VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pembunuh berdarah dingin


__ADS_3

       2 mobil polisi sudah ada di depan rumah Bramantio, garis pembatas kepolisian sudah terpasang.


Para Awak Media surat kabar, majalah dan media televisi banyak yang hadir di lokasi.


Mereka tidak mau ketinggalan berita tentang kematian Mike, sebab, bagi mereka, kematian Mike adalah berita Eksklusif, mereka harus bisa mendapatkan info akurat, agar mereka menjadi yang terdepan dalam mengabarkan kematian Mike.


Hanya Maya yang tidak ada diantara wartawan dan wartawati serta kameraman yang hadir, sebab, Maya bekerja sebagai reporter dan wartawan tabloid bisnis. 


Kematian Mike tidak ada hubungannya dengan tabloid tempat Maya bekerja.


       


Petugas Para Medis dengan ambulancenya juga tiba di lokasi, ada juga Tim Forensik yang sedang meneliti mayat Mike dalam tong besar.


Gatot tiba di lokasi kejadian, dia lantas keluar dari dalam mobilnya, berjalan mendekat ke arah tong besar yang didalamnya ada mayat Mike tertimbun semen yang sudah mengeras.


"Bagaimana?" Tanya Gatot pada salah satu Petugas Forensik.


"Di perkirakan kematian sekitar 8 jam yang lalu." Ujar Petugas Forensik pada Gatot.


Gatot terdiam, Teguh menghampiri Gatot yang berdiri di dekat tong besar.


"Kami akan membawa mayat korban dan tongnya ke lab untuk di visum Pak." Ujar Petugas Forensik.


"Ya, kabari saya, jika sudah selesai." Ujar Gatot.


"Baik Pak." Ujar Petugas Forensik.


"Dimana Pak Bramantio?" Tanya Gatot pada Teguh.


"Didalam rumahnya Pak." Ujar Teguh.


Gatot lantas berjalan masuk ke halaman rumah Bramantio untuk bertemu Bramantio, Teguh mengikutinya.


         Petugas Forensik memanggil Petugas kepolisian, untuk membantu mengangkat tong besar berisi mayat Mike.


Dengan menggunakan Crane, tong berhasil diangkat dan di pindahkan ke atas Truck yang didatangkan pihak kepolisian ke lokasi kejadian.


       Gatot masuk ke dalam rumah Bramantio di ikuti Teguh, dia melihat Bramantio duduk di sofa ruang tamunya dengan wajah sedih ditemani Supir pribadinya.


"Selamat pagi pak Bram." Ujar Gatot.


Bramantio dengan wajah sedih melirik Gatot yang berdiri di sampingnya. Dia diam tak menjawab sapaan Gatot.


Wajah Bramantio tampak tidak senang dengan kehadiran Gatot, sebab, Gatot sebelumnya berusaha untuk menangkap dan memenjarakannya.


"Apa Mike punya musuh ?" Tanya Gatot pada Bramantio.


"Saya gak tau." Jawab Bramantio.


"Apakah sebelumnya, sikap Mike ada yang aneh Pak ?" Tanya Gatot lagi pada Bramantio.


"Saya gak tau ! Saya gak pernah perhatikan Mike !!" Ujar Bramantio dengan suara tinggi dan keras.


Bramantio tak suka di tanya tanya Gatot.


Gatot tersenyum sinis melihat Bramantio yang marah padanya, namun dia berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Gatot tahu, Bramantio tidak menyukai kehadirannya saat ini dirumahnya, namun Gatot tidak perduli, sebab dia datang karena dia yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan Mike, anak Bramantio.


"Tolong tinggalkan saya!" Ujar Bramantio .


"Baik." Ujar Gatot.


Lantas dia berbalik dan pergi meninggalkan Bramantio, Teguh mengikuti Gatot, mereka berdua keluar dari rumah Bramantio.


Wajah Bramantio terlihat geram, dia sangat marah, dendam membara di dadanya, dia tak bisa menerima kematian Mike, anak semata wayangnya.


"Kamu cari tau, siapa yang terakhir kali bicara dengan korban, dan selidiki, apa ada orang yang bertemu Mike sebelum dia dibunuh." Perintah Gatot pada Teguh.


"Siap Pak. Laksanakan!" Ujar Teguh memberi hormat.


Teguh lantas pergi meninggalkan Gatot yang masih berdiri di teras rumah Bramantio.


Dia menoleh kebelakang, melihat Bramantio yang masih terduduk lesu di sofa ruang tamu rumahnya.


