
Bramantio menatap tajam wajah Mike. Samsul diam, wajah Mike terlihat semakin tegang, dia berfikir, siapa yang membunuh Zulfan.
"Kenapa kamu bunuh Linda tanpa seizin Papah?!" Bentak Bramantio marah pada Mike.
"Karena aku kan udah bilang Papah, soal Linda, biar aku yang urus, karena aku juga dendam dan sakit hati sama dia !" Ujar Mike dengan suara keras.
Mike berani melawan Papahnya, dia sengaja bicara keras dan melawan Papahnya untuk menutupi kekhawatiran dalam dirinya.
"Apa mungkin, pelaku pembantaian anggota Wolf Genk orang bayaran Wijaya Pah?" Ujar Mike.
"Gak mungkin ! Dari mana Wijaya tau, kalo orang yang membunuh Linda anggota Wolf Genk ? Lagi pula, pasti Wijaya mengira anaknya itu mati karena kecelakaan !" Ujar Bramantio.
"Iya juga ya, sampe saat ini gak ada reaksi dari Wijaya, kalo dia mendapat info dari kepolisian tentang anaknya dibunuh, dan polisi bilang itu bukan kecelakaan, pasti dia udah datangi Papah, menuduh Papah yang membunuh anaknya." Ujar Mike.
"Apa kamu yakin, Polisi taunya itu kecelakaan, bukan pembunuhan berencana?" Tanya Bramantio pada Mike.
"Aku yakin Pah." Ucap Mike.
"Kamu benar benar rapi mengerjakannya? Gak ninggalin jejak sedikitpun?" Tanya Bramantio lagi.
"Iya Pah, aku udah bilang Zulfan, jangan sampe ada jejak yang ditemukan polisi disekitar lokasi." Ujar Mike dengan yakin.
"Aku gak yakin, Zulfan itu orangnya ceroboh, dia pasti gak sadar udah ninggalin jejak yang bisa dijadikan bukti sama polisi !" Ujar Samsul.
"Maksudmu?" Tanya Bramantio.
"Zulfan itu gak bisa dikasih tugas apapun juga, selama ini tugasnya cuma beliin makanan aja, aku gak pernah nugasi dia dengan misi berbahaya, apalagi sampe membunuh, berantem aja takut !" Ujar Samsul sinis.
Mike terdiam, Dia tersadar, bahwa dia salah memberi tugas sama Zulfan, ada kekhawatiran dalam diri Mike dengan apa yang dikatakan Samsul tentang Zulfan.
Mike khawatir, Zulfan benar benar ceroboh, dan meninggalkan bukti pembunuhan dilokasi kecelakaan.
"Apa itu sebabnya, ada yang datang ke sini membantai anak buahmu? Karena orang itu menemukan kejanggalan dilokasi kecelakaan? Dan dia temukan bukti, bahwa pelakunya salah seorang anggotamu, kelompok Wolf Genk?!" Ujar Bramantio pada Samsul.
"Bisa jadi." Ujar Samsul sinis.
"Gak mungkin Pah, kalo memang Zulfan ceroboh dan ninggalin jejak, pasti polisi duluan yang tau saat polisi kelokasi kecelakaan !" Ujar Mike.
"Dan kalo pun Polisi temukan bukti, gak mungkin Polisi buka ke umum, pasti gak ada yang tau kalo kematian Linda itu pembunuhan." Ujar Mike.
Dia coba meyakinkan dirinya, membuat kesimpulan sendiri, untuk membenarkan semua rencana yang sudah dia lakukan bersama Zulfan membunuh Linda itu berjalan lancar dan sempurna.
"Iya, Kalo aku mendatangi Wijaya sekarang, dia malah tau, kalo anaknya bukan kecelakaan, tapi dibunuh, dan bisa panjang urusannya !" Ujar Bramantio.
"Lalu, siapa pelaku itu?!" Ujar Bramantio lagi.
