
Sarono keluar dari dalam rumahnya, di tangannya ada secarik kertas, dia lantas menghampiri Gavlin yang sedang menutup pintu belakang mobil pick up Sarono.
"Ini alamat rentenir itu nak Gavlin." ujar Sarono.
Sarono memberikan secarik kertas pada Gavlin, Gavlin lantas menerimanya, dibacanya sekilas tulisan tangan pak Sarono, lalu, kertas di masukkannya ke dalam kantong bajunya.
"Saya pergi dulu Pak. Bapak tetap di dalam rumah, siapapun yang datang, jangan keluar, diam saja di dalam bersama Indri." ujar Gavlin.
"Iya, nak Gavlin." ujar Sarono.
"Ya, sudah, saya berangkat dulu, mungkin saya gak pulang malam ini, Pak. Sekalian, ada urusan yang mau saya urus di kota." jelas Gavlin.
"Ya, gak apa apa nak Gavlin." ujar Sarono.
Gavlin lantas masuk ke dalam mobil, Sarono mundur beberapa langkah, lalu berdiri menunggu Gavlin pergi.
Tak berapa lama, mobil pun berjalan, lalu pergi meninggalkan pak Sarono yang berdiri diam menunggu.
Setelah mobil pergi menjauh dan menghilang dari pandangan matanya, pak Sarono lantas masuk ke dalam rumahnya.
Setelah dia berada didalam rumahnya, di kuncinya pintu rumahnya, dan jendela ditutup dengan kain horden.
Indri menghampiri Bapaknya yang baru saja menutup jendela dan hendak berjalan ke ruang tengah.
"Gavlin udah pergi, Pak?" tanya Indri.
"Udah, baru aja." ujar Sarono.
"Pak, Indri kok jadi takut sama Gavlin." ujar Indri cemas.
"Takut kenapa?" tanya Sarono heran.
"Wajahnya Gavlin itu loh Pak, menyeramkan, kayak bukan dia tadi, Indri takut banget, gak nyangka kalo Gavlin bisa seganas itu." ujar Indri, dengan raut wajah yang menyimpan keresahan dan ketakutan pada Gavlin.
"Jangan terlalu di pikirkan, yang penting Gavlin baik sama kita, dia juga udah nolong Bapak dan menyelamatkan kamu dari Amir dan anak buahnya tadi." jelas Sarono.
"Iya, Pak." jawab Indri, mengangguk mengerti dan paham.
"Kamu gak usah nunggu Gavlin, malam ini dia gak pulang, katanya, ada urusan di kota." jelas Sarono.
"Oh, gitu." ujar Indri.
"Kira kira, Gavlin balik lagi ke sini gak ya Pak?" tanya Indri cemas.
Ada rasa cemas di hati Indri, dia sendiri tak tahu, mengapa dirinya cemas , dan hatinya menjadi resah, saat mendengar Gavlin pergi dan tidak pulang.
Ada ketakutan dalam diri indri, jika Gavlin tidak lagi kembali kerumah mereka, dan dia tak bisa lagi bertemu Gavlin. Indri tak tahu, mengapa dirinya seperti itu, ada getaran getaran kecil yang selalu dia rasa, dan jantungnya selalu berdegup cepat jika dia sedang ada di dekat Gavlin.
__ADS_1
"Bapak mau istirahat, badan Bapak pegal pegal, karena di lempar dan jatuh tadi." ujar Sarono.
"Iya, Pak. Indri obati dulu luka di tangan Bapak ya?" ujar Indri.
"Gak usah, biar Bapak saja yang obatin nanti, sekalian istirahat di kamar." ujar Sarono, tersenyum lembut.
"Iya, Pak. Angguk Indri.
Lalu, Sarono pun pergi meninggalkan Indri sendirian, Indri lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu dia berbalik badan, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
---
Mobil Gavlin berhenti di depan halaman sebuah rumah, lalu, dia cepat keluar dari dalam mobilnya. Gavlin membuka bagasi belakang mobil pick up Sarono, lalu, diturunkannya motor motor dan meletakkannya begitu saja di tanah.
