VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Berhadapan dengan 2 Musuh Besar


__ADS_3

Di dalam kamar hotel, tampak Jafar masih tertidur tanpa memakai baju dan hanya berselimut saja.


Masayu yang baru saja selesai mandi, dengan memakai handuk di badannya, membangunkan Jafar.


"Far, bangun. Ini udah hampir jam 7 malam. Kamu kan ada janji sama Bram malam ini." ujar Masayu, memberitahu Jafar.


Mendengar perkataan Masayu, dengan cepat, Jafar pun bangun, dia lantas duduk di atas kasur.


"Waah, hampir aja aku lupa! Kalo aku gak datang, bisa ngamuk bang, Bram!" ujar Jafar.


"Udah sana buruan mandi, aku juga mau siap siap pulang, biar Bram gak curiga, kalo aku akhir akhir ini sering gak pulang malam." ujar masayu.


"Iya." ujar Jafar.


Jafar lantas turun dari ranjang, dia pun kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.


Masayu berjalan dan berdiri di depan meja rias yang ada di kamar hotel mewah tersebut, dia pun merapikan rambutnya yang basah.


---


Gavlin mengenakan helmnya, dia lantas naik ke atas motor sportnya, Gavlin tampak bersiap siap pergi, untuk berburu musuh musuhnya malam ini.


Wajah Gavlin di dalam helm tampak garam, tatapan matanya tajam, ada kemarahan di bola matanya.


Gavlin lantas menyalakan mesin motornya, lalu, dia pun pergi, mengendarai motornya.


Motor Gavlin melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan yang tampak sepi dan lengang malam ini.


Saat Gavlin asyik santai mengendarai motornya, tiba tiba muncul sebuah mobil sedan dengan kecepatan tinggi dari arah kanan jalan.


Gavlin kaget, dengan sigap, dia pun menghentikan motornya, mobil sedan juga tampak berhenti, motor Gavlin berputar, dan berhenti tepat di samping mobil sedan.


Jika Gavlin tidak cepat menghindar, maka, mereka pun akan tabrakan, Seseorang dari dalam mobil membuka kaca pintu depan mobilnya.


Orang tersebut ternyata Jafar, karena terburu buru ingin cepat sampai di lokasi pertemuan dengan Bramantio, dia pun mengendarai mobilnya dengan ngebut.


Jafar tak mengenali Gavlin, sebab, Gavlin memakai helm yang menutupi seluruh wajahnya, dan kaca helmnya berwarna gelap.


Dengan penuh amarah, Jafar mengeluarkan kepalanya di jendela pintu, dia membentak Gavlin.


"He, Tolol !! Mau mati, ya!! Kira kira dong kalo lewat!!" Bentak Jafar marah.


Dia yang salah, malah dia yang marah marah dan menyalahi Gavlin. Saat melihat, pengendara mobil itu Jafar, mata Gavlin pun terbelalak lebar.


Dari balik helmnya, Gavlin tampak geram dan marah pada Jafar. Jafar lantas masuk ke dalam mobil, dan dia menutup kaca depan pintu mobilnya. Lalu, dengan cepat, Jafar pun pergi meninggalkan Gavlin.


Gavlin membuka kaca helm yang menutupi wajahnya, dia tampak menyeringai geram, melihat kepergian Jafar.


"Jafaaar !! Ku habisi kamu!!" Ujar Gavlin dengan wajah geram dan marahnya.


Gavlin lantas menutup kaca helmnya lagi, lalu, dia pun bersiap siap di atas motornya. Sesaat kemudian, dia menjalankan motornya.


Motor Gavlin melesat dengan kecepatan tinggi, dengan mengendarai motornya, Gavlin mengejar Jafar.


Dia ngebut, karena tak ingin kehilangan Jafar, bertemu Jafar tadi, suatu hal yang tak pernah di duga Gavlin sama sekali.


