
Gatot pun lantas marah, dia lalu memerintahkan seluruh pasukan penyidik ke polisian yang ada di lokasi kejadian untuk mengejar dan memburu Jafar.
"Tangkap Jafar dan napi napi itu!! Buru mereka, jika ada yang melawan, tembak di tempat !!" Perintah Gatot, marah besar.
"Siap! Laksanakan !" ujar Petugas Penyidik Kepolisian.
Lalu, Gatot pun pergi meninggalkan petugas penyidik kepolisian yang lantas kembali ketempatnya semula tadi, Gatot masuk ke dalam mobilnya.
Wajahnya tampak sangat marah, karena lagi lagi, Jafar berhasil meloloskan diri, dia geram, karena Jafar sulit di tangkap.
Gatot lantas menjalankan mobilnya, dia pun pergi meninggalkan lokasi tersebut dengan membawa kemarahan dalam dirinya.
Di pusat keramaian, tampak Jafar berjalan dengan tertunduk, berusaha menutupi wajahnya, dia masih memakai topi kupluk yang di curinya.
Sepanjang jalan, tak ada yang mengenali Jafar, dan Jafar pun lega, dia lantas berjalan santai, bersikap seperti orang biasa, dia lega, karena tak ada polisi yang mengejarnya.
"Kemana aku harus mencari bang Bram?" Bathin Jafar bicara.
Jafar terus berjalan, menyusuri trotoar jalanan, di pikirannya saat ini hanya ada Bramantio saja, walau dia sudah berselisih dan bermusuhan dengan Bramantio karena dia menjalin hubungan dengan Masayu, istri Bramantio, namun, saat ini, Jafar benar benar sangat butuh pertolongan Bramantio.
Jafar lelah, dia lantas menghentikan langkahnya, lalu, dia pun lantas duduk di bangku yang ada di pinggir trotoar jalanan, Jafar duduk di bangku, melepaskan rasa lelahnya, sebab habis berlari jauh dari tadi.
Dia duduk dan diam sambil tercenung, memikirkan nasibnya, dan bagaimana caranya dia bisa bertahan hidup. Ada rasa kecewa dan amarah dalam dirinya, karena dia sudah di biarkan tertangkap oleh Herman dan Komplotannya.
Dia merasa di khianati Herman dan komplotannya, Jafar pun tampak geram dan menahan amarahnya.
"Akan ku bongkar semua kejahatan kalian di masa lalu Herman!" ujar Jafar, dengan geram dan menahan amarahnya.
Dia tak mau tertangkap dan menjalani hukuman sendirian, dia ingin Herman dan komplotannya juga mendekam dalam penjara lalu mendapatkan hukuman yang sama dengan dirinya atas kejahatan mereka.
Jafar berfikir, bagaimana caranya dia membongkar rahasia Herman dan komplotannya, agar Gatot dan pihak kepolisian menangkap Herman dan komplotannya.
Dua petugas Polisi berjalan di trotoar jalan ke arahnya, Jafar pun lantas merapikan topi kupluknya, dan dia menunduk, berpura pura mengurut urut telapak kakinya.
Kedua polisi terus berjalan dan melewati Jafar, mereka tak melihat dan tidak mengenali Jafar, Jafar menoleh ke arah kedua polisi yang sudah berjalan jauh, dia pun lega, karena polisi polisi tidak mengenalinya.
Jafar lantas berdiri dari duduknya di bangku, dia menarik nafasnya dalam dalam, di tenangkannya dirinya, lalu, dia pun kembali melanjutkan perjalanannya.
---
Malam harinya, di rumah Sarono, Indri tengah memberikan obat pada Gavlin yang belum juga sadar, Sarono memegangi dan membuka mulut Gavlin, lalu, Indri secara perlahan dan hati hati, meminumkan ramuan obat yang dibuat Sarono ke dalam mulut Gavlin.
Setelahnya, Sarono menutup mulut Gavlin kembali, lalu, dia pun beranjak pergi meninggalkan Gavlin yang masih pingsan.
Indri masih diam duduk di lantai kayu, disamping Gavlin, dia masih menemani Gavlin. Perlahan lahan, Indri menghapus keringat di dahi Gavlin dengan kain lap.
