
Gavlin tampak berlari dengan terburu buru menyusuri lorong dan koridor rumah sakit, dia segera datang kerumah sakit, setelah Maya menghubunginya, dan mengabarkan, bahwa Ayah Maya di rawat karena terluka parah.
Gavlin berlari ke arah Teguh dan Maya yang masih berdiri di depan kamar ruang ICU Gatot. Melihat kedatangan Gavlin, Maya pun tampak senang.
Maya segera berlari menghampiri Gavlin, dia langsung memeluk Gavlin, begitu mereka saling berdekatan, Maya menangis sejadi jadinya dalam pelukan Gavlin.
"Ayahku Vlin, Ayahkuu...!!" Ujar Maya dalam tangisannya.
"Ya, May. Kamu yang sabar ya?!" Ujar Gavlin dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Gavlin mengusap usap pundak Maya, mencoba memberikan ketenangan pada Maya, Maya terus menangis sedih dalam pelukan Gavlin.
Teguh mendekati Gavlin yang tengah memeluk Maya, Gavlin pun lantas menatap tajam wajah Teguh.
"Apa yang terjadi sama Om Gatot, Bang Bro? Kenapa dia bisa terluka?!" Tanya Gavlin dengan wajah geram.
Sebenci dan semarah apapun Gavlin pada Gatot, tetap saja dia tak terima, Gatot terluka parah, biar bagaimana pun, Gatot adalah orang yang sudah menyelamatkan hidupnya dulu saat masih kecil.
Tanpa pertolongan Gatot, yang membawanya kerumah sakit, lalu, mengirimkannya ke Panti Asuhan, tentu dia akan sangat menderita dulu.
Karena jasa Gatot, dia mendapatkan keluarga, mendapatkan pendidikan tinggi dan harta kekayaan yang berlimpah ruah, hingga dia akhirnya mampu untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya.
"Pak Gatot sepertinya marah, setelah dia menangkap dan memenjarakan tiga orang yang mau menculik Maya, dia kemudian pergi, dan aku pikir, dia mendatangi Moses di markasnya." ujar Teguh menjelaskan.
"Mosess?! Bedebaah!! Aku harus menghabisi dia!!" Ujar Gavlin geram dan marah.
Gavlin melepaskan pelukan Maya, dia pun lantas hendak pergi, Teguh mencegahnya.
"Yan ! Kamu jangan bertindak gegabah!! Kita belum tau, apa benar Moses yang melakukannya pada pak Gatot!!" Tegas Teguh mengingatkan Gavlin.
"Kalo bukan Moses, siapa lagi?!!" Bentak Gavlin emosi marah.
"Yan ! Itu cuma dugaan aku saja, belum terbukti kebenarannya! Kamu jangan terburu buru begini mengambil kesimpulan ! Serahkan padaku , biar aku yang menyelidikinya!" Ujar Teguh dengan tegasnya.
Gavlin pun akhirnya diam, dia menuruti perkataan Teguh, Maya menghapus air matanya.
"Siapa yang bawa Om Gatot ke rumah sakit ini?!" Tanya Gavlin dengan wajahnya yang serius.
"Entah, tubuhnya di temukan, tergeletak di halaman rumah sakit, sepertinya, ada yang sengaja membuangnya di depan rumah sakit, agar Pak Gatot mendapat pertolongan dari pihak rumah sakit!" tegas Teguh menjelaskan.
Gavlin terdiam, dia tampak berfikir untuk sesaat. Kemudian, ditatapnya wajah Teguh yang tampak prihatin atas kondisi Gatot.
"Bang Bro, kamu bisa minta pihak rumah sakit untuk ngecek rekaman cctv di halaman rumah sakit?!" Ujar Gavlin bertanya pada Teguh.
"Bisa Yan ! Aku memang rencananya mau lihat cctv rumah sakit ini, aku juga mau tau, siapa yang membawa pak Gatot dan membuangnya di halaman rumah sakit!" tegas Teguh.
"Kalo gitu, tunggu apa lagi, ayo kita liat! Biar kita tau orangnya!" Ujar Gavlin dengan wajah serius.
"Ok, Yan!" Angguk Teguh.
"May, kamu tunggu di sini dulu, ya. Aku sama bang Teguh mau liat rekaman cctv rumah sakit dulu, nanti kami ke sini lagi." Ujar Gavlin dengan suara lembut dan penuh kasih sayang pada Maya.
"Iya, Vlin." Angguk Maya dengan suara lirih dan getirnya.
