
Sosok berpakaian hitam ternyata Gavlin, dia berdiri di depan Samsul yang pingsan, ditangannya ada senjata bius.
Dengan senjata bius itulah Gavlin membuat Samsul pingsan.
Gavlin menyeringai geram menatap tajam wajah Samsul.
Lalu dengan cepat, Gavlin mengangkat dan menggotong tubuh Samsul yang pingsan.
Gavlin melemparkan tubuh Samsul ke dalam bagasi mobilnya, lalu mengikat tangan dan kaki Samsul.
Setelah menutup pintu bagasi mobil, Gavlin segera masuk ke dalam mobil.
Sesaat kemudian, mobil Gavlin sudah pergi meninggalkan hotel tersebut.
---
Diruang kerjanya, Gatot tampak sedang berfikir keras, dia tengah memikirkan cara untuk bisa meringkus dan menangkap Gavlin atau Yanto.
Dia ingin, Gavlin tertangkap sebelum dia berhasil menjalani misi balas dendamnya.
Wajah Gatot terlihat tegang, dia benar benar serius menyelidiki kasus pembunuhan Mike.
---
Tubuh Samsul terikat di sebuah rusbang yang sudah di siapkan Gavlin di dalam sebuah ruangan kecil yang ada di dalam gudang miliknya.
Samsul mulai tersadar dari pingsannya, pengaruh obat bius perlahan menghilang dari dirinya.
"Apa kabar Samsul?" Ujar Gavlin.
Samsul menatap wajah Gavlin, dia heran, Samsul tak mengenali Gavlin.
Ya, Samsul tak akan mengenali wajah Gavlin, sebab saat ini, dia menyamar sebagai Yanto.
Samsul melihat Yanto yang berambut gondrong, berjenggot dan memakai jaket kulit, berdiri tersenyum sinis menatapnya.
Gavlin sengaja merubah dirinya sebagai Yanto, sebab, jika dia masih sosok Gavlin, Samsul pasti mengenalinya, sebab, saat menjadi Gavlin dan jadi supir pribadi Bramantio, mereka beberapa kali bertemu dan saling kenal.
Karena tak ingin Samsul mengenali dia, maka dia pun menyamar sebagai Yanto, seorang seniman pembuat patung lilin.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengikat dan membawaku ke sini?" Bentak Samsul.
Dengan kondisinya yang terikat di atas rusbang, Samsul masih berani berteriak dan membentak Gavlin atau Yanto.
"Apa kabar Pembakaran 18 tahun lebih dulu Samsul?" Ujar Yanto dengan suara berat dan tatapan mata yang tajam dan dingin.
Samsul terhenyak kaget saat Yanto menyebut kebakaran 18 tahun yang lalu, dia ingat dengan kejadian tersebut.
"Siapa kamu sebenarnya ?!! Kenapa kamu mengungkit masalah itu ?!!" Bentak Samsul marah.
"Aku Yanto, anak kecil yang kamu tendang dan ludahi dulu, aku anak Sanusi yang kalian fitnah sebagai pembunuh dan pemerkosa, dan aku Yanto, anak kecil yang rumahnya kamu bakar !!" Bentak Yanto atau Gavlin.
Wajah Gavlin atau Yanto terlihat sangat marah. Samsul semakin kaget mendengar pengakuan Yanto atau Gavlin.
Dia tak menyangka, jika yang berdiri didepannya adalah anak kecil yang kurus dulu.
"Apa maumu !! Lepaskan aku, ayo kita bicara !!" Ujar Samsul.
Samsul berusaha untuk bernegosiasi pada Yanto. Agar dia bisa di bebaskan.
Sebagai pemimpin Mafia yang sangat ditakuti dan disegani, Samsul ternyata ciut juga nyalinya di hadapan Yanto.
Apalagi dia melihat, Yanto mengambil sebuah golok tajam dari meja yang ada didalam ruangan itu.
Yanto sambil memegangi golok tajam di tangannya mendekat ke wajah Samsul.
"Mau apa kamu !!" Bentak Samsul.
Samsul meronta, berusaha melepaskan diri, Yanto menyeringai, tatapan matanya buas.
"Selamat tinggal Samsul !!" Ujar Yanto tersenyum sinis.
Belum sempat Samsul mengeluarkan sepatah kata, Golok sudah menebas lehernya.
Darah memuncrat banyak dan langsung membanjiri lantai ruangan.
__ADS_1
Kepala Samsul yang terputus menggelinding di lantai, Yanto tersenyum sinis.
Tatapan matanya sangat menyeramkan, dengan sadisnya, Yanto menebas kepala Samsul hingga putus.
