
Wicaksono tersenyum senang memandangi wajah Chandra yang serius mendengarkan cerita Wicaksono.
"Begitulah, akhirnya, Gavlin meletakkan mayat Guntur di hotel Bramantio, dia menggantung mayatnya di atas patung kebanggaan Bramantio, Bapak membantu Gavlin saat itu meletakkan mayat Guntur tepat diatas patung." ujar Wicaksono, melanjutkan ceritanya.
"Gavlin berhasil membuat geger dan panik seluruh pengunjung yang datang di acara peresmian pembukaan hotel Bramantio. Bapak senang, karena Gavlin berhasil menjalani misi pertamanya." lanjut Wicaksono menjelaskan pada Chandra.
"Setelah kematian Guntur, Gavlin bilang ke Bapak, kalo target selanjutnya dia akan memburu Bramantio, karena dia sangat dendam sama Bramantio." tegas Wicaksono.
"Bapak pun mendukung rencana Gavlin, namun, Bapak gak bisa membantunya lagi." ujar Wicaksono.
Tampak wajah Wicaksono berubah menjadi sedih saat mengatakan hal itu, Chandra heran melihat perubahan wajah Wicaksono yang tiba tiba menahan kesedihan dihadapannya.
"Memang kenapa Bapak gak bisa membantu Gavlin lagi? Apa Gavlin yang melarangnya?!" ujar Chandra, bertanya pada Wicaksono.
"Bukan itu, Gavlin gak pernah melarang Bapak untuk membantunya." jelas Wicaksono.
"Lantas, apa Pak?" tanya Chandra, menatap heran wajah Wicaksono.
"Karena Binsar, Bapak gak bisa bantu Gavlin saat itu." ungkap Wicaksono.
"Binsar?!" Chandra tersentak kaget, begitu dia kembali mendengar nama Binsar di sebut Wicaksono.
"Kenapa dengan Binsar, Pak?" ujar Chandra, menatap serius wajah Wicaksono.
"Binsar gak habis habisnya mencoba untuk menghabisi Bapak. Karena gagal membunuh Bapak, lalu, dia memfitnah Bapak, dengan menuduh Bapak telah sengaja menyerang markasnya." ujar Wicaksono.
"Dan lalu katanya, Bapak dengan sengaja membantai dan membunuh anak buahnya, padahal, Bapak gak pernah ke markasnya membawa pasukan, Bapak malah yang di serang anak buah Binsar, dan saat itu, gak ada satu pun anak buahnya yang tewas saat menyerang Bapak." ungkap Wicaksono.
"Binsar memang ahli memutar balik fakta dan menyamarkan kebenaran, Pak. Baginya, benar bisa jadi salah, salah bisa dia benarkan. Itulah Binsar." ujar Chandra, menjelaskan pada Wicaksono.
"Ya, Karena itu, Bapak di tangkap, Doddy, kepala kepolisian waktu itu datang bersama pasukannya menggerebek markas Bapak dan menghabisi anak buah Bapak yang ada di markas." ujar Wicaksono menjelaskan.
"Terus, Gavlin dimana, saat Polisi datang menggrebek markas Bapak?" ujar Chandra, bertanya serius pada Wicaksono.
"Gavlin saat itu masih kerja menjadi supir pribadi Bramantio, jadi, untungnya, dia gak ada di markas, kalo nggak, dia pasti akan ditangkap juga sama Doddy." tegas Wicaksono.
"Doddy itu juga anggota Binsar, Pak. Dia bagian dari organisasi Inside." ujar Chandra.
"Dan Doddy sudah mati, dibunuh Gavlin." ungkap Chandra.
"Oh, ya? Gavlin membunuh Doddy?" ujar Wicaksono.
"Ya, Pak. Setelah Gavlin tau kejahatan Binsar dan organisasi Inside, dia mulai memburu satu persatu anggota anggota Inside, dia menyerang orang orang kuat Binsar, seperti Herman, Doddy , dan yang lainnya, Gavlin berhasil menghabisi mereka. Mereka semua yang dihabisi Gavlin adalah orang yang memutar balik fakta dan mempermainkan hukum, serta menjebloskan Bapak Gavlin kepenjara." ujar Chandra menjelaskan pada Wicaksono.
__ADS_1
"Oh, begitu, baguslah, kalo Gavlin sudah membunuh Doddy. Bapak dendam padanya, karena Doddy, sebelum memasukkan Bapak ke dalam rumah tahanan, dia menyiksa Bapak habis habisan selama dua minggu." ujar Wicaksono, serius bercerita pada Chandra.
