VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Akhir hidup Sutoyo


__ADS_3

"Berapa nyawa yang kamu punya Sutoyo? udah kena bom, masih hidup juga!" ujar Gavlin sinis.


"Aku mau liat, sekarang, apa kamu masih hidup juga." ujar Gavlin geram dan marah.


Lalu, Gavlin pun menembakkan senapan mesinnya ketubuh Sutoyo yang terbaring tak sadarkan diri. Dengan seketika, darah segar menyembur dari seluruh tubuh Sutoyo.


Gavlin membantai Sutoyo dengan kejam di dalam kamar ruang ICU saat kondisi Sutoyo sekarat, dia membabi buta menembak Sutoyo.


Akhirnya, Sutoyo pun benar benar mati kali ini ditangan Gavlin, Gavlin membuang ludahnya, dia pun tersenyum lega.


Gavlin puas, karena Sutoyo akhirnya mati juga ditangannya.


Gavlin tersenyum sinis menatap mayat Sutoyo yang berlumuran darah diseluruh tubuhnya, akibat terkena hantaman peluru peluru dari senapan mesin Gavlin.


Sebenarnya, awalnya Gavlin, berniat mau ke kamar ruang ICU Gatot, untuk mengeluarkan Gatot dari rumah sakit, seperti yang dia rencanakan.


Karena hanya berbekal cerita Maya, yang mengatakan, bahwa Gatot dijaga ketat polisi, Gavlin mengira, kamar ruang ICU Sutoyo adalah kamar Gatot.


Tak ada pilihan lain untuk mengeluarkan Gatot, kecuali dia harus membantai polisi polisi yang berjaga jaga. Itu sebabnya, Gavlin menembak petugas polisi dan intelijen.


Setelah dia masuk ke dalam kamar ruang ICU dan melihat Sutoyo, dia baru sadar, kalau dia saat ini berada dikamar yang salah.


Namun, dia juga senang, karena tanpa susah payah mencari ruangan Sutoyo dirawat, dia malah bertemu Sutoyo tanpa sengaja.


Tanpa menyia nyiakan waktu, Gavlin langsung membantai Sutoyo hingga benar benar mati.


Gavlin lantas berjalan keluar dari dalam kamar ruang ICU, saat dia hendak keluar, sebuah peluru melesat ke arahnya.


Ternyata, beberapa Petugas Polisi yang berjaga di depan ruangan ICU Gatot mendengar suara tembakan dan alarm bahaya dari rumah sakit. Petugas Polisi mendatangi ruangan Sutoyo. Mereka tahu, arah suara tembakan dari ruang ICU Sutoyo.


Mengetahui dirinya di kepung petugas kepolisian yang menembaki dirinya, Tak ada pilihan lain buat Gavlin untuk melawan.


Gavlin lantas mengambil dua granat asapnya dari tas pinggangnya. Lalu, dia melemparkan granat asap yang berbentuk seperti kaleng tersebut.


Asap tebal pun langsung keluar dan menutupi pandangan mata petugas polisi yang tengah mengepung Gavlin.


Suara tembakan terus terdengar secara bergantian, karena pandangan mata mereka terhalang asap tebal, para petugas polisi menembak sembarangan.


Gavlin keluar dari dalam kamar ruang ICU, lalu dengan cepat dia berguling guling di lantai koridor depan kamar ruang ICU.


Lalu, Gavlin pun menembakkan senapan mesinnya dengan membabi buta ke arah asap tebal, dimana para petugas polisi berada dan mengepungnya.


Lalu, Gavlin pun segera berlari menjauh, sebuah peluru melesat dan menyerempet bahu Gavlin.


Bahunya pun tergores dan terluka, lalu mengeluarkan darah.


Gavlin marah, dengan kalap, dia menembaki kembali senapan mesinnya tanpa henti ke arah para petugas Polisi.


Petugas polisi yang menerobos asap tebal hendak mengejar Gavlin langsung terkapar di lantai, karena terkena peluru dari senapan mesin Gavlin.


Lantas, Gavlin pun segera melarikan diri, dia tak mau melawan para petugas Polisi, yang semakin banyak yang datang dan mengejarnya.


Sambil berlari, dia tetap menembakkan senapan mesinnya, aksi tembak menembak pun terjadi didalam koridor rumah sakit, petugas polisi mengejar dan memberi perlawanan pada Gavlin.


"Berheeeennntiiii!!" teriak Richard, dengan memakai Toa dimulutnya.


