
Yanto memarkirkan mobilnya di parkiran Apartemen, lalu dia keluar dan segera berjalan, lalu masuk ke dalam lift.
Wajah Yanto tampak geram menahan amarah, tatapannya tajam memancarkan dendam membara, dia marah pada Ronald, yang sudah menggagalkan rencananya mengawasi Bramantio.
Karena Ronald menemukan kamera cctv mini, Yanto pun ingin menghabisi Ronald, sebab, baginya, Ronald orang yang sudah menghambat rencananya selama ini untuk membalas dendam.
Dan Ronald harus menanggung akibatnya.
Dengan di bekali informasi dari seseorang misterius yang menjadi informannya, Yanto pun akhirnya tahu, dimana Ronald tinggal, dan kemana saja dia jika pergi, lalu, dengan siapa saja Ronald bertemu.
Yanto tahu semua tentang kegiatan dan apa saja yang dilakukan Ronald.
Dia juga tahu, bahwa Ronald mengerahkan anak buahnya untuk mencari dan memburunya.
Dan Yanto tidak takut, justru dia senang, karena dia bisa berhadapan langsung dengan Ronald.
Pintu lift Apartemen terbuka, Yanto tiba di lantai Penthouse miliknya.
Dengan langkah tenang dan sikap dingin, Yanto keluar dari dalam lift. Dia lalu berjalan menuju Penthousenya yang megah.
Saat beberapa langkah Yanto berjalan, tiba tiba saja, Penthousenya meledak.
Yanto kaget mendengar ledakan tersebut, dia melihat, kobaran api besar menyembur keluar dari dalam Penthousenya.
Yanto pun cepat berlari, menyelamatkan diri, dia lari ke arah pintu darurat yang terletak di sudut koridor lantai Penthouse.
Dengan cepat Yanto membuka pintu darurat, lari menuruni anak tangga, untuk menyelamatkan dirinya.
Ledakan keras terus terdengar, seluruh gedung berguncang hebat karena ledakan keras tersebut.
Yanto terus berlari, wajahnya tampak geram dan marah, dia tahu, Penthousenya sengaja diledakkan.
Yanto tiba di halaman parkir Apartemen, dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya.
Dengan cepat Yanto mengendarai mobilnya, pergi dari gedung Apartemen yang meledak.
Para Penghuni Apartemen berhamburan lari keluar Apartemen, untuk menyelamatkan diri masing masing.
Kericuhan terlihat jelas, dari wajah wajah panik penghuni Apartemen tersebut.
Di pinggir jalan, tidak jauh dari gedung Apartemen yang meledak dan terbakar hebat, Yanto melihat kobaran api di gedung apartemen dari dalam mobilnya.
Wajah Yanto tampak menyeramkan, saat ini, dia sangat marah sekali, dia pun menyeringai.
"Berani beraninya kalian meledakkan Penthouseku, oke, kalian mau bermain main denganku, aku akan ikuti permainan kalian!" Ujar Yanto geram dan marah.
Lalu dia pun menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan gedung apartemen tempatnya tinggal.
Kobaran api terlihat jelas membakar seluruh gedung apartemen, bagian atas paling ujung gedung yang sangat parah.
Sebab, di lantai paling atas tersebutlah, Penthouse Yanto berada, dan Penthouse itu yang di ledakkan dengan sengaja.
Beberapa saat kemudian, datang empat unit mobil pemadam kebakaran ke gedung apartemen.
Dengan cepat dan cekatan, Petugas Pemadam pun beraksi untuk memadamkan kobaran api serta menyelamatkan para penghuni apartemen.
Datang juga dari kepolisian bagian unit penjinak bom, mereka datang, sebab, petugas keamanan apartemen menghubungi mereka.
Setelah mendapatkan informasi, bahwa gedung apartemen tersebut meledak dan terbakar.
Para ahli penjinak bom pun di tugaskan untuk datang ke lokasi, guna menyelidiki.
Di dalam ruang bar yang remang remang, Ronald dan Moses tampak tertawa tawa senang.
Ronald yang sengaja meledakkan Penthouse Yanto, guna membalas dendam pada Yanto.
"Akhirnya, orang itu mati, tubuhnya hancur berkeping keping, meledak!" Ujar Moses tertawa tawa senang.
"Ya, dengan begini, Bramantio gak perlu khawatir lagi, sebab, orang yang mengincarnya udah ku bunuh!" Ujar Ronald tertawa terbahak bahak dengan senangnya.
Ronald mengira, Yanto mati dalam ledakan Penthousenya.