Samsul pun mati meregang nyawa seketika.
Yanto terlihat puas, satu lagi orang yang sudah menindasnya mati, dan dia berhasil membalaskan dendamnya pada Samsul yang sudah membuat hidupnya menderita saat kecil.
---
Wijaya duduk di kursi meja kerjanya, dia tampak serius mempelajari berkas dokumen laporan keuangan perusahaannya.
Pintu di ketuk, Wijaya lantas menyuruh masuk sekretarisnya, Sekretaris Wijaya pun masuk ke dalam ruang kerjanya.
Di tangan Sekretarisnya ada sebuah kotak yang terbungkus rapi.
"Ada paket buat Bapak, tadi kurir yang mengantarkannya. Satpam menerimanya dan memberikannya pada saya, katanya buat Bapak." Ujar Sekretaris menjelaskan.
"Paket ? Dari siapa?" Tanya Wijaya heran.
"Tidak ada nama pengirimnya tertera Pak, hanya ada nama Bapak dan alamat kantor ini sebagai penerimanya." Ujar Sekretaris.
"Ya sudah, letakkan paket itu di meja." Ujar Wijaya dengan wajah heran.
Dia melirik kotak yang terbungkus rapi di atas meja.
"Saya permisi Pak." Pamit Sekretaris.
"Ya." Jawab Wijaya.
Matanya tertuju pada paket yang ada di atas meja.
Wijaya jadi tak bisa focus dengan kerjaannya, fikirannya tertuju pada kotak tersebut.
Ada rasa penasaran dihatinya, dia ingin tahu, kotak apa itu, dan apa isi nya, lalu siapa yang mengirimkannya?
Wijaya heran dan bingung, sebab, jika paket itu hadiah dari salah satu rekan bisnisnya, tentu sebelumnya dia dikabari.
Tapi ini tidak, paket itu tiba tiba datang padanya.
Wijaya berjalan pelan sambil matanya terus melihat kotak yang terbungkus rapi.
Wijaya lantas duduk di sofa, dia pun mengambil kotak paket, dia melihat, memang ada namanya sebagai penerima paket tersebut.
Rasa penasarannya semakin besar, Wijaya pun berdiri dan mengambil pisau lipat dari laci meja kerjanya.
Wijaya lalu kembali duduk di sofa, lantas, dengan pisau lipatnya, dia pun membuka kotak paket yang terbungkus rapi itu.
Dengan pelan dan sangat hati hati, Wijaya membuka kotak paket dengan pisau lipat di tangannya.
Kotak paketpun terbuka. Wijaya meletakkan pisau lipat di atas meja.
Lalu dia mengangkat kotak paket dan melihat ke dalam kotak, dia ingin tahu isi didalamnya.
Wijaya seketika melonjak kaget, dengan cepat dia melemparkan kotak yang dia pegang itu.
Wijaya terhenyak duduk di sofa, wajahnya pucat pasi.
Didalam kotak paket itu, Wijaya melihat kepala dengan mata melotot.
Wijaya sangat mengenali wajah tersebut. Kepala Samsul keluar dari dalam kotak, menggelinding di lantai ruang kerjanya sebab di lempar Wijaya.
Wijaya syock, dia tak mampu berkata kata, tubuhnya gemetaran, dia terhenyak kaget, Kepala Samsul di kirimkan padanya.
Wijaya heran, kenapa Samsul seorang pimpinan Mafia terbesar dan tangguh bisa mati dengan cara yang sadis, dengan kepala terpenggal putus.
Dan yang membuat Wijaya semakin tak habis fikir, siapa yang membunuh Samsul, dan siapa yang mengirimkan kepala Samsul padanya.
Wijaya panik, dia pun ketakutan, dia mencemaskan dirinya, dia takut, dia juga akan mengalami nasib yang sama.
Keringat dingin bercucuran dan membasahi pakaian Wijaya, dia tak mampu untuk berdiri, tubuhnya masih gemetaran takut, wajahnya pucat pasi.
Matanya memandangi kepala Samsul yang tergeletak di lantai ruang kerjanya.
---
__ADS_1
Di dalam gudangnya, Yanto tampak sedang membuat patung lilin, yang membuat patung itu menyeramkan, Yanto membuatnya dari tubuh Samsul yang mati dibunuhnya.
Dengan serius Yanto membentuk tubuh Samsul dengan olahan lilinnya.
Lalu, Yanto pun mulai membuat bagian kepala patung, dia tak memakai kepala Samsul, sebab, kepala Samsul yang terputus sudah di kirimkannya pada Wijaya.
Ya, Yanto sengaja mengirimnya pada Wijaya, bukan pada Bramantio, sebagai peringatan untuk Wijaya.
