
Andre menemui Samuel di ruang kantor kejaksaan tempat Samuel bekerja sebagai Jaksa Penuntut Umum. Wajah Andre terlihat tegang, ada kemarahan dalam raut mukanya.
"Kita benar benar sudah kecolongan dan salah langkah selama ini." tegas Andre, dengan wajah geramnya .
"Ya, ini murni kesalahan kita, karena membiarkan Binsar lepas dari buruan kita, dan bisa melarikan diri ke luar negeri." tegas Samuel.
"Aku sudah bilang padamu, agar menjadikan Binsar target nomor satu untuk di tangkap, tapi kamu menolak saranku." ungkap Andre, sedikit kesal pada Samuel.
"Kalo kita menangkap Binsar, paling tidak, kita harus punya bukti yang sangat kuat, agar pihak Binsar gak bisa berkelit dan membantahnya!" ujar Samuel.
"Kalo gak punya bukti kuat yang gak bisa di bantah dan di palsukan mereka, kita gak bakalan bisa menangkap dan menjebloskan Binsar ke dalam penjara ! Kamu tau sendiri siapa Binsar itu!" ujar Samuel, dengan wajah seriusnya menegaskan pada Andre.
"Anak buahnya saja para mentri dan pejabat pejabat serta pengusaha pengusaha yang sudah kita tangkapi bisa bebas dalam hitungan jam, termasuk Samsudin, Samsudin yang sudah sangat banyak bukti kejahatannya saja masih bisa dibebaskan hakim, apalagi Binsar, ketuanya?!" tegas Samuel dengan wajah serius.
"Pasti Binsar akan di lindungi, biar bagaimana pun, pengaruh Binsar masih besar dalam negara ini! Semua pejabat yang ada di negara ini tunduk patuh pada perintahnya, karena mereka anggota anggota organisasi Inside !" tegas Samuel menjelaskan pada Andre .
"Jadi, sulit menangkap Binsar." tandas Samuel.
"Jadi, maksudmu, kita biarkan saja Binsar melarikan diri? Apa kita gak ada usaha untuk mengejar dan menangkapnya di perancis sana?! Tempat pelarian si Binsar itu?!" ujar Andre, menatap tajam wajah Samuel.
"Akan aku pikirkan caranya menangkap Binsar." jawab Samuel, menatap wajah Andre, yang berdiri dihadapannya.
Andre diam, dia tampak berfikir, tatapan matanya tajam memandang wajah Samuel yang juga diam berfikir.
"Kalo gak ada cara untuk menangkap Binsar, lebih baik aku biarkan Gavlin yang menghabisinya, biar Gavlin yang bekerja membersihkan organisasi Inside, agar gak ada manusia manusia jahanam lagi di negara ini." Gumam hati Andre, bicara.
Andre lantas menghela nafasnya dengan berat, dia lalu menatap tajam wajah Samuel yang berdiri didepannya.
"Aku pamit, Sam." ujar Andre.
"Ya." Angguk Samuel.
Andre lantas berbalik badan, dia lalu segera pergi keluar dari ruang kantor, meninggalkan Samuel sendirian.
Setelah kepergian Andre, Samuel berjalan ke meja kerjanya, lalu, dihempaskannya tubuhnya di kursi kerjanya, wajah Samuel tampak tegang, dia tengah berfikir keras saat ini.
Dengan wajah kesal dan penuh emosi amarah Andre masuk ke dalam mobilnya, dia lantas segera menjalankan mobilnya , pergi meninggalkan gedung kantor kejaksaan, tempat Samuel bertugas dan bekerja.
"Aku harus bertemu Gavlin, akan aku berikan tugas padanya untuk memburu Binsar, agar Gavlin menangkap dan menghabisi Binsar serta komplotannya." Gumam hati Andre .
"Ya, ini satu satunya cara menurutku, Binsar harus di matikan, karena, jika dia ditangkap, dia akan lolos lagi, seperti yang pernah di bilang Chandra." Lanjut suara hati Andre bicara.
Andre terus menyetir mobilnya, wajahnya tegang sekali mengendarai mobil, dia terlihat sedang berfikir keras, Andre memikirkan cara, bagaimana agar dia bisa bertemu Gavlin lalu menyerahkan tugas pada Gavlin untuk memburu dan membantai Binsar.
Mobil Andre terus melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
---
Mobil Gavlin berhenti di depan jalanan dekat sebuah rumah, di dalam mobil, terlihat Jalal duduk di jok belakang dengan kondisi leher terikat dan kedua tangannya juga terikat kuat.