Dia tak tahu, jika Yanto selamat dari jebakan ledakan yang dibuat Ronald bersama Moses dan anak buahnya.
Dia sengaja menyuruh Moses menyediakan bahan peledak, karena memang sudah merencanakan untuk meledakkan Penthouse Yanto, juga Yanto.
Dia mengira, saat ledakan terjadi, Yanto berada di dalam Penthousenya.
Untung saja Yanto tidak ada di dalam Penthousenya, sebab dia pergi keluar mencari makan karena lapar.
Andaikan Yanto ada di dalam Penthouse, dia sudah mati terkena bom yang meledak.
Dan, jika Yanto mati, maka musnahlah segala rencananya untuk membalas dendam pada musuh musuhnya yang sudah menghancurkan hidupnya.
Maya yang hendak berangkat kerja, menghentikan langkahnya, dia melihat kobaran api dari gedung apartemen.
Selain itu, dia juga mendengar jelas, dentuman bom meledak ledak keras di gedung apartemen.
Wajah Maya berubah cemas, dia tahu, gedung apartemen yang meledak dan terbakar itu tempat tinggal Yanto.
__ADS_1
"Yanto?! Itu kan Apartemen Yanto?!!" Ujarnya panik.
Dengan cepat Maya pun berlari ke arah gedung apartemen Yanto tersebut.
Setibanya Maya di depan gedung apartemen, sudah banyak orang orang yang berdiri berkerumun melihat gedung apartemen yang terbakar parah.
Maya tak bisa masuk ke halaman gedung apartemen, sebab, Para Petugas Polisi sudah memasang garis pembatas Polisi.
Selain itu, Para Polisi berdiri berjajar, memalang dan menghalangi orang orang, agar tidak bisa masuk ke halaman apartemen.
Para Petugas Pemadam kebakaran masih sibuk memadamkan api dan juga menyelamatkan para korban yang ada.
Petugas Paramedis pun di datangkan, guna menyelamatkan korban korban ledakan gedung apartemen.
Suasana di sekitar gedung apartemen benar benar sangat ramai, Polisi pun menyelidiki penyebab meledak dan terbakarnya gedung apartemen.
Ronald yang terkenal bengis dan sadis tak tanggung tanggung jika berbuat kejahatan.
Bukan saja dia hanya meledakkan Penthouse Yanto, namun, seluruh gedung apartemen dia ledakkan.
Dia ingin menunjukkan, bahwa betapa hebatnya dirinya, dengan meledakkan gedung apartemen, Ronald merasa bangga dengan dirinya.
Maya mencoba menghubungi telepon Yanto, namun, telepon Yanto tidak aktif.
Maya tampak cemas sekali, dia khawatir, Yanto menjadi korban dari ledakan dan kebakaran apartemen tersebut.
---
Di ruang kerjanya, Bramantio tampak senang, dia baru saja mendapatkan kabar baik dari Ronald.
Bramantio tampak lega, dia tenang, sebab, menurut Ronald, Yanto, musuhnya sudah mati, dibunuh Ronald, dengan cara di ledakkan dalam Penthousenya.
Walau Bramantio tidak melihat mayat Yanto, begitu juga Ronald, tapi dia tetap percaya, jika Ronald sudah berhasil membunuh Yanto.
Dengan begitu, dia merasa bebas, sebab, tidak akan ada lagi yang mengincar dan ingin membunuhnya.
Bramantio benar benar sangat senang dan bahagia, dia benar benar mengira, jika Yanto, sudah mati terbunuh.
---
Keesokan harinya, Yanto, yang sementara waktu tinggal di dalam gudang luas dan besar miliknya sedang menerima telepon.
Wajahnya terlihat serius, bicara di telepon, dia menyimak dan mendengarkan semua yang dikatakan orang yang menelponnya.
"Kamu udah liat cctv di area Penthouseku?" Tanya Yanto geram di teleponnya.
"Ya, aku udah lihat semua rekaman cctv dari gedung apartemen itu." Ujar Seseorang dari seberang telepon.
"Iya, dari rekaman cctv yang masih bisa di perbaiki, 4 orang tertangkap kamera sedang menyusup masuk ke dalam Penthousemu." Ujar Seseorang dari seberang telepon.
"Mereka datang dengan membawa peralatan peralatan, dan Polisi yakin, jika mereka membawa bahan peledak." Ujar Seseorang dari seberang telepon.
"Dari rekaman cctv terlihat juga, salah seorang memasang bom di depan pintu masuk Penthouse." Ungkap Seseorang dari seberang telepon.