Gatot sesaat berfikir, dia memikirkan, siapa pelaku yang sudah membunuh Mike.


Gatot semakin pusing, karena terlalu banyak misteri pembunuhan yang belum bisa di pecahkannya.


Dan semua kasus pembunuhan yang sedang dia selidiki dan usut berhubungan dan berkaitan dengan keluarga Bramantio.


Gatot semakin bertanya tanya pada dirinya sendiri, apa sebenarnya yang sedang terjadi.


Mengapa akhir akhir ini, kasus yang ditanganinya selalu berhubungan dengan Bramantio.


Gatot menarik nafasnya dalam dalam, dia bertekat untuk mencari bukti bukti kasus pembunuhan yang terjadi.


Gatot juga penasaran dengan pelaku yang membunuh Mike, dia ingin tahu, motif si pelaku membunuh Mike.


Gatot pun pergi dari teras rumah Bramantio.


Gatot keluar dari rumah Bramantio, lalu masuk ke dalam mobilnya.


Tong besar berisi mayat Mike sudah di bawa pergi oleh Petugas Kepolisian dan Tim Forensik.


Masih ada beberapa Petugas Kepolisian yang berjaga jaga di sekitar tempat ditemukan mayat Mike.


---


          Didalam ruang Autopsi, Jenazah Mike yang sudah di keluarkan dari tong tengah di periksa oleh Seorang Dokter Specialis Ahli Forensik.


Dokter Ahli Specialis Forensik tampak serius memeriksa kondisi tubuh jenazah Mike yang tertimbun semen kering.


Dokter Specialis Forensik berhasil melepaskan semen semen dari tubuh Mike.


Rencananya, setelah nantinya, pemeriksaan menyeluruh selesai dilakukan, mayat Mike tersebut nantinya akan disimpan di ruangan freezer bersuhu minus 20 derajat celcius.


Seorang Dokter Ahli Forensik segera memeriksa jenazah Mike dari antemortem hingga postmortem.


Pemeriksaan antemortem adalah pemeriksaan data khas fisik korban sebelum meninggal, seperti mengidentifikasi pakaian atau aksesoris yang terakhir kali dikenakan, barang bawaan, tanda lahir, tato, bekas luka, cacat tubuh, foto diri, berat dan tinggi badan, serta sampel DNA.


Dan Dokter Specialis Forensik sedang melakukan itu semua pada jenazah Mike.


Aroma khas desinfektan menyeruak saat ruang Autopsi terbuka, Gatot bersama Teguh masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Dokter Specialis Forensik.


Selama ini, ruangan tersebut selalu tertutup untuk siapa pun yang ingin mengetahui informasi tentang korban.

__ADS_1


Hanya beberapa petugas dari kepolisian setempat dan sejumlah tim forensik dari Disaster Victim Identification (DVI) yang mondar-mandir di ruangan tersebut.


Dari pihak kepolisian, hanya Gatot dan Teguh yang di izinkan masuk keruangan itu, sebab mereka berdua yang menangani kasus pembunuhan tersebut.


Di sisi lain, rasa penasaran akan proses Autopsi bagian tubuh korban Mike makin membuncah dalam diri Gatot saat ini.


Gatot sudah tak sabar menunggu hasil pemeriksaan Dokter Specialis Forensik terhadap mayat Mike.


Gatot penasaran, dia ingin tahu, apakah Mike di bunuh lebih dulu sebelum di kubur semen, atau Mike dikubur hidup hidup dalam semen lalu mati.


Dokter Specialis Forensik masih terus memeriksa tiap tiap bagian tubuh jenazah Mike.


---


          "Apa ?!! Anakmu di bunuh ?!" Ujar Samsul terhenyak kaget.


"Ya, mayatnya dimasukkan ke dalam tong, dan dikirim padaku, aku menemukan mayat anakku di depan rumahku !!" Ujar Bramantio geram.


Bramantio saat ini datang ke markas besar Wolf Genk untuk menemui Samsul.


Bramantio mengabarkan kematian Mike pada Samsul, Samsul pun di buat terkejut mendengar kematian Mike.


Samsul sama sekali tak pernah menduga, jika Mike mati di bunuh.


"Aku yakin, kematian Mike pasti ada hubungannya dengan pembantaian anak buahmu !!" Ujar Bramantio geram.


Bramantio bisa mengatakan hal tersebut, sebab, sebelumnya Mike sudah mengakui, bahwa dia membayar Zulfan, anak buah Samsul untuk membunuh Linda.


