VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Denyut Asmara


__ADS_3

 Dengan wajah kesal Gavlin melangkah cepat mendekati Linda yang berdiri dijalanan, didepan mobilnya .


"Kamu udah gila ya ?! Tiba tiba nyalip mobilku, sengaja mau buat aku celaka ?!" Ujar Gavlin memarahi Linda yang diam menatap wajahnya.


"Apa mau kamu ?!" Tanya Gavlin menatap lekat wajah cantik Linda yang menatapnya.


"Aku mau kamu." Ujar Linda.


"Maksudmu ?" Tanya Gavlin dengan wajah bingung.


"Aku mau ketemuan sama kamu, tapi kamu gak angkat angkat telpon, malah sengaja kamu matiin hapemu, aku jadi kesal." Ujar Linda.


Linda tertunduk, Gavlin menatap tajam wajah Linda yang tertunduk di depannya.


"Aku lagi nyetir, nganterin bosku pulang dari kantornya, kamu kan tau, aku supir, gak kan bisa terima telpon kalo sedang bersama bosku." Ujar Gavlin.


"Lagian kita gak ada hubungan apa apa, kenapa kamu kesal telponmu gak aku angkat, aneh." Ujar Gavlin.


"Aku telpon kamu, karena ingin ketemu, ngajak kamu ke tempat wisata, ada yang mau aku bilang ke kamu." Ujar Linda.


Dia menatap wajah Gavlin dengan tatapan sendu dengan penuh cinta dihatinya pada Gavlin.


"Aku gak ada waktu buat semua itu." Ujar Gavlin.


"Tapi Vlin..." Ujar Linda, dia tak jadi melanjutkan ucapannya karena sudah dipotong Gavlin.


"Sudahlah Lin, aku mau pulang, capek, hari ini membuatku kesal." Ujar Gavlin, dia berbalik hendak pergi meninggalkan Linda.


"Tunggu Vlin, please, dengar dulu, aku mau bicara sebentar." Ujar Linda memegang tangan Gavlin.


Linda menahannya agar tidak pergi. Gavlin melirik ke tangannya yang dipegang Linda, dia lepaskan pegangan tangan Linda di tangannya.


"Kapan kapan aja kita bicara." Ujar Gavlin lalu berjalan pergi meninggalkan Linda yang terlihat kesal karena sikap cuek Gavlin padanya.


"Aku gak kan pergi sebelum kamu mendengarkan semua yang akan ku katakan padamu Vlin !" Teriak Linda pada Gavlin yang melangkah menuju mobilnya.


"Aku akan terus berdiri di sini sampai kamu datang kembali padaku dan mendengarkan isi hatiku." Ujar Linda teriak kembali.


Langkah Gavlin terhenti, dia diam berdiri ditempatnya tanpa membalikkan badannya.


"Aku gak perduli apa kata semua orang Vlin, aku gak perduli jika orang menilaiku cewek murahan !" Teriak Linda.


"Aku gak perduli semua yang di bilang orang tentangku !" Ujar Linda dengan suara kerasnya.


Terlihat air matanya sudah mulai menggenang di kelopak matanya, Linda menahannya agar air matanya tidak jatuh.


"Jujur ku katakan padamu, sejak ketemu kamu, aku jatuh hati denganmu." Ujar Linda.


"Aku mencintaimu, aku ingin, kamu menjadi pacarku." Ujar Linda lagi dengan suara keras.


Terdengar suaranya sedikit parau karena dia sedang menahan tangisnya.


"Aku juga gak tau kenapa aku begini padamu, aku tau diriku gak kan mudah jatuh hati dengan pria manapun sebelum aku benar benar kenal!" Ujar Linda.


"Tapi kamu beda Vlin, bagiku, kamu berbeda dengan pria lainnya." Ujar Linda mulai meneteskan air matanya, mengalir di pipinya.


Gavlin masih diam berdiri di tempatnya, mendengarkan perkataan Linda yang to the poin padanya.


