
Gavlin bersiap hendak menembak Chandra, dia mengarahkan pistolnya tepat ke kepala Chandra, bersiap hendak menembak.
"Hentikan Gavlin !!" teriak Andre, berdiri tidak jauh dari tempat Chandra dan Gavlin saat ini.
Chandra tersentak kaget, dia menoleh, melihat Andre datang, Chandra pun senang dan lega. Gavlin melihat Andre, dia tersenyum kecil, lalu, di turunkannya tangannya yang menodongkan pistol pada Chandra.
Gavlin berbalik, mengarahkan pistolnya pada Andre yang berdiri sambil memegang sebuah map di tangannya.
"Apa kamu bawa semuanya ?" tanya Gavlin, mengarahkan pistolnya pada Andre.
"Ya, aku membawanya, semua lengkap, ada di dalam map ini! Tapi, lepaskan dulu Chandra!" tegas Andre, sambil menunjukkan map ditangannya.
"Tidak Ndre, kamu gak bisa memerintahku, di sini, aku yang berhak memberi perintah, bukan kamu!" bentak Gavlin, mengarahkan pistolnya pada Andre.
"Berikan map itu padaku, dan Chandra akan ku lepaskan." ujar Gavlin.
Andre diam, tak ada pilihan lain buatnya selain menurut pada perkataan Gavlin.
Andre lalu berjalan mendekati Gavlin, Gavlin tetap mengarahkan pistolnya pada Andre.
"Ini mapnya, di dalamnya juga ada flash disk." ujar Andre, menyerahkan map pada Gavlin.
Gavlin mengambil map dari tangan Andre yang berdiri dihadapannya, dia tersenyum kecil melihat map yang sudah ada ditangannya.
"Sekarang, Chandra milikmu!" ujar Gavlin.
Andre lantas cepat mendekati Chandra, dia lalu melepaskan ikatan Chandra.
"Sorry Chan, aku harus mengancammu dan juga Andre guna mendapatkan berkas bukti ini." ujar Gavlin.
"Ketahuilah, aku gak pernah berniat membunuhmu, karena , orang tua kita bersahabat, seperti yang kamu bilang, aku sengaja mengancam, agar Andre menuruti permintaanku." tegas Gavlin, tersenyum kecil.
Andre melirik Gavlin, dia geram, karena merasa di bohongi Gavlin, Chandra lantas berdiri, ikatannya sudah terlepas dari tubuhnya.
"Dan sorry Chan, aku gak bisa bekerjasama dengan siapapun juga, sebab, aku gak percaya pada siapapun, terakhir, aku di khianati Kepala kepolisian Richard, karena itu, aku juga gak bisa percaya begitu saja padamu dan juga Andre, semoga kamu paham." jelas Gavlin.
"Ya." jawab Chandra.
"Dan kamu Andre, jangan halangi segala tindakanku, ini semua menjadi urusanku, jangan mencampurinya." tegas Gavlin.
"Kamu gak bisa melarang, Vlin. Polisi berhak mengusut kasus itu hingga tuntas sampai ke akarnya!" tegas Andre.
"Jika kamu mau bertindak, bertindaklah, kita masing masing menjalaninya." ujar Andre.
"Ya, baiklah. Sekarang, pergilah kalian." ujar Gavlin, sambil mengarahkan pistolnya pada Andre dan Chandra.
Andre dan Chandra lantas bergegas pergi meninggalkan Gavlin, Gavlin lalu berjalan mengikuti mereka berdua.
Di luar lokasi reruntuhan bangunan Wijaya, Andre dan Chandra masuk ke dalam mobil, Gavlin berdiri mengamati mereka sambil tetap bersiap siaga memegang pistolnya.
Sesaat kemudian, mobil Andre berjalan, lalu pergi meninggalkan Gavlin sendirian di bangunan tersebut. Gavlin melihat dan membuka map yang ada ditangannya, sekilas, dia membaca berkas yang ada di dalam map tersebut.
Gavlin tersenyum senang, dia lantas bergegas pergi meninggalkan tempat itu, untuk melihat dan mempelajari berkas kasus kejahatan organisasi Inside yang dia dapatkan dari Andre.
---
Masto berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir dihalaman gedung kantor kepolisian, seorang pemuda datang menghampirinya.
__ADS_1
"Maaf, dengan pak Masto?" tanya pemuda tersebut.
"Ya, benar, saya sendiri, ada apa ya?" tanya Masto heran.
