VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menanti Kematian


__ADS_3

Jauhari membuka matanya, dia sudah sadarkan diri, dengan tubuh lemah dan merasakan sakit di kepalanya, Jauhari membuka matanya.


Jauhari terperanjat kaget saat mengetahui dirinya terikat di kursi.


Dia panik, meronta berusaha melepaskan diri, namun ikatan tali sangat kuat mengikat tubuhnya, dia tak mampu melepaskan dirinya.


Jauhari melihat Istrinya yang duduk di kursi dan terikat.


Jauhari dan istrinya berhadap hadapan dengan jarak yang sedikit jauh.


Wajah Jauhari menatap nanar ke wajah istrinya yang tampak lemah dan pasrah. Jauhari sedih melihat kondisi istrinya.


"Lepaskan aku !! Siapa kamu !! Apa mau kamu !!" Bentak Jauhari.


Jauhari langsung membentak Yanto saat dia melihat Yanto mendekatinya.


Jauhari sama sekali tak mengenal sosok Yanto yang berambut gondrong, berkumis dan berjenggot serta memakai kaca mata hitam.


Yanto tersenyum sinis menatap wajah Jauhari yang tampak panik itu.


"Sebentar lagi, kamu akan melihat pertunjukkan yang akan membuatmu terpukau, dan darahmu berdesir mengalir cepat." Ujar Yanto dengan suara berat dan bersikap dingin.


Jauhari takut melihat sorot mata tajam Yanto. Tubuh Jauhari berkeringat, dia gemetar ketakutan.


"Tolong, lepaskan aku, lepaskan istriku !! Istriku gak bersalah, jangan libatkan dia !!" Ujar Jauhari.


Jauhari meronta ronta memohon belas kasihan Yanto.


Yanto tak bergeming, dia cuek, sikapnya semakin dingin, Yanto menyeringai buas.


Dengan langkah santai Yanto mendekati istri Jauhari, dia berdiri di depan istri Jauhari yang duduk di kursi dalam kondisi terikat dan kedua pahanya di timpa bongkahan batu besar.


"Saksikanlah Jauhari ! Ini sebagai penebus dosamu !!" Ujar Yanto dengan geram.


Dengan kakinya, Yanto mendorong tubuh Tantri yang terikat di kursi.


"Tidaaaakkkk !!" Teriak Jauhari.


Jauhari teriak sekerasnya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Yanto mendorong istrinya jatuh ke dalam kolam renang.


Jauhari pun menangis sejadi jadinya melihat istrinya terjatuh di kolam renang dan tak muncul muncul ke permukaan air.


Yanto menyeringai buas menatap tajam penuh dendam pada wajah Jauhari yang menangisi istrinya.


Di dasar kolam, Tantri megap megap susah bernafas didalam air, tubuhnya tak dapat bergerak, tertahan oleh bongkahan batu besar yang ada di pangkuannya.


Tantri pun tenggelam di dasar kolam, mati kehabisan nafas didalam air.


Yanto dengan dingin membunuh Tantri, sebagai balasan perbuatan Jauhari yang sudah menghancurkan hidupnya saat kecil dulu.


Yanto ingin Jauhari merasakan, bagaimana sakit dan perihnya di tinggal mati orang yang di cintainya.


Tantri membayar dosa dosa masa lalu suaminya, dia mati, tanpa pernah tahu, apa yang pernah dilakukan Jauhari, suaminya di masa lalu.


Yanto dengan sikap dingin berjalan santai, pembawaan dirinya tenang, dia berdiri di depan Jauhari yang masih meratap menangisi kematian istrinya yang tenggelam di dasar kolam renang rumahnya.


Yanto menyeringai buas, sorot matanya terlihat kejam dan bengis, Yanto menggeretakkan giginya, menahan geram.


Jauhari tak berdaya, dia menangis sejadi jadinya, dia tak sanggup berkata kata.


Tiba tiba, Dengan keras Yanto menghantamkan tangannya ke wajah Jauhari.


hanya 2 kali pukulan yang kuat, Jauhari pingsan, Yanto lantas tersenyum puas melihat Yanto tak sadarkan diri.


---


Gavlin mengasah pisau di atas meja besar sebuah gudang luas dan besar milik Yanto.


Gudang tempat Yanto berkarya membuat patung lilin.


Jauhari sadarkan diri, matanya terbuka, dengan samar samar dia melihat Gavlin yang menoleh padanya sambil memegang pisau tajam yang baru di asahnya.

__ADS_1


Jauhari terhenyak kaget, dia kaget melihat Gavlin ada di dekatnya.


