
Peter menemui Jack Hutabarat di ruang kerjanya, tampak wajah Peter senang, dia seperti baru saja mendapatkan hal yang menyenangkan.
"Ada info apa?" tanya Jack Hutabarat, penasaran melihat wajah Peter yang tampak senang.
"Herman sudah siuman!" ujar Peter, dengan wajah senang.
"Menurut info dari anggotaku yang menyusup di timnya Gatot, Jika Dokter melihat kondisi Herman stabil, dia akan di pindahkan ke ruang rawat." jelas Peter.
"Kalo gitu, kita harus segera bergerak, kalo Herman sudah di pindahkan ke ruang rawat, artinya dia akan di nyatakan sembuh, dan Richard pasti akan langsung membawanya ke kantor polisi untuk ditahan!" ujar Jack.
"Wah, Kita harus cegah!" tegas Peter.
"Ya, memang harus secepatnya, kalo kamu gak mau Herman di tahan! Kalo Herman di tahan, habislah kita!!" tegas Jack, dengan wajah khawatir dan cemasnya.
"Ok. Kalo gitu, akan ku datangi rumah sakit itu!" ujar Peter.
"Kamu yakin?" tanya Jack, penasaran.
"Ya, Aku yakin, aku pasti bisa membawa pergi Herman dari rumah sakit itu!" tegas Peter dengan wajahnya yang serius.
"Baiklah, aku percayakan sepenuhnya padamu!" tegas Jack.
"Ya." Jawab Peter.
---
Di dalam kamar ruang iCU, Dokter sedang memeriksa kondisi terkini Herman yang sudah sadar dari komanya.
Wajah Herman masih terlihat pucat, dan tubuhnya juga lemah, dia hanya diam berbaring di atas kasur, membiarkan Dokter memeriksa kondisi tubuhnya.
Herman melihat, ada seorang Petugas Polisi yang berdiri di belakang Dokter, dengan posisi siap siaga. Lalu, Herman melihat tangannya yang di borgol di ranjang.
Herman pun menyadari, kalau saat ini dirinya berada dalam tahanan Gatot dan Richard di rumah sakit.
Dokter selesai memeriksa Herman, lalu, bersama Suster, Dokter pun pergi keluar dari dalam kamar ruang ICU di ikuti Petugas Polisi yang melindungi Dokter dan Suster.
Herman melihat Dokter dan Suster beserta Petugas Polisi keluar dari dalam kamar ruang ICU , dia pun lantas menghela nafasnya dengan berat. Lalu, dia memandang langit langit kamar.
---
Di sebuah lokasi perjudian, tampak Jafar sedang bermain judi, dia kembali bermain judi setelah dia menghasilkan uang yang banyak dari hasil perampokannya.
Namun, Jafar kembali mengalami kekalahan yang sangat besar, dia kesal dan marah, Jafar sangat bernafsu untuk menang, dia melihat sisa uang puluhan juta miliknya di atas meja.
Jafar mengintip kartunya, dia yakin, kartunya bagus, dan dia pasti menang, Jafar pun dengan berani mempertaruhkan semua uang yang dia miliki, tak ada yang tersisa, semuanya sudah habis di jadikannya taruhan.
Para lawan judi Jafar diam, diantara mereka ada yang melihat kartunya, ada juga yang tengah berfikir, dan ada yang melirik pada Jafar. Dua lawan judi Jafar pun ikut taruhan, mereka meletakkan uang mereka ke tengah meja, menggabungkannya dengan uang Jafar.
Jafar tersenyum senang, dia merasa akan menang saat ini, dengan percaya diri, Jafar pun lantas membuka kartunya, lalu, dengan percaya diri, dia mau mengambil seluruh uang taruhan judi.
"Tunggu dulu." ujar salah seorang penjudi.
Penjudi itu mencegah Jafar untuk menarik uang taruhan yang ada di tengah meja, lalu, dia membuka kartunya. Mata Jafar terbelalak lebar, dia syock dan sangat kaget.