Sebab, karena ide Wijaya jugalah, yang menyebabkan Samsul dan anak buahnya terlibat dalam pembakaran rumahnya dulu.
Dan Yanto tahu semuanya, untuk itu dia bisa membalas dendam dan menentukan semua target balas dendamnya.
Dengan sikap tenang dan wajah kaku dan tatapan mata dingin menyeramkan, Yanto terus mengerjakan patung lilin.
Ya, Yanto membuat patung lilin dengan tubuh Samsul yang sudah mati.
---
Malam itu, Jauhari, sang Kepala Desa baru saja pulang dari menghadiri acara di Balai Desa.
Jauhari keluar dari dalam mobilnya yang sudah berada dalam garasi rumahnya.
Dia lantas berjalan menuju teras rumahnya.
Saat Jauhari hendak menekan bel rumahnya, tiba tiba ada kaleng yang jatuh tepat di bawah kakinya.
Jauhari kaget, dia melihat kaleng yang tergeletak di bawah kakinya.
Jauhari melihat ke sekitar halaman rumahnya, dia mencari orang yang melempar kaleng tersebut, namun tak ada orang yang dia lihat.
Jauhari lantas mengambil kaleng tersebut, lalu dia membuka penutup kaleng.
Jauhari lantas melihat ke dalam kaleng, ada secarik kertas lusuh di dalam kaleng, dia pun semakin heran.
Jauhari tak tahu, kertas apa itu, dengan rasa penasaran, Jauhari pun mengambil kertas lusuh yang ada di dalam kaleng.
Lantas, Jauhari pun membuka lipatan lipatan kertas lusuh tersebut.
Mata Jauhari terbuka lebar, dia syok dan kaget saat melihat tulisan dan gambar di kertas lusuh yang dia pegang itu.
Tangan Jauhari gemetaran memegangi kertas lusuh tersebut, di dalam kertas lusuh tersebut tertulis berita tentang kebakaran besar yang menghanguskan rumah Sanusi, pelaku pembunuhan dan pemerkosaan yang sudah di penjara 18 tahun lebih yang lalu.
Di dalam kertas lusuh itu juga, ada gambar rumah Sanusi yang habis terbakar.
Jauhari terdiam, sesaat tubuhnya kaku, kaleng ditangannya terlepas.
Matanya liar melihat ke kanan dan ke kiri, dia ingin mencari orang yang melemparkan kaleng tersebut padanya. Namun, orang yang dicarinya tetap tak ada.
Wajah Jauhari pucat, dia tahu berita di kertas lusuh itu, Kejadian saat 18 tahun yang lalu, dan dia salah satu pelaku pembakaran rumah Sanusi.
Saat itu Jauhari belum menjabat sebagai kepala daerah, dia belum menjadi Kepala Desa, dia dulu masih seorang pemuda yang penuh semangat dan ambisi.
Wajah Jauhari pun pucat pasi, dia sadar, saatnya tiba, sekarang giliran dia, dan dia sangat takut.
Sebab, dengan di kirimkannya dia artikel kebakaran rumah Sanusi, itu artinya dia adalah target berikutnya untuk di bunuh.
Dia tahu, saat ini, orang yang ingin membalas dendam padanya, sudah datang ke rumahnya dan menemuinya.
Jauhari ketakutan, dia takut mati, di paksakan dirinya untuk bisa menekan bel rumahnya.
Dengan cepat Jauhari menekan bel terus menerus, Asisten rumah tangga pun membukakan pintu.
Dengan wajah pucat Jauhari pun cepat masuk ke dalam rumahnya sambil membawa kertas lusuh ditangannya.
Asisten rumah tangga heran melihat majikannya pulang dengan wajah ketakutan, dia pun menutup pintu rumah kembali.
Di atas pohon yang tinggi di pinggir jalan depan rumah Jauhari, berdiri Yanto di atas pohon.
Matanya memandangi rumah Jauhari, dia mengamati semua gerak gerik Jauhari saat menerima kertas berisi artikel kebakaran rumahnya.
Tatapan mata Yanto tajam, dia menyeringai buas, wajahnya terlihat marah, dia memendam dendamnya.
"Kamu berikutnya Jauhari." Ujar Yanto dengan geram.
"Selamatkanlah dirimu jika bisa Jauhari, sebab, jika aku sudah ada didepanmu, maka nyawamu pasti melayang." Ujar Yanto menyeringai buas.
__ADS_1
Lantas Yanto pun kemudian segera turun dari atas pohon, lalu dia pergi dan menghilang di kegelapan malam yang sunyi dan sepi itu.