Gavlin dan Teguh lantas bergegas pergi meninggalkan Maya, Maya pun duduk di bangku tunggu yang ada di samping kamar ruang ICU. Wajah Maya masih bersedih, dia pun kembali menangis dengan sedihnya.
---
Di markasnya, tampak Moses sedang berbenah diri, Ronald berdiri heran di dekatnya.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?!" Tanya Ronald.
"Kemarkasku yang lain!" Tegas Moses.
"Kenapa?!" Tanya Ronald lagi dengan wajah herannya.
"Markas ini udah gak aman, Nald! Aku yakin, Pihak Polisi akan datang ke sini untuk menyelidiki penyerangan Gatot, komandan Polisi mereka!" Hardik Moses marah.
"Heei!! Santai aja!! Kamu kan udah buang mayat Gatot, kalo kamu buang ke tempat aman, gak bakalan mayatnya ditemukan!!" Tegas Ronald cuek.
"Tetap aja, Polisi pasti mencari keberadaan Gatot, jika dalam beberapa hari, Gatot gak ada di kantor maupun rumahnya!!" Tegas Moses marah.
"Polisi pasti akan mencari tau, dan mereka akhirnya pasti bisa mengendus, kalo terakhir kali, Gatot datang ke markasku ini!!" Ungkap Moses dengan marahnya.
"Pokoknya, sebelum polisi polisi itu datang, aku harus udah pergi, aku mau bersembunyi sementara waktu!!" Tegas Moses.
"Pengecut !!" Bentak Ronald sinis pada Moses.
"Ngapain kamu lari? Hadapi dengan santai Moses !!" Ujar Ronald dengan sikap cuek dan sinisnya pada Moses.
"Aku gak peduli kamu bilang aku pengecut, Nald!! Pokoknya ! Aku gak mau kebawa bawa dengan masalahmu itu!! Kamu yang menikam Gatot!!" Hardik Moses.
"Aku udah minta kamu agar diam di dalam kantorku! Jangan temui Gatot!! Tapi kamu keras kepala!! Sok sokan datang menemui!! Dan karena ulahmu !! Aku jadi mendapat masalah besar ! Bisnisku terancam hancuuur!!" teriak Moses melampiaskan amarahnya.
Ronald pun geram dan marah karena Moses berteriak dan membentak dirinya, Ronald dengan cepat mencengkram leher Moses.
Dengan tatapan mata yang tajam penuh amarah, Ronald mencekik kuat leher Moses.
"Berani beraninya kamu teriak dan membentakku Moses?! Udah bosan hidup kamu?!!" bentak Ronald dengan geram dan marah.
"Bunuh aja aku, Nald!! Aku gak takut lagi sama kamu!!" Ujar Moses.
"Mulai sekarang, aku gak mau membantumu, Nald!! Kita masing masing saja !! Jangan libatkan aku dan anak buahku lagi dengan semua urusanmu dan Bramantio!!" bentak Moses.
Tanpa menunggu jawaban Ronald, Moses pun segera pergi keluar ruangannya dengan membawa barang barang yang sudah dia kemas tadi.
Melihat kepergian Moses yang meninggalkan dirinya, Ronald pun kalap, dia mengamuk, meja dan sofa di tendang dan di lemparkannya. Ronald meluapkan amarahnya.
"Bedeeeebaaahhhhh !!!" Teriak Ronald meluapkan emosi amarahnya.
"Kenapa semua manusia di dunia ini hidup sebagai pecundaaaang, kenapaaaa?!!!" Teriak Ronald marah kesetanan.
Dia terus mengamuk, menendang semua barang barang yang ada di dekatnya, Wajahnya merah padam karena amarahnya yang sudah membuncah keluar dari dalam dirinya.
Matanya juga memerah, tatapan matanya tajam, mulutnya menyeringai jahat, wajah Ronald sangat menyeramkan, jika dalam keadaan marah besar seperti saat ini.
"Akan kuhabisi mereka semuanyaaa!! Akan ku potong potong, ku cincang cincang, lalu kumakaaaan !! Aku gak akan membiarkan kamu hiduuup Gavliiin, Yantoooo!!" Teriak Ronald penuh amarah yang memuncak.
Ronald benar benar tak bisa lagi membendung amarahnya, dia pun terus mengamuk kesetanan di dalam ruang kantor Moses.
Di luar markas, tampak Moses bersama seluruh anak buahnya pergi meninggalkan markas, dengan mengendarai mobil masing masing.
Mereka pergi, meninggalkan Ronald sendirian di dalam markas.