Mike diam, dia pun tak tahu siapa pelakunya, dia tak kan pernah berfikir, jika pelakunya Gavlin, karena Mike yakin, Gavlin tak akan nekat datangi markas Wolf Genk sendirian.
"Ya kalo gitu Tiger ! Genk Tiger yang melakukan pembantaian pada anak buahku !!" Bentak Samsul emosi marah.
"Coook !!' Teriak Samsul memanggil anak buahnya.
"Ya Bos !" Ucok datang mendekati Samsul.
"Bawa anak anak semuanya ke markas Tiger ! Serang mereka !!" Perintah Samsul penuh amarah.
Bramantio menarik nafasnya dalam dalam, dia pun tak bisa mencegah Samsul menyerang Kelompok Mafia Tiger, karena Samsul sudah terlihat tidak bisa menahan emosi marahnya.
Mike hanya berdiri dan terdiam.
---
Maya duduk di kursi yang ada diteras rumah Gavlin, rumah itu tertutup rapat, dan Gavlin tak ada di rumah.
Wajah Maya cemberut, karena dia sudah menunggu lama, dan Gavlin tidak pulang juga kerumahnya.
Maya pun beranjak dari kursinya, dia menarik nafasnya dalam dalam, dengan wajah kecewa, Maya pun pergi meninggalkan teras rumah Gavlin.
Saat Maya hendak keluar dari halaman rumah Gavlin, Gavlin masuk dari arah luar, mereka berpapasan.
"Maya ?" Ujar Gavlin.
Dia kaget Maya ada dirumahnya, Maya terdiam, berdiri dihadapan Gavlin, dia menatap lekat wajah Gavlin.
"Kamu ngapain dirumahku?" Tanya Gavlin tersenyum.
Dihatinya Gavlin senang, sebab Maya datang kerumahnya untuk menemui dirinya.
"Ah, aku...aku..." Ujar Maya gugup.
"Kenapa?" Tanya Gavlin tersenyum menatap wajah Maya.
"Aku juga gak tau, kenapa aku bisa kerumahmu Vlin !" Ujar Maya dengan grogi dan gugup.
Maya langsung lari meninggalkan Gavlin yang tersenyum melihat sikap gugup dan salah tingkah Maya didepannya.
"May, tunggu !" Panggil Gavlin.
Maya tak menghiraukan panggilan Gavlin, dia terus berlari menahan rasa malunya.
Dia malu dan gugup, dia tak tahu, kenapa juga dia ada dirumah Gavlin dan menunggu Gavlin.
Yang dia tahu hanyalah, dia mengikuti kata hati dan langkah kakinya yang membawa dirinya datang kerumah Gavlin.
Gavlin berlari mengejar Maya yang terus berlari menyusuri trotoar jalanan.
Gavlin berhasil mengejar Maya, dengan cepat, Gavlin memegang tangan Maya, menahan agar Maya tidak lari.
Dengan cepat Gavlin menarik tubuh Maya. Tubuh Maya terdorong ke arah Gavlin.
Gavlin pun memeluk tubuh Maya yang tangannya di tarik Gavlin.
Maya terdiam dalam pelukan Gavlin.
__ADS_1
Gavlin membalikkan tubuh Maya untuk menghadap ke dirinya, Gavlin masih memeluk erat Maya.
Gavlin menatap tajam wajah Maya, Maya pun menatap wajah Gavlin yang tersenyum padanya.
Untuk sesaat, keduanya diam, saling pandang pandangan satu sama lainnya.
"Jangan pergi May." Ucap Gavlin tersenyum lembut menatap wajah cantik Maya.
Maya terdiam tak bergeming dan tidak menjawab, dia menatap terus wajah Gavlin, tidak berusaha melepaskan tangan Gavlin yang memeluk pinggangnya erat.
Perlahan lahan, wajah Gavlin mendekat ke wajah Maya, Mata Maya terbuka lebar melihat wajah Gavlin semakin dekat ke wajah dia.
Maya terdiam, tak tahu, apa yang akan dilakukan Gavlin. Wajah Gavlin semakin dekat dan dekat, hingga kemudian,
Gavlin mengecup lembut bibir Maya, dan dia membiarkan bibirnya tetap berada di bibir Maya.
