VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Paket Khusus Buat Herman


__ADS_3

Pintu ruang kerja Andre di ketuk dari luar, Andre yang sedang sibuk membaca berkas di meja kerjanya menyahut.


"Ya, masuk saja." ujar Andre.


Pintu terbuka, Edo masuk ke dalam ruang kerja Andre, melihat kedatangan Edo, Andre lantas menghentikan pekerjaannya membaca berkas.


Andre menatap wajah Edo yang berdiri di hadapannya.


"Ada kabar apa, Do?" tanya Andre, dengan wajah serius menatap Edo.


"Chandra, teman saya bersedia ketemu Bapak dan Pak Samuel, Pak." ujar Edo, memberi laporan.


"Oh ya? Baguslah kalo gitu." ujar Andre, tersenyum senang.


"Kapan dia bisa ketemu kami?" Tanya Andre.


"Besok , jam 5 sore, di rumah aman, lokasinya sesuai yang Bapak bilang ke saya." ujar Edo, menjelaskan.


"Baiklah, Akan saya beritahu pak Samuel kabar baik ini." ujar Andre, tersenyum senang.


"Trima kasih, Do." lanjut Andre, tersenyum senang menatap wajah Edo yang masih berdiri di hadapannya.


"Ya, Pak." Jawab Edo mengangguk hormat.


"Besok saya yang akan menjemput dan membawa Chandra langsung ke lokasi, Pak." jelas Edo.


"Ya, Baik, Do. Sekalian, kamu lindungi dia, hati hati dan waspada, jangan sampai ada yang mengikuti kalian nantinya." ujar Andre, mengingatkan Edo.


"Siap, Pak." ujar Edo.


"Saya permisi, Pak." lanjut Edo, memberi hormat.


"Ya, silahkan." jawab Andre.


Edo pun lantas keluar dari dalam ruang kerja Andre.


Andre tersenyum senang, dia lega, karena Chandra bersedia bertemu dengan dirinya dan Samuel besok sore.


Andre mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, dia lantas menghubungi Samuel.


"Hallo, kamu dimana?" tanya Andre, diteleponnya.


"Masih di kantor, ada apa, Ndre?" tanya Samuel, dari seberang telepon.


"Chandra bersedia ketemu dengan kita, Sam." ujar Andre, dengan senangnya, di telepon.


"Oh,ya? Kapan waktu pertemuannya?" tanya Samuel, dari seberang telepon.


"Besok, jam 5 sore, di rumah aman, dia datang bersama Edo." ujar Andre, di teleponnya.


"Baik, Besok aku ke sana." jawab Samuel, dari seberang telepon.


"Oke, Sam. Sampe ketemu besok sore." ujar Andre, tersenyum senang, di teleponnya.


"Ya." jawab Samuel, dari seberang telepon.


Lantas, Andre menutup teleponnya, dia kemudian menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya.


Andre tersenyum senang, dia lalu membuka berkas yang ada di atas meja kerjanya, dia melanjutkan membaca berkas tersebut.


---


Sebuah mobil Box masuk ke halaman gedung kantor kementrian kehakiman. Petugas keamanan yang berjaga di pos jaga melihat mobil truk box yang parkir di halaman, Petugas Keamanan bergegas menghampiri.


dua orang kurir keluar dari dalam mobil truk box, dia bergegas berjalan ke belakang mobil. Petugas Keamanan mendekati kedua kurir yang tengah membuka pintu box truk tersebut.


"Maaf, ini ada apa ya?" tanya Petugas Keamanan heran.


"Ini, Pak. Ada kiriman paket khusus buat pak Herman, mentri kehakiman." jelas seorang kurir, sambil menyerahkan selembar kertas.


Petugas Keamanan mengambil kertas dari tangan kurir, dia lantas membaca isi yang tertera pada selembar kertas.

__ADS_1


Isinya menjelaskan bahwa ada 2 paket berupa patung dan kerajinan kulit yang ditujukan kepada Herman, sebagai mentri kehakiman.


"Baiklah, tolong lebih cepat ya, biar gak menghalangi jalanan." ujar Petugas Keamanan pada kurir mobil box.


"Baik, Pak." jawab seorang kurir.


Petugas Kemanan lantas memberikan lembar kertas kepada seorang kurir, dia lantas berdiri menunggu di dekat mobil.


Kedua kurir bergegas mengeluarkan paket khusus dari dalam box mobilnya. Seorang kurir ada di dalam box, dan seorang lagi menunggu di luar. Sementara, supir mobil truk box duduk diam di jok depan menunggu dengan santainya.


