VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Berhutang Nyawa


__ADS_3

Tak berapa lama datanglah Peter sendirian, dia masuk ke dalam ruangan tersebut dengan santai dan cuek, dia berdiri diam menunggu kedatangan Andre.


Dari tempat persembunyiannya Gavlin terus mengintai dan mengamati Peter yang sedang berdiri menunggu Andre yang belum juga datang.


Gavlin lantas mengambil dua pistol dari pinggangnya, dia lantas bersiap siap sambil tetap memperhatikan gerak gerik Peter, dan dia juga mengamati Herman dan Jack yang sedang bersembunyi bersama 6 pengawalnya.


Peter mengambil ponselnya dari kantong celananya, dia lantas menghubungi Andre yang belum juga datang, padahal sudah lewat dari jam 8 malam.


"Dimana posisimu sekarang?" tanya Peter, melalui ponselnya.


"Sudah sampai, sekarang aku masuk ke dalam gedung kantor." jawab Andre dari seberang telepon.


Andre masuk ke dalam gedung kantor milik Bramantio yang kosong, di luar gedung, dia sama sekali tak melihat mobil mobil lainnya, hanya ada 1 mobil saja di halaman gedung perkantoran, dan mobil itu milik Peter.


Sementara, mobil milik Herman, Jack dan 6 pengawal di sembunyikan di belakang gedung kantor tersebut, agar Andre tak mengetahui kalau mereka juga datang.


Begitu juga dengan mobil Gavlin, Gavlin juga menyembunyikan mobilnya di luar gedung, agar tak ada yang tahu, jika dia juga ada di dalam gedung kantor milik Bramantio saat ini.


Peter menyimpan ponselnya di dalam kantong celananya, dia melihat Andre datang dan berjalan menghampirinya, Peter pun tampak senang, dia tersenyum licik melihat Andre yang berjalan tenang ke arahnya.


"Apa kabar Andre ?" tanya Peter, menyambutnya dengan pura pura bersikap ramah.


Andre diam dan tak menjawab sapaan Peter, sebenarnya Andre tak suka pada Peter, dia muak melihat wajahnya, hanya karena Peter mau memberikan bukti kejahatan Herman dan Jack, dia mau datang bertemu Peter, itu terpaksa dilakukannya karena dia memang butuh tambahan bukti lainnya agar bisa menyeret Herman dan Jack ke persidangan.


Andre juga tak akan melepaskan Peter, biar dia menyerahkan bukti kejahatan Herman, tetap dia akan menyeret Peter ke persidangan, dan Peter tak tahu, jika Andre berencana seperti itu.


Peter mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan, tapi Andre menolaknya, dia tak mau berjabatan tangan dengan Peter. Dari tempat persembunyiannya, Gavlin tersenyum sinis pada Peter, karena Andre menolak uluran tangan Peter.


"Gak perlu basa basi Peter, kita bukan teman. Langsung saja ke intinya, mana berkas bukti kejahatan Herman dan Jack yang kamu bilang itu?!" tanya Andre dengan wajahnya yang serius menatap wajah Peter.


Peter tersenyum kecil, dia menatap wajah Andre yang berdiri dihadapannya itu.


"Rupanya kamu udah gak sabar mau menjebloskan Herman dan Jack." ujar Peter, tertawa kecil.


Andre diam, tak bereaksi dengan ucapan Peter, dia tetap berdiri menatap tajam wajah Peter. Diam diam, kedua mata Andre liar mengawasi sekitar ruangan tersebut.


Instingnya sebagai Polisi yang sangat berpengalaman di bidangnya mencium gelagat yang mencurigakan dalam ruangan tersebut. Apalagi dia melihat, secara samar samar, ada sebuah bayangan sosok seseorang dari salah satu tempat persembunyian.


Andre pun diam diam mulai siap siaga, dia waspada, dengan segala kemungkinan terburuk, yang bisa saja terjadi saat ini.


"Mana berkas bukti kejahatan Herman dan Jack?" tanya Andre, mulai tampak curiga pada Peter.


Andre bertanya, sebab, Peter tak ada memegang map di tangannya, itu yang membuat curiga Andre juga pada Peter.


"Santai, kita tunggu anak buahku, berkasnya ada sama anak buahku, sebentar lagi dia datang." ujar Peter, tersenyum licik.


Andre diam, dia menatap tajam wajah Peter, dia semakin tak percaya dengan apa yang di katakan Peter.


Lalu, dengan gerak cepat, Andre mengambil pistol dari pinggangnya, dia lantas menodongkan pistolnya ke arah Peter.


"Jangan coba coba membodohiku Peter !!" ujar Andre, sambil mengarahkan pistol ditangannya pada wajah Peter.


Peter terhenyak kaget melihat Andre menodongkan pistol padanya, ada sedikit ketakutan dan kecemasan dalam diri Peter, dia takut, Andre menembaknya karena tak percaya dan curiga padanya.


Mata Peter bergerak melirik ke kanan ke kiri, dia berharap, Herman dan Jack serta anak buahnya yang bersembunyi segera keluar dan menyergap Andre.