__ADS_1
Ternyata kartu Penjudi itu lebih tinggi, dan Jafar pun kalah, Penjudi tertawa senang mengambil seluruh uang taruhan, Jafar sangat kesal dan kecewa serta marah.
Dia masih ingin bermain lagi, namun, dia sudah tak punya uang sama sekali, Jafar pun duduk dan diam ditempatnya.
"Apa anda masih mau bemain?" tanya Bandar.
Tanpa menjawab pertanyaan sang Bandar, Jafar beranjak dari duduknya, lalu, dengan wajahnya yang kesal dan marah, dia langsung pergi keluar dari dalam ruang perjudian tersebut.
---
Peter dengan di kawal enam anggota kepolisian mendatangi kamar ruang ICU Herman. Saat dia hendak masuk ke dalam kamar, seorang Petugas Polisi menghalanginya.
"Maaf, Bapak di larang masuk ke dalam!" tegas Petugas Polisi.
"Kamu berani melarang Kapolda?!!" bentak Peter marah.
"Maaf, Pak. Saya hanya menuruti perintah atasan saya!" ujar Petugas Polisi.
"Bilang atasanmu si Gatot itu!! Peter, Kepala Polisi Daerah datang berkunjung ke kamar Herman!!" Tegas Peter, dengan wajahnya yang marah.
"Minggir kamu!!" Tegas Peter.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa membiarkan Bapak masuk!" ujar Petugas Polisi.
Petugas Polisi berdiri tepat di depan pintu masuk, dia menghalangi Peter agar tak bisa membuka pintu, Peter semakin geram dan marah melihat sikap Petugas Polisi yang tak mematuhi serta tak menghargai dirinya sebagai Kapolda.
Petugas Polisi berani menentang dan melarang Peter, sebab, dia menjalankan tugas bukan dari Gatot, namun, dari Richard langsung, sebagai Pemimpin tertinggi di kepolisian saat ini, dan menjadi atasan Peter.
Peter mengira, Petugas Polisi tersebut anak buah Gatot, maka Peter pun membentaknya dan marah.
Melihat rekannya di pukul Peter, beberapa Petugas Polisi yang berjaga di dekat mereka langsung mengarahkan senjatanya kepada Peter.
Peter pun geram dan marah melihat mereka, wajahnya tampak memerah karena marah.
"Habisi mereka !!" teriak Peter marah.
Mendengar teriakan Peter, Para Petugas Polisi anak buah Richard dan Gatot bersiap siap, dan anak buah Peter juga lalu mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya pada anak buah Gatot serta Richard.
Tiba tiba saja, dari arah belakang, terdengar suara tembakan, Para Petugas Polisi dari pihak Gatot dan Richard seketika jatuh terkapar di lantai.
Mereka semua di tembak dari belakang, ternyata Peter sudah merencanakan semuanya, dia tahu, bahwa dia akan di halangi dan di larang masuk ke dalam kamar ruang ICU untuk menemui Herman, maka dari itu, tak ada pilihan lain baginya, selain dia harus membantai para anak buah Gatot dan Richard yang berjaga jaga.
Peter tersenyum sinis, melihat para pasukan polisi, anak buah Gatot dan Richard mati. Lalu, dia pun segera masuk ke dalam kamar ruang ICU.
"Peter !" ujar Herman.
Herman senang melihat Peter masuk ke dalam kamar ruang ICU bersama anak buahnya, Herman tadi mendengar suara tembakan di luar. Peter mendekati Herman.
"Kita harus cepat pergi!" ujar Peter.
"Lepaskan dulu borgolku!" ujar Herman, menunjuk tangannya yang di borgol diranjang.
Peter pun lalu menembak borgol dengan pistolnya, borgol pun rusak dan terlepas. Herman lantas segera turun dari ranjang dengan di bantu Peter.
__ADS_1
"Kamu bisa berjalan? Kuat?" tanya Peter.
"Nggak." ujar Herman.
"Ok, aku akan memapahmu keluar!" ujar Peter.
Peter lantas merangkul tubuh Herman, dia lantas memapah Herman, membawanya segera keluar dari dalam kamar ruang ICU.
