VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Tak Ada Pengampunan


__ADS_3

Gavlin mempercepat langkah kakinya, dia mendekati Jack yang masih berusaha merayap dan merangkak di tanah untuk melarikan diri dari kejaran Gavlin.


Gavlin menarik rambut Jack dengan kuat, Jack mengerang kesakitan sambil berusaha melepaskan tangan Gavlin yang menarik rambutnya dengan kuat.


"Aaarrgghh!!" Erang Jack , kesakitan.


Gavlin tak perduli dengan teriakan erangan kesakitan Jack, dia menyeret Jack , dan membawanya ke mobilnya yang ada di dalam parkir gedung kantor kejaksaan.


Jack terseret ditanah, dia meronta ronta berusaha melepaskan diri, Jack terus mengerang kesakitan karena rambutnya di tarik paksa.


Beberapa Petugas Keamanan keluar dari dalam gedung kantor kejaksaan, mereka mengejar Gavlin yang menyeret Jack.


Para Petugas Keamanan menembak Gavlin, Gavlin yang baru saja sampai di mobilnya geram. Dia lantas cepat membuka bagasi mobilnya, lalu, diambilnya senapan mesin dari dalam bagasi.


Gavlin lantas menembaki para petugas keamanan yang berdiri di halaman gedung kantor kejaksaan dan sedang menembaki dirinya.


Gavlin mengamuk, dengan membabi buta dia menembaki para petugas keamanan dengan senapan mesinnya, para petugas keamanan semuanya mati, tak ada yang tersisa.


Dengan geram penuh amarahnya, Gavlin menghantamkan ujung senapan mesin yang ada di tangannya ke kepala Jack yang rebah di tanah.


Hantaman ujung senapan mesin ke kepala Jack membuat Jack langsung jatuh pingsan di tanah. Gavlin meletakkan senapan mesin kedalam bagasi, lalu, dia mengangkat tubuh Jack dan di masukkannya ke dalam bagasi mobilnya.


Setelah menutup pintu bagasi mobil, Gavlin bergegas masuk ke dalam mobilnya, Lantas, mobil pun di jalankan Gavlin.


Gavlin pergi dari gedung kantor kejaksaan agung dengan membawa Jack yang pingsan dan ada di dalam bagasi mobilnya.


---


Beberapa jam kemudian, di ruang kerjanya, Andre menerima panggilan telepon di ponselnya.


"Ya, Sam. Ada apa?" tanya Andre, di telepon.


"Gavlin datang ke kantor kejaksaan, dia ngamuk, semua karyawan di kejaksaan di bunuhnya. Sepertinya dia mengincar Jack!" ujar Samuel, dari seberang telepon.


"Apa?! Terus, Jack dimana sekarang?" tanya Andre, di teleponnya.


"Jack gak ada diruangannya, menurut saksi, Gavlin membawanya, Jack sepertinya luka parah, itu yang aku tau dari saksi yang cerita sama aku tadi." jelas Samuel, dari seberang telepon.


"Baiklah, aku akan kesana bersama tim." ujar Andre, bicara dengan serius di teleponnya.


"Baik, aku tunggu." ujar Samuel, dari seberang telepon.


Telepon lantas dimatikan Samuel dari seberang, Andre lalu menelpon kembali.


"Cepat kamu ke ruangan saya!" ujar Andre, bicara diteleponnya.


Lantas, dia pun menutup teleponnya, di simpannya ponsel ke dalam kantong celananya.


Wajah Andre terlihat tegang dan serius, dia tak menyangka, jika Gavlin akhirnya nekat menyerang kantor kejaksaan demi bisa membantai Jack.


---


Gavlin sudah tiba di gudang besar dan luas miliknya. Terlihat dia sedang mengikat seluruh tubuh Jack di atas meja.


Dia mengikat Jack dengan rantai berkarat , Jack yang sudah sadar mencoba melepaskan diri dan meronta ronta berteriak.


"Lepaskan akuuuu ...Lepaaaassskkkaaann Anjiiinggg!!" Maki Jack, berteriak pada Gavlin yang tetap mengikat rantai ke seluruh tubuh Jack.

__ADS_1


Gavlin cuek, sikapnya dingin, dia tak perduli dengan segala macam makian dan teriakan Jack. Jack yang mengetahui dirinya terikat diatas meja menjadi cemas akan keselamatan nyawanya.


Gavlin selesai mengikat rantai ke tubuh Jack. Dia lantas mendekati Jack yang terlentang di atas meja dengan posisi seluruh tubuh di ikat rantai.