Empat orang yang sedang duduk duduk santai melihat Gavlin yang menurunkan motor motor Amir dan Hendro. Mereka heran, karena mereka mengenali motor Amir dan Hendro.
Gavlin lantas naik ke atas mobil pick up, lalu, dari atas mobil, dilemparkannya mayat mayat Amir, Hendro dan Tarman ke tanah.
Melihat ketiga mayat temannya terbujur kaku di tanah, ke empat pria pun kaget, dan marah pada Gavlin.
"Siaaaalllaaan !! Kamu membunuh teman teman kami!!" bentak seorang Pria yang tinggi besar.
Gavlin cuek, tak menghiraukan perkataan Pria tersebut yang marah, dia lantas turun dari atas mobilnya, lalu, di tutupnya kembali pintu bagasi mobil pick up.
"Kutu buuussuuuk !! Hajar dia!!" perintah Pria tinggi besar pada ketiga temannya.
Gavlin pun melawan, dia menyerang ketiganya, baku hantam pun terjadi, 3 lawan satu. Gavlin yang bertangan kosong tanpa senjata memberi perlawanan yang sengit pada ke tiga Pria yang memegang pisau ditangan mereka masing masing.
Pukulan demi pukulan di berikan Gavlin, sambil menghindari tusukan tusukan pisau yang menghujam ke arahnya. Gavlin menangkap tangan seorang Pria, lalu merebut pisau dari tangannya.
Dengan cepat Gavlin menusukkan pisau ke dada si Pria yang tangannya di pegang dan di cekal Gavlin, Pria itu pun mati, Gavlin melempar tubuhnya di tanah.
Dua Pria menyerang Gavlin, kini Gavlin sudah memegang pisau ditangannya, yang dirampasnya dari Pria yang sudah mati di bunuhnya.
Dengan pisau ditangannya Gavlin menyerang keduanya, mudah bagi Gavlin untuk mengalahkan kedua Pria itu. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Gavlin menghujamkan pisau ke perut dan dada ke dua Pria, pisau di tusuknya berkali kali.
Kedua Pria pun terkapar dan mati, jatuh ditanah. Melihat ke tiga temannya mati, Pria tinggi besar tampak sangat marah.
Dia lantas menyerang Gavlin, Gavlin menghindari pukulan Pria tinggi besar, tiba tiba saja, tangan Pria menghantam wajah Gavlin.
Karena pukulannya sangat keras, dan tangan Pria itu besar, Gavlin pun terjajar jajar dan hampir terjatuh. Pria tinggi besar melompat dan menerjang Gavlin, Gavlin menghindar, dia berguling guling ditanah.
Lalu, Di tanah, Gavlin memutar tubuhnya, lantas melompat cepat dan berdiri, Gavlin pun menyerang balik si Pria tinggi besar, Tangan Pria menghantam Gavlin, Gavlin menunduk dan menghindar.
Saat dia menunduk, Gavlin cepat menebaskan pisau ke perut si Pria tinggi besar, perut Pria pun robek panjang, darah keluar dan mengalir dari perutnya.
Gavlin terus menyerang, di hujamkannya pisau ke paha kaki Pria tinggi besar, Si Pria pun terjerembab di tanah, karena paha dan kakinya di sabet pisau hingga terluka lebar.
__ADS_1
Saat si Pria tinggi besar terjatuh dan dalam posisi seperti bersimpuh di atas tanah, Dengan cepat Gavlin menebaskan pisau di tangannya ke leher Pria tinggi besar.
Mata Pria terbuka lebar, dia diam sesaat di tempatnya, lalu, sesaat kemudian, tubuh Pria tinggi besar limbung dan jatuh ke tanah.
