VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Mata di Bayar Mata


__ADS_3

Mobil Gavlin masuk ke pekarangan halaman Villa, dia lantas segera keluar dari dalam mobilnya sambil membawa bungkusan kain berisi barang bukti ditangannya.


Wajah Gavlin tampak senang, dia berjalan masuk ke dalam Villa sambil menenteng barang bukti ditangannya.


Gavlin masuk ke dalam Villa, dia mencari cari Maya dan juga Gatot, mereka berdua tak ada di ruang depan maupun ruang tengah Villa.


"Maay...Mayaaa !! Om...Om Gatooot?!!" Panggil Gavlin.


Karena tak ada jawaban dari Maya mau pun Gatot, Gavlin pun curiga, dia lantas mencabut pisau belati dari pinggangnya, lalu, dengan hati hati, dia berjalan menuju ruang lainnya dalam Villa.


Dengan pelan pelan penuh waspada Gavlin membuka pintu kamar, lalu, dia masuk ke dalam kamar, tak ada siapa siapa didalam kamar, Gavlin lantas segera keluar.


Dia masuk ke kamar satunya lagi, namun, tak ada juga orang di dalam kamar, wajah Gavlin pun mulai cemas dan khawatir dengan keselamatan Maya serta Gatot.


Sambil memegang pisau belati dan bungkusan kain berisi barang bukti , Gavlin berjalan ke arah belakang Villa.


Lalu, dengan hati hati, dia pelan membuka pintu belakang Villa yang terbuka sedikit dan tidak terkunci. Gavlin semakin cemas, karena pintu belakang Villa dalam kondisi terbuka sedikit.


Gavlin lantas keluar, dia berdiri di halaman belakang Villa, matanya memandangi sekitarnya, mencari cari.


"Maay !!" teriak Gavlin memanggil.


Gavlin melihat Maya ada di atas Gazebo di halaman belakang Villa bersama Gatot, mereka tengah menikmati suasana dan pemandangan dari atas Gazebo Villa.


Gavlin pun lega, karena Maya dan Gatot baik baik saja. Maya dan Gatot yang mendengar panggilan Gavlin menoleh pada Gavlin.


"Haai, Vlin , sini naik!! Pemandangannya bagus dan indah dari atas sini!" ujar Maya, dengan wajah yang senang.


"Iya, May. Nanti aja !" ujar Gavlin.


"Om Gatot ! Aku mau bicara !" ujar Gavlin.


"Bicara apa, Vlin?" tanya Gatot.


Gavlin tak menjawab, dia mengangkat tangannya dan menunjukkan bungkusan kain berisi barang bukti pada Gatot.


"Apa itu ditanganmu?!" tanya Gatot heran.


"Turunlah, nanti Om juga tau, ini penting!" ujar Gavlin dengan wajahnya yang serius.


Gatot pun lantas turun dari Gazebo yang terletak di atas bukit belakang Villa. Maya pun menyusul Gatot, dia juga turun.


Gatot dan Maya lantas menghampiri Gavlin, Gavlin lalu berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam Villa, Gatot dan Maya saling pandang, mereka heran, Apa yang di bawa Gavlin.


Lalu, Gatot dan Maya pun berjalan dan masuk ke dalam Villa, mengikuti Gavlin yang sudah lebih dulu masuk ke dalam Villa.


Gavlin duduk di sofa ruang tengah Villa, di letakkannya bungkusan kain berisi barang bukti di atas meja.


Dengan wajah penuh keheranan, Gatot dan Maya pun lantas duduk di sofa. Mereka melihat bungkusan kain diatas meja.


Gavlin lalu membuka ikatan kain, lalu, tampaklah barang barang tergeletak diatas kain. Gatot tersentak kaget melihat barang itu semua.


"Ini barang bukti yang di sembunyikan Sutoyo selama ini, Om." ujar Gavlin, dengan wajah serius.

__ADS_1


"Dari mana kamu dapatkan semua ini, Vlin?" tanya Gatot, dengan wajah senang.


Dia senang, karena Gavlin akhirnya berhasil menemukan barang bukti yang selama ini menghilang karena di sembunyikan Sutoyo.


"Dirumah Sutoyo, Om! Aku menemukannya di bawah lantai kayu kamar Sutoyo!" jelas Gavlin.