Gavlin memandangi rumah tersebut, lalu dia menoleh kebelakang, Gavlin menatap tajam wajah Jalal.
"Benar ini rumahnya?" tanya Gavlin, dengan tatapan mata yang galak pada Jalal.
"Ya. Di rumah itu biasanya Pak Samsudin datang untuk istirahat." ujar Jalal, memberi penjelasan pada Gavlin.
"Ok, akan aku pastikan kebenarannya, jika Samsudin gak ada dirumah itu, maka kamu akan aku bunuh!!" tegas Gavlin mengancam Jalal.
"Coba liat aja dulu, ada dua rumah yang di pakai pak Samsudin untuk bersembunyi selama ini, satu rumah yang sekarang kita datangi ini, dan satu nya lagi rumah peristirahatan milik pak Binsar yang di berikan pak Binsar kepada Samsudin untuk persembunyian sementaranya." ujar Jalal, mencoba memberi pengertian dan penjelasan pada Gavlin.
Gavlin diam, untuk sesaat dia berfikir, lalu, dia menatap tajam wajah Jalal yang tampak takut pada Gavlin itu.
"Kamu biasa bertemu Samsudin dimana? Di rumah itu, atau dirumah lainnya?!" bentak Gavlin, mulai kesal dan marah pada Jalal.
"Kadang di rumah itu, kadang di rumah satunya lagi, gak tentu, Samsudin sering berpindah pindah tempat, aku datang menemuinya sesuai arahannya saja." jelas Jalal.
Gavlin geram menatap tajam wajah Jalal yang terikat dengan kondisi kedua kaki serta satu tangannya terluka akibat luka tembak.
Gavlin lantas membuka pintu mobil, lalu, dia keluar dari dalam mobilnya.
Dengan langkah cepat Gavlin pun lantas berjalan menuju ke rumah yang dikatakan Jalal tempat persembunyian Samsudin.
Dari dalam mobil, Jalal melihat Gavlin berjalan sambil membawa senjata bom roket di tangannya, Jalal cemas, dia khawatir, Samsudin mati terbunuh di rumah tersebut.
Gavlin berjalan, lalu dia berdiri tepat di depan pintu masuk gerbang halaman rumah tersebut, lalu, dia memandangi rumah tersebut. Di depan halaman ada beberapa orang yang berdiri berjaga jaga, Gavlin segera mengarahkan senjata bom roketnya ke arah rumah.
Lalu, dengan cepat Gavlin melepaskan tembakan, bom roket pun segera meluncur ke arah rumah, kemudian, menghantam tembok bangunan rumah. Rumah tersebut pun meledak, hancur seketika, terkena bom roket yang di luncurkan Gavlin.
Gavlin melepaskan tembakannya sebanyak 5 kali, bom roket meluncur dan menghancurkan bangunan rumah.
Orang orang yang berjaga di sekitar rumah banyak yang mati, dan beberpaa orang yang ada disekitar halaman rumah panik, mereka berhamburan lari untuk menyelamatkan diri, bangunan rumah roboh dan hancur berantakan.
Gavlin lalu menyelempangkan senjata bom roket dibahunya, kemudian, dia mengambil dua pistol dari pinggangnya. Lantas Gavlin berjalan cepat maju menghampiri para penjaga yang berhamburan lari menyelamatkan diri.
Ada 6 orang yang berjaga, Gavlin langsung menembaki mereka semua hingga mati, tak ada perlawanan, karena 6 penjaga tak mengetahui kedatangan Gavlin, sebab, mereka semua sibuk menyelamatkan diri karena melihat bom meledak dan menghancurkan rumah tempat persembunyian Samsudin.
Gavlin lantas berjalan mendekati salah seorang penjaga yang belum mati, namun tubuhnya terluka parah, akibat terkena tembakan Gavlin.
Gavlin mendekat, dia berdiri di hadapan Penjaga tersebut, Gavlin menodongkan pistolnya ke arah Penjaga yang terluka parah itu.
"Apa Samsudin ada di dalam rumah itu?" tanya Gavlin, dengan wajah tajam menatap Penjaga yang terduduk lemah di tanah.
__ADS_1
"Gak ada, udah seminggu pak Samsudin gak datang ke sini, Beliau ada di rumah peristirahatan pak Binsar." ujar Penjaga, meringis menahan sakit akibat lukanya.
"Tolong, jangan bunuh aku, kasihani aku." ujar Penjaga, memohon dan mengemis nyawa pada Gavlin, agar tak di bunuh Gavlin.