Si Pria mati terkapar di tanah, dengan kondisi perut terburai dan leher terpotong pisau. Gavlin tersenyum sinis.
Dengan cepat, Gavlin masuk ke dalam rumah, dia mencari cari, ada 4 orang dalam ruangan sedang bermain judi.
Melihat Gavlin masuk ke dalam ruangan, ke empat orang yang tengah bermain judi kaget, namun, belum sempat mereka menyerang Gavlin. Gavlin sudah lebih dulu menyerang mereka.
Dengan membabi buta Gavlin menyerang, dengan susah payah ke empat orang menghindari hantaman pukulan dan tendangan serta tusukan pisau Gavlin.
Gavlin terus menyerang, hingga pada akhirnya, Gavlin pun dengan mudah mengalahkan ke empat orang tersebut, Gavlin membunuh mereka semua.
Mayat mayat bergelimpangan di ruangan itu, Gavlin lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan lainnya.
Gavlin masuk ke dapur rumah, dia mencari cari, namun tak ada siapa siapa lagi didalam ruangan.
Gavlin lalu keluar dari dalam rumah.
Kemudian, bensin bensin dari kedua motor Amir dan Hendro di keluarkannya dari tempatnya, dia memasukkannya kedalam ember, yang diambilnya dari depan rumah tersebut.
Gavlin lantas meletakkan semua mayat mayat di depan rumah beserta motor motor.
Lalu dia pun mulai menyiramkan bensin ke tubuh mayat mayat yang bergelimpangan ditanah, dan juga ke motor motor, lalu, di siramkannya bensin kerumah tersebut.
Gavlin menggeledah kantong Amir yang sudah menjadi mayat, dia menemukan korek gas dalam kantong celananya.
Lalu, diambilnya korek gas dari dalam kantong celana Amir yang sudah menjadi mayat. Gavlin lantas berjalan ke mobilnya.
Dia lalu memundurkan mobilnya, dan menjauh dari rumah tersebut.
Gavlin lantas keluar dari mobilnya, dan berjalan mendekati rumah.
Gavlin berdiri di depan mayat mayat, dia menyalakan korek gas ditangannya, lalu, dengan sikap tenang dan dinginnya, Gavlin pun melemparkan korek gas yang sudah menyala dan mengeluarkan api ke mayat mayat yang berserakan ditanah.
Api pun mulai membakar tubuh mayat mayat ditanah, Gavlin tetap berdiri diam ditempatnya, di lihatnya api menjalar dengan cepat, membakar mayat mayat, lalu melalap dua motor dan menjalar ke dinding rumah yang sudah di siram bensin oleh Gavlin.
Gavlin tersenyum sinis, dia membakar rumah tempat transaksinya rentenir meminjamkan uang dengan bunga yang besar, dan Gavlin membantai seluruh orang orang yang selama ini bertindak sebagai rentenir, debt colector dan pemberi pinjaman hutang.
Gavlin membantai dan menghabisi semuanya, agar tak ada lagi orang orang yang menderita dan mendapat perlakuan kasar seperti yang dialami Sarono dan Indri.
Mayat mayat beserta rumah pun sudah hangus terbakar, Gavlin lantas berbalik badan, dengan sikap tenang dan dingin, dia berjalan menuju ke mobilnya yang dia parkir sedikit jauh dari rumah tersebut agar tak terkena percikan api yang membakar.
Dua motor meledak, karena api membakarnya, Gavlin tetap tenang berjalan masuk ke dalam mobilnya. Lalu, dinyalakannya mesin mobilnya. Sesaat kemudian, mobil pun berjalan, lalu segera pergi meninggalkan tempat para rentenir yang sudah mati meregang nyawa.
Dengan tenangnya Gavlin menyetir mobilnya, dia mengendarai mobil dengan santai, mobil melaju dengan kecepatan sedang , meluncur dijalanan kampung yang sepi menuju kota.
__ADS_1