"Bagus, Vlin!" ujar Gatot senang.


Gatot lantas melihat dan mengambil barang barang bukti tersebut. Diamatinya semua barang barang bukti itu.


"Kaset kaset rekaman cctv di sekitar lokasi pembunuhan gadis pemandu lagu, kaset rekaman cctv di sel tahanan, saat Bapakmu di racun, potongan kuku gadis pemandu lagu yang meninggalkan daging Jafar, rekaman suara kesepakatan Bramantio, Sutoyo dan komplotannya." ujar Gatot.


Gatot hapal dengan semua barang bukti yang menghilang selama ini, karena dia yang menemukan semua itu, tapi, saat dia menunjukkannya di persidangan, tiba tiba saja semua barang bukti yang meninggalkan jejak jejak Jafar, Bramantio, Sutoyo serta Herman menghilang, karena itu, Gatot tak bisa menangkap Bramantio dan komplotannya dulu.


"Loh, ini pisau yang di kasih Jauhari padaku, pisau ini digunakan Jafar membunuh pacar gelapnya dan juga Ibu kamu, Vlin!" ujar Gatot.


"Keparaat Sutoyo !! Ternyata diam diam, dia menyuruh anak buahnya mengambil pisau ini untuk dilenyapkannya sebagai bukti!! Dasar Biadab !!" ujar Gatot, geram dan marah.


Gatot kaget, karena Gavlin juga menemukan barang bukti pisau yang ada sidik jari Jafar juga ibunya Gavlin, saat Jafar membunuh Ibunya Gavlin. Ada bekas darah juga di pisau itu, darah Ibunya Gavlin dan juga Jafar.


Gatot sama sekali tak menyangka, pisau itu sempat menghilang, karena dia berfikir, pisau itu berada ditempat yang aman, ditempat biasanya barang bukti disembunyikan dalam kantornya.


"Dengan bukti bukti ini semua, aku bisa menjerat Bramantio dan komplotannya !" tegas Gatot geram.


"Bram udah aku bunuh, Om. Dia ku bakar hidup hidup di perkampungan Rawas, dan aku rasa, Herman dan teman temannya datang ke kampung Rawas, untuk mengambil mayat Bram, karena aku telpon Peter, ngasih tau dia mayat Bram berada!" jelas Gavlin, dengan wajahnya yang serius.


Maya sedikit kaget mendengar Gavlin membakar hidup hidup Bramantio di kampung masa kecil mereka. Namun Maya memilih diam dan tak bertanya pada Gavlin.


"Kalo Bram udah mati, juga Sutoyo mati, berarti tinggal Herman dan komplotannya!" ujar Gatot.


"Jafar harus mendapatkan balasan yang setimpal dariku, mata di bayar dengan mata!" tegas Gavlin, dengan wajah penuh amarah.


"Ya, Vlin. Aku yakin, Jafar pasti bisa ditemukan !" ujar Gatot.


"Oh,ya. Dimana Pak Richard? Dia harus tau, kalo aku udah menemukan barang bukti semuanya." ujar Gavlin.


"Pak Richard pergi, Beliau menghadiri undangan pernikahan anak dari salah satu mentri." ujar Gatot.


"Oh, begitu." ujar Gavlin, mengangguk mengerti dan paham.


"Sebaiknya, simpan saja semua barang bukti ini di tempat aman, Vlin, nanti kalo pak Richard datang, kamu tunjukkan padanya." ujar Gatot.


"Iya, Om." ujar Gavlin.


Maya dari tadi hanya diam saja, duduk disofanya, dia menyimak dan mendengarkan semua pembahasan Ayahnya dan Gavlin, tanpa mau mencampuri pembicaraan mereka.


---


Di sebuah gedung yang luas dan besar serta sangat megah dan mewah, saat ini sedang berlangsung acara pernikahan dari anak seorang mentri.


Begitu banyaknya tamu undangan yang datang ke pesta pernikahan anak pejabat negara tersebut, ada juga hadir orang orang perwakilan dari kedutaan negara negara lain.


Diantara tamu tamu undangan yang hadir, terlihat Herman, Peter, Dody Mulyadi, Prawira dan juga Jack Hutabarat. Mereka semua datang, sebagai tamu undangan, karena mereka berlima, kenal dan berhubungan baik dengan sang mentri.