Dan Bramantio juga yakin, kematian anaknya itu, pasti ada hubungannya dengan Linda, sebab Mike sudah membunuh Linda.


Namun, siapa Pelaku yang membunuh Mike, Bramantio tidak mau gegabah, dia tak mau buru buru menuduh, dia tak mau, karena dia salah menuduh orang, dan masalah akan semakin besar.


Bramantio juga tak mau mendatangi Wijaya, sebab, dia yakin, Wijaya tidak tahu menahu akan pembantaian anggota Wolf Genk dan pembunuhan Mike.


Bramantio tidak mau, Wijaya sampai tahu, bahwa anaknya, Mike, mati dibunuh.


Bramantio tidak mau, Wijaya menjadi senang, mengetahui, kalau dia juga kehilangan anak satu satunya, sama seperti Wijaya.


Bramantio bertekat dihatinya, dia akan lebih dulu mencari siapa pelakunya, jika sudah menemukannya, barulah Bramantio mengambil sikap dan tindakan pembalasan nantinya.


"Biadab !! Berarti bukan Steve dan anggota Genk Tiger yang menyerang dan membantai anggotaku ?!" Ujar Samsul penuh amarah.


"Aku sudah bilang sama kamu, jangan serang Steve dan anggota genknya, karena aku gak yakin, pembantaian anak buahmu ulahnya Steve ! Tapi kamu berkeras, menuduh Steve, bahkan sampai menghabisi nyawa Steve dan seluruh anggotanya !!" Bentak Bramantio marah.


"Lantas, siapa pelakunyaaa?!!" Teriak Samsul.


Dia meluapkan emosi amarahnya.


"Mana aku tau, kalo aku tau, sudah ku bunuh pelakunya !!" Bentak Bramantio.


Bramantio tidak suka Samsul berteriak di depannya. Biarpun Samsul pemimpin mafia yang sangat disegani, ditakuti dan dihormati, tapi Buat Bramantio, Samsul hanyalah kacungnya.


Sebab, selama ini, kesuksesan Samsul menjalani bisnis Narkobanya, karena dibelakangnya ada Bramantio, yang memberikan perlindungan buatnya.


Sehingga dengan mudah dan cepat, jaringan pengedaran narkoba Samsul semakin besar dan meluas ke hampir seluruh wilayah di negara ini.


"Kamu tenang aja Bram, aku akan mencari pelaku yang membunuh Mike, aku pasti akan menemukan orang itu !!" Ujar Samsul dengan geramnya.


Bramantio hanya diam, tak menjawab ucapan Samsul. Bramantio tampak sedang berfikir keras, dia sedang mengira ngira, siapa yang berani membunuh Mike, anaknya.


Dan Bramantio tahu, rusaknya cctv tersebut karena perbuatan si pelaku yang menyadari dan mengetahui tempat dimana cctv terpasang.


Wajah Bramantio tampak penuh amarah.


---


       Dokter Specialis Ahli Forensik selesai mengautopsi jenazah Mike.


Dokter mendekati Gatot dan Teguh, yang masih ada didalam ruangan menunggu hasil pemeriksaan Dokter tersebut.


"Saya menemukan Zat Sianida di hidung dan tengkorak kepala serta otak korban." Ujar Dokter Specialis Forensik pada Gatot.


Gatot dan Teguh sama sama kaget mendengar penjelasan Dokter. Gatot pun menatap tajam wajah sang Dokter.


"Jadi, kematian korban, bukan karena di kubur hidup hidup dengan semen ?!" Tanya Gatot dengan wajah yang penuh keingin tahuan.


"Ya, Pelaku sengaja menyuntikkan racun sianida melalui lubang hidung korban, dengan tujuan, menyiksa korban sebelum mati, racun merusak jaringan otak korban." Ujar Dokter Forensik menjelaskan.


"Setelah korban di beri racun sianida, baru korban ditenggelamkan dalam kubangan semen didalam tong, dan menutupnya rapat menggunakan lem besi." Ungkap Dokter Forensik.


Gatot terdiam, untuk sesaat, dia tampak sedang berfikir, sementara Teguh, diam mendengarkan.


"Baiklah, Terima kasih atas informasinya." Ucap Gatot pada Dokter Forensik.


"Iya, jika ditemukan bukti lainnya saat dilakukan pemeriksaan di lab nanti, akan saya kabari." Ujar Dokter Forensik.