Kurir 1 menurunkan paket patung yang terbungkus rapi, Kurir 2 yang menerimanya di luar lalu meletakkannya di tanah. Kemudian, Kurir 1 mengambil paket yang berisi kerajinan kulit.


Setelah semua paket di keluarkan, Kurir 1 lantas menutup pintu box mobil truk. Lalu, kedua kurir menggotong patung dan membawa bungkusan berisi kerajinan kulit.


Mereka diantar Petugas Keamanan ke kantor Herman.


Pintu di ketuk, Herman yang berada di dalam ruang kerjanya bergegas membuka pintu ruang kantornya, saat pintu terbuka, dia melihat, ada Petugas kemanan bersama dua orang kurir membawa paket berupa patung dan kerajinan kulit.


"Ada apa?" tanya Herman, heran.


"Maaf, Pak. Ada Paket buat Bapak, Tadi suratnya sudah saya cek, dan benar, itu di tujukan buat Bapak." ujar Petugas Keamanan, menjelaskan.


"Paket buat saya? Dari siapa?!" tanya Herman, masih bingung dan heran.


"Ini surat bukti pemesanannya, Pak." ujar Kurir 1, menyerahkan selembar kertas.


Herman mengambil kertas tersebut dari tangan Kurir 1, lalu dia membacanya, memang ada tertulis nama dia sebagai penerima dua paket tersebut, dan Herman kaget saat mengetahui nama yang mengirimkan paket tersebut.


"Jack?!" Gumamnya kaget.


"Ya, sudah, cepat bawa masuk ke dalam paketnya." ujar Herman.


Herman yang mengetahui bahwa Jack yang mengirim paket tersebut heran, dia ingin tahu, patung apa yang di kirim Jack kepadanya.


Kedua Kurir dengan ditemani Petugas Keamanan masuk ke dalam ruang kantor Herman, lalu, mereka meletakkan patung yang masih terbungkus rapi di tengah ruangan.


Herman tampak menelpon Jack, dia ingin bertanya langsung pada Jack, Herman mau tahu, apa maksud dan tujuan Jack mengirimkan paket patung padanya.


Herman bingung, karena suara nada panggil di telepon Jack sangat dekat sekali dengannya, dan seakan berada di dalam ruangan.


Kedua kurir saling pandang, mereka juga heran, dari mana suara telepon yang mereka dengar saat ini berasal. Petugas Keamanan mencoba mendengarkan baik baik suara nada panggilan telepon tersebut. Lalu, perlahan lahan, dia mendekati patung yang masih terbungkus rapi itu.


"Suaranya dari dalam sini, Pak." ujar Petugas Keamanan, menunjuk patung yang masih terbungkus rapi.


"Yang benar kamu?!" ujar Herman, dengan wajahnya yang serius.


"Benar, Pak. Coba Bapak dengar sendiri." ujar Petugas Keamanan.


Herman mencoba menelpon ke nomor telepon Jack, lalu dia mendekati patung, Herman mendengar suara nada panggil di telepon Jack memang berasal dari dalam paket berisi patung tersebut.


Herman semakin heran, mengapa ponsel Jack ada di dalam paket patung tersebut.


"Tolong bongkar dan lepaskan semua bungkusannya, dan paket satunya juga." ujar Herman, memberi perintah pada dua Kurir.


"Baik, Pak." jawab Kedua kurir bersamaan.


Lantas, Kurir 2 dengan di bantu Petugas Keamanan melepaskan bungkusan yang membungkus patung, sementara, Kurir 1 mengeluarkan kerajinan kulit dari dalam kotaknya.


Kurir 1 lantas memajang kerajinan kulit di meja yang ada dalam ruang kantor. Setelah selesai memajang, dia terperanjat kaget melihat kerajinan kulit.


Ya, kerajinan kulit itu berbentuk manusia utuh, dari kepala hingga kakinya.


"Astagaaa !!" Kurir 1 terhenyak kaget.


"Ada apa?!" tanya Herman, heran dan kaget melihat Kurir 1.


"Lihat itu, Pak." ujar Kurir 1, menunjuk pada kerajinan kulit yang terpajang di atas meja tamu.


Herman melihat, dia terperanjat kaget dan syock.


"Gilaaa !! Apa apaan ini?!" Ujar Herman, terhenyak kaget.

__ADS_1


Herman terkejut, karena kerajinan kulit yang dimaksud adalah potongan kulit tubuh manusia. Herman lantas terlihat geram dan marah.


