
Mobil Masto memasuki pekarangan halaman rumah perlindungan, di sekitar halaman rumah tampak para petugas kepolisian berdiri berjaga jaga disekitar, dan di teras rumah, di samping kiri dan kanan pintu masuk rumah, ada juga petugas polisi yang berjaga.
Rumah perlindungan itu sangat dijaga ketat oleh pihak kepolisian, dan lokasinya pun sangat jauh dan sulit dijangkau, tidak ada yang mengetahui lokasi tersebut, hanya petugas penyidik kepolisian yang ditugaskan dan di beri kepercayaan menjaga saja yang mengetahui tempat tersebut.
Masto keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan menuju teras rumah, Masto saling bertegur sapa dengan setiap para penjaga yang ditemuinya.
Masto masuk ke dalam rumah perlindungan, dia berpapasan dengan seorang penjaga yang sedang berjaga di dalam rumah perlindungan tersebut.
"Dimana Chandra?" tanya Masto, pada petugas penyidik kepolisian yang berjaga.
"Di kamarnya, sejak sore hingga malam ini dia belum keluar kamar." ujar petugas polisi.
"Oh, Baiklah. Kalian tetap waspada, jangan sampai Chandra kabur dari rumah ini." ujar Masto.
"Siap, Pak." ujar Petugas Polisi.
Masto lantas pergi meninggalkan petugas polisi yang melanjutkan penjagaannya di dalam rumah.
Masto hendak berjalan menuju ke kamarnya, namun langkahnya terhenti, dia berdiri dan diam sesaat di depan pintu masuk kamarnya.
Masto tampak sedang memikirkan sesuatu hal, dia lantas melirik ke arah kamar, dimana Chandra tidur. Masto lantas berjalan, dia tak jadi masuk ke dalam kamarnya, dan malah berjalan mendekati kamar Chandra.
Dengan perlahan lahan Masto membuka pintu kamar Chandra, lalu dia melongo ke dalam kamar, dia melihat Chandra tertidur diatas ranjangnya.
Masto lalu masuk ke dalam kamar, dia menutup pintu dengan hati hati dan pelan, agar Chandra tak terganggu lalu terbangun.
Dengan langkah perlahan Masto berjalan mendekati ranjang, dimana Chandra saat ini sedang tertidur pulas.
Masto mendekat ke ranjang, dia berdiri disamping ranjang, kedua matanya mengamati wajah Chandra yang tertidur pulas di atas kasurnya. Masto berfikir sesaat, diperhatikannya wajah Chandra secara seksama, dia lalu mengingat gambar wajah sosok pria yang menolong Gavlin melarikan diri dari rumah sakit dalam rekaman cctv yang dia lihat bersama Andre siang tadi. Dia terus memperhatikan wajah Chandra, Masto masih penasaran dengan Chandra, dia masih menduga dan berfikir, bahwa Chandra lah sosok pria yang membantu Gavlin melarikan diri dari rumah sakit, namun, karena dia tak punya bukti, dia tak bisa menuduh Chandra sebagai pelakunya.
Masto yang penasaran ingin memastikan lagi, apakah dugaannya benar atau salah, dia lantas mendekatkan kedua telapak tangannya ke wajah Chandra, lalu, dia dekatkan kedua telapak tangannya dan menutup wajah Chandra hingga tersisa hanya kedua matanya saja, Masto menutup kedua telapak tangannya di atas wajah Chandra, seolah, Chandra sedang memakai masker penutup wajah.
Masto lantas mengamati kedua mata Chandra, dia menegaskan pandangannya, lalu mengingat wajah yang terekam dalam cctv rumah sakit.
Saat Masto serius mengamati wajah Chandra yang ditutupinya dengan kedua telapak tangannya, tiba tiba saja Chandra terbangun, kedua matanya terbuka lebar, Chandra kaget, dengan gerak refleksnya dia cepat menangkap tangan Masto yang berada di atas wajahnya, lalu, dia mengambil pistol yang di sembunyikannya di bawah bantalnya.
Chandra cepat menodongkan pistolnya ke wajah Masto, Masto kaget melihat Chandra mengarahkan pistol kepada dirinya.
"Hei, tenang, ini aku, Masto!" ujar Masto mengingatkan dengan wajah tegangnya.
Chandra menatap tajam wajah Masto yang berdiri disamping ranjangnya, dia melepaskan tangan Masto yang di pegangnya, Chandra lalu duduk di atas kasur sambil masih memegang pistolnya dan di arahkannya ke wajah Masto.
"Mau apa kamu? Mengapa tanganmu ada di atas muka ku?" tanya Chandra menatap tajam wajah Masto sambil menodongkan pistolnya.
"Santai, tenang dulu, turunkan pistolmu, biar aku jelaskan." ujar Masto, mencoba menenangkan diri Chandra.
"Apa kamu diam diam mau membunuhku?!" ujar Chandra, menatap wajah Masto dengan tatapan mata yang penuh curiga.
"Wah, kacau pikiranmu, mana mungkin aku mau membunuhmu." ujar Masto, merasa tersinggung dengan perkataan chandra itu.