Dan buat Gavlin. Bertemu dan melihat Jafar, adalah keberuntungan, karena dia tidak bersusah payah mencari tempat persembunyian Jafar selama ini.


Gavlin tak pernah tahu, bahwa, Hotel tempat Jafar selama ini tinggal, berdekatan dengan rumahnya yang baru. Karena itu, mereka bisa berpapasan, dan bertemu tanpa sengaja.


Di jalanan yang sepi dan hening, motor Gavlin terus melesat cepat, meliuk liuk di jalanan, menghindari mobil dan motor yang ada di jalan.


Di depan, di kejauhan, Gavlin melihat, mobil Jafar melaju kencang, Jafar juga ngebut. Gavlin pun tak mau kalah, dia menambah kecepatan motornya, agar bisa menyusul Jafar.


Dari motornya, Gavlin melihat, mobil Jafar berbelok ke kiri jalanan yang ada di pertigaan jalan, dengan cepat, Gavlin pun mengejarnya, dia juga berbelok ke jalan yang baru saja di lalui Jafar.


Gavlin terus mengejar mobil Jafar dengan motor sportnya. Jafar tidak tahu, jika saat ini, dia tengah di ikuti Gavlin.


Di sebuah tikungan jalan, mobil Jafar langsung berbelok, Gavlin segera mengerem motornya, dia berhenti sesaat, hampir saja dia kebablasan dan jalan terus karena dia tak menyangka, Jafar berbelok.


Dengan geram, Gavlin pun melanjutkan pengejarannya, dia menambah kecepatan motornya, dia terus mengejar Jafar.


Jafar tiba di depan gedung Hotel Hera milik Bramantio yang sudah hancur dan hanya tinggal menyisakan puing puing saja.


Gavlin menghentikan motornya, tidak jauh dari Hotel Bramantio yang sudah runtuh itu. Gavlin melepaskan helmnya, dia pegang helmnya.


Gavlin melihat, mobil Jafar masuk ke area reruntuhan hotel Hera milik Bramantio.


"Mau apa si Jafar ke tempat itu?!" Gumam Gavlin geram.


Dia tampak sedang berfikir untuk sesaat, dia lantas melihat jauh kedepan. Jafar keluar dari dalam mobilnya, dan berjalan terburu buru, masuk ke pelataran halaman hotel yang sudah hancur itu.


"Kayak ada yang di temui Jafar?!" Gumam Gavlin lagi berfikir.

__ADS_1


"Ah, aku gak perduli, siapa yang dia temui!! Aku harus membunuh Jafar! Ini kesempatan dan peluang bagiku!!" Ujarnya geram dan marah.


Jafar berjalan cepat, dia masuk ke salah satu reruntuhan gedung hotel, dia melihat, Bramantio sudah berdiri menunggunya.


"Sorry, bang Bram ! aku telat !" ujar Jafar santai dan cuek.


Dengan santainya, Jafar pun berjalan menghampiri Bramantio. Melihat kedatangan Jafar yang santai dan cuek, Bramantio pun geram, dia tampak menahan amarahnya yang tengah meluap luap dalam dirinya.


Jafar mendekat, lalu, dia berdiri dihadapan Bramantio dengan sikap santai dan cueknya.


"Ada apa, Bang? Nyuruh aku ke sini?" ujar Jafar bertanya cuek.


Bramantio diam, dia tak menjawab pertanyaan Jafar, wajah Bramantio tampak sangat geram, dia muak dan jijik melihat Jafar.


Tiba tiba saja, Bramantio memukul Jafar, Bramantio menghajar Jafar, hingga Jafar terjajar mundur kebelakang dan hampir saja terjatuh.


Jafar kaget, dia tak menyangka, Bramantio akan memukul dan menghajarnya, Jafar pun heran, mengapa dia di pukul.


"Kamu kenapa, bang Bram?!!" Kenapa kamu memukulku?!!" Tanya Jafar marah.