"Itu sebabnya aku menelponmu, karena aku gak bisa menahan gejolak rindu dihatiku, pikiranku selalu tertuju padamu."


"Begitu aku coba menghilangkannya dari pikiranku, rasa rindu itu semakin besar padamu." Linda menangis.


"Hatiku bergetar, jantungku berdetak kencang, aku terus mengingatmu." Ujar Linda di sela isak tangisnya.


Gavlin membalikkan tubuhnya, dia menatap wajah Linda dengan tetap berdiri ditempatnya.


"Aku gak pantas mencintaimu Lin, aku gak pantas buatmu, aku cuma supir, derajat kita berbeda." Ujar Gavlin menatap lekat wajah Linda.


"Aku gak perduli semua itu Vlin, apapun akan aku lakukan untuk bisa selalu bersama kamu." Ujar Linda.


"Sekalipun aku harus meninggalkan semua harta harta yang kumiliki !" Linda masih menangis.


Linda menumpahkan perasaannya pada Gavlin yang diam menghela nafas menatap wajah Linda yang menangis itu.


"Aku bukan pria seperti yang kamu pikirkan Lin, aku berbeda dari yang lain." Ujar Gavlin pada Linda.


"Justru karena aku tau kamu berbeda dengan pria lain aku jatuh cinta padamu!" Ujar Linda tegas.


"Aku sangat mencintaimu Vlin, aku begitu merindukanmu." Ujar Linda dengan suara Lirih.


"Aku ingin kamu selalu bersamaku, dekat denganku, aku gak perduli dengan pandangan orang orang terhadap kita !" Ujar Linda menangis.


"Apa aku gak pantas buatmu Vlin? Apa aku gak punya hak untuk menyatakan cintaku padamu?" Tanya Linda.


"Apa aku gak ada kesempatan untuk bisa bersamamu, mencintaimu?" Ujar Linda bertanya pada Gavlin.


Linda menangis, Gavlin terdiam ditempatnya, berfikir sejenak, dia menatap wajah Linda yang menangis itu, Gavlin tak bergeming.


"Jika kamu gak memberiku kesempatan, jika memang aku gak punya hak untuk menyatakan perasaanku, biarlah aku menghilang darimu." Ujar Linda.


"Aku gak tahan dan gak bisa jauh darimu, aku gak kan bisa melupakanmu." Linda terus menangis.


"Kamu satu satunya pria yang aku cintai, seumur hidupku, aku hanya menyatakan cinta padamu." Ujar Linda dalam tangisannya.


Dia menghapus air matanya yang membasahi pipinya, menatap lekat wajah Gavlin yang masih berdiri diam ditempatnya.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah membiarkan hatiku mencintaimu Vlin, terima kasih karena sesaat kamu ada dihatiku." Ujar Linda.


"Maaf, jika aku membuatmu gak nyaman, tapi itulah perasaanku yang sebenarnya padamu." Linds menghela nafasnya.


"Sampai kapanpun, aku akan tetap menunggu dan mencintaimu." Ujar Linda pada Gavlin di sela sela isak tangisnya.


Melihat Gavlin tidak ada reaksi sama sekali, Linda menyerah, dia berbalik, lalu berjalan menuju mobilnya, masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil.


Tiba tiba, Gavlin bergerak, melangkah cepat berjalan mengejar Linda yang sudah berada didalam mobilnya menyalakan mesin mobil.


Linda terlihat menangis, Gavlin datang membuka pintu mobil, dia langsung menerobos masuk ke dalam mobil.


Gavlin mendekati wajah Linda, memegang wajah Linda dengan tangannya.


Lalu, tanpa di duga sama sekali oleh Linda, bibir Gavlin menyentuh bibirnya.


Linda kaget, tak menyangka Gavlin memberikan kecupan di bibirnya, Linda terdiam, tak tahu harus bersikap bagaimana.


Bibir Gavlin menempel di bibirnya, sesaat kemudian Linda dan Gavlin beradu pandang, saling tatap tatapan mata.