__ADS_1
Gavlin berkeringat, setelah dia meminum ramuan obat tradisional yang di buat Sarono, Indri sambil menghapus keringat Gavlin, terus menatapi wajah Gavlin.
Indri merasa iba dan prihatin pada Gavlin, karena dia belum juga sadar dari pingsannya, melihat luka lukanya Gavlin, Indri menjadi kasihan pada Gavlin.
Indri lalu meletakkan kain lap di lantai kayu, di sampingnya, Indri lantas mengambil kipas yang tergeletak di dekat kepala Gavlin.
Melihat Gavlin terus berkeringat, Indri mengira, Gavlin kegerahan, padahal, Indri merasakan, udara malam sangat dingin.
Indri pun lantas perlahan lahan mengipas tubuh Gavlin, agar Gavlin tidak kegerahan, Indri memberikan perhatiannya pada Gavlin yang tengah terluka dan tak sadarkan diri.
Lama lama, Indri mengantuk, kedua matanya tak bisa di ajak kompromi, selalu saja mau terpejam, Indri berusaha melawan dan menahan rasa kantuknya.
Dia terus mengipas kipas Gavlin, agar Gavlin nyaman, namun, karena tak tahan dengan rasa kantuknya yang terus menyerang, ditambah hawa dingin malam, membuat Indri pun tertidur. Indri pun tertidur sambil duduk di samping Gavlin.
Lama lama, kipas ditangannya terlepas, lalu, Indri pun rebah di lantai kayu, terlelap tidur disamping Gavlin.
Indri akhirnya tidur di samping Gavlin, seperti dia sedang menemani Gavlin, tidur bersama.
Sarono keluar dari dalam ruangan rumah kayunya, dia melihat Indri tertidur di lantai kayu, di samping Gavlin . Sarono pun tersenyum melihat anaknya yang tidur.
Sarono membiarkan Indri tidur di samping Gavlin, dia tak tega membangunkan Indri, karena dia tahu, Indri sangat lelah, karena seharian harus bekerja menjahit, merapikan rumah, memasak, serta merawat Gavlin.
Sarono membiarkan Indri tidur, agar dia beristirahat dan tenaganya pulih kembali keesokan harinya.
Sarono lantas berbalik badan, dia kembali masuk ke dalam ruangan rumah kayunya, untuk beranjak tidur juga.
---
Jafar mengendap endap masuk ke dalam sebuah rumah, karena lapar dan tak punya uang, dia pun kembali beraksi.
Jafar nekat, masuk kerumah orang untuk merampok penghuninya tanpa senjata ditangannya. Jafar dengan perlahan lahan masuk kedalam rumah salah seorang warga, dari pintu belakang yang berhasil di bongkarnya dengan menggunakan sepotong besi yang ditemukannya di halaman belakang rumah warga tersebut.
Lalu, dengan sepotong besi yang di pakainya untuk membongkar engsel pintu, Jafar pun masuk ke dalam rumah. Dia lantas menyusuri seluruh ruangan. Jafar mulai beraksi, mengobrak abrik setiap lemari dan laci yang ada di dalam ruangan ruangan rumah warga tersebut.
Jafar mencari cari perhiasan atau pun uang, Jafar kesal, karena di dalam ruangan ruangan rumah warga tersebut, dia tak menemukan sedikitpun perhiasan dan uang.
Jafar lantas masuk ke dalam kamar, dengan pelan pelan, dia membuka pintu kamar sambil memegangi sepotong besi ditangannya.
Dari depan pintu dia melihat ke dalam kamar, di atas ranjang, tampak dua manusia saling bergumul di atas kasur dengan tubuh di tutupi selimut panjang dan lebar.
"Siaaal! Mereka malah asyik asyikan main kuda kudaan tengah malam !" ujar Jafar geram.
Lalu, dengan perlahan lahan, dan mindik mindik berjalan, Jafar pun masuk ke dalam kamar, sambil menahan pintu kamar agar tak berbunyi saat tertutup rapat.
Lalu, dengan sangat pelan pelan dan hati hati, Jafar berjalan mendekati kedua pasangan yang sedang bermadu kasih bercinta diatas kasur.