"Maaf, Pak. Saya Mardi, ditugaskan untuk membawa bapak menghadap ke kantor sekretariat presiden, Pak Samsudin, Menkopolkam yang baru ingin bertemu bapak." ujar Pemuda , berdiri didepan Masto.
"Bertemu saya? Ada apa ya?" tanya Masto heran.
"Saya tidak tau pak. Sebaiknya, Bapak ikut saya sekarang." ujar Mardi.
Masto berfikir sejenak, dia lantas menatap wajah serius Mardi yang berdiri dihadapannya.
"Baiklah. Saya ikut, tapi saya bawa mobil sendiri." ujar Masto.
"Baik, Bapak bisa mengikuti mobil saya nanti." ujar Mardi.
"Ya." Angguk Masto.
Mardi lantas pergi meninggalkan Masto, Masto berdiri dan melihat Mardi masuk ke dalam mobilnya, Masto lantas masuk ke dalam mobilnya, sambil menyalakan mesin mobil, dia berfikir dan bertanya tanya, mengapa menkopolkam memanggil dia.
Mobil Mardi berjalan, Masto yang melihatnya segera mengikutinya, dia pun menjalani mobilnya, pergi keluar dari halaman parkir gedung kantor kepolisian.
---
Di dalam kamar kecil dan sempit, Gavlin duduk di kursi sambil serius membaca berkas berkas kasus kejahatan kelompok Bramantio dan Herman, dia juga membaca berkas kasus kejahatan yang telah dilakukan oleh anggota anggota organisasi Inside.
"Gila, separah ini kah kelompok Inside itu?!" ujar Gavlin geram menahan amarahnya.
Dalam beberapa berkas, dia juga membaca tentang pernyataan kematian Bapaknya dan juga kematian Syamsul Bahri, orang tua Chandra, dalam berkas terlampir photo bukti kejahatan, seperti botol racun, dan jarum suntik serta serum racun yang digunakan untuk membunuh Bapaknya dan Bapak Chandra. Gavlin semakin geram mengetahui semua itu.
Gavlin lantas memasang flash disk di laptopnya, dia kemudian menyaksikan rekaman cctv yang ada dalam flash disk yang diberikan Andre padanya.
"Bedebaaah!! Ternyata dalang dari semua ini kamu Binsar !! Aku kira itu ulah Bramantio yang mau melindungi adiknya Jafar!!" ujar Gavlin geram dan marah.
"Aku gak akan melepaskanmu Binsar, akan ku buru kamu!" ujar Gavlin dengan wajah memerah menahan amarah.
Gavlin mengamati wajah Binsar yang terekam dalam rekaman cctv.
Begitu banyaknya bukti bukti yang dia terima dari Andre, dan semua itu hasil kerja keras Chandra selama bertahun tahun menyelidiki secara diam diam dan mengungkap kejahatan organisasi Inside.
"Andai kamu ketemu aku dari awal Chandra, aku gak akan bertindak sampai sejauh ini. Aku pasti menargetkan langsung musuhku pada Binsar, baru menghabisi anak buahnya." ujar Gavlin geram.
"Aku sudah melangkah jauh, dan aku akan terus maju, memburu musuh musuhku, aku gak kan pernah kalah oleh kalian Binsar!" tegas Gavlin, geram dan marah.
Dia lantas mematikan laptopnya, lalu, dia melepaskan flash disk dari laptop dan menyimpan flash disk ke dalam laci yang ada pada meja di depannya.
---
Masto tiba di ruang kerja Samsudin, Menkopolkam yang baru saja diangkat oleh presiden menggantikan mentri sebelumnya yang terlibat kasus, Presiden memilihnya atas nasehat dan saran Binsar sebagai penasehat presiden. Dan Presiden mau tak mau menuruti perkataan Binsar untuk menjadikan Samsudin mentri di kabinetnya yang baru saja d resuffle nya.
Masto duduk diam di sofa, dia menunggu, tak berapa lama, Samsudin datang dan menghampirinya.
"Apa kabar pak Masto? Saya Samsudin." ujar Samsudin, mencoba bersikap ramah.
"Kabar baik, Pak. Senang bisa bertemu Bapak." ujar Masto, menunduk memberi hormat.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Kalo saya boleh tau, mengapa saya di panggil ke sini?" tanya Masto, bertanya dengan wajahnya yang serius.
"Begini, Pak Masto, Pak Masto kan sudah bekerja di kepolisian lebih dari 15 tahun, dan belum juga naik pangkat." ujar Samsudin.