Lantas Gavlin segera ******* bibir Linda dengan penuh kelembutan, mata Linda terpejam, merasakan kelembutan bibir Gavlin di bibirnya.


Perlahan lahan, yang tadinya Linda tidak bereaksi dengan kecupan bibir Gavlin, akhirnya dia luluh.


Linda lalu membalas ******* bibir Gavlin penuh kehangatan, mencurahkan segala kerinduan, cinta kasih mereka.


Sebuah pemandangan yang sangat indah saat itu, kemesraan terjalin diantara Gavlin dan Linda melalui kecupan kecupan lembut Gavlin.


Mereka tak perduli dengan orang orang yang wara wiri didalam mobil yang lewat dijalanan tempat mereka bermadu kasih.


Tangan Linda bergerak mencari cari tuas pengungkit jok mobil yang di dudukinya, dia menekan tuas , jok mobil bergeser kebelakang.


Linda sengaja berbuat itu agar dia nyaman duduk dan rebah di jok, agar Gavlin bisa lebih leluasa memeluk dan mencumbunya.


Linda pasrah pada Gavlin, dia yang memang sangat mencintai Gavlin, membiarkan dirinya jatuh dalam pelukan Gavlin, hanyut dalam kemesraan.


Setengah jam berlalu, Gavlin menghentikan perbuatannya, melepaskan bibirnya dari bibir Linda, dia menatap wajah Linda dengan lembut dan tersenyum.


"Jangan di sini, ini tempat umum, gak baik di liat orang." Ujar Gavlin dengan suara lembutnya.


Linda mengangguk lemah, dia mengembalikan posisi jok mobil kesemula, merapikan dirinya, menatap wajah Gavlin dengan senyum manisnya.


"Terima kasih ya Vlin." Ujarnya dengan sorot mata yang menunjukkan bahwa dirinya saat ini begitu sangat bahagia.


"Apa artinya, aku sekarang menjadi milikmu seutuhnya ?" Tanya Linda dengan tatapan lembut penuh kemesraan pada Gavlin yang mengangguk tersenyum.


Gavlin keluar dari dalam mobilnya, berdiri diluar, Linda melihat pada Gavlin.


"Aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu Vlin, boleh aku memintamu, untuk memberikan waktumu menemaniku hingga besok pagi ?" Ujar Linda.


Tatapan mata Linda lembut penuh cinta pada Gavlin yang berdiri diam ditempatnya.


Gavlin lalu menatap wajah Linda dengan lekat, tatapan yang mengisyaratkan ada sesuatu hal yang sedang di fikir dan bermain main didalam benaknya.


Linda menatap lekat menatap wajah Gavlin, menunggu jawaban dari Gavlin.


Linda yang saat ini masih merasakan getaran getaran kerinduan yang begitu mendalam.


Linda tidak mau kemesraan yang diberikan Gavlin hanya sesaat dan berlalu begitu saja.


Linda ingin melanjutkannya, berlama lama mencurahkan semua perasaannya pada Gavlin.


Linda yang terhanyut dalam cintanya, ingin berada didalam pelukan Gavlin sepanjang hari.


"Kamu mau kemana ?" Tanya Gavlin pada Linda. Linda senang mendengar pertanyaan Gavlin.


"Jika kamu mau, ikuti aku, aku akan mengajakmu ke tempat yang special buat kita berdua menghabiskan waktu." Ujar Linda.


Linda lalu tersenyum, dia menatap wajah Gavlin yang terdiam, wajah Gavlin di nilai Linda tampan.


Gavlin lalu menutup pintu mobil Linda, dia segera berbalik dan melangkah, berjalan menuju mobilnya.


Linda tersenyum senang melihat Gavlin yang berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobilnya, Gavlin segera menyalakan mesin mobil, Linda membunyikan klakson mobil.


Linda memberikan isyarat agar Gavlin mengikutinya, dari dalam mobil Gavlin mengangguk.


