VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pengakuan secara Langsung


__ADS_3

Andre menyalakan kamera yang ada didalam ruang interogasi, dia mengarahkan kamera tersebut tepat ke wajah Herman yang duduk di kursinya.


Andre lantas duduk kembali di kursinya, dia menatap tajam wajah Herman yang duduk diam di kursinya dengan wajah tegang.


"Bisa kita mulai, Pak Herman." ujar Andre.


"Tunggu, dulu, bagaimana dengan syarat yang aku minta tadi?!" tanya Herman, menatap serius wajah Andre.


"Ya, Pak. Setelah Bapak membuat pernyataan pengakuan kejahatan Bapak, dan menjelaskan tentang kejahatan organisasi Inside, kami akan memberikan perlindungan khusus pada Bapak. Dan Bapak tidak usah khawatir, dijamin aman tempatnya." jelas Andre.


"Baik, terima kasih, aku percaya padamu." ujar Herman, dengan wajah tegang dan seriusnya.


Andre berdiri dari duduknya, dia berjalan dan mendekati kamera.


"Kita mulai sekarang ya, Pak." ujar Andre.


"Ya." Angguk Herman.


Andre lantas menyalakan kamera, Herman melihat tombol merah menyala pada kamera yang mengarah pada dirinya.


"Silahkan, Pak." ucap Andre.


Lalu, Herman pun mulai memberikan pernyataan atas pengakuan dirinya yang sudah berbuat kejahatan di masa lalu, semua yang dia pernah lakukan dan bergabung dengan anggota Inside di sampaikannya dalam pengakuannya yang direkam saat ini.


Andre duduk diam mendengarkan semua penjelasan Herman tersebut. Dari penjelasan Herman yang mengakui tindak tanduk kejahatannya bersama komplotannya , Andre jadi semakin tahu tentang organisasi Inside. Andre senang, karena dia semakin mendapatkan titik terang tentang kejahatan Inside yang di dapatnya dari Herman.


---


Andre menemui Samuel di ruang kantornya, dia membawa rekaman pernyataan pengakuan Herman.


"Ini pernyataan dan pengakuan pak Herman." ujar Andre, memberikan memory card kamera pada Samuel.


Samuel mengambil memory card dari tangan Andre, dia tersenyum senang.


"Bagaimana caranya kamu membuat Herman mengakui kejahatannya dan mau mengungkap organisasi Inside?" tanya Samuel, heran.


"Dia sendiri yang tiba tiba datang menemuiku, aku juga kaget dan gak menyangka, dia datang untuk membuat pengakuan, dan yang membuatku semakin kaget, dia berani mengungkap kejahatan organisasi Inside. Semua ada dalam memory card itu pernyataannya." jelas Andre, dengan wajah serius.


Samuel lantas membuka laptop dan menyalakannya, lalu, di masukkannya memory card pada laptopnya. Samuel lantas menyetel rekaman yang ada di memory card.


Samuel serius menonton rekaman pernyataan pengakuan Herman, dia mengangguk angguk dan tersenyum senang, begitu juga Andre.


Karena rekaman pernyataan dan penjelasan Herman cukup panjang, lebih dari dua jam, Samuel menghentikannya.


Samuel lantas melepaskan memory card dari laptopnya, dia tersenyum senang memegang memory card tersebut.


"Dengan pengakuan Herman ini, kita semakin mudah mengungkap kejahatan organisasi Inside yang selama ini ternyata sudah merusak tatanan hidup perekonomian masyarakat dan kenyamanan negara." tegas Samuel.


"Ya, Herman dengan lancarnya menyebut nama nama semua yang terlibat dalam anggota Inside, termasuk Binsar, sebagai ketuanya." tegas Andre.


"Ya, sama seperti berkas bukti yang diberikan Chandra, semua sama, tapi, dari pernyataan Herman, dia tak menyebut nama pak Presiden." ujar Samuel, dengan wajah serius.


"Apa mungkin dia sengaja menutupi keterlibatan pak Presiden?" lanjut Samuel menduga duga.


"Atau, mungkin saja pak Presiden memang gak terlibat di dalam organisasi Inside, karena itu, Herman tidak menyebut namanya." ujar Andre, memberi kesimpulan sendiri.


"Kita harus bertanya pada Herman tentang pak Presiden, kita harus pastikan, apakah pak Presiden ikut terlibat dalam permainan kejahatan organisasi Inside atau tidak." jelas Samuel.


"Ya, nanti kita tanyakan, saat kita membawa Herman ke rumah aman untuk melindungi dirinya." ujar Andre.


"Buat apa dibawa kesana?!" tanya Samuel heran.