Jauhari mencari cari, matanya menyusuri seluruh ruangan, dia tak melihat Yanto, Jauhari heran, siapa lagi pemuda yang saat ini ada di dekatnya.


"Siapa kamu ?! Mana orang yang berambut gondrong dan brewokan itu ?!" Bentak Jauhari marah.


Gavlin tersenyum kecil, sikapnya santai dan cuek.


"Gak ada siapa siapa disini, hanya ada aku, dan kamu." Ujar Gavlin tersenyum santai.


Jauhari heran melihat sikap tenang dan cuek Gavlin.


Namun dia takut melihat pisau tajam ditangan Gavlin.


"Apa mau kamu? Kenapa aku di sini?! Apa salahku ?!" Ujar Jauhari marah.


"Salahmu banyak Jauhari, banyak sekali." Ujar Gavlin tersenyum santai.


"Apa maksudmu?!!" Bentak Jauhari.


"Kamu sudah menghancurkan hidup seorang anak kecil!" Ungkap Gavlin menatap tajam wajah Jauhari.


Jauhari heran, siapa anak kecil yang dimaksud Gavlin, dia tak mengerti dan memahami perkataan Gavlin.


"Anak kecil mana?! Kapan dan dimana aku udah menghancurkan hidup anak kecil yang kamu bilang itu?!" Bentak Jauhari marah.


"Tenang Ri, santai. Nanti kamu akan tau semuanya, sebentar, dikit lagi aku selesai mengasah pisau ini." Ujar Gavlin cuek.


Gavlin tak menatap wajah Jauhari yang terlihat marah itu, Gavlin asyik mengasah pisaunya yang sudah tajam itu.


Jauhari merasa takut melihat pisau tajam ditangan Gavlin, dia tahu, dia bakal di bunuh, nyali Jauhari pun ciut, dia ketakutan, wajahnya pucat.


" Lebih 18 tahun lalu, kamu membakar rumah Sanusi." Ujar Gavlin.


Gavlin dengan sikap tenang berbalik menatap tajam wajah Jauhari.


Jauhari terhenyak kaget, Gavlin membahas kejadian 18 tahun lebih yang lalu.


"Aku anaknya Sanusi , anak kecil yang kamu biarkan menangis meraung raung di tanah, bukan menolong, kamu malah mentertawakanku." Ujar Gavlin santai.


Jauhari syock mendengar penjelasan Gavlin, dia tak menyangka, jika Gavlin adalah anak Sanusi yang rumahnya dia bakar dulu.


"Ka...kamu...Yan...to??!" Ujar Jauhari gugup dan penuh rasa takut.


"Ya, aku Yanto, anak Sanusi, seorang pria korban fitnah kalian!!" Ucap Gavlin membentak Jauhari.


Kali ini Gavlin tak lagi bersikap santai, dia berubah menjadi marah.


"Kalo kamu Yanto, lantas, siapa orang yang jenggotan itu?!" Tanya Jauhari.


Jauhari heran, sebab ada dua orang yang menangkapnya, dan dia tahu, bahwa selama hidupnya, Sanusi hanya punya satu anak laki laki dan satu perempuan.


Dan Jauhari juga tahu, jika anak perempuan Sanusi sudah lama meninggal dunia.


Jauhari heran, dia bertanya tanya, mengapa ada dua orang yang sedang mengincar dan memburunya.


Dia berfikir, apa hubungan kedua orang yang menangkapnya, sehingga mereka berdua bekerjasama menangkap dan ingin membunuh dia.


Gavlin sengaja merubah penyamarannya, yang tadinya dia menjadi sosok Yanto, kini merubah sosoknya menjadi Gavlin.


Dia melakukan hal itu dengan tujuan agar Jauhari bingung, bingung dengan sosok asli Yanto kecil dulu.


"Orang yang kamu tanya juga anaknya almarhum Sanusi." Ujar Gavlin tersenyum sinis.


"Omong kosong !! Jangan bohongi aku !! Aku tau, Sanusi cuma punya anak laki laki satu !! " Bentak Jauhari marah.


Dia marah, merasa dirinya sedang di permainkan Gavlin.


Gavlin tertawa, dia membiarkan Jauhari dalam kebingungan tentang siapa sosok Yanto, yang sebelumnya dia temui dan membunuh istrinya di kolam renang rumahnya.


"Aku kira, sudah cukup ngobrolnya Jauhari." Ujar Gavlin.

__ADS_1


Gavlin mendekati Jauhari, dia mengangkat pisau tajam yang ada ditangannya.