Linda lantas menjalankan mobilnya, Gavlin mengikuti mobil Linda dari belakang.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu, tempat yang menjadi kenangan yang sangat indah bagi diri Linda.


Mobil Linda melaju menyusuri jalan raya di ikuti mobil Gavlin yang melaju di belakangnya.


Gavlin tidak tahu, Linda akan membawanya kemana saat ini, dia hanya mengikuti kemana Linda pergi.


   Di ruang kerjanya, terlihat Bramantio marah besar, dia menggebrak meja kerjanya, Surya, Asisten Manager diam tertunduk, berdiri di hadapannya.


"Kenapa kalian bisa membiarkan tender itu lepas begitu saja dan memberikannya pada perusahaan Wijaya ?!" Bentak Bramantio.


"Kamu tau, berapa uang yang akan didapatkan Wijaya dari hasil mendapatkan proyek besar itu ?" Bentak Bramantio lagi.


"Maaf Pak, Pak Mike tidak bisa berbuat apa apa saat itu, Pak Susilo yang memutuskan. Ujar Surya.


"Sebagai perwakilan dari perusahaannya, Pak Susilo menunjuk perusahaan pak Wijaya sebagai pemenang tender." Ujar Surya.

__ADS_1


"Beliau lantas memberikan proyek itu pada pak Wijaya." Ujar Surya, Asisten Manager pada Bramantio.


"Sial ! Bodoh, Sangat Bodoh ! Sekarang dimana Mike ?" Ujar Bramantio dengan tatapan tajam penuh amarahnya.


"Pak Mike langsung pergi keluar kota pak." Ujar Surya.


Mendengar itu, Bramantio semakin marah, dia meninju meja kerjanya dengan kepalan tangannya, melampiaskan kekesalannya pada Mike.


Lalu Bramantio mengambil ponselnya, dia mencoba untuk menghubungi Mike.


"Dimana kamu ? Segera balik ke kantor, papah mau bicara denganmu !" Ujar Bramantio di telepon dengan suara tegas.


"Mau bicara soal proyek itu pah? Buat apa lagi, kita sudah kalah." Mike cuek.


"Ayolah pah, aku tidak bisa berbuat apa apa jika mereka lebih memilih perusahaan pak Wijaya." Ujar Mike menjawab telepon Bramantio dengan santai.


Mike berada didalam mobilnya, sambil menyetir dia menerima telepon dari papahnya.


"Tapi kenapa kamu tidak bisa membuat agar pak Susilo yakin dan memberikan proyek ke kamu?!" Ujar Bramantio, tak ada jawaban dari Mike di seberang telepon.


"Bodoh kamu !" Ujar Bramantio kesal dan menutup teleponnya, Asisten Manager hanya tertunduk diam mendengarkan.


"Keluar kamu dari ruangan saya ! Apa semua karyawan di perusahaan ini gak becus kerja?!" Bentak Bramantio.


"Tender yang gampang saja gagal mendapatkannya !" Ujar Bramantio dengan kesalnya.


Bramantio menghempaskan tubuhnya, duduk di kerjanya, Asisten Manager memberi hormat lalu pergi keluar dari ruang kerja Bramantio.


Surya meninggalkan Bramantio sendiri yang terlihat sangat marah karena gagal mendapatkan proyek besar yang sudah di incarnya.


"Wijayaaa...dengan merebut proyek itu dariku, artinya kamu sudah menyatakan perang denganku." Ujar Bramantio dengan tatapan mata yang menahan amarah.


Bramantio geram pada Wijaya karena telah menikungnya, dan  mengambil proyek.


Proyek yang sebelumnya sudah pasti akan jatuh ketangan dirinya, dia terlihat mengepalkan tangannya.


   Linda dan Gavlin masuk ke sebuah Villa mewah, Gavlin mengamati seluruh ruangan Villa itu, Linda tersenyum menatap wajah Gavlin.


"Ini Villa milikku sendiri Vlin, di sini aku biasanya sendiri menghabiskan waktu jika diriku sedang bersedih dan ingin menyepi menghilangkan stres." Ujar Linda.