"Apa maumu bedeebaaahh!!" teriak Jack menantang Gavlin.


Gavlin tersenyum sinis , dia tak menjawab pertanyaan Jack.


Gavlin mengambil kayu yang ada di atas meja, lalu, dia meletakkan kayu di atas paha kaki Jack yang terluka, Gavlin menekan kuat kayu pada lubang luka tembak di paha kaki Jack, Jack berteriak kesakitan.


"Seeetttaaaaaannnn !! Aaaargggghhh!!" teriaknya marah dan kesakitan.


Gavlin dengan sikap tenang dan dinginnya lantas membuang kayu ke lantai, lalu, dia mengambil pisau bedah yang sudah di siapkan di meja kecil.


Gavlin mendekatkan pisau bedah ke wajah Jack, mata Jack terbelalak lebar, dia ketakutan melihat pisau bedah berada tepat didepan wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan anak setaaan?!!" teriak Jack, marah pada Gavlin.


Gavlin menyeringai jahat menatap wajah Jack yang tampak semakin memucat dan ketakutan. Gavlin tersenyum sinis.


"Aku ingin bermain main denganmu, Jack." ujar Gavlin, dengan sikap dinginnya.


"Bajiiingggaaaann !!" Ujar Jack, meludahi Gavlin.


Gavlin dengan sikap tenang dan dinginnya menghapus air ludah Jack yang mengenai wajahnya, dia tersenyum sinis menatap wajah Jack.


"Aku akan menguliti seluruh tubuhmu, Jack." ujar Gavlin, menyeringai jahat.


Jack terkesiap kaget, dia semakin ketakutan. Jack meronta ronta berusaha melepaskan diri.


"Lepaskan akuu...!! Lepaskaaann!!" teriak Jack.


Sekarang, posisi Jack sudah bertelanjang, dia terikat di atas meja dengan kondisi tubuh tak mengenakan pakaian.


Jack semakin ketakutan, Gavlin lantas menempelkan pisau bedah ke dahi Jack, di dekatkannya wajahnya ke wajah Jack yang ketakutan itu.


"Liat aku, Jack ! Aku mau, orang yang terkahir kali kamu liat saat kamu mati adalah aku!!" ungkap Gavlin, tersenyum sinis.


Mendengar perkataan Gavlin, Jack semakin ketakutan, dia pun berusaha meminta pengampunan dari Gavlin.


"Jangan bunuh aku, Vlin, aku mohon, Ampuni aku." ucap Jack, memelas dan memohon ampunan pada Gavlin.


"Tak ada pengampunan untukmu, Jack!" tegas Gavlin sinis.


"Kamu ingat dulu waktu dipersidangan? Bagaimana kamu bersemangat menuduh Bapakku sebagai penjahat?!" ujar Gavlin, geram.


"Dan aku masih ingat ucapanmu dipersidangan dulu, Tak ada pengampunan atas perbuatan laknat seorang pembunuh dan pemerkosa seperti Sanusi, dia layak di hukum mati! Itu perkataanmu dulu dalam sidang!!" tegas Gavlin, menatap tajam wajah Jack.


Mendengar perkataan Gavlin, Jack semakin ketakutan.


"Tolong, aku terpaksa melakukan itu, karena aku di suruh, aku hanya menjalankan perintah!!" ujar Jack, memohon belas kasihan Gavlin.


"Kalian semua sama!! Bilang terpaksa, ada yang menyuruh!! Dan aku gak mau tau hal itu!!" bentak Gavlin marah.


"Kamu kira? Anak berumur 10 tahun sepertiku dulu gak akan ingat semua yang sudah kalian perbuat dan ucapkan dipersidangan untuk menuduh bapakku?!" Ucap Gavlin sinis.


"Hingga detik ini aku masih ingat jelas, semua ucapan dan tuduhan serta dakwaan palsu kalian itu!!" bentak Gavlin marah.

__ADS_1


"Percayalah padaku, aku memang terpaksa melakukannya, kami semua gak bisa menolak!" ucap Jack, dengan wajah memelas dan memohon pengampunan pada Gavlin.


"Bapakmu terlalu berbahaya, jika tidak di bungkam, dia bisa merusak dan menghancurkan semua rencana kelompok kami. Terutama, dia bisa menggagalkan langkah pimpinan kami saat itu!!" jelas Jack.


"Kami semua menjalankan perintah dari pimpinan kami untuk menjebak Bapakmu, percayalah padaku!!" ujar Jack, dengan wajah serius.


