
Sejak mengundurkan diri dari jabatanya sebagai Presiden, Adiwinata bersama Keluarganya sudah tidak tinggal lagi dirumah kepresidenan sebagai rumah dinasnya.
Adiwinata kembali kerumahnya sendiri bersama keluarga, dia berniat untuk mengasingkan diri dan menghilang dari muka umum dan akan meninggalkan sepenuhnya ajang politik.
Saat ini, Adiwinata duduk di sofa ruang tamu rumah pribadinya, dia baru saja pulang dari kantor polisi, dia sengaja datang untuk memberi pernyataan pada pihak kepolisian.
Semua yang diketahuinya tentang organisasi Inside disampaikannya dengan terang benderang diruang interogasi, tak ada yang di tutup tutupinya, dia juga berani mengakui, bahwa selama ini dia juga masuk dalam organisasi Inside, dan ada dibawah kendali Binsar langsung.
Pihak kepolisian menyatat dan merekam semua pernyataan dan penjelasan serta pengakuan Adiwinata di ruang interogasi, percakapan itu memakan waktu lama, hampir 6 jam mereka berada di ruang interogasi, sebab, Adiwinata membongkar segala sepak terjang organisasi Inside dari awal berdirinya hingga sekarang bisa menguasai dan mengendalikan negara dari dalam langsung.
Adiwinata tampak melamun, ada beban fikiran yang masih menggelayut didalam benaknya.
Istri Adiwinata datang membawa gelas berisi teh hangat, dia meletakkannya diatas meja, lalu, sang Istri duduk di sofa yang ada disamping Adiwinata.
"Bagaimana tadi di kantor polisi, Pah?" tanya sang Istri.
"Berjalan lancar, Ma. Papah tapi nanti beberapa hari lagi harus kembali lagi, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dalam kasus yang menjerat Papah." ujar Adiwinata menjelaskan dengan raut wajah sedih.
"Maafin, Papah, kita jadi mendapatkan masalah seperti ini, Ma." ucap Adiwinata lirih.
"Gak apa apa, Pah. Mama percaya, kalo Papah gak pernah melakukannya, Papah hanya diperalat selama ini." ujar Istrinya, tersenyum memberi ketenangan pada Adiwinata.
"Papah malu sama anak anak, bagaimana kalo mereka bertiga sampai tau masalah Papah ini, pasti hancur hati mereka, untungnya mereka tinggal di luar negeri semuanya bersama keluarga mereka, kalo di sini, mereka pasti sudah datang nemui Papah." ujar Adiwinata sedih dan merasa bersalah pada keluarganya.
"Papah gak sanggup kalo harus ketemu anak anak, Papah gak bisa menjelaskannya didepan mereka." ucap Adiwinata lirih dan getir.
"Anak anak udah tau kok, Pah. Berita pengunduran diri Papah juga ditayangkan di luar negeri, mereka sudah lihat, dan juga sudah menghubungi Mama." jelas Istri Adiwinata tersenyum.
"Oh, lantas apa yang mereka tanyakan?" ujar Adiwinata menoleh dan menatap wajah Istrinya yang tersenyum menatapnya.
Istri Adiwinata menggenggam jemari tangan suaminya, masih memberikan ketenangan dan kenyamanan.
"Mama menjelaskan semua duduk persoalannya dari awal hingga akhir pada anak anak." ujar Istri Adiwinata.
"Lalu?" tanya Adiwinata penasaran menatap wajah istrinya yang duduk disampingnya.
"Anak anak mengerti dan paham, dan mereka percaya serta yakin, kalo Papah gak pernah berbuat jahat, mereka lebih tau siapa Papah dari orang lain." ujar Istri Adiwinata memberi penjelasan.
"Dan yang terpenting, anak anak tetap mendukung Papah, mereka memberi semangat pada Papah untuk berani dan tegas mengungkap kejahatan organisasi Inside." ujar Istri Adiwinata dengan wajah seriusnya menjelaskan.
"Apapun resikonya, semua harus dihadapi, dan kata anak anak, mereka bangga pada Papah, karena Papah sudah berani bertanggung jawab atas apa yang terjadi, dan mau meletakkan jabatan, karena merasa tak mampu memimpin negara ini." ucap Istri Adiwinata menjelaskan dengan tersenyum bangga pada suaminya.
"Terima kasih, syukurlah anak anak mau mengerti." ucap Adiwinata lega.
"Ya, Pah." Angguk Istri Adiwinata tersenyum senang menatap wajah suaminya.
Adiwinata bersyukur, ditengah masalah yang melanda dirinya, Istri dan anak anaknya tetap ada dan mendukung dirinya.
Keesokan harinya, di pagi hari, Ramon tampak sudah bersiap siap, dia lalu mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Saya sekarang mau siap siap berangkat menjalankan rencana kita, Pak." ujar Ramon, bicara diteleponnya dengan wajahnya yang serius.
"Bagus, jalani dengan baik dan rapi, habisi dia, tapi, jangan sampai kamu meninggalkan jejak, aksimu ini harus senyap, jangan sampai ketahuan." jelas Binsar, dari seberang telepon.