Sementara, Gavlin di tempat persembunyiannya tetap mengamati sambil memegang dua pistol ditangannya.


"Santai Ndre, jangan gegabah, aku gak membohongimu, percayalah!" ujar Peter, mencoba meyakinkan Andre.


"Aku gak percaya!" ujar Andre geram, sambil terus mengarahkan pistolnya ke kepala Peter.


Tiba tiba, muncul Herman dan Jack serta 6 pengawal Herman, mereka keluar dari tempat persembunyiannya sambil memegang pistol ditangannya masing masing.


"Buang pistolmu Andre !!" bentak Herman, sambil mengarahkan pistolnya pada Andre.

__ADS_1


Andre kaget, karena ada Herman dan Jack serta 6 pengawal yang menodong dirinya dengan pistol, Andre semakin geram dan marah pada Peter.


"Kurang ajar !! Kamu menjebakku Peter !!" bentak Andre marah.


Peter tersenyum sinis, dia menatap tajam wajah Andre yang sangat marah pada dirinya karena sudah di perdaya.


"Sungguh mudah memperdayamu, Andre ! Mana mungkin aku mengkhianati Herman dan Jack, berpuluh puluh tahun kami bersahabat baik, dan menjalani semua kejahatan kami bersama." ujar Peter, tersenyum sinis.


"Ku bunuh kamu!!" Hardik Andre geram dan marah.


"Hentikan Andre !! Jangan coba coba menembak Peter !! Akan aku hancurkan kepalamu dengan pistolku!!" bentak Jack, mengarahkan pistolnya pada Andre.


Andre diam, dia geram menatap wajah Jack yang menodongkan pistolnya pada dirinya.


Gavlin melihat Herman dan Jack yang berdiri disamping Peter.


Gavlin juga melihat 6 pengawal yang berdiri mengelilingi Andre. Andre dalam posisi di kepung, Gavlin pun geram. Dia tahu, nyawa Andre terancam saat ini.


"Ambil pistolnya!!" perintah Herman pada salah seorang pengawalnya.


Salah seorang pengawal mengangguk, lantas dia hendak mengambil pistol di tangan Andre, tiba tiba saja, pengawal itu terdiam sesaat, lalu, tubuhnya terjatuh dan terhempas ke lantai.


Peter, Herman dan Jack kaget melihat pengawal mati terkapar di lantai dengan kening berlubang dan mengeluarkan darah karena terkena peluru.


Mereka semua kaget, melihat ke segala arah, mereka tak mendengar suara letusan senjata, karena memang Gavlin memakai peredam suara di pistolnya.


Andre juga kaget, dia mencari cari, siapa yang menembak pengawal Herman tersebut.


"Keluar kalian, lindungi kami !!" teriak Peter pada anak buahnya.


Namun, ke 12 anak buahnya, tak juga keluar dari tempat persembunyian mereka. Peter heran, karena dia sudah menugaskan 12 anak buahnya untuk bersembunyi dan berjaga serta melindungi mereka. Namun, anak buahnya tak ada yang keluar dari tempat persembunyiannya.


Peter geram dan kesal pada anak buahnya. Dia lantas menatap tajam wajah Andre yang masih mengarahkan pistolnya pada dirinya.


"Keparaaaatt, siapaaa kamuu !" Teriak Peter marah.


Dia marah, karena ada orang yang menembaki pengawal Herman. Melihat 2 pengawalnya mati di tembak, Herman dan Jack langsung berlari bersembunyi, untuk melindungi dirinya. Peter juga lantas berlari dan bersembunyi.


Gavlin terus menembak, lantas, 4 pengawal pribadi Herman terkapar dilantai, semuanya mati di tembak Gavlin. Andre lantas bergegas bersembunyi.


Gavlin keluar dari tempat persembunyiannya, dia ingin menghampiri Andre yang juga bersembunyi.


Herman melihat Gavlin yang keluar dari persembunyiannya, dia kaget, tak menyangka Gavlin ada di gedung tersebut.


"Sial!! Anak setan itu ada disini!!" bentak Herman geram dan marah.


"Dia bagai Hantu, tiba tiba saja muncul di hadapan kita!!" ujar Jack, dari tempat persembunyiannya, didekat Herman bersembunyi.


"Darimana anak setan itu tau, kalo kita ada di sini? Apa dia kerjasama dengan si Andre?!" ujar Herman geram.


"Entahlah!" ujar Jack.


Peter yang bersembunyi tersentak kaget, dia melihat anak buahnya, para petugas kepolisian mati dengan kondisi leher di gorok.


Peter terdiam, dia pun baru menyadari, bahwa 12 anak buahnya sudah mati, karena itu, mereka tadi tidak menyerang Andre dan si penembak misterius.


Peter mengintip dari tempat persembunyiannya, dia melihat Gavlin menyelinap ke arah Andre, Peter geram.


"Gavliin?!! Keparaaat!!" ujar Peter.


Peter mengambil pistol dari pinggangnya, lalu, dia menembak Gavlin. Dengan amarahnya, Peter menembak Gavlin.