Maya terdiam, tak bergeming, matanya terbelalak, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Dia tak berusaha melepaskan bibirnya dari bibir Gavlin.
Maya syock, karena bibir Gavlin menempel di bibirnya.
Mata mereka berdua saling menatap lembut, dan akhirnya, Gavlin pun ******* bibir Maya penuh kelembutan dan mesra.
Maya terdiam, dia tak bergeming, tidak membalas ******* bibir Gavlin, Maya membiarkan dirinya hanyut oleh curahan kemesraan Gavlin.
Gavlin penuh kelembutan dan kasih sayang dan cinta yang mendalam terus ******* bibir tipis Maya.
Maya tak tahan hanya berdiam diri, dengan ragu ragu, akhirnya tangan Maya pun memeluk erat tubuh Gavlin.
Lalu, Bibir Maya bergerak, mulai memberikan balasan atas kecupan dan ******* bibir Gavlin.
Seketika, bibir mereka saling berpagutan, mereka berdua hanyut dalam kemesraan.
Orang orang yang berlalu lalang melihat Gavlin dan Maya, tapi Gavlin dan Maya tak perdulikan orang orang itu.
Mereka berdua terus mencurahkan perasaannya, Gavlin yang memang sudah merindukan dan sangat mencintai Maya tidak menyia nyiakan kesempatan saat ini.
Mereka berdua pun hanyut dalam kemesraan. Maya tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya, hingga dia membiarkan dirinya jatuh dalam pelukan Gavlin.
Beberapa saat kemudian, Gavlin pun melepaskan bibirnya dari bibir Maya.
Gavlin tersenyum menatap wajah Maya yang tersipu malu dan gugup berdiri di depannya.
"Jangan pergi May, temani aku." Ujar Gavlin tersenyum.
Tatapan matanya lembut, penuh kasih sayang pada Maya. Maya semakin gugup ditatap Gavlin.
"Maaf, Maaf Vlin, aku gak tau, apa yang terjadi sama diriku." Ujar Maya gugup.
Gavlin tersenyum, dia terus menatap wajah Maya yang semakin salah tingkah di hadapan Gavlin.
"Maaf Vlin, aku pergi dulu ." Ujar Maya dengan gugupnya.
Maya langsung berbalik dan pergi meninggalkan Gavlin yang tersenyum memandangi kepergian Maya.
Maya menghentikan langkahnya, dia lantas membalikkan badannya dan menatap wajah Gavlin yang tersenyum menatapnya.
"Ada salam dariku, Salam rindu !" Teriak Gavlin tersenyum.
Maya terdiam, dia pun membalikkan badannya lagi, belum sempat Maya melangkah, Gavlin teriak lagi.
"Aku Cinta kamu May, aku tau , kamu juga mencintaiku !!" Teriak Gavlin dengan wajah senang.
Maya terdiam, dia tak menjawab, wajahnya memerah menahan malu, dia lantas berlari pergi meninggalkan Gavlin.
Gavlin tertawa melihat kepergian Maya, Gavlin bahagia, karena akhirnya dia bisa mencurahkan perasaan hatinya pada Maya.
"Aku cinta kamu Vlin, aku gak tau, kenapa aku jatuh cinta sama kamu, aku gak tau, kenapa aku gak bisa lupain kamu, aku gak bisa membuang kamu dari pikiranku." bathin Maya berkata.
Dia terus berlari menjauh, namun diwajahnya kini terlihat berubah, Maya tersenyum bahagia.
Dia akhirnya menyadari, bahwa dirinya selama ini ternyata benar benar mencintai Gavlin.
Maya berlari dengan wajah senang penuh kebahagiaan. Cinta mulai tumbuh dan bersemi di hatinya.
---
10 mobil berhenti di sebuah halaman rumah yang besar dan mewah.
Sekitar 80 orang keluar dari dalam mobil sambil membawa senjata tajam ditangan masing masing.