"Karena kamu pantas di hajar!!" Bentak Bramantio marah besar pada Jafar.


Jafar pun kaget, dia tak mengerti dengan maksud perkataan Bramantio.


Gavlin yang tadinya masuk dan akan menyerang Jafar, segera menghentikan langkahnya, dia mengurungkan niatnya, untuk menyerang Jafar.


Gavlin kaget melihat, Bramantio ada di tempat itu, dan Gavlin akhirnya tahu, bahwa yang ditemui Jafar adalah Bramantio. Gavlin pun tersenyum sinis pada Bramantio.


Gavlin pun lantas bersembunyi di balik reruntuhan tembok, dia melihat Jafar dan Bamantio sedang bertengkar, Gavlin ingin tahu, apa yang sedang mereka ributkan saat ini.


Gavlin melihat, wajah Bramantio sangat geram menatap tajam wajah Jafar, sementara Jafar berdiri sambil menghapus darah yang keluar dari pinggir bibirnya,


Gavlin juga melihat, Jafar tersenyum sinis pada Bramantio.


"Kebetulan sekali, dua musuhku ada di sini, tanpa susah payah mencari, aku bisa sekaligus membunuh mereka malam ini!" Ujar Bathin Gavlin berkata senang.


Gavlin pun lantas mengintip dari persembunyiannya, dia mendengarkan pertengkaran Bramantio dan Jafar.


"Apa salahku? Kenapa kamu tiba tiba memukulku?!!" Bentak Jafar mulai emosi marah.


"Karena kamu udah berbuat salah besar padaku, Jafar !!" Teriak Bramantio dengan penuh amarah.


"Salah aku apa?!!" bentak Jafar marah.


"Ingat, Bram !! Aku bukan kacungmu!! Aku bukan anjing peliharaanmu!! Jika sekali lagi kamu memukulku, aku gak akan segan segan menghajarmu!!" Bentak Jafar, meluapkan amarahnya.


"Aku gak akan memukulmu!! Tapi aku akan menembakmu, Jafar!!" Teriak Bramantio penuh amarah yang meledak ledak.


Suaranya yang keras, memecahkan keheningan malam, suaranya bergema, diantara reruntuhan bangunan hotelnya yang sudah hancur.


Gavlin kaget, karena Bramantio mengeluarkan pistol dari balik jasnya, dan mengarahkannya pada Jafar.


Jafar terhenyak kaget, melihat bramantio menodongkan pistol ke arah kepalanya, Jafar tampak takut .


"Kamu mau apa, Bang, santai, tenang dulu, jelaskan masalahnya baik baik!" Ujar Jafar takut.


Jafar yang tadinya marah dan galak, sekarang berubah menjadi takut, nyalinya ciut, melihat pistol ditangan Bramantio.


Dia mencoba menenangkan Bramantio yang kalap dan marah, agar tidak menembak dirinya.


Bramantio tampak geram, dia terus memegangi pistolnya dan mengarahkannya ke kepala Jafar.


"Kesalahanmu fatal Jafar! Kamu telah mengkhianatiku!!" Bentak Bramantio penuh amarah.


"Khianat? Aku gak ngerti maksudmu?" ujar Jafar pura pura tak tahu.


Padahal Jafar tahu, yang dimaksud Bramantio dia berkhianat, karena dia berselingkuh dengan Masayu, istri Bramantio. dan Jafar menyadari, kalau Bramantio telah mencium dan mengetahui perselingkuhan dia dan Masayu.


"Berani beraninya kamu selingkuh dengan istriku, Jafar!! Kamu benar benar gak menghormati, dan gak menghargaiku!!" Bentak Bramantio marah.


"Hei, jangan marah dulu, bang Bram!! Dengar dulu penjelasanku!" ujar Jafar .


Jafar mencoba untuk bersikap tenang, walaupun jantungnya berdebar debar, karena takut, Bramantio menembakkan pistolnya kepada dirinya.