Ternyata, Ramon menelpon Binsar, saat ini, mereka sedang merencanakan sesuatu hal yang besar, Ramon ditugaskan langsung oleh Binsar untuk membunuh seseorang yang sangat di benci Binsar saat ini.
__ADS_1
"Baik, Pak. Akan saya jalankan misi ini sebaik mungkin." ujar Ramon, di teleponnya.
"Ya, sudah, nanti lapor ke saya, jika kamu sudah membereskannya." ujar Binsar dari seberang telepon.
"Ya, Baik Pak." Ujar Ramon menjawab.
Lalu, Ramon menutup teleponnya, dia menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya.
Kemudian, Ramon bergegas pergi keluar dari dalam ruangan.
Sementara itu, Chandra tampak masuk ke dalam mobil bus tahanan kejaksaan, dia di kawal oleh empat petugas kejaksaan yang menjaganya sebagai tahanan.
Dibelakang mereka, sudah menunggu dua petugas polisi di dalam mobil, mereka juga di tugaskan untuk mengawal Chandra sebagai tahanan, untuk dipindahkan ke tahanan umum. Tahanan khusus bagi kasus kejahatan berat.
Wajah Chandra tampak dingin dan tenang, dia duduk diam di bangku bus. Dua petugas kejaksaan berdiri dihadapannya, dengan bersiap siaga memegang senapan laras panjang mereka.
Selain Chandra, ada juga 5 orang tahanan lainnya yang ikut didalam mobil bus kejaksaan, mereka sama sama akan ditempatkan di tahanan umum.
Beberapa saat kemudian, mobil bus pun mulai berjalan, dan dibelakang, mobil polisi juga berjalan, mengikuti dan mengawal mobil bus kejaksaan.
Adiwinata bersiap siap untuk pergi, Istrinya mengantarkannya sampai ke teras rumah. Seorang Ajudannya menghampiri Adiwinata.
"Biar saja saya sendiri, kamu gak usah ikut." ucap Adiwinata.
"Tapi, Pak." ujar Ajudan.
"Saya ini bukan lagi presiden, jadi, kamu gak perlu mengawal saya lagi. Tugasmu sudah selesai mendampingi saya." ujar Adiwinata tersenyum ramah, memotong ucapan sang Ajudan.
"Saya akan tetap bersama Bapak, walau pun Bapak bukan presiden saya lagi. Saya tetap ingin menjaga dan melindungi Bapak." ujar Ajudan.
"Terima kasih atas kesetiaanmu, saya bangga padamu." ucap Adiwinata tersenyum ramah.
"Kalo kamu masih mau di sini, gak apa apa. Saya hanya mau menitipkan istri saya, tolong jaga dan lindungi istri saya selama saya pergi." ucap Adiwinata tersenyum menatap wajah sang Ajudan.
"Jika ada yang mau berbuat jahat pada istri saya nantinya, tolong, segera asingkan dan selamatkan dia. Itu saja pesan dan amanah saya padamu." ujar Adiwinata menitipkan istrinya untuk di lindungi.
Adiwinata tahu, Binsar tak main main dalam menebar ancaman kepadanya, dia tidak khawatir dengan dirinya, tapi, Adiwinata khawatir dengan keselamatan istrinya, dia tak ingin, istrinya mendapatkan masalah dan jadi terbawa bawa dalam masalahnya ini.
Karena itu, dia pun memberikan amanah pada Ajudannya, agar mau menjaga dan melindungi istrinya.
"Baik, Pak. Akan saya laksanakan pesan Bapak sebaik baiknya." ujar Ajudan memberi hormat.
"Ya, sudah, saya berangkat ya." ucap Adiwinata tersenyum.
"Ya, Pak." Angguk Ajudan, memberi hormat.
Lalu, Adiwinata berbalik badan, sejenak dia melihat pada istrinya yang tersenyum manis melambaikan tangannya berdiri diteras rumah, Adiwinata pun tersenyum, dia juga melambaikan tangannya.
Kemudian, Adiwinata berjalan ke mobilnya, lalu, dia masuk ke dalam mobil, duduk di belakang stir, kemudian, Adiwinata pun lantas menyalakan mesin mobil.
Sang Ajudan berdiri tidak jauh dari mobil Adiwinata, sementara, Istri Adiwinata masih berdiri diteras rumah memperhatikan suaminya yang sudah berada didalam mobilnya.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Adiwinata pun mulai berjalan, mobil pergi meninggalkan halaman rumahnya, dengan di iringi pandangan dari sang Ajudan dan juga Istri Adiwinata.
Setelah kepergian Adiwinata, Istrinya lalu berbalik badan dan masuk ke dalam rumahnya, sementara sang Ajudan, tetap berdiri di depan teras rumah, untuk berjaga jaga.
__ADS_1
Mobil bus kejaksaan tiba di lokasi tahanan umum khusus kejahatan berat, lalu, pintu mobil bus terbuka, kemudian, petugas kejaksaan menyuruh para tahanan untuk segera keluar dari dalam mobil bus, karena mereka sudah sampai ditujuan.