__ADS_1


"Sebelum Pak Herman membuat pengakuan, dia memberikan syarat padaku, dia minta perlindungan pada pihak kepolisian dan kejaksaan." jelas Andre.


"Oh, ya? Mengapa sampai begitu?!" tanya Samuel, heran.


"Ya, karena menurutnya, setelah dia memberi pernyataan pengakuan, pastinya kita akan bergerak menangkapi anggota Inside, dan menurutnya, nyawanya terancam, karena ketua Inside, Binsar pasti tau, kalo dia yang memberikan informasi kepada kita." lanjut Andre, memberi penjelasan.


"Oh, begitu, baiklah, kamu atur saja, kapan bisa bawa Herman ke rumah aman." ujar Samuel.


"Secepatnya aku harus membawanya, jangan sampai keburu dia di tangkap kelompok Inside, sebab, besok, Herman akan membuat pernyataan siaran langsung di depan media televisi dan media cetak, dia mau membuat pengakuan secara umum katanya." ucap Andre, dengan wajah serius.


"Oh, ya? Berani sekali dia." ujar Samuel.


"Ya, sepertinya dia sakit hati dan sedang bermusuhan dengan kelompok Inside, makanya dia tiba tiba berbelok mengkhianati Inside dengan membocorkan kejahatan Inside padaku." jelas Andre, serius.


"Kalo begitu, ada baiknya kamu memberi perlindungan pada Herman saat dia bicara di depan para wartawan dalam siaran langsungnya besok itu." jelas Samuel.


"Ya, aku akan mengerahkan anggotaku untuk berjaga jaga dan memberi perlindungan pada Herman. Dia akan memberi pernyataannya di ruangan khusus kantor polisi." ujar Andre, menjelaskan.


"Baik, aku akan datang menyaksikan besok." ujar Samuel.


"Ya." Angguk Andre, mengiyakan.


---


Gavlin sedang membersihkan pistolnya , dia duduk di kursi , televisi menyala, sambil membersihkan pistol dia sesekali melihat televisi.


Saat ini, di televisi, tengah disiarkan sebuah berita.


"Mentri Kehakiman Herman Suganda, besok jam 12 siang di gedung kantor kepolisian akan membuat pernyataan pengakuan bahwa dia sudah berbuat kejahatan dimasa lalu." ujar Pembaca berita memberikan informasi berita.


Gavlin terdiam, dia meletakkan pistolnya di atas meja, dia menatap ke televisi.


"Herman akan membuat pengakuan kejahatannya?!" Gumam Gavlin, kaget.


"Pembunuhan Bapak?!!" Gavlin terkesiap kaget.


Gavlin terdiam, matanya tajam menatap pada televisi, terlihat dia memikirkan sesuatu.


"Aku harus datang besok, aku harus bertanya langsung pada Herman!" ujar Gavlin geram.


Gavlin jadi penasaran, mengapa dia mendengar nama organisasi Inside lagi, dan mengapa pembaca berita menyatakan bahwa pembunuhan Bapaknya dilakukan oleh organisasi Inside.


"Sebenarnya ada apa ini? Siapa organisasi Inside itu?! Apa organisasi itu bagian dari konspirasi besar Bramantio dan Herman yang aku gak pernah tau keberadaannya?!" ujar Gavlin berfikir keras.


"Bagaimana pun aku harus bertanya langsung pada Herman!" tegas Gavlin.


Gavlin pun berencana akan hadir dalam acara siaran langsung Herman besok yang akan memberikan pernyataan pengakuan kejahatan yang sudah dia lakukan selama ini.


"Menurut pak Herman, besok, setelah dia memberikan pernyataan secara langsung , dia akan mengundurkan diri sebagai mentri kehakiman." ujar pembaca berita.


Gavlin tersenyum sinis mendengar perkataan Pembaca berita di televisi.


---


Binsar melempar remote televisi , remote menghantam kaca layar televisi hingga pecah. Samsudin berdiri terdiam.


"Keparaaat Herman!! Berani dia membuka rahasia Inside!!" ujar Binsar geram.


"Kerahkan pasukan, bunuh Herman, jangan biarkan besok dia mengoceh tentang Inside !!" ujar Binsar, memberi perintah pada Samsudin.


"Baik, Pak. Akan saya kerahkan pasukan khusus kita untuk membungkam Herman besok." ujar Samsudin.

__ADS_1


Binsar tampak marah sekali, dia geram pada Herman yang sudah terang terangan berkhianat dan melawan dirinya.


---


Chandra menelpon Andre, dia juga baru saja melihat televisi yang menyampaikan berita tentang rencana Herman bicara di muka umum secara langsung untuk memberi pernyataan pengakuan kejahatannya.


