VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Malik Menemui Indri


__ADS_3

Keesokan harinya, terlihat Gavlin sedang bersiap siap hendak pergi membawa Binsar, Pesawat yang menjemputnya sudah tiba dan menunggu kedatangannya bersama Binsar.


Malik yang menemani Gavlin melihat ditangan Gavlin menenteng tas koper berisi bom rakitannya, Gavlin mendekati Binsar yang berada di dalam kerangkeng kandang hewan.


"Di dalam koper itu kamu simpan bom rakitannya, Vlin?" tanya Malik, menatap lekat wajah Gavlin dan ingin tahu.


"Ya. Semua udah siap pakai." jelas Gavlin pada Malik.


Malik mengangguk angguk mengerti dan paham, Dia berdiri diam di samping Gavlin. Gavlin terlihat berjongkok, dia meletakkan tas koper berisi bom rakitan di lantai.


Malik mundur dua langkah ke belakang Gavlin yang hendak membuka pintu kerangkeng kandang dengan kunci yang dia simpan di kantong celananya.


Diam diam, Malik memperhatikan Gavlin yang hendak membuka pintu kerangkeng, sementara Binsar, di dalam kerangkeng hanya diam saja, menatap geram dan marah pada Gavlin.


Saat Gavlin hendak mulai membuka pintu kerangkeng tersebut, tiba tiba saja, dengan gerakan yang sangat cepat, Malik menghantam tengkuk leher Gavlin dengan tangannya, hingga Gavlin pingsan seketika dan terjatuh di lantai.


Melihat Malik memukul dan membuat Gavlin pingsan di lantai, Binsar kaget, dia mengira, Malik akan membebaskannya.


"Apa kamu mau membebaskanku?!" tanya Binsar, menatap wajah Malik.


Binsar sudah senang saja, mengira, dengan pingsannya Gavlin, maka dia akan di bebaskan Malik.


Malik berjongkok dan mengambil kunci kerangkeng.


"Jangan mimpi kamu Binsar ! Kamu gak bakal bebas, kamu bakal mampus!" tegas Malik, menatap sinis wajah Binsar.


Mendengar perkataan Malik, Wajah Binsar berubah kecewa, dia lalu terduduk lemas di lantai kerangkeng, harapannya untuk bebas sirna, ternyata Malik bukan mau membebaskannya.


Malik lantas menyimpan kunci kerangkeng ke dalam kantong celananya. Dia lantas berdiri dan menggotong tubuh Gavlin.


"Maafkan Aku, Vlin. Hanya ini satu satunya caraku menghentikan niatmu bunuh diri." Gumam bathin Malik.


Malik membopong tubuh Gavlin, Dia lantas mengambil tas koper berisi bom rakitan yang tergeletak di lantai, lalu, Malik segera membawa Gavlin yang pingsan keluar dari dalam ruangan , meninggalkan Binsar sendirian, dan masih terkurung di dalam kerangkeng binatang yang hanya cukup dengan badannya saja.


---

__ADS_1


Di kamar hotel, tampak Indri masih tak bersemangat menjalani aktifitasnya sehari hari. Dia duduk di kursi meja rias yang ada di kamar hotel tempatnya menginap, Indri tampak malas untuk berdandan dan merapikan dirinya. Peralatan make up tergeletak di meja rias, Indri menatap sayu wajahnya di kaca cermin meja rias, ada pancaran rona kesedihan dan kerinduan pada wajah Indri, dia masih mengingat Gavlin dan tak bisa melupakan Gavlin begitu saja.



Indri mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lalu, dia merapikan rambutnya dengan tangannya, kemudian, Indri menghela nafasnya, lalu, dia memoles wajahnya dengan sedikit alat rias.


Pintu kamar di ketuk dari luar, Indri mengira, pasti yang datang adalah Rifai. Dengan malas malasan Indri bangun dan berdiri dari duduknya di kursi meja rias, lalu, dia berjalan pelan menuju pintu kamar.


Saat Indri hendak membuka pintu kamarnya, Dia kaget, karena kakinya menginjak selembar kertas yang tergeletak di lantai, di celah pintu kamarnya.


Indri heran melihat Lembar kertas itu, dia lalu mengambil dan membaca lembar kertas yang ada di lantai kamarnya, seperti sengaja dimasukkan seseorang dari celah bawah pintu kamarnya.


"Selamatkan Gavlin, dia mau bunuh diri, temui dia di alamat yang ada pada kertas ini."


Begitu isi pesan yang di tulis dalam lembar kertas tersebut, membaca ada nama Gavlin di sebut dan mau bunuh diri, Indri syock, dengan cepat Dia membuka pintu kamar , lalu segera keluar dari dalam kamarnya, tak lupa dia mencabut kunci kamar dan membawanya.


Saat Indri berada di luar kamar, dia melihat seorang Pria berjalan menjauh dan lalu berbelok arah, Indri cepat berlari mengejar Pria tersebut, dia menutup Pintu kamarnya begitu saja, pintu perlahan lahan bergerak menutup kembali.



Indri menduga, pasti Pria tersebut yang memberikan kertas tersebut padanya melalui celah lubang di bawah pintu kamarnya, apalagi dia melihat, Pria itu berjalan dari arah kamarnya.


Indri mengejarnya, karena dia ingin tahu, siapa orang tersebut dan apa hubungannya dengan Gavlin.