"Ok, thanks infonya bro." Ujar Yanto di telepon.
"Yan, kamu harus lebih hati hati lagi, sebaiknya, untuk beberapa saat, kamu menghilang." Tegas Seseorang itu, diseberang telepon.
"Yan, jangan tunjukkan dirimu, biar musuh musuhmu mengira kamu mati dalam ledakan itu" Lanjut orang tersebut dari seberang telepon.
"Gak bisa, aku gak bisa berdiam diri, aku harus segera mencari tau, siapa orang yang sengaja memasang bom di Penthouseku." Ujar Yanto geram di telepon.
"Setelah aku tau dalangnya, aku akan membantai orang itu!" Ujar Yanto geram dan marah ditelepon.
"Yan, kamu tenang dulu, jangan gegabah, kalo kamu terburu buru bertindak, kamu akan lengah, musuhmu akan mudah menghancurkanmu!" Tegas orang tersebut dari seberang telepon.
"Serahkan padaku untuk cari tau, dan menyelidiki, siapa ke empat orang yang tertangkap kamera cctv, aku akan cari, siapa otak dari pengeboman itu."lanjutnya.
"Ok, aku kasih waktu 3 hari buatmu, jika dalam 3 hari, kamu dan polisi belum menemukan pelakunya, aku sendiri yang akan beraksi dan bertindak!" Tegas Yanto di telepon.
Yanto lantas menutup teleponnya, dia menyimpan ponselnya di dalam kantong celana jeansnya.
Wajahnya tampak geram, tatapan matanya tajam menyeramkan, Yanto murka, sebab, Penthousenya dihancurkan.
Dia marah, emosinya bergejolak dalam dirinya, dia ingin segera menuntut balas.
---
Di ruang kerjanya, Bramantio dan Ronald sedang menonton acara berita di televisi.
Seorang penyiar tengah membacakan berita seputar kebakaran dan ledakan digedung apartemen Yanto.
Wajah Bramantio dan Ronald tampak senang, mereka tertawa tawa riang gembira.
Mereka melihat, di televisi, banyak korban korban penghuni apartemen di tandu oleh para petugas Medis.
Namun, saat Penyiar membaca berita, mengabarkan, bahwa tidak ditemukan satu orang pun di dalam Penthouse, Bramantio dan Ronald terdiam.
Mereka berdua saling pandang, sama sama tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar di televisi.
__ADS_1
"Gak mungkin, berita ini salah! Dasar berita sampah!!" Teriak Ronald marah.
"Kalo benar ada mayat di dalam penthouse, penyiar itu pasti udah bilang tadi Nald!" Tegas Bramantio marah.
"Kamu kan gak liat langsung ke lokasi, setelah ledakan terjadi, anak buahmu kan gak liat mayat Yanto untuk memastikan?!" Ujar Bramantio marah.
"Ya, mana mungkin anak buahku masuk ke penthouse yang meledak dan terbakar itu !" Bentak Ronald.
"Siapapun orangnya, gak bakalan hidup didalam Penthouse itu, ada 10 bom yang ku pasang, dan gak bakalan si Yanto selamat dari bom itu!" Tegas Ronald marah.
"Jika benar Yanto masih hidup, artinya, aku masih belum aman, karena, dengan kamu ledakkan penthouse dia, dia pasti nuntut balas!" Ujar Bramantio marah.
"Abang nyantai aja, gak bakalan si Yanto tau, kalo aku pelakunya !" Ujar Ronald cuek.
Dia percaya, bahwa dia sudah benar benar mengalahkan Yanto.
"Apa anak buahmu gak matikan cctv di gedung apartemen itu?" Tanya Bramantio.
Ronald terdiam, sesaat dia berfikir, ada benarnya yang dikatakan Bramantio.
"Aku gak tau, Bang. Aku gak tau, apa anak buahku mematikan semua cctv sebelum memasang bom." Ujar Ronald tersadar.
"Gila ! Kalo anak buahmu gak matiin cctv, bukan hanya polisi aja, tapi si Yanto juga bisa dengan mudah melihat wajah anak buahmu itu!!" Bentak Bramantio.
"Bodoh !! Bodoh !! Toloolll !!" Teriak Bramantio meluapkan emosi amarahnya.
"Tapi aku yakin, cctv cctv di gedung itu pasti ikut terbakar, bang. Dan aku yakin, Polisi atau Yanto gak bakalan bisa liat rekaman cctv yang udah hancur terbakar!" Tegas Ronald.
