mindik sambil merangkak ,dia mendekati jendela kamarnya.
Kemudian, Ronald perlahan lahan, mengintip dari bawah jendela kamarnya, dia melihat arah luar rumahnya, pandangan matanya menyisir seluruh area luar rumahnya dari jendela kamar.
Ronald lalu bersembunyi lagi, dia tampak geram, karena dia tak bisa melihat, siapa penembak misterius yang sedang menembaki dirinya.
Di atas pohon yang besar dan tinggi, di seberang jalan depan rumah Ronald, terlihat Gavlin nangkring diatas pohon sambil memegang senapan laras panjangnya.
Senapan itu mengarah ke arah kamar Ronald, dengan memakai teropong, dan dari atas pohon, Gavlin bisa melihat jelas posisi Ronald bersembunyi saat ini.
Gavlin pun membidik senapannya kembali ke arah Ronald yang bersembunyi di bawah jendela kamarnya. Lalu, Gavlin pun menembak.
Ronald kaget, peluru melesat dan menghantam tembok jendela kamar, Ronald pun menghindar dan berguling guling di lantai, dia menjauh dari jendela kamarnya.
"Keparaaat, dia tau aja aku dimana!! Sial, kalo begini terus, gimana aku bisa melawannya !! Bisa mati aku begini !!" ujar Ronald marah dan geram.
Lalu, dengan nekat, Ronald pun berdiri dan bersiap siap, lalu, dengan secepat kilat, dia lari keluar kamarnya, Peluru melesat kearahnya.
Ronald terus berlari ditengah tembakan peluru, saat Ronald hendak masuk ke dapur, sebuah peluru menembus bahunya.
Ronald pun tersungkur dilantai, dia meringis kesakitan, dipegangnya bahunya yang tertembak, dia melihat darah ditangannya, darah yang berasal dari bahunya yang tertembak.
"Bedebaaah!! Dia menembakku!!" ujar Ronald marah.
Lalu, dipaksakannya dirinya berdiri, kemudian, dengan cepat, Ronald pun berlari masuk ke dapur rumahnya.
Karena pandangannya sudah tak bisa melihat Ronald, Gavlin pun menghentikan tembakannya, dia tahu, Ronald sudah tertembak dan terluka.
Gavlin pun lantas turun dari atas pohon untuk mendatangi Ronald yang sudah terluka karena terkena tembakan senapannya.
Di dapur, Ronald dengan menahan sakitnya, membuka pintu, lantas dia berlari keluar, dia terus lari menyusuri halaman belakang rumahnya.
Dengan susah payah, sambil menahan rasa sakit di bahunya, Ronald naik ke atas tembok pembatas rumahnya, dia lantas naik ke atas tembok lalu, dia melompat.
Ronald melompat dan terguling guling ditanah, dia lantas berdiri, lalu, dia pun segera lari, menyusuri tanah pemakaman umum, yang berada tepat di samping rumahnya.
__ADS_1
Melalui pemakaman umum, Ronald berusaha melarikan diri. Sementara, Gavlin dengan wajah dingin, sambil membawa senjatanya, berjalan masuk kerumah Ronald.
Dia ingin segera bertemu dengan Ronald, dan menghabisi Ronald. Dia sudah tak sabar ingin membunuh Ronald.