Gavlin membalas tembakan Peter, Herman dan Jack yang melihat Peter menembaki Gavlin lantas ikut menembak, mereka menembak Andre yang bersembunyi. Andre lalu melepaskan tembakannya ke arah Herman dan juga Jack.


Aksi tembak menembak pun terjadi antara Peter, Herman dan Jack dengan Andre juga Gavlin.

__ADS_1


Peter lantas berlari , dia berpindah tempat ke persembunyian Herman dan Jack.


"Sebaiknya kita lari dari sini, kita bertiga gak akan bisa mengalahkan Andre dan si Gavlin !" ujar Peter.


"Ya." Angguk Herman dan Jack.


Lalu, dengan secara diam diam, mereka mengendap endap berjalan mundur, mereka berusaha melarikan diri dari ruangan tersebut.


Gavlin terus menembaki mereka, begitu juga dengan Andre.


Gavlin melihat Herman, Jack dan Peter hendak melarikan diri keluar ruangan, Gavlin cepat keluar dari tempat persembunyiannya. Dia mau mengejar ketiganya yang sudah lari keluar ruangan.


Andre yang melihat Gavlin mau mengejar Herman, Jack dan Peter langsung keluar dari tempat persembunyiannya.


"Berhenti kamu !! Jangan kejar mereka!!" bentak Andre.


Andre mengarahkan pistolnya pada Gavlin, Gavlin menghentikan langkahnya, dia berdiri diam ditempatnya sambil membelakangi Andre.


"Buang pistolmu !! Dan siapa kamu?!" bentak Andre bertanya.


Gavlin mengangkat kedua tangannya yang masih memegang dua pistol. Lalu, perlahan lahan, Gavlin berbalik badan, lantas, dia pun berdiri berhadapan dengan Andre.


"Gavliin?!!" ujar Andre, tersentak kaget.


Andre tak menyangka, jika orang yang membantu dia adalah Gavlin. Gavlin berdiri dengan sikap tenang di hadapan Andre.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Andre.


"Menyelamatkanmu." ujar Gavlin, santai dan tenang, sambil masih mengangkat kedua tangannya yang memegang pistol.


"Apa maksudmu?!" tanya Andre heran.


"Aku tau, Peter mau menjebakmu, dan aku berusaha untuk mencegahmu, agar jangan menemui Peter, tapi telepon di ruang kerjamu gak diangkat, sementara, aku gak punya hapemu!" jelas Gavlin.


"Karena gak bisa menghubungimu, aku datang kesini, untuk menolongmu dari perangkap Peter dan teman temannya!" tegas Gavlin.


"Kenapa kamu mau menolongku? Kita musuh, aku polisi, dan kamu buronan kami!" tegas Andre.


"Demi Teguh ! Aku tau, Teguh sangat percaya padamu, dan dia berpesan juga padaku, agar tidak baku hantam denganmu dan kita tidak saling bunuh!" ujar Gavlin menjelaskan.


"Teguh?!" ujar Andre.


Andre diam sesaat, dia lantas mengingat perkataan Teguh dulu, yang menjelaskan tentang diri Gavlin, Teguh juga meminta dirinya agar tidak membunuh Gavlin.


"Baiklah. Kali ini aku lepaskan kamu, karena sudah menolongku." ujar Andre.


"Tapi ingatlah Gavlin, jangan sampai kita berhadapan seperti ini lagi, karena, jika terjadi, aku gak akan bisa menghindari, kita akan saling bunuh nantinya. Jangan sampai kita bertemu muka lagi, demi Teguh!" tegas Andre.


"Liat saja nanti!" ujar Gavlin santai.


"Sekarang, pergilah Gavlin." ujar Andre.


Gavlin lantas menurunkan kedua tangannya yang terangkat, dia menatap tajam wajah Andre yang berdiri dihadapannya.


"Terima kasih, sudah menyelamatkanku." ujar Andre bersungguh sungguh.


Gavlin, diam dan tak menjawab, dia lalu langsung berlari pergi keluar dari dalam ruangan, Gavlin meninggalkan Andre sendirian, dia mau mengejar Herman, Peter dan Jack yang sudah melarikan diri.


Andre lantas menyimpan pistolnya ke sarung pistol yang ada di pinggangnya. Dia menghela nafas.


"Kalo saja gak ada Gavlin, aku pasti sudah mati di bunuh Peter. Aku berhutang nyawa sama Gavlin." Gumam Andre.


"Samuel ?! Ya. Aku harus memberitahu dan melindungi Samuel, Herman dan komplotannya pasti juga mengincar Samuel, karena dia yang akan menjadi Jaksa Penuntut, jangan sampai Samuel terbunuh, aku harus cepat melindunginya!!" ujar Andre.


Andre tersadar dan mengingat Samuel, dia tahu, nyawa Samuel terancam. Andre lantas bergegas lari keluar dari dalam ruangan untuk segera menemui Samuel, dan memberi tahu Samuel serta melindunginya.

__ADS_1


__ADS_2