Suaranya pun terdengar keras dan bergema, memenuhi seluruh ruangan, karena menggunakan toa ( pengeras suara ) , suaranya terdengar lantang menggelegar.


Seketika, Para Petugas Kepolisian berhenti, mereka tak mengejar Gavlin, Gavlin terus melarikan diri.

__ADS_1


Richard lantas mendekati para petugas polisi, lalu dia berjalan, melewati mayat mayat anggotanya yang mati tertembak.


Richard masuk ke dalam kamar ruang ICU, dia melihat, diatas ranjang, Sutoyo mati berlumuran darah.


Richard tahu, yang datang dan menyerang anggotanya lalu membunuh Sutoyo adalah Gavlin, karena itu, dia menghentikan anggotanya menembak dan mengejar Gavlin.


Dia sengaja menyelamatkan dan membiarkan Gavlin melarikan diri, karena, antara dia dan Gavlin sudah ada kesepakatan untuk saling membantu mengungkap kejahatan Herman dan komplotannya beserta Bramantio dan juga Sutoyo yang sudah mati.


Richard lantas keluar dari dalam kamar ruang ICU, lalu, dia mendekati salah satu angggotanya.


"Bersihkan, dan angkut mayat mayat teman kalian. Dan bawa juga mayatnya Sutoyo di dalam kamar." Perintah Sutoyo dengan tegas.


"Siap, laksanakan!" ujar Petugas Polisi, memberi hormat.


Lalu, Richard pun berjalan menuju ruang ICU Gatot, petugas kepolisian yang hidup dan tersisa, segera menggotong mayat mayat rekan rekan mereka. Mayat mayat petugas polisi di jejerkan di lantai koridor rumah sakit.


Richard masuk ke dalam kamar ruang ICU, dia menemui Gatot, yang duduk di ranjang, Gatot tampak cemas, dia juga mendengar suara tembakan.


"Apa yang terjadi diluar?" tanya Gatot, dengan wajahnya yang cemas.


"Sepertinya Gavlin datang, dia membantai anggota kepolisian, lalu membunuh Sutoyo!" jelas Richard.


"Sutoyo mati?!!" ujar Gatot kaget.


"Ya, aku liat mayatnya berlumuran darah, tubuhnya berlubang banyak, terkena peluru." lanjut Richard menjelaskan.


"Gavlin memang nekat. Gedung Polisi aja dihancurkan , hanya mencari Sutoyo dan anak buahnya waktu itu, apalagi rumah sakit. Dia gak akan ada rasa takutnya." ujar Gatot.


"Iya, cuma aku khawatir, Herman dan komplotannya pasti segera tau, kalo Sutoyo mati di bunuh Gavlin." ujar Richard.


"Kayaknya kamu gak aman di sini! Firasatku bilang, Herman akan menuduhmu, atas kematian Sutoyo, karena mereka tau, kalo kamu selama ini bekerjasama dengan Gavlin." tegas Richard.


"Jangan, rumahmu gak aman, kamu dan anakmu, juga Gavlin harus menyingkir untuk sementara waktu dari rumahmu, aku yakin, Herman akan memburu kamu dan Gavlin!" tegas Richard.


"Lantas, kami mau sembunyi dimana?" tanya Gatot, dengan wajahnya yang serius.


"Sementara waktu, kalian bisa tinggal di villaku, gak ada yang tau, villaku itu. Aku jamin, kalian aman disana!" tegas Richard.


"Baiklah, aku nurut sama kamu." ujar Gatot.


Sementara itu, di dalam mobilnya, Gavlin memegangi bahunya yang terluka gores, akibat terserempet peluru petugas polisi yang menembaknya.


"Maaf, Om Gatot, aku belum bisa mengeluarkanmu dari rumah sakit. Nanti aku kembali lagi menjemputmu!" ujar Gavlin, dengan wajahnya yang serius.


Lalu, Gavlin pun menyalakan mesin mobilnya, lalu, mobil Gavlin pun segera pergi dari rumah sakit.


---


Beberapa jam kemudian, setelah kejadian yang menimpa para petugas kepolisian dan kematian Sutoyo, Herman pun mengadakan rapat mendadak dengan komplotannya selama ini.


Mereka berkumpul ditempat biasa, dalam ruang rapat kementrian kehakiman. Wajah Herman terlihat sangat marah sekali.


"Bedebaaah!! Sutoyo mati juga akhirnya!! Kita gagal melindunginya!!" ujar Herman, marah.


"Gavlin pasti pelakunya!" ujar Peter.