Sang Pria yang memakai topi tak tahu jika dirinya sedang di kejar Indri, Dia tiba di depan lift, dan berdiri menunggu pintu lift terbuka.


Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka, Sang Pria bertopi itu hendak melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam lift, namun, tiba tiba saja, tangannya di pegang Indri yang sudah berdiri di belakangnya.


Indri menarik paksa Pria sehingga dia tak jadi masuk ke dalam lift, pintu lift tertutup kembali, dan sang Pria terjajar ke belakang, karena ditangannya di tarik paksa Indri.


Dengan cepat Indri mengambil topi sang Pria, Indri ingin tahu wajah Pria dengan jelas, Dia lantas berdiri di hadapan sang Pria yang kaget melihat Indri sudah ada di hadapannya.


"Siapa kamu? Mengapa kamu melemparkan kertas ini ke kamarku? Dan apa hubunganmu dengan Gavlin?!!" Tanya Indri, memberondong pertanyaan pada Sang Pria tersebut, sambil menunjuk kertas yang ada ditangannya.


"Aku Malik, sahabat baik Gavlin. Aku sengaja memberikan surat itu padamu, agar kamu menemui Gavlin dan mencegahnya bunuh diri." ujar Malik, menatap serius wajah Indri yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Ternyata, yang memberikan kertas dan menyamar itu adalah Malik, dia sengaja menemui Indri untuk memberitahu Indri tentang rencana Gavlin yang mau bunuh diri.


"Kenapa Gavlin mau bunuh diri?!" Tanya Indri, kaget dan menatap tajam wajah Malik.


"Karena patah hati, Dia seperti putus asa saat melihatmu sudah bersama Pria lain di sini." ujar Malik dengan wajahnya yang serius, mencoba menjelaskan pada Indri.


"Gavlin salah paham padaku! Pria itu bukan kekasihku, apalagi suamiku!! Dia Rifai namanya, Saudara sepupuku, yang sengaja aku minta menemani dan menjagaku selama aku menggelar pameranku di kota Paris ini !!" ujar Indri, dengan wajahnya yang serius , menjelaskan pada Malik yang berdiri dihadapannya itu.


"Sudah aku duga, kalo kamu gak akan mengkhianati cinta Gavlin, dan Pria itu aku liat lebih seperti pengawalmu, bukan seperti pacar atau suamimu!" tegas Malik, menatap serius wajah Indri.


"Tapi, sebaiknya, kamu langsung yang menjelaskannya pada Gavlin, agar dia tau, dan gak salah paham lagi denganmu!" ujar Malik, menatap serius wajah Indri.


"Mungkin, dengan kamu datang menemuinya, kamu bisa menghentikan niat Gavlin bunuh diri." Lanjut Malik, memberi penjelasan pada Indri.


"Baik, Akan aku temui Gavlin ! Aku memang sangat ingin bertemu dengan Gavlin, dan menjelaskan semua kesalah pahamannya itu!" Ungkap Indri dengan wajahnya yang serius, memberi tahu Malik.


"Sebaiknya, secepatnya kamu datang menemuinya, Gavlin ada di alamat yang aku tuliskan di kertas itu." ujar Malik, dengan wajah serius menatap wajah Indri, sambil menunjuk kertas yang ada di dalam genggaman tangan Indri.


"Ya. Aku pasti datang, terima kasih sebelumnya sudah datang dan memberi tahu tentang Gavlin padaku!" Ujar Indri, menatap wajah Malik.


"Aku melakukannya untuk Gavlin. Karena aku gak ingin melihat Gavlin mati bunuh diri karena patah hati oleh cintanya yang hilang dan kandas!" ungkap Malik, menatap tajam wajah Indri yang berdiri didepannya itu.


Indri lantas terdiam mendengar perkataan Malik, Malik menatap lekat wajah Indri yang berdiri dihadapannya itu.


"Aku pergi." Ujar Malik.


Tanpa menunggu jawaban dari Indri, Malik langsung cepat berbalik badan dan pergi meninggalkan Indri yang masih berdiri diam terpaku di tempatnya.


Sesaat kemudian, Indri lalu tersadar, dia lantas melihat kembali lembar kertas yang di pegangnya, dan Dia membaca alamat tempat Gavlin berada.


"Aku harus cepat cepat menemui Gavlin, jangan sampai aku terlambat datang dan Gavlin sudah melakukan hal nekat dalam hidupnya!!" Gumam Indri, dengan wajahnya yang tegang dan tampak cemas itu.


Indri sangat khawatir, Gavlin akan nekat bunuh diri karena telah salah paham dengan dirinya, maka, Dia pun lantas segera berbalik badan dan berlari cepat menuju kamar hotelnya lagi.


Indri ingin merapikan dirinya dan berganti pakaian sebelum dia datang menemui Gavlin. Wajahnya mulai berubah, tampak wajahnya sedikit cerah dan senang, tak terlihat lagi pancaran rona kesedihan di raut wajahnya, karena dia sebentar lagi akan bertemu kembali dengan Gavlin.

__ADS_1


Indri sangat berharap, nantinya, pertemuannya dengan Gavlin akan menjadi sebuah akhir yang bahagia untuk mereka berdua, dan Gavlin bisa menghilangkan ke salah pahaman dirinya serta mau menerima segala macam penjelasan yang akan dia sampaikan nantinya pada Gavlin.


__ADS_2