Mereka langsung berlari cepat dan menyerang orang orang yang berjaga jaga di sekitar rumah.
Penyerangan pun terjadi. Melihat rumahnya di serang kelompok Wolf Genk, Wajah Steve memerah karena marah.
"Samsuuuuulll !! Berani beraninya kamu menyerangku !!" Teriak Steve.
Dengan murka Steve keluar dari rumahnya, lalu menghajar anggota anggota Wolf Genk.
Steve mengamuk membabi buta, anggota Tiger tidak tinggal diam, melihat pimpinan mereka terjun ke tengah tengah perkelahian, mereka langsung menyerang anggota Wolf Genk.
Perkelahian pun terjadi antar kedua kelompok Mafia jaringan Narkoba terbesar diwilayah tersebut.
Samsul keluar dari dalam mobilnya diikuti 5 anak buahnya yang selalu mendampinginya.
Samsul berjalan dengan santainya, dia mendekati Steve yang sedang mengamuk membabi buta menghajar anggota anggota genk Samsul.
Anak buah Samsul bukan tandingan Steve, dengan mudah Steve menjatuhkan mereka, anak buah Samsul banyak yang terluka dan terkapar di tanah karena hantaman Steve.
Melihat kedatangan Samsul ketempatnya, Steve semakin murka pada Samsul.
"Brengseeeek kamu Samsuuul !!" Teriak Steve.
Dia berlari ke arah Samsul, dan langsung menyerang Samsul. Samsul pun menghindar dari terjangan dan pukulan Steve.
__ADS_1
Perkelahian antara Samsul dan Steve, 2 pemimpin terbesar jaringan mafia narkoba terjadi.
Perlawanan sengit diberikan Samsul pada Steve.
Sementara, anggota anggota genk Tiger dan anggota Wolf Genk masih saling bentrok satu sama lainnya.
Setelah beberapa kali Samsul menghindar dan bertahan dari pukulan Steve, Samsul pun mulai menyerang, dia memukul Steve, menghajar habis habisan Steve.
Steve terjajar, dia terpojok, Samsul lebih hebat dari pada Steve, itu sebabnya Samsul sangat disegani dan menjadi orang nomor satu di jaringan seluruh Mafia, karena ketangguhannya dalam bertarung.
Dengan satu tendangan yang keras, Samsul berhasil membuat Steve jatuh tersungkur di tanah.
Tanpa ampun, Samsul langsung menginjak leher Steve yang terbaring lemah di tanah.
"Ke...kena...pa...kamu menyerangku? Apa...salah...ku...!!" Ujar Steve.
Dia terbata bata bicara, sebab Samsul menginjak lehernya. Samsul yang berdiri didepannya sambil menginjak Leher Steve terlihat geram.
"Karena kamu udah berani menyerang duluan Markasku dan membantai anak buahku !!" Teriak Samsul meluapkan amarahnya.
"Ka...pan...aku gak...pernah...menyerang...markas...mu !!" Ujar Seteve terbata bata.
"Jangan banyak bacot !!" Bentak Samsul penuh amarah.
Dengan tetap kakinya menginjak leher Steve, Samsul pun berjongkok didepan Steve.
Samsul lantas menarik rambut Steve, Steve terlihat ketakutan, tiba tiba, tangan samsul bergerak cepat, dengan kedua tangannya, Samsul mematahkan leher Steve.
Seketika, Steve pun mati ditangan Samsul.
Melihat Pimpinannya mati ditangan bos Wolf Genk, anggota anggota Genk Tiger ketakutan.
Dengan cepat mereka lari kocar kacir, kabur meninggalkan arena pertarungan.
Mereka takut, Kelompok Wolf Genk akan membunuh mereka. Anggota anggota Wolf Genk tidak membiarkan mereka kabur.
Anggota anggota Samsul pun mengejar anggota Tiger Genk yang kabur.
Sementara, Samsul berdiri dengan menatap sinis mayat Steve.