Dia berusaha meyakinkan Bramantio, agar Bramantio tetap percaya dan yakin dengan dirinya.
"Aku gak mau tau, Nald! Tugaskan kembali anak buahmu untuk melindungiku saat ini juga !!" Tegas Bramantio marah.
"Dan kita liat nanti, jika dalam beberapa hari ke depan, aku, atau kamu mendapat teror lagi, itu artinya si Yanto masih hidup, dan mau menuntut balas!" Tegas Bramantio marah.
"Cepat suruh anak buahmu !! Jangan diam saja !!" Bentak Bramantio marah.
"Hei , nyantai aja Bang!! Gak usah teriak teriak menyuruhku !! Kupingku masih sehat, masih bisa dengar jelas suaramu!!" Bentak Ronald marah.
Ronald marah pada Bramantio, karena berani membentak dirinya. Bramantio pun terdiam.
Bramantio sadar, jika dia salah sudah membentak Ronald, seorang pembunuh berdarah dingin, yang tak suka di bentak.
"Maafkan aku, Nald. Aku emosi ! Aku begini karena khawatir!" Ujar Bramantio menyesal telah bentak Ronald.
"Kamu gagal bunuh Yanto, dan aku takut, Yanto datang dan membunuhku, menghancurkan rumah, serta gedung perkantoranku!" Ujar Bramantio dengan wajah takut dan cemas.
"Abang gak usah panik, selama masih ada aku, gak kan ada yang bisa menyentuhmu!!" Tegas Ronald.
"Katakanlah Yanto masih hidup, karena selamat dari ledakan itu, aku pasti akan kembali menyerang dia, membunuh dia!!" Lanjut Ronald dengan tegas.
"Ya, aku serahkan semua padamu." Ujar Bramantio lemah.
Bramantio lantas duduk di kursi meja kerjanya, wajahnya terlihat sangat cemas dan takut.
Ronald tampak tersenyum menyeringai jahat, dia seperti tengah merencanakan sesuatu hal.
"Yantoo...!! Ternyata nyawamu banyak juga, kamu bisa selamat dari ledakan itu!" Ujar Ronald geram.
"Aku semakin penasaran denganmu, Yanto ! Aku ingin bertemu denganmu, mengukur kekuatanmu!" Tegasnya.
"Aku ingin tau, seberapa tangguh dirimu! Tunggu, Yanto! Sebentar lagi, kita pasti akan berhadapan, duel satu lawan satu!" Tegasnya.
"Kita liat nanti, siapa yang akan kalah, dan aku pasti akan membunuhmu! Aku akan memotong motong dan mencincang tubuhmu !!" Ujar Ronald geram dan marah.
Bramantio yang terduduk lemas di kursinya melirik Ronald, dia melihat, bahwa saat ini, Ronald sangat marah.
Bramantio tahu itu, karena kemarahan Ronald, sangat terlihat jelas di raut wajahnya saat ini.
Bramantio menghela nafasnya dengan berat, kepalanya terasa sakit, dia seperti merasa pusing.
Dia pusing memikirkan masalahnya, rasa khawatir begitu besar dalam dirinya.
Dia khawatir dengan keselamatan dirinya, Bramantio sebenarnya sangat berharap besar pada Ronald.
Dia berharap, Ronald bisa membantunya, menolong dirinya, serta menyelamatkan dirinya dari incaran Yanto.
Setelah menemukan kamera mini cctv di ruang kerjanya, dan berkat Ronald yang meyakinkan dirinya.
Bramantio pun percaya sepenuhnya pada Ronald, dia percaya juga yakin, bahwa, Yanto lah pelaku yang telah membunuh Mike, anaknya, juga Samsul dan Jauhari.
Bramantio benar benar resah dan gelisah dalam ketakutan dirinya mati.
Dia berharap, Ronald segera mengambil tindakan membantai Yanto, agar Yanto tidak punya waktu banyak dan kesempatan membunuh dirinya.
Namun, untuk menyuruh Ronald dengan terkesan memaksa, Bramantio tidak berani.
Dia takut, Ronald menjadi marah dan murka padanya, lantas, Ronald tidak mau membantu dirinya.
Bramantio tidak ingin itu terjadi, sekesal apapun dia, setakut apapun dirinya, dia hanya bisa diam dan pasrah.
__ADS_1
Dia memilih untuk menunggu Ronald bergerak, dan mulai beraksi mencari serta memburu Yanto.
Bramantio sangat yakin, dengan track record Ronald selama ini sebagai pembunuh berdarah dingin yang paling ditakuti, Ronald akan mudah membunuh Yanto.