Gatot mengangguk mengiyakan ucapan Dokter Forensik.


Kemudian, Gatot bersama Teguh keluar dari ruangan Autopsi tersebut.


---


        Wajah Gatot tampak berfikir keras, dia baru kali ini menemui mayat dikubur semen dan dimasukkan ke dalam tong.


Bagi Gatot, selama dia bertugas di kepolisian, menjadi penyidik pembunuhan dan kriminal kejahatan, sama sekali dia tidak pernah menemukan korban di bunuh dengan cara di suntik mati lalu dibenamkan dalam semen.


       Gatot menarik nafasnya dalam dalam, dia tercenung duduk di kursi meja kerjanya.


Ada beban fikiran yang sangat berat menggelayut dibenaknya. Dia sangat terbebani dengan kasus pembunuhan Mike.


Sebab, sama sekali tidak di temukan bukti bukti dan jejak pelaku yang membunuh Mike.


Gatot merasa, bahwa pelaku pembunuhan Mike, orang yang profesional, yang sangat menguasai dan ahli dalam hal menghilangkan bukti dan jejak pembunuhan.


Itu juga yang membuat Gatot semakin penasaran, dia ingin cepat cepat menemukan si pelaku, dia ingin tahu sosok pelaku pembunuhan Mike.


Dia juga bertekat, jika dia berhasil menangkap pelaku pembunuhan Mike, dia akan memaksa pelaku, agar pelaku menjelaskan, apakah dia juga pelaku yang sama, yang telah menyerang dan membantai anggota Wolf Genk.


Ya, Gatot mendapatkan kabar, bahwa terjadi pembantaian besar besaran di markas Wolf Genk pimpinan Samsul, yang mengakibatkan banyak anak buah Samsul mati terbunuh.


Namun Gatot tidak menghubungkan keterkaitan dengan penyerangan Wolf Genk ke markas Genk Tiger .


Dia mengira, pembunuhan Steve dan anggota genknya disebabkan perang antar kelompok mafia Wolf Genk dan Genk Tiger, dalam merebut wilayah kekuasaan mereka dalam menjalankan jaringan Narkoba.


Gatot menarik nafasnya dalam dalam, lantas dia berdiri, dan segera pergi meninggalkan ruang kerjanya.


---

__ADS_1


         Di ruang kerjanya, Maya tampak tidak bisa konsentrasi dalam mengerjakan pekerjaannya.


Maya tampak diam dan melamun, tanpa sadar, jarinya memegang bibirnya.


Maya mengingat saat Gavlin mengecup mesra bibirnya, dan dia membalas mengecup bibir Gavlin dengan penuh kelembutan.


Maya tampak tersenyum senang, wajahnya terlihat berseri seri, dia sedang bahagia saat ini.


Getaran cinta semakin kuat dirasakannya dihati, Maya pun terlihat sangat mencintai Gavlin.


Maya terus membayangkan Gavlin, dia larut dalam asmara saat ini.


            Sementara itu, Gavlin yang sedang menikmati makan siangnya di cafe langganannya, tampak santai dan cuek.


Dengan cuek dan santai dia mendengar berita tentang kematian Mike, anak Bramantio, pejabat daerah dan tokoh masyarakat di kota itu.


Gavlin terus makan, dia tak perduli dengan berita di televisi yang ada di dalam ruang cafe.


Sementara para pengunjung lainnya serius mendengarkan pembawa berita, mengabarkan kematian Mike.


Di televisi juga ditampilkan gambar saat saat tong besar berisi mayat Mike ditemukan di depan rumah Bramantio.


       Beberapa saat kemudian Maya masuk ke dalam cafe, dia tahu, Gavlin ada di cafe tersebut, sebab sebelumnya, Gavlin menelpon Maya, mengajak Maya makan siang bersama dirinya.


Dan Maya sama sekali tidak menolak ajakan Gavlin, dia langsung setuju dengan ajakan Gavlin.


Dengan senang hati, Maya pun mau menemani Gavlin makan siang di cafe langganan mereka selama ini.


"Hai Vlin, sorry aku telat." Ujar Maya.


Maya duduk di kursi, didepan Gavlin duduk.


"Gak apa May, sorry ya, aku makan duluan, udah lapar." Ujar Gavlin tertawa kecil.


"Gak apa Vlin." Ujar Maya tersenyum.


       Seorang Pelayan datang menghampiri Maya dan menanyakan Maya mau makan apa, Maya pun meminta menu yang sama seperti yang dimakan Gavlin.