"Siapa lagi kalo bukan dia? Dia benar benar nekat!!" tegas Prawira geram.


"Langkah apa yang harus kita jalani setelah kematian Sutoyo?" tanya Jack Hutabarat.

__ADS_1


"Temui Gatot, jadikan dia sandera! Agar Gavlin menyerahkan diri ! Aku yakin, Gavlin akan menolong Gatot, seperti yang dia lakukan saat meledakkan Sutoyo di bangunan Wijaya!" jelas Dody, dengan wajahnya yang serius.


"Terlalu riskan, kalo kita langsung menangkap Gatot, sementara dia masih di rawat, lain cerita, kalo Gatot udah sehat dan gak dirawat dirumah sakit, kita bisa menangkapnya, dan membuat tuduhan palsu padanya!" tegas Peter.


"Iya, juga sih." ujar Dody , setuju dengan Peter.


"Bagaimana pun kita harus bisa membekuk si Gavlin, anak Sanusi itu!! Jangan sampai, dia duluan yang bunuh kita!!" tegas Herman marah.


Peter, Dody, Jack dan Prawira mengangguk, mengiyakan perkataan Herman. Mereka pun berfikir, mencari cara untuk bisa membekuk Gavlin.


---


Gavlin masuk ke dalam kamar khusus penyimpanan senjata senjatanya, dia lantas meletakkan tas besar dan panjang yang berisi senjata senjata diatas meja.


Gavlin lantas memandangi wajahnya di kaca cermin yang tergantung di dinding kamar. Tatapan matanya terlihat dingin.


"Sepertinya, sudah saatnya Yanto kembali beraksi." ujarnya, sambil menatap wajahnya di kaca cermin.


Gavlin lantas duduk di kursi, lalu, dia mengambil ponsel Ronald dari dalam laci meja. Lalu, dia mencari nomor telepon Bramantio di menu kontak telepon.


Setelah menemukan nomor telepon Bramantio, dia pun mengetik pesan, dia lantas mengirimkan pesan yang diketiknya pada Bramantio.


Diruang persembunyiannya, di suatu tempat, Bramantio membuka ponselnya , karena ada pesan yang masuk. Dia melihat, nama Ronald dilayar Ponsel.


"Ronald? Akhirnya dia kirim pesan juga, pasti dia mau bertemu aku!" ujar Bramantio senang.


Lalu, Bramantio pun membuka kotak pesan di ponselnya, dia lantas membaca pesan yang dikirim dari nomor ponsel Ronald.


"Temui aku di rumahmu, Bram, aku tunggu, jam 8 malam."


Bramantio mengernyitkan keningnya membaca pesan tersebut, dia merasa , ada yang janggal dan aneh dalam pesan tersebut.


"Sejak kapan Ronald memanggil namaku? Selama ini dia memanggilku abang. Tapi, di pesan, dia cuma nyebut namaku, tanpa ada kata abang." ujar Bramantio.


Bramantio lantas tampak berfikir, dia merasa curiga pada pesan yang di kirimkan ke ponselnya.


"Aku yakin, ini pasti bukan Ronald! Tapi orang lain!" ujar Bramantio berfikir.


"Kamu mau menjebakku ya?" ujar Bramantio sinis.


"Siapa pun kamu yang mengambil ponsel Ronald, gak kan bisa menipu Bramantio!" ujar Bramantio, dengan tersenyum sinis dan angkuh.


"Kamu mau main main denganku, baiklah, aku terima undanganmu!" ujar Bramantio.


Bramantio tersenyum sinis, dia pun lalu berfikir, Bramantio memikirkan cara, untuk menjebak balik, orang yang berpura pura menjadi Ronald dan mengirimkan pesan padanya.


Bramantio lantas mengetik di ponselnya, dia pun lantas membalas pesan tersebut.


"Ok, aku pasti datang !"


Begitu isi pesan yang di ketik Bramantio.


Lalu, Bramantio pun segera mengirimkan pesan tersebut, untuk membalas pesan dari nomor Ronald.


Di dalam kamar khususnya, Gavlin tersenyum sinis membaca balasan pesan dari Bramantio.


"Sebentar lagi, kamu bakal mampus ditanganku, Bram!" ujar Gavlin, dengan geram.


Lalu, dia pun menyimpan ponsel ke dalam laci meja, kemudian, Gavlin pun bergegas pergi keluar dari dalam kamar khususnya.

__ADS_1


Gavlin akan bersiap siap menyamar sebagai Yanto saat menemui Bramantio malam nanti.


__ADS_2