"Lantas, bagaimana dengan Gavlin, setelah dia tau, kalo Bapak di fitnah dan ditangkap , lalu di jebloskan ke dalam penjara?!" ujar Chandra bertanya karena ingin tahu.
"Gavlin marah, dia menyamar datang menemui Bapak di rumah penahanan, dia bilang, dia akan membantai orang orang yang sudah menjebak Bapak, dia akan membunuh Doddy yang sudah menangkap Bapak." ujar Wicaksono.
"Tapi Bapak melarangnya untuk balas dendam, Bapak menyuruh Gavlin untuk focus membalas dendam buat dirinya, dan jangan pikirkan Bapak." lanjut Wicaksono menjelaskan.
"Bapak bilang, kalo Bapak akan baik baik aja dan bisa menjaga diri Bapak. Gavlin tetap masih belum bisa menerima , kalo Bapak di hukum seumur hidup hanya karena di fitnah." jelas Wicaksono.
"Sejak itu, Bapak kembali di tahan dan berada di rumah tahanan ini lagi, menjalani hukuman Bapak yang ke dua kalinya, seumur hidup, atas kasus yang gak Bapak lakukan." ujar Wicaksono, tersenyum getir.
"Ya, begitulah, Pak. Binsar yang mengendalikan pengadilan, hakim dan para jaksa serta pengacara ada dalam genggaman tangan Binsar, mereka akan patuh pada Binsar, wong Presiden aja gak bisa apa apa sama Binsar waktu itu, Pak." ungkap Chandra.
"Ya, memang benar, Binsar memang sangat licin dan licik, dia bisa menguasai negara ini dengan cara liciknya." ujar Wicaksono geram.
"Kalo Bapak bebas dari rumah tahanan ini, apa yang akan Bapak lakukan pada Binsar?" ujar Chandra bertanya.
"Akan Bapak bantai Binsar, Bapak cincang cincang tubuhnya dan penggal kepalanya, lalu, kepalanya Bapak gantung di tengah tengah kota, dan menuliskan bahwa Binsar pelaku kejahatan yang menghancurkan ekonomi negara ini, dan dialah dalang yang menjuali aset aset negara." jelas Wicaksono, dengan wajahnya yang serius.
Chandra tersenyum senang mendengar perkataan Wicaksono, dia, tahu, Wicaksono sangat dendam sekali pada Binsar, sama seperti dirinya dan juga Gavlin. Dan Chandra yakin, jika Wicaksono bebas, dan bisa keluar dari rumah tahanan, dia pasti akan membunuh Binsar. Sebagai pemimpin dan penguasa para mafia yang sangat disegani di dalam dan di luar negeri, Wicaksono pasti mudah menghancurkan Binsar.
Namun, karena dia berada dalam rumah tahanan, dia tak bisa berbuat apapun juga, dia menyerahkan semuanya pada Gavlin.
"Setelah Gavlin cerita tentang Binsar, bahwa dialah yang menyuruh menjebak Bapak Gavlin dan membunuhnya, Bapak juga cerita tentang Binsar." ujar Wicaksono.
"Gavlin berjanji, akan membunuh Binsar dan membalaskan dendam dan rasa sakit hati Bapak, dan Bapak yakin, Gavlin bisa melakukannya. Hanya tinggal menunggu waktu saja." ujar Wicaksono penuh keyakinan terhadap Gavlin.
"Ya, Pak. Saya juga yakin, Gavlin bisa menghabisi Binsar dan menghancurkan organisasi Inside." jelas Chandra, kepada Wicaksono yang duduk di depannya itu.
"Ya." Angguk Wicaksono.
"Begitulah kisah Bapak dan Gavlin, Semoga kamu puas mendengar cerita Bapak." ujar Wicaksono, tersenyum menatap wajah Chandra.
"Saya sangat puas mendengar cerita Bapak, saya jadi banyak tau tentang Gavlin dan juga Bapak, dan saya juga jadi tau, bagaimana hubungan Bapak yang sangat dekat dengan Gavlin, sebagai anak dan Bapak angkat." ujar Chandra, tersenyum senang.
"Ya. Sekarang, Bapak mau istirahat dulu, capek." ujar Wicaksono.
"Ya, Pak. Silahkan istirahat." ujar Chandra, tersenyum senang menatap wajah Wicaksono.
Wicaksono lantas merebahkan tubuhnya di lantai sel tahanan, dia tidur di samping Chandra yang duduk di lantai pojokan, Gentong dan Pijar saling pandang, mereka heran, karena Wicaksono tak tidur di tikarnya seperti biasa yang dia lakukan.
Namun, mereka berdua tak ada yang berani untuk membangunkan Wicaksono dan menyuruhnya pindah tidur, mereka berdua lantas beranjak pergi, dan membiarkan Wicaksono tertidur disamping Chandra.