__ADS_1


Sementara itu, tampak bersama Sang Mentri yang menggelar pesta pernikahan anaknya , Richard, berdiri di hadapan sang Mentri. Mereka tengah ngobrol dengan serius.


Dari kejauhan, Herman melihat Richard yang sedang bicara serius dengan sang Mentri. Wajah Herman tampak geram dan menahan amarah.


Herman terlihat tak senang, karena Richard terlihat akrab dengan sang Mentri.


"Lihat si Richard, dia sedang cari muka dengan Mentri Sekretaris Negara." ujar Herman sinis.


Peter, Prawira, Dody dan juga Jack melihat ke arah Richard yang masih bicara serius dengan sang Mentri Sekretaris Negara.


Mereka semua pun tersenyum sinis pada Richard.


"Dia pikir, Pak Mentri mudah di pengaruhi! Dia gak tau, kalo pak Mentri itu orangnya susah di ajak kompromi!" tegas Prawira sinis.


Mereka pun lantas mentertawakan Richard, mereka mengira, Richard sedang mencari muka pada sang Mentri.


Richard bersalaman dengan sang Mentri Sekretaris Negara. Wajah Richard tersenyum lebar, dia tampak senang.


"Baik, Pak. Terima kasih, jika saya sudah menemukan semua bukti, akan saya laporkan pada Bapak, terima kasih atas perhatian dan bantuan Bapak!" tegas Richard, dengan penuh hormat.


"Saya hanya membantu saja pak Richard, saya gak mau, di tubuh kepolisian ada tikus tikus yang bisanya cuma menebar hama dan penyakit saja!" ujar Sang Mentri.


"Bukankah kalo ada sampah didalam rumah kita, gak boleh kita diamkan? Harus kita buang, agar kita gak tertular penyakit dari sampah sampah jika dibiarkan terus dalam rumah?" ujar Sang Mentri.


"Begitulah perumpamaan buat para penjahat berdasi dan berpangkat yang telah mempermainkan hukum." jelas Sang Mentri.


"Iya, Pak. Sekali lagi, terima kasih." ujar Richard.


"Baiklah, silahkan di lanjutkan menikmati makanan dan minumannya pak Richard, jangan sungkan sungkan." ujar Sang Mentri.


"Baik, Pak." Angguk Richard hormat.


"Saya tinggal dulu, ya Pak." ujar Sang Mentri.


"Silahkan, Pak." Jawab Richard.


Lantas, Sang mentri pun pergi meninggalkan Richard, Richard lantas pergi dari tempatnya bicara dengan sang Mentri.


Melihat Richard berjalan sendiri dan sedang mengambil minuman di meja, Herman bergegas mendekati Richard.


"Jangan macam macam denganku, Chard! Kamu akan ku habisi!" bisik Herman di telinga Richard.


Richard tampak tenang, dia malah tersenyum mendengar perkataan Herman yang mengancam dirinya.


"Kamu kira bisa mengambil hati Mensesneg, jangan mimpi kamu!!" Bisik Herman lagi, dengan geram dan menahan marah.


Richard hanya tersenyum dan diam, dia sangat tenang menghadapi Herman yang berdiri dihadapannya dengan wajah menahan amarahnya.


Dari kejauhan, Sang Mentri Sekretaris Negara melirik ke arah Richard yang di datangi Herman, dia perhatikan Herman, dia tahu, Herman dalam keadaan marah pada Richard, Sang Mentri pun tersenyum kecil melihat Herman yang marah, dan juga Richard yang terlihat tenang menghadapi Herman.


Herman dan komplotannya sama sekali tidak mengetahui, bahwa antara Richard dan Sang Mentri Sekretaris Negara sangat dekat, hubungan mereka sudah sangat lama terjalin erat, karena ternyata, Sang Mentri masih ada hubungan keluarga dengan Kakaknya orang tua istri Richard.


Dan Herman serta komplotannya tak pernah tahu itu, Herman berencana, akan mendekati Mentri Sekretaris Negara untuk mempengaruhinya, agar mau membantu mereka melenyapkan Richard dan Gatot nantinya.

__ADS_1


Herman tengah mencari waktu yang tepat untuk bisa bertemu dengan sang Mentri.


__ADS_2