"Iya, betul Pak. Tapi saya gak masalahkan itu, saya nyaman dengan posisi saya saat ini." ujar Masto.
"Saya punya rencana, akan mengangkat pak Masto menjadi Komisaris kepolisian, tapi ada syaratnya." ujar Samsudin tersenyum ramah.
Masto terhentak kaget, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Samsudin.
"Ah, mana mungkin, saya tidak pantas mendapatkan posisi itu, Pak. Sebab, atasan saya yang terbaik, dan dia lebih pantas duduk sebagai komisaris jendral kepolisian." tegas Masto.
"Tidak, pilihan saya jatuh ke pak Masto, karena saya tau, pak Masto ulet, pekerja keras, cerdas, dan tanggap serta berwibawa." ujar Samsudin memberi pujian pada Masto.
"Saya tidak pernah merasa diri saya seperti itu, Pak." ujar Masto merendah.
"Saya sudah melihat riwayat Pak Masto, dan saya memilih Bapak karena berdasarkan penilaian saya." ujar Samsudin mencoba meyakinkan Masto.
"Maaf Pak. Tadi Bapak bilang, ada syaratnya, kalo saya boleh tau, apa syaratnya?" tanya Masto.
"Syaratnya cukup mudah, Bapak hanya tinggal memberikan informasi tentang sejauh mana penyelidikian pihak kepolisian dan kejaksaan dalam mengungkap kasus kejahatan organisasi Inside yang mengakibatkan banyaknya mentri dan pejabat negara di tangkap." jelas Samsudin.
"Setiap ada perkembangan baru, Bapak wajib melaporkannya pada saya, dan saya pastikan, Bapak akan menjabat sebagai komisaris jendral kepolisian!" tegas Samsudin.
"Mengapa Bapak ingin tau kasus itu?" tanya Masto.
"Sebagai Menkopolkam, saya ingin tau sejauh mana perkembangan kasus tersebut, saya harus tau, agar bisa meredam gejolak di masyarakat saat ini, demi keamanan negara." ujar Samsudin, berbohong.
Masto terdiam, dia sadar, bahwa dirinya sedang di rayu untuk bergabung dengan kelompok Inside, dimana Samsudin yang dia ketahui juga sebagai anggotanya.
"Bagaimana Pak Masto? Apa Bapak setuju?" tanya Samsudin, menatap tajam wajah Masto yang diam berfikir.
"Ah, maaf, Pak. Saya belum bisa memutuskannya sekarang, saya butuh waktu untuk memikirkan semuanya ini." jelas Masto.
"Baiklah, saya kasih waktu tiga hari ya, kita bisa ketemu lagi nanti, setelah Bapak sudah memikirkannya dan mengambil keputusan, kabari saya." ujar Samsudin.
"Baik, Pak." ujar Masto.
"Kalo begitu, saya permisi dulu, Pak. terima kasih atas semuanya." ujar Masto.
"Baik, silahkan, saya tunggu kabarnya, Pak." ujar Samsudin, tersenyum ramah.
Masto mengangguk mengiyakan, lalu dia berdiri dan bersalaman pada Samsudin yang juga berdiri dihadapannya.
Masto lalu berjalan keluar dari dalam ruang kerja Samsudin, Mardi yang dari tadi berdiri diam di samping meja kerja Samsudin mendekati Samsudin.
"Bagaimana kalo dia menolaknya, Pak?" tanya Mardi.
"Bunuh dia, gampang kan?" ujar Samsudin cuek.
Samsudin berjalan santai ke meja kerjanya, Mardi berdiri terdiam mendengar perkataan Samsudin, dia melihat Samsudin duduk di kursi kerjanya.
"Kalo dia membocorkan tawaran Bapak tadi kepada temannya di kepolisian bagaimana?" tanya Mardi lagi, dengan wajahnya yang serius.
"Tinggal bantai dia dan teman temannya yang mengetahui tawaran itu!" tegas Samsudin.
"Mardi, sebagai anggota Inside, kamu gak usah berfikir yang jauh jauh, dipermudah saja semuanya, jika tidak sesuai, bantai, singkirkan, habisi dan lenyapkan, gampang! Jangan sampai semua itu menghambatmu !" jelas Samsudin.
__ADS_1
"Ya, Pak." ujar Mardi, mengangguk mengerti dan paham dengan apa yang dikatakan Samsudin padanya.