__ADS_1
Chandra diam diam sambil duduk mengamati wajah Wicaksono yang sudah terlihat sangat tua, namun masih terlihat kekar dan gagah. Dia tersenyum senang, penuh kebahagiaan , Chandra bahagia karena bisa mengenal sosok seperti Wicaksono di dalam tahanan tersebut.
---
Sementara itu, Gavlin dan Jalal sudah sampai di dekat rumah peristirahatan milik Binsar yang digunakan Samsudin untuk bersembunyi dan berlindung selama ini.
Gavlin memarkir mobilnya di pinggir jalan, tak jauh dari rumah peristirahatan Binsar yang berada di ketinggian bukit.
"Benar, ini tempatnya?!" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Jalal yang meringis menahan sakit pada luka lukanya.
"Iya, benar. Aku gak bohong, ini tempat persembunyian Pak Samsudin, Aku biasa ke sini menemui dia." ujar Jalal, sambil menahan rasa perih dan sakit pada luka tembaknya.
"Kamu yakin, Samsudin ada di rumah itu?" ujar Gavlin, bertanya pada Jalal.
"Aku yakin, dia pasti ada di dalam rumah itu, coba saja kamu masuk, kamu pasti akan bertemu dengan pak Samsudin di dalam rumah itu." ujar Jalal, memberi penjelasan pada Gavlin.
"Okay, Akan aku pastikan kebenaran omonganmu itu." tegas Gavlin, menatap tajam wajah Jalal.
Jalal hanya diam saja tak menjawab perkataan Gavlin, dia berharap, Samsudin ada di rumah peristirahatan Binsar , agar Gavlin tak marah padanya dan membunuh dirinya.
Gavlin lantas segera keluar dari dalam mobilnya, lalu, dia bergegas jalan ke belakang mobil.
Dari dalam mobil, Jalal menoleh ke belakang, dia melihat Gavlin sedang membuka pintu bagasi mobilnya.
Jalal sekali lagi berusaha untuk melepaskan diri, namun, dia tetap tak bisa melepaskan ikatan tali yang mengikat kedua tangan dan tubuhnya dengan kuat, Jalal pun akhirnya pasrah sepasrah pasrahnya, duduk diam di jok belakang mobil Gavlin.
Gavlin mengambil senapan mesin dan juga senjata bom roket serta beberapa granat lempar, tak lupa juga dia mengisi peluru peluru di kedua pistolnya lagi.
Setelah itu, Gavlin pun lantas menutup pintu bagasi mobilnya, lalu, dia berjalan meninggalkan Jalal yang berada di dalam mobil.
Jalal dari dalam mobil melihat Gavlin berjalan menuju rumah peristirahatan Binsar dengan membawa beberapa senjata di punggung dan kedua tangannya.
Gavlin benar benar bertekat akan menghabisi Samsudin saat ini juga, karena itu dia membawa senjata banyak, agar dia bisa menghabisi orang orang yang akan menghalangi dirinya menemui Samsudin dan menghabisinya.
Wajah Gavlin terlihat memerah, dia menahan amarahnya yang sudah menggelegak didalam dirinya, dia sangat dendam pada Samsudin, karena telah menjebak dan membunuh Bapaknya dan Bapak Chandra, juga dia yang sudah menjebloskan Chandra kedalam penjara.
Atas perbuatan jahat dan keji Samsudin itu, Gavlin tak bisa memaafkannya, dia tidak akan memberi ampun Samsudin, Gavlin akan membantai Samsudin.
Di dalam mobil, Jalal harap harap cemas melihat Gavlin yang berjalan semakin mendekat ke rumah peristirahatan milik Binsar itu.
"Mudah mudahan, Pak Samsudin ada dirumah itu, dan Gavlin bertemu dengannya, jadi aku gak harus mati ditangan Gavlin, dan akan di bebaskan Gavlin." Gumam Jalal, dengan raut wajah penuh pengharapan.
Gavlin tiba di dekat rumah peristirahatan Binsar, dia melihat, banyak orang orang bersenjata yang berjaga jaga di sekitar area pekarangan halaman rumah.
__ADS_1
Gavlin lalu berjalan pelan dengan mengendap endap, dia berjalan kesamping rumah peristirahatan, untuk melihat dan mempelajari situasi sekitar rumah peristirahatan tersebut.
Sebelum bertindak dan masuk ke dalam rumah, Gavlin harus mengetahui terlebih dulu, ada berapa banyak orang orang yang menjaga dan melindungi rumah tersebut dan juga menjaga Samsudin.