Dua Petugas Polisi yang bertugas mengawal juga keluar dari dalam mobilnya, mereka berdua berdiri disamping mobil, sambil memegang pistol, bersiap siap, dari segala hal yang kemungkinan bisa saja terjadi saat ini.
Para tahanan keluar dari dalam mobil bus kejaksaan, petugas kejaksaan membawa mereka yang terborgol itu ke dalam rumah tahanan.
Kemudian, Chandra keluar dari dalam mobil bus kejaksaan, dia berjalan dengan sikap tenang dan raut wajah dingin, tak ada rasa takut sedikitpun dalam diri Chandra, dia sudah di vonis bersalah dan di pindahkan ke tahanan umum, karena dia terbukti bersalah sudah berbuat kejahatan besar, melakukan pembunuhan berencana dan terang terangan didepan umum.
Walau korbannya tak mati, tetap saja Chandra di vonis sang hakim bersalah, dan harus menjalani hukuman 6 tahun penjara atas tindak kejahatannya itu, karena telah melukai korbannya.
Seorang petugas kejaksaan memegang tangan Chandra yang diborgol, lalu, dia segera membawa masuk Chandra ke dalam rumah tahanan.
Setelah selesai tugas mereka berdua mengawal, kedua polisi lalu kembali masuk ke dalam mobilnya, setelah mereka berdua pamit pada petugas kejaksaan.
Kedua polisi yang mengawal lalu pergi meninggalkan rumah tahanan umum, sementara, Petugas kejaksaan yang masih ada di luar halaman rumah tahanan, segera masuk ke dalam rumah tahanan, dan mobil bus kejaksaan juga pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Di dalam ruang tahanan, para narapidana yang datang bersama Chandra di bawa, mereka berjalan menyusuri koridor rumah tahanan.
Singkatnya, Para narapidana lalu dimasukkan masing masing ke dalam sel penjara, mereka tinggal didalam sel bersama tiga narapidana yang sudah lebih dulu mendekam didalam penjara.
Lalu, Petugas Kejaksaan juga memasukkan Chandra kedalam sel penjara, tiga orang narapidana yang ada di dalam sel melihat Chandra yang masuk ke dalam sel.
Penjaga tahanan lalu menutup dan mengunci pintu sel tahanan, Chandra sudah tak di borgol lagi, petugas kejaksaan yang melepaskan borgolnya saat dia dimasukkan kedalam sel penjara.
Seorang narapidana yang bertubuh gempal dan brewokan mengamati diri Chandra yang bersikap dingin dan tenang , Chandra duduk di pojokan lantai sel penjara, dia cuek dengan ketiga narapidana.
Narapidana bertubuh gempal penasaran, dia lalu berjalan mendekati Chandra yang duduk di lantai pojok sel. Narapidana bertubuh gempal berdiri dihadapan Chandra, wajahnya tampak galak dan menyeramkan, tapi, Chandra bersiap tenang dan cuek saja menghadapinya.
"Kasus apa ?" tanya Narapidana bertubuh gempal, menatap tajam wajah Chandra yang duduk dilantai.
"Pembunuhan berencana, membunuh menkopolkam. Kenapa?" tanya Chandra.
Chandra lantas menatap tajam wajah Narapidana yang berdiri dihadapannya dan sok jagoan itu, Chandra menantangnya, karena dia tak ingin di ganggu.
"Berani beraninya kamu natap aku begitu sinis!" ujar Narapidana bertubuh gempal marah.
Saat dia hendak memukul Chandra, tiba tiba terdengar suara teriakan yang keras dari dalam sel tersebut.
"Jangan ganggu dia !!" bentak seseorang.
Narapidana bertubuh gempal langsung terdiam kaget, wajahnya langsung pucat pasi, mendengar suaranya saja dia sudah takut, dan nyalinya ciut, apalagi menghadapi orang tersebut.
Mau tak mau, Narapidana bertubuh gempal pun mundur teratur, dia langsung pergi menjauh dari Chandra.
Terlihat seseorang bertubuh tinggi besar dan kekar, namun rambutnya sudah di penuhi uban berdiri, lalu dia berjalan santai menghampiri Chandra.
"Selamat datang di sel ini, dan selamat bergabung bersama kami." ujar Pria tua yang gagah perkasa itu tersenyum pada Chandra.
Chandra menatap lekat wajah pria tua, lalu, dia menyambut uluran tangan pria tua, dan Chandra lantas berdiri, mereka saling berhadapan.
"Kenalkan, aku Wicaksono, panggil saja aku Wicak. Dan yang bertubuh gempal itu namanya Gentong, yang itu, Pijar, dia sedikit stress." ujar Wicaksono, tersenyum ramah.
"Aku Chandra." ujar Chandra, memperkenalkan dirinya.
Mereka semua yang berada di dalam sel penjara itu pun lalu saling berkenalan dan berjabatan tangan, Chandra senang, keberadaannya ternyata disambut hangat, dan dia beruntung, karena berada di dalam satu sel bersama seorang jawara di rumah tahanan itu.
__ADS_1