Jack berusaha untuk mengakui hal yang sudah dia lakukan, Gavlin diam mendengarkan perkataan Jack. Dia menatap tajam wajah Jack.


"Siapa pimpinan yang kamu maksud itu?!" Bentak Gavlin, marah.


"A...akuu...Aku gak bisa memberitahukannya padamu." ucap Jack, bersungguh sungguh.


"Kalo gitu, kamu harus mati!!" ujar Gavlin geram dan marah.


"Tunggu, tunggu dulu!! Kamu bisa tanya pada Herman, mungkin dia mau mengatakan padamu, siapa pimpinan kami itu!!" ungkap Jack.


Gavlin terdiam sesaat, lalu, dia menatap tajam wajah Jack yang sangat berharap dirinya dibebaskan Gavlin. Dan Jack juga berharap, agar Gavlin percaya dengan semua yang dia katakan.


"Kamu gak usah menyuruhku bertanya pada Herman!! Karena gilirannya akan tiba, aku pasti akan datang menemuinya, dan membunuhnya juga!!" ujar Gavlin, geram.


Jack terhenyak, tubuhnya lemas, usahanya untuk meyakinkan Gavlin sia sia, Gavlin tak mau mendengarkan apa yang sudah dia katakan dan jelaskan.


Gavlin meletakkan kembali pisau bedah di dahi Jack, lalu, dia menusuk kulit dahi Jack dengan ujung pisau bedah.


Kemudian, Gavlin menggerakkan pisau bedah ditangannya, dia mulai menyayat kulit kening Jack, Jack berteriak kesakitan.


"Aaaarrrgghhhh!!" Jack berteriak kesakitan.


Gavlin tak perduli dengan teriakan Jack, dia terus menggerakkan pisau bedah ke kulit Jack. Bagaikan seekor hewan kurban yang sedang di kuliti. Gavlin pun menguliti seluruh tubuh Jack.


Jack merintih, berteriak dan kejang kejang, karena Gavlin sedang mengulitinya hidup hidup, darah mengalir keluar dari kulit dan daging di tubuhnya yang sudah tersayat dan di kuliti.


Kulit kepala dan wajah Jack terlepas, begitu juga dengan kulit leher dan dada Jack. Dengan dingin dan sadis, Gavlin menguliti Jack.


Jack sangat menderita kesakitan, dia merasakan perih dan sakit yang begitu sangat hebat, karena kulitnya di sayat sayat dan di lepaskan dari daging tubuhnya.


Tak kuasa menahan rasa sakit yang berkepanjangan, dan dia sangat menderita kesakitan, akhirnya, Jack pun meregang nyawa.


Jack mati dalam keadaan terikat di atas meja, dengan kulit tubuh mengelupas karena sudah di kuliti Gavlin.


Gavlin tetap bersikap dingin, dia tak perduli tubuh Jack sudah tak bergerak dan mati, dia terus menyayat nyayat dan mengiris kulit kulit tubuh Jack hingga ke bagian kakinya.


Gavlin bukan saja menelanjangi Jack dengan melepaskan semua pakaian yang di pakainya, tapi dia juga menelanjangi jasad Jack, dengan melepaskan kulit tubuhnya dan hanya menyisakan daging saja.


Sebagai seorang Psikopat, hal yang dia lakukan saat ini adalah suatu perbuatan yang menyenangkan, dengan menyiksa korbannya sampai mati, Gavlin sangat puas sekali. Dia mendapatkan kenyamanan dengan semua itu.



Beberapa saat kemudian, Gavlin selesai menguliti seluruh tubuh Jack, dari kepala , rambut hingga ujung kakinya.


Gavlin meletakkan kulit tubuh Jack di lantai, dia membentuknya seperti layaknya bentuk manusia.


Kulit tubuh Jack yang ada dilantai bagaikan sebuah mantel berbentuk wujud manusia.


Gavlin berdiri di depan kulit Jack yang ada di lantai, Dia tersenyum puas menatapnya.


Lalu, dia melirik pada tubuh Jack yang sudah tak bernyawa di atas meja, tubuh yang sudah tak ada kulit, dan hanya menyisakan daging daging saja.

__ADS_1


"Ini balasan yang setimpal untuk kejahatanmu pada bapakku, Jack!" ujar Gavlin , geram dan bersikap dingin.


Dia lantas meletakkan pisau bedah ditangannya ke atas meja, lalu, Gavlin dengan tenangnya berjalan ke arah belakang gudang.


__ADS_2