"Apa benar, pak Herman besok mengadakan siaran langsung ?" tanya Chandra dengan wajah serius diteleponnya.


"Ya, baru baru ini, beliau sudah membuat pengakuan padaku di kantor kepolisian, dan beliau meminta perlindungan." ujar Andre, dari seberang telepon.


"Oh, begitu, baguslah, jadi lebih mudah buat kalian meringkus organisasi Inside." ujar Chandra, ditelepon.


"Ya, begitulah." ujar Andre, dari seberang telepon.


"Aku akan datang besok menyaksikannya juga." ujar Chandra ditelepon.


"Baiklah." jawab Andre, dari seberang telepon.


---


Keesokan harinya, di dalam ruang aula gedung kantor kepolisian, terlihat sudah ramai para wartawan, reporter dari berbagai media televisi dan media cetak yang hadir. Mereka bersiap siap dan menunggu kedatangan Herman.


Diantara para awak media yang hadir, terlihat Gavlin diantara kerumunan para wartawan dan wartawati serta reporter dan kameraman .


Gavlin menyamar, dia menjadi seorang pemuda yang bertubuh gemuk dan berpipi tembam serta memakai janggut tebal serta kaca mata. Gavlin menyamar sebagai salah satu wartawan.


Kedua mata Gavlin menyusuri seluruh ruangan aula, dia melihat ke arah lantai atas, matanya tajam memperhatikan sekitarnya.


Gavlin melihat, di tiap tiap sudut dan pojokan lantai atas gedung aula, ada orang orang yang bersembunyi sambil memegang senapan dan bersiap menembak ke arah podium, tempat dimana Herman nanti memberikan pernyataannya.


Gavlin tersenyum sinis, dia melirik sekitarnya, lalu, Gavlin pun berjalan, dia melewati para wartawan dan wartawati yang berkerumun.


Saat dia berjalan, dia tak sengaja menabrak Chandra yang sedang berjalan kearah dirinya.


"Maaf, Maaf, saya gak sengaja." ujar Gavlin.


"Ya, gak apa apa." ujar Chandra.


Lalu, Gavlin bergegas pergi meninggalkan Chandra, Chandra terdiam sesaat, dia heran melihat Gavlin yang seperti terburu buru itu.


Chandra lantas menoleh ke arah Gavlin pergi, namun, Gavlin sudah menghilang dari pandangannya, Chandra heran, mencari cari, kemana Gavlin pergi, namun dia tak melihat Gavlin.


"Aneh orang itu, kenapa dia malah pergi, sementara wartawan lainnya berkumpul dan menunggu di sini?" Gumam Chandra berfikir.


Lantas, dia menghela nafasnya, Chandra melihat Herman sudah datang, Herman datang dengan dikawal oleh dua petugas kepolisian.


Dan di samping Herman, ada juga Andre bersama Edo dan Masto, mereka juga ikut mengawal Herman.


Dan di samping podium, sudah berdiri menunggu Samuel bersama dua karyawan kejaksaannya. Mereka juga hadir untuk menyaksikan siaran langsung Herman.


Di sudut sudut dan pojokan lantai atas gedung aula, para penembak jitu bersiap siap mengarahkan senjatanya pada Herman yang berjalan menuju podium.


Para wartawan, wartawati dari media televisi dan media cetak saling berebutan maju ke depan untuk mendekat pada Herman. Para kameraman menyalakan kameranya, mereka bersiap siap mengambil gambar dan merekam pernyataan Herman yang memberi pengakuan atas kejahatan dimasa lalunya.


Sementara itu, dengan diam diam, Gavlin melangkahkan kakinya mendekati para penembak jitu yang bersembunyi di sudut sudut dan pojok ruang lantai atas gedung aula.


Dengan cepat, Gavlin mematahkan leher penembak jitu, tidak ada yang mengetahui kehadiran Gavlin. Dengan gerak cepat, Gavlin membantai satu persatu penembak jitu, dia mematahkan leher para penembak jitu, dan ada juga yang dia gorok dengan pisau belatinya.


Gavlin membunuh para penembak jitu yang di tugaskan organisasi Inside untuk membunuh Herman.


Setelah semua penembak jitu mati, Gavlin melihat Herman yang sudah berdiri di podium, Dari lantai atas Gavlin memperhatikan Herman yang bersiap siap untuk mulai memberikan pernyataan pengakuan dirinya.

__ADS_1


Gavlin lantas bergegas pergi, dia turun dan kembali bergabung dalam kerumunan para wartawan.


__ADS_2