"Ini akibatnya , kalo kamu lancang dan berani mau mengambil wilayah kekuasaan aku Steve !" Ujar Samsul dengan wajah marah penuh emosi.
Samsul lantas berjalan menuju mobilnya dengan sikap tenang, dia lega, karena mengira, dia sudah membalaskan perbuatan Steve dan anggotanya yang sudah membantai anak buahnya dan menyerang markas besarnya.
Mayat mayat dari kedua kelompok Mafia terbesar berserakan di atas tanah, Steve juga terkapar ditanah, dengan posisi leher yang patah.
Samsul masuk ke dalam mobilnya bersama ke 5 anak buahnya, lalu, mobil Samsul pun pergi.
---
Malam hari, sekitar jam 19:15 wib. Mike keluar dari dalam lift dan berjalan menuju halaman parkir mobil.
Mike baru saja mau pulang dari kantornya, dia berjalan ke mobilnya sambil menenteng tas kerjanya.
Mike tidak tahu, jika saat inj, ada mata yang sedang menunggu dan mengawasinya.
Saat Mike berjalan santai mendekati mobilnya, dari arah belakang, dari balik mobil yang terparkir, sosok Pria muncul dan langsung berlari cepat kearah Mike.
Ditangan sosok Pria itu ada tali tambang, dengan gerakan cepat dia menyergap Mike yang mau membuka pintu mobilnya.
Sosok Pria langsung menjerat leher Mike dengan tali tambang ditangannya.
Lalu mengencangkan ikatan tali tambang dileher Mike.
Dengan cepat, dia menarik paksa Mike, Mike pun terjajar jajar dan jatuh di lantai halaman parkiran.
Dia terjatuh karena ditarik paksa sosok Pria yang ternyata Gavlin.
Dengan wajah penuh amarah, Gavlin menarik dan menyeret Mike yang lehernya terjerat tali tambang.
Mike berusaha melepaskan tali yang mengikat lehernya, nafasnya terlihat sesak, karena tali menjerat kuat lehernya.
Gavlin tak perduli, dia terus menyeret tubuh Gavlin sambil menarik tali tambang.
Yang dilakukan Gavlin saat ini, persis seorang Penggembala yang sedang menarik paksa kerbaunya.
Mike meronta ronta terseret, bajunya robek robek, Gavlin terus menyeret tubuhnya.
Mike memegangi tali yang masih menjerat lehernya, dia semakin susah bernafas.
Sesaat kemudian, Gavlin berhenti di belakang sebuah mobil sedan. Lalu Gavlin membalikkan badannya menatap Mike yang terlihat lemah di lantai.
Mike sudah kehabisan nafas, dia semakin lemah, sesaat kemudian, Mike pun pingsan.
Gavlin tersenyum sinis menatap wajah Mike yang sudah pingsan.
"Sebentar lagi, kamu akan mendapatkan hadiah terbaik dariku Mike." Gumam Gavlin.
Tatapan matanya tajam, matanya memerah penuh amarah.
Gavlin lantas mengikat kedua tangan dan kaki Mike dengan tali tambang, sementara, tali dileher Mike di biarkannya saja.
Gavlin tidak melepaskan tali dari leher Mike.
Setelah Gavlin mengikat kedua tangan dan kaki serta tubuh Mike, dia membuka pintu bagasi mobilnya.
Kemudian, Gavlin mengangkat tubuh Mike yang pingsan, dia meletakkan tubuh Mike ke dalam bagasi mobilnya.
Lalu, ditutupnya pintu bagasi mobil, Gavlin berbalik, matanya menatap ke arah cctv yang ada di sudut halaman parkiran kantor Mike dan Bramantio.
Cctv itu sudah dalam keadaan rusak, kacanya pecah, Gavlin sebelumnya sudah menghancurkan semua cctv yang ada dihalaman parkir. Agar aksinya tidak terekam di cctv.
Gavlin masuk ke dalam mobilnya, lalu, diapun pergi dari halaman parkiran, membawa Mike yang pingsan dalam bagasi mobilnya.
__ADS_1