Jafar tak mau mati konyol ditangan Bramantio, Jafar pun berusaha untuk meyakinkan Bramantio atas apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Masayu, istri Bramantio.


"Masayu yang menggodaku, Bang!! Dia terus memaksaku, untuk melayani nafsunya!!" ujar Jafar berbohong.


Dia sengaja memfitnah Masayu, menuduh Masayu yang menggoda dirinya, agar dia selamat, dan tidak di bunuh Bramantio, dia ingin menyelamati dirinya sendiri, karena tak mau mati konyol, ditembak Bramantio.


"Aku gak mau dengar alasan apapun darimu, Jafar!! Bagiku, mau siapa yang duluan merayu, mengajak berselingkuh, itu gak penting!!" bentak Bramantio.


"Karena jelas jelas, kalian berdua sangat menikmati perselingkuhan kalian!!" Bentak Bramantio penuh amarah.

__ADS_1


Dari tempat persembunyiannya, Gavlin tampak tersenyum sinis, dia pun tahu, ternyata Bramantio sudah mengetahui perselingkuhan istrinya dengan Jafar.


Belum sempat Gavlin memberi tahu Bramantio dengan mengirim photo mesra Masayu dan Jafar, yang pernah dia potret waktu itu, Bramantio ternyata sudah mengetahui perselingkuhan itu.


"Karena perbuatanmu yang gak memandangku sebagai abang, juga gak menghargaiku!! Maka, aku akan membunuhmu, Jafar!!" Bentak Bramantio marah.


"Aku muak liatmu!! Aku jijik liatmu!! Aku gak mau, kamu ada di dunia ini lagi!!" teriak Bramantio penuh amarah dalam dirinya.


Gavlin melihat, wajah Bramantio tampak marah dan serius mau membunuh Jafar, Gavlin pun geram.


"Aku gak boleh membiarkan Bram membunuh Jafar !! Aku yang harus membunuh Jafar!! Aku harus membalas dendam atas perbuatannya pada Bapak dan Ibuku!!" Bathin Gavlin bicara geram dan marah.


"Bersiaplah menjemput kematianmu, Jafar!" Ujar Bramantio dengan wajah serius dan marah.


Jafar dengan cepat bersimpuh di hadapan Bramantio, dia pun tampak memohon ampun dan ketakutan.


"Ampuni aku, Bang Bram! Tolong, Jangan bunuh aku! Aku mohon, bang, Bram!" tegas Jafar memohon bersungguh sungguh.


"Ingat, bang! Aku ini satu satunya adikmu, aku satu satunya keluargamu yang masih hidup, apa kamu tega membunuhku?!!" Ujar Jafar terus memohon pengampunan.


"Aku gak perduli!!" Teriak Bramantio penuh amarah.


Dia pun mengarahkan pistolnya tepat di dahi Jafar yang sedang bersimpuh di hadapannya, mata Jafar terpejam, dia pun pasrah, di tembak Bramantio.


Karena dia tak berhasil meyakinkan Bramantio untuk mengampuninya, wajah Bramantio tampak geram dan penuh amarah, diletakkannya jarinya di pelatuk pistol, dan dia bersiap siap untuk menembak dahi Jafar.


Tiba tiba, sebuah pisau belati melesat dan mengenai jari tangan Bramantio, hingga jarinya terluka dan berdarah.


"Doooorr !!" Suara Pistol meledak.


Jafar yang memejamkan matanya, membuka satu matanya, dia lalu melihat, bahwa dirinya masih hidup, wajahnya pun tampak senang.


Pistol meledak, dan pelurunya melesat di samping Jafar.


"Bedebaaaah, siaapa kamu!!! Tunjukkan batang hidungmu!!" Teriak Bramantio penuh amarah yang membara dalam jiwanya saat ini.


Bramantio masih memegang pistolnya, walau jari tangannya terluka karena terkena sabetan pisau belati.