__ADS_1
Pasangan itu tak menyadari kehadiran Jafar yang tengah menyaksikan mereka berhubungan badan, sebab, mereka sangat menikmati hubungan badan tersebut.
Mereka adalah pasangan muda, yang baru saja menikah, Jafar melihat, ada bingkai photo pasangan tersebut memakai baju pengantin, dan photo di bingkai masih terlihat baru.
Jafar pun tersenyum sinis mengamati pasangan itu yang asyik bergumul, memacu nafsunya di atas kasur.
******* suara dari wanita membuat hasrat Jafar muncul, dia pun lantas menyeringai jahat, lalu, dia mendekati pasangan tersebut.
Lantas, dengan cepat, Jafar menarik kain selimut yang menutupi tubuh kedua orang tersebut.
Pasangan itu pun terhenyak kaget, sang wanita teriak dan cepat meraih kain selimut dan menutupi tubuhnya, sementara sang Pria tampak marah, dengan tubuh tanpa sehelai pakaianpun.
"Siapa kamu!! Beraninya masuk ke rumahku!!" Bentak Pria itu marah.
Jafar tak menjawab, dengan cepat, dia menghantamkan potongan besi ditangannya ke kepala si Pria. Jafar memukul kepala Pria berkali kali, hingga terluka dan berdarah, si Wanita teriak histeris, melihat suaminya kepalanya berdarah darah dihantam besi.
"Tolooonnnggg...toooollllooonngg!!" teriak Wanita muda ketakutan.
"Diam kamu!! Atau aku bunuh kamu!!" bentak Jafar, dengan wajah penuh amarah dan menyeramkan.
Si Wanita Muda pun diam, dia tampak sangat ketakutan, Matanya melirik pada tubuh suaminya yang sudah terkapar di atas kasur, dengan kepala berlumuran darah.
Wanita Muda pun menangis ketakutan, dia tahu, suaminya sudah mati di bunuh Jafar.
"Diam kamu!! Jangan berisik! Jangan menangis!!" bentak Jafar.
Si Wanita Muda pun kaget di bentak, dia lantas terdiam, menahan tangisnya, dia semakin takut pada Jafar yang tengah memandangi tubuhnya.
"Kamu mau apa?!" tanya si Wanita Muda ketakutan, sambil berusaha menutupi tubuhnya yang tak memakai pakaian dengan selimut.
Jafar tak menjawab, dia hanya menyeringai jahat, Jafar menatap tajam tubuh sang Wanita Muda, tatapan matanya penuh nafsu.
Jafar lantas menarik paksa selimut yang menutupi tubuh si Wanita Muda, lalu, di lemparnya selimut itu ke lantai, Si Wanita Muda pun semakin takut, dia berusaha menutupi bagian tubuhnya yang paling intim. Dia takut, di perkosa Jafar.
"Kita tuntaskan permainanmu yang terhenti tadi, aku akan melanjutkannya, memberi kepuasan padamu." Ujar Jafar, tersenyum licik.
Jafar lantas membuka baju dan celananya, dia terus menatap tubuh si Wanita Muda yang tak di bungkus sehelai benangpun , Wanita Muda semakin ketakutan.
"Mau apa kamu?! Tolong, jangan perkosa aku!!" ujar Wanita Muda, ketakutan memohon.
Dia takut, karena Jafar sudah melepaskan baju dan celananya, si Wanita Muda menutup kedua matanya dan memalingkan wajahnya, dia tak berani melihat Jafar, yang menyeringai jahat serta menyeramkan itu.
"Kamu kan belum mencapai *******, sekarang, aku akan mengantarkanmu ke puncak kenikmatan." ujar Jafar.
"Jangan coba coba melawan dan menghindar, atau aku bunuh kamu seperti suamimu itu!!" bentak Jafar.
__ADS_1
Si Wanita Muda ketakutan, dia pun diam dan pasrah, Jafar lantas naik ke atas tubuh wanita muda, lalu, dia mulai menyetubuhi si Wanita Muda, si Wanita Muda hanya diam saja, hanya tangisan yang terdengar, dikeheningan malam itu.
Dia menangis, meratapi nasibnya yang tengah di perkosa Jafar di dalam kamarnya sendiri, di depan mayat suaminya.