Belum hilang rasa kaget dan marahnya, Herman kembali di buat kaget, saat , Kurir 2 dan Petugas Keamanan selesai melepaskan semua bungkusan yang ada pada patung.


"Jaaackk?!!" Herman syock dan terperanjat kaget.


Betapa terkejutnya Herman melihat, bahwa patung yang di kirimkan kepadanya adalah patung lilin berwujud sosok Jack.


"Ini Ponsel yang tadi berbunyi, Pak." ujar Petugas Keamanan.


Petugas Keamanan menyerahkan ponsel Jack yang dia temukan di dalam bungkusan, Herman yang masih kaget mengambil ponsel tersebut.


"Ada surat, Pak." ujar Kurir 2.


Herman lantas mengambil amplop berisi surat dari tangan Kurir 2, dia cepat menyobek amplop, lalu mengambil kertas surat yang ada di dalamnya. Herman lantas membaca isi dari surat tersebut.


"Aku kembalikan Jack padamu, utuh bersama kulitnya. Gavlin."


Herman terlihat geram dan marah, dia meremas kertas surat yang baru saja dia baca itu.


"Biaaaaddddaaaabbb Kamuuu Gaaaavvvliiiin !!" teriak Herman, dengan wajah penuh amarah.


Petugas Keamanan kaget melihat Herman marah, Begitu juga dengan kedua Kurir. Mereka takut pada Herman yang mukanya merah padam karena amarahnya.


"Maaf, Pak. Tugas kami sudah selesai, kami permisi dulu." ujar Kurir 1, pamit pada Herman.


"Tunggu !!" bentak Herman.


Kedua kurir kaget, mereka langsung berhenti, lalu, berbalik badan dan melihat Herman yang sudah berdiri dihadapan mereka.


"Apa kalian lihat, siapa pengirim patung lilin ini dan kulit itu?!" tanya Herman, geram dan marah.


"Maaf, Pak. Kami hanya Kurir, jadi, gak tau , siapa pengirimnya, Bapak bisa bertanya sama petugas yang menerima paket di kantor kami, Pak." ujar Kurir 1 , menjelaskan.


"Oke, di mana kantor kalian?!" tanya Herman, masih geram dan marah.


"Ini kartu nama kami, di situ tertera alamat kantor kami, Pak." ujar Kurir 2, sambil menyerahkan kartu nama miliknya pada Herman.


Herman mengambil kartu nama dari tangan Kurir 2 , dia membaca kartu nama sekilas, lalu, dia menyimpan kartu nama ke dalam kantong kemejanya.


"Kami permisi, Pak." ujar Kurir 1, pamit lagi.


"Ya." jawab Herman.


Lantas, kedua kurir buru buru keluar dari ruang kantor Herman, mereka terlihat takut sama Herman yang tiba tiba marah besar saat melihat patung lilin tersebut.


"Maaf, Pak. Saya juga permisi, mau kembali ke pos jaga." ujar Petugas Keamanan.


"Ya, silahkan." ujar Herman, dengan wajah tegang dan masih menahan amarahnya.


Petugas Keamanan lantas bergegas keluar dari dalam ruang kantor Herman.


Herman menatap wajah Jack yang sudah dijadikan patung lilin oleh Gavlin.


"Anak setan itu sudah membunuh Jack !! Dia dijadikan patung lilin !!" ujarnya geram dan marah.


"Lancang sekali kamu Gavlin !! Apa maksudmu mengirimkan patung Jack ini?!!" ujar Herman berteriak marah.


Lantas, Herman mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, dia pun lalu menelpon.


"Dimana kamu? Sekarang ke kantorku, Ada kabar soal Jack!" ujar Herman, dengan wajah tegang dan seriusnya, di telepon.


"Jack? Baik, aku segera kesana." jawab Peter, dari seberang telepon.


Herman menghubungi Peter, dia ingin memberi tahu dan menunjukkan pada Peter tentang Jack yang sudah mati dan di jadikan patung lilin oleh Gavlin.


"Akhirnya, kamu mati juga ditangan Gavlin, si anak setan itu, Jack." Gumam Herman, geram dan marah.


Herman lantas mendekat ke meja tamu, dia berdiri dan memandangi kulit tubuh Jack yang di pajang di atas meja tamu ruang kantornya.


Herman semakin geram dan marah melihat kulit tubuh Jack, dia tahu, Gavlin sudah menyiksa Jack sebelum membunuhnya, Gavlin menguliti tubuh Jack.

__ADS_1


"Dasar Psikopat gila!" Gumam Herman geram pada Gavlin yang telah membunuh Jack.


__ADS_2