Herman beserta Peter dan para anak buahnya keluar dari dalam kamar ruang ICU, mereka bergegas jalan, lalu masuk ke dalam lift.
Saat di dalam lift, Peter lalu menekan tombol lantai parkiran mobil, dia masih memapah Herman yang terlihat lemah dan pucat itu.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka, dengan cepat, para anak buah Peter keluar dari dalam lift dan mengamankan area parkiran.
Peter keluar dari dalam lift bersama Herman, lalu, dengan di jaga para anak buahnya, dia membawa Herman ke mobilnya yang ada di parkiran rumah sakit tersebut.
Seorang Petugas Polisi membukakan pintu mobil, lalu, Peter segera memasukkan Herman ke dalam mobilnya, lantas, di tutupnya pintu mobil, kemudian, dia pun segera masuk ke dalam mobilnya.
Para anggota Polisi pun bergegas masuk ke dalam mobil mereka, sesaat kemudian, mobil Peter pun berjalan, pergi keluar dari halaman parkir rumah sakit dengan di ikuti mobil anak buahnya dibelakang.
Tampak Herman duduk diam di jok depan, di samping Peter yang menyetir mobilnya. Mobil pun melaju dengan cepat di jalan raya. Peter berhasil membawa kabur Herman dari rumah sakit.
"Terima kasih Peter." ucap Herman lemah.
"Ya, sebagai sahabat baik, kita harus saling tolong menolong, Man!" tegas Peter, sambil tetap menyetir mobilnya.
"Ya." Jawab Herman, dengan suaranya yang lemah.
Mobil terus melaju di jalanan raya dengan kecepatan tinggi, dan di belakang, mobil anak buah Peter mengikuti.
---
Di sebuah tempat yang sepi dan suasana gelap malam hari, seorang Pria berjalan menyusuri trotoar jalan, tiba tiba seseorang cepat menghampiri dan menyergapnya, lalu, orang tersebut membawa sang Pria ke samping ruko yang gelap.
Tanpa ada sepatah kata, orang tersebut langsung menggorok leher Pria tersebut, Sang Pria pun mati seketika, Orang tersebut lantas melemparkan tubuh Pria yang sudah mati ke tanah.
Lalu, Orang tersebut, menggeledah seluruh kantong celana si Pria yang sudah mati, dia menemukan beberapa lembar uang, dengan cepat di kantonginya uang tersebut.
Lalu, Orang itu mengambil dompet si Pria, lalu, dia mengambil lembaran uang ratusan ribu dari dalam dompet, kemudian, dia segera melepaskan jam tangan, kalung berantai emas milik si Pria.
Lalu, Orang tersebut segera pergi meninggalkan mayat si Pria tergeletak di tanah dengan kondisi leher tergorok.
Orang tersebut berlari dan masuk ke dalam mobilnya yang dia parkir tidak jauh dari lokasi pembunuhan tadi.
Orang tersebut duduk di jok depan mobilnya, lalu, dia membuka topengnya, orang tersebut ternyata Jafar.
Jafar kembali beraksi, setelah dua hari dia merampok dan membunuh, dia sekarang membunuh lagi, dan sekarang, targetnya menjadi tak terduga, siapa saja yang dia temukan, langsung di bunuhnya dan uangnya diambil.
Jafar yang benar benar sudah kecanduan judi dan mabuk mabukan mulai kambuh lagi rasa ingin membunuhnya seperti dulu.
Dia pun kembali seperti dulu, menjadi seorang pembunuh yang berdarah dingin, semua di lakukan Jafar hanya demi memuaskan nafsunya bermain judi dan mabuk mabukan.
Jafar tersenyum sinis, lantas, dia pun menyalakan mesin mobilnya, lalu, dia segera menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Keesokan paginya, lokasi sekitar ruko digegerkan oleh teriakan seorang wanita yang menemukan mayat seorang Pria dengan kondisi leher hampir putus karena di gorok.
Seketika, ramai orang orang berdatangan ke lokasi hanya untuk melihat mayat sang Pria yang di bunuh dengan keji itu.