"Tunggu...tunggu...aku akan bilang kamu, kalo aku hanya pesuruh, aku disuruh ! Ada orang dibelakangku yang bertanggung jawab atas pembakaran rumahmu dulu !!" Ujar Jauhari.


Jauhari berusaha menjelaskan pada Gavlin, dia ingin membocorkan rahasia, bahwa dalang pembakaran rumah Yanto atau Gavlin adalah Bramantio.


"Bramantio maksudmu." Ujar Gavlin tersenyum sinis.


Jauhari terperanjat kaget, dia tak menyangka , jika Gavlin mengetahui tentang Bramantio.


"Dari mana kamu tau?!" Tanya Jauhari.


Dia semakin ketakutan, Dia yang tadinya berharap nyawanya selamat jika dia kasih tahu soal Bramantio malah semakin terancam.


Gavlin tampak bersikap tenang dan cuek, dia mengamati pisau tajam ditangannya.


Jauhari semakin ketakutan, dia gemetar hebat, dia tak ingin mati, dia tak ingin Gavlin membunuhnya.


"Tolong...ampun...Yanto, tolong, jangan bunuh aku, lepaskan aku!" Ujar Jauhari.


Jauhari memelas memohon ampunan, Gavlin cuek, dia tak mau mendengarkan permintaan Jauhari.


Dengan sikap tenang dan santai, Gavlin menatap tajam wajah Jauhari yang gemetar ketakutan.


Jauhari meronta ronta, berusaha melepaskan diri, namun dia sadar, usahanya akan sia sia, sebab tali sangat kuat mengikat tubuhnya.


Jauhari pun diam, dia hanya bisa pasrah menunggu kematiannya ditangan Gavlin.


"Sampaikan salam rinduku pada kedua orang tuaku saat kamu bertemu mereka di sana." Ujar Gavlin dengan sikap tenang.


Jauhari semakin takut, matanya melotot, kepalanya bergerak kesana kemari, dia ketakutan.


"Aku mohon, jangan bunuh aku, jangan bunuh akuuu!!" Ujar Jauhari memelas.


Tiba tiba, pisau tajam dihujamkan Gavlin ke dada Jauhari. Mata Jauhari terbelalak lebar, dia meringis, merasakan sakit di dadanya.


Tidak hanya itu, Gavlin dengan sadis menghujamkan pisau berkali kali ke dada, perut dan leher Jauhari.


Jauhari pun bersimbah darah, seluruh tubuhnya luka luka dan mengeluarkan darah segar.


Gavlin dengan keji membantai Jauhari, dia menumpahkan segala amarah dan dendamnya pada Jauhari.


Jauhari pun tak berdaya, dia terkapar, menghembuskan nafasnya, dia tewas di tangan Gavlin.


Gavlin lantas berhenti, dia berdiri diam menatap Jauhari yang sudah terkapar mati dengan luka tusukan sebanyak 23 kali diseluruh tubuh dan lehernya.


Darah Jauhari mengenai baju dan wajah serta tangan Gavlin, Gavlin menghapus darah Jauhari yang menempel di wajah, tangan dan bajunya.


Dengan memakai kain yang ada di atas meja besar, dia bersihkan darah yang ada di wajah dan tangannya.


Gavlin tersenyum sinis menatap wajah Jauhari yang tewas ditangannya.


"Mampus kamu Jauhari." Ujar Gavlin geram.


Tatapan matanya penuh amarah dan dendam kesumat pada Jauhari.


"Tunggu Bram ! Aku akan memberikan hadiah special untukmu, sebuah hadiah yang gak kan bisa kamu lupakan seumur hidup." Ujar Gavlin.


Gavlin menyeringai buas, tatapan matanya tajam, sorot matanya menunjukkan kemarahan, amarahnya meluap luap di dalam dirinya.


Gavlin terdiam, dia membayangkan wajah Bramantio , rasa dendam membara di dadanya.


Ya, Gavlin atau di kenal juga dengan nama Yanto sangat dendam pada Bramantio.


Dia ingin segera membalaskan dendam kedua orang tuanya, dia ingin, bramantio mati di tangannya.


Gavlin terdiam, dia juga tengah mengingat ingat satu wajah dan satu nama lagi.


Ya, Jafar, Orang yang telah membunuh ibunya dengan sangat keji dan membuang mayat ibunya ke dasar laut.


Gavlin sangat dendam, dia ingin segera bertemu dengan Jafar, membantai dan membunuh Jafar.

__ADS_1


__ADS_2