"Kalo gak, kenapa tanganmu di muka ku, seakan mau mencekik leherku?!" ujar Chandra, menahan marahnya.
__ADS_1
Chandra tak mau menurunkan pistolnya, dia masih mengarahkan pistolnya pada diri Masto, Masto berusaha bersikap tenang menghadapi Chandra yang marah dan curiga padanya.
"Aku tadi bermaksud mau mengamati wajahmu, apakah wajahmu itu sama dengan sosok pria yang terekam dalam kamera cctv rumah sakit." ujar Masto.
"Aku hanya mau mastikan dugaanku saja, apakah sosok pria itu adalah kamu, makanya aku mendekatkan kedua tanganku menutup wajahmu, seolah kamu sedang memakai masker penutup wajah." ujar Masto, mencoba menjelaskan.
"Gila kamu ! Aku kan sudah bilang, bukan aku orangnya, kalo aku yang membebaskan Gavlin, pastinya aku udah kabur bersamanya, gak tinggal disini!" ujar Chandra.
"Kamu kira aku betah mengurung diri terus di dalam rumah perlindungan ini? Ini sama saja dengan penjara buatku, namun aku terpaksa berdiam diri disini, karena gak ada tempat buatku bersembunyi dari kejaran Inside!" ucap Chandra.
"Tapi kamu malah mencurigai aku, bahkan kesannya menuduh aku sebagai pelaku yang membawa kabur Gavlin, kamu benar benar ngaco Masto!!" bentak Chandra marah.
"Maafkan aku, aku hanya penasaran saja." ujar Masto, dengan wajah penuh rasa bersalah pada Chandra.
"Kalo kamu gak percaya padaku, aku harus bagaimana lagi menjelaskannya agar kamu percaya?!" ujar Chandra, dengan nada bicara sedikit tinggi.
"Sebaiknya kamu focus mengejar organisasi Inside, dari pada sibuk memikirkan siapa orang yang membantu Gavlin melarikan diri, dan jangan sekali kali menuduhku lagi!" tegas Chandra.
"Ya." ujar Masto mengangguk, dengan rasa bersalahnya.
"Pistol itu dari mana kamu dapatkan?" tanya Masto, masih sedikit curiga pada Chandra.
"Kenapa? Apa aku gak boleh menyimpan pistol ?" ujar Chandra, dengan wajah marah.
"Bukan begitu maksudku, cuma, aku heran aja, kamu kok punya pistol." ucap Masto.
"Kenapa memangnya kalo aku punya pistol? Pistol ini milikku, aku sengaja menyimpannya dan membawanya kemana pun aku pergi buat berjaga jaga dari orang orang Inside yang mencoba membunuhku." ujar Chandra.
"Apa aku gak boleh melindungi diriku sendiri dengan menyimpan pistol ini?" tegas Chandra, dengan nada semakin meninggi karena kesal dan marahnya pada Masto.
"Apa aku harus beri tau kamu dulu, kalo aku punya pistol? Nggak harus kan?!" hardik Chandra sewot.
"Ya, maaf." ujar Masto.
"Ya, sudah, tolong keluar dari kamar ini, aku mau tidur lagi, kepalaku pusing, kaget dan terganggu sama kamu!" tegas Chandra, dengan wajah kesalnya.
"Baiklah." ujar Masto.
Masto lantas berbalik badan, dia lalu berjalan pergi keluar dari dalam kamar, meninggalkan Chandra sendirian yang duduk di atas kasurnya.
Pintu kamar di tutup rapat Masto, Chandra lantas menghela nafasnya, dia terlihat lega setelah Masto keluar dari dalam kamarnya, Chandra lalu meletakkan pistolnya kembali ke bawah bantalnya.
"Sial ! Masto masih saja curiga padaku, hampir saja aku ketauan sama dia, kalo aku yang membebaskan Gavlin di rumah sakit!" Gumam Chandra dengan wajah kesalnya.
"Kalo sudah begini, aku harus lebih berhati hati pada masto, dia itu sepertinya sangat susah untuk percaya sama orang, aku harus bisa menunjukkan, bahwa dugaannya salah padaku!" Ujarnya lagi.
Chandra lantas diam dan berfikir sesaat, dia lalu menghela nafasnya dengan berat, Chandra kemudian merebahkan tubuhnya kembali diatas kasur, kedua matanya menatap pada plafon kamar.
"Dimana kamu sekarang Gavlin? Apa kamu sudah mulai bergerak mengejar Inside?" Gumam bathin Chandra, memikirkan Gavlin.
Perlahan lahan, kedua mata Chandra mulai terpejam, dan dia kembali tidur di atas kasurnya.
__ADS_1
Di ruang tamu rumah perlindungan, Masto duduk di sofa, dia tengah menelpon seseorang melalui ponselnya, wajahnya tampak tegang dan serius bicara di teleponnya.
"Bagaimana? Apa ditemukan sidik jari pelaku disekitar kamar rawat rumah sakit itu?" tanya Masto, melalui ponselnya.
"Tidak ada sidik jari di dalam kamar rawat, kami sudah mengecek dan menyelidikinya." ujar seorang petugas Kepolisian dari seberang telepon.