Linda memberitahukan pada Gavlin yang mengangguk mengerti, bahwa Villa itu punya Linda sendiri.


Linda menarik tangan Gavlin yang berdiri diam ditempatnya, Gavlin lantas mengikutinya.


Linda membawa Gavlin masuk ke dalam kamar, Linda lalu cepat menutup pintu kamar.


Di dalam kamar yang sangat luas, Gavlin yang berdiri melihat isi kamar itu.


Ada sebuah ranjang berukuran besar dan mahal di situ, lengkap dengan lemari pakaian, meja rias serta kamar mandi di dalamnya.


Linda menghempaskan tubuhnya di kasur yang empuk itu, dia membentangkan tangannya, menikmati kelembutan kasur.


Gavlin hanya berdiri diam melihatnya. Linda lalu duduk di atas kasur, dia menatap wajah Gavlin.


"Kenapa diam Vlin ? Sini, duduklah di dekatku." Ujar Linda lembut mengajak Gavlin.


Akhirnya Gavlin pun melangkah mendekati Linda, dia berdiri dihadapan Linda, menatap lekat wajah Linda yang tersenyum mesra padanya.


"Aku ingin kamu memelukku sepanjang waktu, hingga besok pagi." Ujar Linda.


Dia menatap lembut Gavlin yang hanya diam berdiri dihadapan menatap wajah cantik Linda.


"Aku ingin tidur bersama kamu Vlin, menikmati malam, mencurahkan rasa rinduku, mendapatkan kehangatan cintamu padaku." Ujar Linda lembut.


Suaranya terdengar menahan segala getaran rasa asmara, Linda yang pernah tinggal diluar negeri sudah terbiasa.


Dia terbiasa dengan segala pergaulan bebas, hingga dia tidak merasa risih atau tabu mengutarakan semuanya itu.


Linda membentangkan kedua tangannya, memberi isyarat agar Gavlin memeluknya.


Gavlin yang berdiri ditempatnya menatap lekat wajah cantik Linda, sesaat kemudian, Gavlin bergerak, tubuhnya mendekati Linda.


Lalu dia naik ke atas kasur, mendekati wajah Linda yang duduk di atas kasur dengan sikap pasrahnya.


Gavlin mengecup kening Linda lembut, mata Linda terpejam, menikmati kelembutan yang diberikan Gavlin padanya saat ini.


Lalu bibir Gavlin berpindah ke pipinya, mengecup kedua pipi Linda.


Kemudian diam menatap wajah Linda, mereka saling tatapan mata, wajah Gavlin begitu dekat dengan wajah Linda.


Mata Linda terlihat sendu, dia saat ini sedang menahan segala gejolak ***** birahi yang muncul dan berkecamuk didalam dirinya.


Bibir Gavlin mendekat ke bibir Linda, lalu mengecup bibir Linda lembut, kemudian **********.


Linda memejamkan mata, menikmati segala kelembutan yang diberikan Gavlin.


Linda merebahkan tubuhnya diatas kasur, Gavlin segera rebah dan berada diatas tubuh Linda, menindihnya.


Bibir mereka saling berpagutan, mereka melampiaskan segala gejolak ***** yang semakin membara didalam diri masing masing.


Gavlin memberikan sebuah kehangatan pada diri Linda, Linda yang begitu mencintai dan mengharapkan diri Gavlin sangat bahagia.


Linda menyerahkan dirinya, pasrah pada Gavlin, membiarkan Gavlin, mendapatkan kenikmatan dari dirinya.


Rasa cinta yang begitu besar mengalahkan semua hal yang seharusnya tidak dilakukan Linda saat ini sebagai seorang gadis.

__ADS_1


Linda dikalahkan oleh rasa cintanya, dan dengan mudahnya menyerahkan dirinya untuk jatuh dalam pelukan Gavlin.


Lalu, dengan mudahnya, Linda menyerahkan kehormatannya pada pria yang sangat di cintainya.


__ADS_2