---
Di ruang control pengawasan kamera rumah sakit, Teguh dan Gavlin sedang melihat rekaman cctv rumah sakit, karena Teguh seorang Polisi, maka pihak rumah sakit, mengizinkan Teguh dan Gavlin masuk ke ruang control pengawasan kamera rumah sakit.
Wajah Gavlin dan Teguh tampak serius melihat rekaman cctv halaman rumah sakit, saat melihat sebuah mobil pick up berhenti dihalaman rumah sakit, Teguh meminta Petugas untuk menghentikan gambar rekaman cctv.
__ADS_1
"Stop dulu, Pak." ujar Teguh.
Teguh dan Gavlin mengamati mobil yang ada direkaman cctv, di atas mobil pick up, terlihat sosok seorang pemuda.
"Bisa di perjelas gambar orang tersebut, Pak?" Tanya Teguh pada Petugas.
Petugas mengangguk, lalu, dia pun memperbesar gambar pemuda yang ada dalam rekaman cctv.
Teguh dan Gavlin melihat wajah pemuda dalam rekaman cctv, Teguh pun mengangguk angguk paham.
Teguh mengambil buku kecil dan pulpen dari kantong celananya, lalu dia mencatat nomor plat mobil pick up tersebut.
Lalu, dia masukkan kembali buku kecil dan pulpen ke dalam kantong celananya.
"Lanjutkan, Pak." Ujar Teguh.
Petugas mengangguk, mengiyakan. Lantas, dia kembali memutar rekaman cctv tersebut. Dengan wajah serius, Teguh dan Gavlin terus mengamati rekaman cctv.
Dalam rekaman, mereka melihat, sosok orang di depan mobil pick up, posisi kepalanya keluar jendela pintu mobil.
"Stop, stop di sini Pak!" Ujar Teguh.
"Tolong di perbesar wajah orang tersebut!" Perintah Teguh.
"Gak bisa jelas, Pak. Karena dari cctv ini, hanya terlihat dari samping saja." Jelas Petugas.
"Ada kamera dari arah depan mobilnya, Pak?" Tanya Teguh.
"Ada, Pak." Ujar Petugas.
Lalu, Petugas pun memutar rekaman cctv lainnya, dari arah depan mobil. Petugas lalu menghentikan gambar rekaman cctv tepat di wajah sosok orang yang kepalanya keluar di jendela pintu mobil, Petugas memperbesar gambar.
Teguh dan Gavlin mengamati wajah orang tersebut dengan seksama dan serius.
"Moses?! Dia Moses !!" tegas Teguh.
"Apa benar dia Moses?!" tanya Gavlin serius.
"Iya, gak salah lagi, orang itu, Moses, dan aku yakin, yang dibelakang mobil anak buah Moses, mereka yang membuang pak Gatot di halaman rumah sakit!" tegas Teguh menjelaskan.
Gavlin pun terdiam, wajahnya tampak geram, dia menahan amarahnya, setelah tahu, bahwa yang membuang Gatot ke rumah sakit Moses.
"Berarti, Moses yang melukai Om Gatot bang Bro?!" Ujar Gavlin tegas.
"Sepertinya begitu, tapi untuk jelasnya, aku dan timku nanti akan datangi markas Moses, untuk meminta kesaksian darinya!" Ujar Teguh.
"Dengan ditemukan wajahnya dalam rekaman cctv, Moses gak akan bisa berkelit lagi nanti!!" Tegas Teguh.
"Di lanjut, Pak!" ujar Teguh pada Petugas.
Petugas pun memutar kembali dua rekaman cctv secara bersamaan, satu dari arah depan mobil, satu dari arah samping, tepat dari depan pintu masuk halaman rumah sakit.
Dari rekaman cctv tersebut, terlihat jelas, bagaimana anak buah Moses melemparkan tubuh Gatot begitu saja dari atas mobil pick up.
Gavlin tampak marah, melihat, anak buah Moses melemparkan Gatot, seolah, dia sedang membuang sampah. Gavlin pun lantas mengepalkan tangannya, dia tampak geram dan menahan marahnya.
"Saya minta copyan rekaman cctv ini untuk barang bukti kepolisian, Pak !" tegas Teguh pada Petugas.
"Baik, Pak." Ujar Petugas.
__ADS_1
Gavlin hanya diam, dia tampak sedang berfikir keras, dari wajahnya terlihat jelas, jika Gavlin marah, dia bertekat, akan mendatangi Moses dan anak buahnya, dia akan membuat perhitungan dengan Moses beserta anak buahnya.