Pelayan cafe mengerti dan paham, lalu Pelayan pergi meninggalkan Maya dan Gavlin.


Maya menatap lekat wajah Gavlin yang terlihat santai menyantap makanan.


Mata Maya berbinar binar, ada cinta di mata Maya, dia menatap lembut wajah Gavlin, terus memandangi wajah Gavlin.


Gavlin menyudahi makannya, dia mengambil kertas tissu yang ada di pinggir meja, lalu membersihkan tangannya yang habis makan dengan kertas tissu.


Gavlin heran melihat Maya melamun.


"Kamu kenapa May?!" Ujar Gavlin tersenyum.


"Eh, maaf Vlin." Ujar Maya.


Maya tersadar dari lamunannya, dia tersipu malu, karena Gavlin tahu, kalau dia sedang melamun.


"Kamu kangen sama aku ya?" Goda Gavlin pada Maya.


"Diih, emangnya kamu siapa aku, sampe aku harus kangen sama kamu?" Ledek Maya mencibir pada Gavlin.


"Pacar, aku pacar kamu!" Ujar Gavlin tersenyum.


"Siapa bilang?!" Ujar Maya dengan sikap malu malu dihadapan Gavlin.


Gavlin tersenyum, dia tahu, Maya gugup, dan berusaha menutupi rasa malunya, Gavlin tahu, Maya juga suka dan cinta kepadanya.


"Aku bilang kamu pacarku, sebab, kita udah resmi pacaran sejak kita berdua ber..."


"Eh, Vlin, kamu udah dengar berita belum?" Ujar Maya.


Maya memotong ucapan Gavlin, dia tak mau Gavlin membahas soal dia yang sudah mengecup bibirnya.


Gavlin tertawa kecil lalu tersenyum menatap wajah Maya, dia tahu, Maya tak mau membahas soal kemesraan mereka saat itu.


"Kabar apa May?" Tanya Gavlin tersenyum dengan bersikap tenang dan santai.


"Mike, dia mati dibunuh, aku dapat kabar dari teman wartawanku tadi pagi." Ujar Maya.


"Oh." Jawab Gavlin cuek.


"Kok kamu cuek Vlin, apa kamu udah tau sebelumnya?" Tanya Maya heran.


"Aku udah tau May, tadi, aku liat di tv, sebelum kamu datang ke sini." Ujar Gavlin santai.


"Vlin, apa kematian Mike ada hubungannya dengan kematian Linda?" Tanya Maya penasaran.


"Entah." Jawab Gavlin cuek sambil meminum minumannya yang ada diatas meja.


"Kalo memang ada hubungannya, siapa ya yang bunuh Mike ?" Ujar Maya.


Gavlin diam tak menjawab, dia tetap bersikap tenang, Maya menatap lekat wajah Gavlin yang tampak cuek dan santai mengetahui kematian Mike.


Ada kecurigaan dihati Maya pada Gavlin, dia curiga, Gavlin yang membunuh Mike, karena dendam, sebab Mike membunuh Linda.


Tapi Maya cepat membuang prasangka buruknya, dia tak yakin, Gavlin bisa membunuh Mike.


Dan Maya juga belum yakin, kalau yang membunuh Linda memang Mike, sebab, jika memang benar Mike pelakunya, pasti Ayahnya sudah cerita padanya.


Maya menarik nafasnya dalam dalam, Pelayan cafe datang dan meletakkan makanan dan minuman yang dipesan Maya diatas meja.


Maya berterima kasih pada Pelayan yang lantas segera pergi meninggalkan Maya dan Gavlin.


Sebelum makan, Maya sekilas melirik wajah Gavlin, dia melihat Gavlin tetap bersikap tenang, santai dan terkesan cuek.


Maya pun lantas makan, Gavlin melirik Maya yang tampak sangat menikmati makannya.


Gavlin tersenyum senang melihat Maya yang makan dengan lahapnya, Gavlin tahu, Maya sudah lapar.


Diam diam Gavlin terus memandangi wajah Maya yang sedang makan.


Gavlin sengaja bersikap santai dan cuek saat Maya membahas kematian Mike.


Sebab, Gavlin tak ingin Maya tahu, kalau dia yang telah menghabisi nyawa Mike. Membalaskan dendam dia dan Linda.


Gavlin tak mau membuat Maya takut pada dirinya, sebab mengetahui, jika dia sebenarnya seorang pembunuh berdarah dingin.


 


 

__ADS_1


__ADS_2