Gavlin diam saja tak menjawab, dia menoleh ke arah rumah yang sudah hancur dan roboh akibat diledakkan Gavlin dengan bom roketnya, Gavlin dengan sikap dingin dan tenangnya lalu melepaskan tembakan dari pistolnya ke tubuh si Penjaga.
Si Penjaga yang sudah terluka parah itu, langsung seketika jatuh terkapar di tanah, karena Gavlin menembaknya lagi.
Gavlin lalu meninggalkan si Penjaga yang sudah terkapar mati di tanah, wajah Gavlin tampak sangat marah sekali, karena dirumah itu, dia tak menemukan Samsudin.
Gavlin tak masuk ke dalam rumah yang sudah hancur berantakan itu untuk mencari Samsudin, karena dia percaya dengan ucapan si Penjaga yang mengatakan bahwa Samsudin tidak ada dirumah tersebut.
Gavlin tak mau menyia nyiakan waktunya mencari Samsudin di dalam rumah yang sudah roboh dan hancur itu, karena dia pikir, kalau pun Samsudin ada di dalam rumah tersebut, dia tak akan selamat, dan pasti mati terbunuh, terkena bom roket yang dia tembakan sebanyak lima kali tadi.
Gavlin lantas berbalik badan, lalu dia pergi meninggalkan halaman rumah tersebut menuju ke mobilnya.
Di dalam mobil, Jalal melihat Gavlin berjalan cepat dengan wajah penuh amarah mendekat ke arah mobil, Jalal was was dan takut, dia cemas, Gavlin marah padanya lalu membunuh dirinya.
Gavlin membuka pintu bagasi mobil, lalu, dia mengambil senjata bom roket yang dia selempangkan di bahunya, dan meletakkannya di dalam bagasi, lalu, Gavlin menutup pintu bagasi.
Gavlin berjalan ke depan mobil, dia membuka pintu lalu cepat masuk ke dalam mobilnya.
Jalal semakin cemas, apalagi dia melihat, rumah tempat persembunyian Samsudin sudah hancur berantakan akibat di bom Gavlin, dia ngeri pada Gavlin yang meledakkan rumah tersebut.
Gavlin menutup pintu mobil, dia duduk di jok depan, di belakang stir mobilnya, lalu, dia menoleh kebelakang, Gavlin menatap tajam wajah Jalal yang duduk di jok belakang mobil.
"Samsudin gak ada di rumah itu, kata penjaga yang ku tanya, dia sudah seminggu gak di sini." ujar Gavlin.
"Berarti, dia ada dirumah peristirahatan milik pak Binsar." ujar Jalal, dengan wajah takutnya.
"Kamu tau rumahnya kan? Hafal jalan ke rumah peristirahatan itu kan?!" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Jalal.
"Ya, aku tau, aku hafal jalannya, karena aku sering datang ke sana menemui pak Samsudin untuk memberikan aku tugas membunuh Chandra." ujar Jalal menjelaskan.
"Okay. Antar aku ke sana, tunjukkan jalannya !" tegas Gavlin menatap tajam wajah Jalal.
"Ya, akan aku bawa kamu ke sana, aku akan menunjukkan jalannya padamu." ujar Jalal, dengan wajah takut tak berani menatap wajah Gavlin lama lama, karena menurutnya, wajah Gavlin saat ini sangat mengerikan.
Gavlin lantas berbalik dan menghadap ke depan mobil, lalu cepat dia nyalakan mesin mobil, lantas, Gavlin pun kemudian menjalankan mobilnya, mobil Gavlin segera bergerak, pergi meninggalkan lokasi rumah persembunyian yang biasa di pakai Samsudin bersembunyi dan berlindung, rumah itu sekarang sudah hancur, hanya menyisakan puing puing saja, dan di halaman rumah yang sudah runtuh itu, ada beberapa mayat penjaga tergeletak di tanah.
Mobil Gavlin melaju cepat di jalan raya, Gavlin dengan wajah serius terus menyetir mobilnya, sementara Jalal duduk diam di jok belakang, dia tak bisa bergerak dan tak bisa melakukan apapun juga, sebab, kedua tangannya terikat menyatu dengan tubuhnya, dan ikatan itu sangat kuat sekali, apalagi, ikatan di tangan dan tubuhnya tersambung kelehernya, sehingga sulit buatnya melepaskan ikatan tersebut.
Jalal pun pasrah, mau tak mau, dia menuruti kemauan Gavlin, dia pun menunjukkan lokasi tempat rumah peristirahatan milik Binsar yang digunakan Samsudin bersembunyi.
__ADS_1