"Lantas, bagaimana dengan sosok pria dalam cctv, apa kalian bisa menemukan wajah yang sama? Mungkin dalam daftar buronan kepolisian ada?!" ujar Masto, ditelepon.
"Sudah, tidak ada satu pun dari daftar buronan yang wajah dan kedua matanya mirip dengan sosok pria dirumah sakit itu." ujar Petugas Kepolisian dari seberang telepon.
"Baiklah, terima kasih atas waktu dan informasinya, jika ada kabar lain, cepat kabari saya." ujar Masto, ditelepon.
"Baik." jawab petugas kepolisian dari seberang telepon.
Masto lantas menutup telepon dan menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya, dia lalu menarik nafasnya dalam dalam, Masto lalu berdiri dari duduknya di sofa, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya, Masto duduk di pinggir tempat tidurnya, dia berfikir sesaat.
"Aku masih penasaran dengan sosok pria itu, siapa dia, dan apa hubungannya dengan Gavlin? Mengapa dia membebaskan Gavlin?" Gumam bathin Masto bicara.
Masto masih terus penasaran dan memikirkan sosok pria yang membantu Gavlin melarikan diri dari rumah sakit, sepertinya dia belum bisa tenang, jika belum berhasil mengetahui dan mengungkap jati diri sosok pria berpakaian serba hitam dan memakai masker penutup wajah, yang telah membawa kabur Gavlin dari rumah sakit.
"Aku masih penasaran, aku harus terus mencari tau, siapa orang itu, gara gara dia, Gavlin berhasil melarikan diri !" ujar Masto dengan geramnya.
Masto kembali menarik nafasnya dalam dalam, dia mencoba untuk menenangkan dirinya, lalu, dia pun kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Masto mencoba untuk beristirahat dan tidur, melepaskan dan melupakan sejenak beban pikirannya pada sosok pria yang membantu Gavlin melarikan diri.
---
Sementara itu, malam yang sunyi dan sepi, tampak rumah Samsudin hening, di sekitar pekarangan halaman rumah, pintu pagar masuk rumah dan juga teras serta halaman samping rumah di jaga ketat oleh pihak tentara.
Samsudin sengaja mengerahkan tentara bayaran yang tergabung dalam organisasi Inside, untuk melindungi dirinya dari segala macam marabahaya yang sewaktu waktu bisa mengancam keselamatan nyawanya.
Apalagi dia tahu, kalau saat ini, anaknya Sanusi yang bernama Yanto atau Gavlin sedang memburu dan berusaha untuk membunuhnya. Dan beberapa waktu yang lalu, dia hampir saja tertangkap oleh Gavlin, jika tidak diketahui tentara bayaran suruhan Binsar yang menghalangi Gavlin mengejarnya, mungkin dia sudah mati ditangan Gavlin saat itu.
Di dalam kamarnya, terlihat Samsudin terlelap tidur, disampingnya, Istrinya juga tidur dengan sangat nyenyaknya. Suasana di dalam rumahnya sangat hening dan sepi sekali.
Di setiap ruangan dalam rumahnya, ada dua tentara bayaran yang berjaga jaga, Samsudin menempatkan mereka juga di dalam rumah, agar, jika ada orang yang secara diam diam berhasil masuk dan menyusup kedalam rumahnya dapat di sergap dan dibunuh tentara bayaran yang berjaga.
Sebagai pejabat dan mentri negara, Samsudin menggunakan penjagaan berlapis untuk mengamankan dirinya serta rumahnya.
Beberapa menit suasana tampak hening, di luar, para tentara bayaran masih berdiri siaga berjaga jaga di tempat mereka masing masing.
Tiba tiba saja, melesat dengan cepat bom roket ke arah rumah Samsudin, Roket rudal tersebut melesat dan menghantam rumah Samsudin hingga meledak dan hancur.
Para tentara bayaran yang berjaga disekitar luar rumah dan juga yang ada di dalam rumah kaget, saat mendengar suara ledakan yang sangat keras, dan rumah dihantam bom roket secara tiba tiba.
Belum hilang rasa kaget para tentara bayaran, bom roket melesat kembali dengan cepatnya menghantam sisi lain dari bagian rumah Samsudin.
Mendapat serangan secara mendadak dan tiba tiba, membuat para tentara bayaran kalang kabut, mereka bersembunyi dan mencari cari, dari mana arah tembakan bom roket itu di luncurkan.
Dua bom roket kembali melesat dan menghancurkan kembali sisi lain bangunan rumah Samsudin yang berlantai tiga itu, hingga bangunannya runtuh dan hancur berantakan karena di bom.
__ADS_1
Di dalam kamarnya, Samsudin bersama Istrinya tersentak kaget lalu bangun, mereka saling pandang mendengar suara ledakan yang sangat dahsyat menghantam rumahnya hingga seluruh ruang kamar bergetar, bagai ada gempa bumi yang terjadi saat ini di rumahnya.
Wajah Samsudin tampak tegang dan panik. Dia tak menyangka sama sekali, jika rumahnya tiba tiba saja di bom seseorang yang tak diketahui wujudnya saat ini.