Gavlin yang melemparkan pisau belati miliknya, karena dia tak mau, Jafar mati di tangan Bramantio.


Gavlin mau, dia yang membunuh Jafar, karena nyawa Jafar miliknya, hanya dia yang bisa menentukan hidup dan mati Jafar.


"Keluar kamu bedebaaaahhh!!" Teriak Bramantio kalap dan mengamuk.


Jafar tampak takut, melihat Bramantio yang teriak, meledak ledak amarahnya. Dari tempat persembunyiannya, Gavlin pun keluar.


Gavlin sengaja berdiri di tempat yang gelap, sehingga, Bramantio dan Jafar, tidak bisa melihat sosoknya dengan jelas.


"Siapa kamu!! Kenapa kamu mrnghalangiku membunuh bocah tengik ini!!" Bentak Bramantio mengamuk marah.


Jafar terdiam,dia berpura pura tak mendengar, dia tak mau ikut campur.


"Jafar milikku, Bram! Dia hanya boleh mati di tanganku!!" Tegas Gavlin.


Bramantio melihat, sosok Gavlin berdiri dalam kegelapan, dia tak bisa melihat wajah Gavlin dengan jelas. Apalagi saat ini, Gavlin memakai baju serba hitam tanpa penutup kepala dan wajah.


Karena memang Gavlin ingin terang terangan di ketahui Bramantio dan Jafar, agar mereka tahu, kalau dia datang untuk menuntut balas, maka dia tak memakai masker, penutup wajahnya.


"Cepat bilang, siapa kamu setaaan!!" Bentak Bramantio penuh amarah.


Gavlin tetap berdiri diam di tempatnya, dia hanya tersenyum sinis memandang geram wajah Bramantio yang marah besar dan kalap itu.


Jafar yang sejak tadi bersimpuh di hadapan Bramantio, dengan diam diam mengambil ponselnya, dia lantas membuka layar ponselnya.


Jafar dengan cepat menghidupkan senter yang ada di ponselnya, dengan cepat, Jafar pun lantas mengarahkan senter yang menyala di ponselnya pada Gavlin yang berdiri di kegelapan.


Dengan sorot sinar lampu senter ponsel milik Jafar, sekilas, tampak jelas wajah Gavlin, Gavlin berusaha menutupi wajahnya dengan satu tangannya.


Jafar lantas berdiri di samping Bramantio, dia terus menyinari Gavlin, Sorot lampu senter di ponselnya menerangi wajah Gavlin.


Mata Bramantio pun terbelalak lebar, matanya melotot, Bramantio tampak semakin marah saat tahu, siapa yang berdiri di kegelapan itu.


"Keparaaaattt, setan alaaasss!! Rupanya kamu bedebaaah!!" Teriak Bramantio penuh amarah.


Jafar terdiam,berdiri di samping Bramantio, dia heran, karena Bramantio sangat marah pada orang tersebut, sementara, dirinya tidak kenal sama sekali dengan Gavlin.


Gavlin yang wajahnya di sinari sorot lampu senter ponsel Jafar, tampak tersenyum sinis menatap tajam wajah Bramantio yang marah dan mengarahkan pistolnya pada Gavlin.


Gavlin tetap berdiri dengan sikap santai, dingin dan tenangnya, dia pun saat ini berhadapan dengan Bramantio dan juga Jafar.


Dua musuh yang selama ini paling di buru Gavlin, dan kini, keduanya, ada dihadapannya. Pilihan hanya ada dua saat ini bagi Gavlin.


Dia berhasil membunuh Bramantio dan Jafar, atau, dia yang akan mati, di hantam peluru dari pistol Bramantio, Gavlin tidak takut mati, dia sudah siap dengan segala resiko yang akan dia terima dari membalaskan dendam kedua orang tuanya.

__ADS_1


Dia tak perduli dengan dirinya, tujuannya hanya satu, membalas dendam, itu saja.


__ADS_2