
Mendengar perkataan Gavlin, Maya terdiam, dia terlihat melamun.
Dalam lamunannya, dia memikirkan, betapa beruntung dan bahagianya gadis yang mendapatkan cinta Gavlin.
Andaikan Gavlin benar benar bertemu dengan gadis pujaan hatinya, dan gadis itu mengenali Gavlin.
Lalu menyadari bahwa Gavlin mencintai dia sejak kecil, bagaimana perasaannya, tentu bahagia.
Lalu, jika Gavlin sudah benar benar menemukan gadis pujaan hati yang selama ini di cari dan dia tunggu kehadirannya, bagaimana dengan dirinya?
Apakah dia masih bisa seakrab seperti sekarang ini dengan Gavlin? Bagaimana pandangan Gadis itu jika tau, dia dekat dengan Gavlin.
Didalam diri Maya saat ini sedang berkecamuk segala perasaan perasaan.
Di satu sisi dia bahagia jika Gavlin benar benar bertemu dengan gadis kecilnya, di sisi lain, Maya tidak bisa menjauh dari Gavlin.
Maya tidak tahu, kenapa dirinya jadi seperti ini, memiliki perasaan cinta pada Gavlin.
Jika dia sedang bersama Gavlin, rasa nyaman dan bahagia selalu hadir dalam jiwanya.
Getaran kasih sayang begitu kuat dalam dirinya, Maya tak bisa membuang perasaan sayang itu, namun, rasa itu tetap tinggal di hatinya.
Maya semakin tak mengerti dengan yang dia rasa, apa yang terjadi pada dirinya saat ini?
Mengapa dia seperti wanita jahat, yang ingin merebut pacar sahabat baiknya.
Dan jika itu benar terjadi, dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Tapi, rasa sayang itu tidak juga mau pergi, Maya tak tahu harus bagaimana mengabaikan semua rasa di hatinya itu.
"May, Kok bengong ?" Tegur Gavlin melihat Maya yang diam melamun. Maya tersadar dari lamunannya karena mendengar suara Gavlin.
Maya berusaha menenangkan dirinya, dia tersenyum menatap wajah Gavlin.
"Aku doain, kamu segera bertemu dengan teman masa kecilmu Vlin." Ujarnya tersenyum.
Gavlin mengangguk mengiyakan perkataan Maya, dia tersenyum memandang wajah Maya.
Dalam hati Gavlin berkata "May, Gadis itu kamu, firasatku mengatakan itu."
"Aku tau itu kamu. Saat pertama kali aku melihat bekas luka bakarmu, aku hanya tinggal memastikan kebenarannya." Suara hati Gavlin berkata.
Saat ini, ada rona rona kebahagiaan yang dirasa Gavlin jika dia bersama Maya.
"Malah gantian kamu yang bengong sekarang?" Ujar Maya tertawa melihat Gavlin melamun.
Gavlin tertawa kecil, dia pun lantas menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
"Eh, iya, ketularan kamu ni, jadi kebiasaan bengong." Ujar Gavlin.
Mendengar perkataan Gavlin, Maya terkesiap, dia diam.
Seketika dia teringat dengan Yanto, Seniman Pematung Lilin yang dia kenal.
Omongan Gavlin sama persis dengan Yanto yang bilang dia kebiasaan melamun.
"Kamu kenapa lagi sih May? Kita mau main bengong bengongan di sini." Ujar Gavlin tertawa, Maya nyengir.
"Nggak, aku kok jadi ingat seseorang, omongannya sama persis kayak kamu, bilang aku kebiasaan bengong." Ujar Maya nyengir.
Gantian Gavlin yang terdiam, dia tersadar, "Ups, aku salah ucap, itukan omongan Yanto.
Dan sekarang, aku kan jadi Gavlin." Ujar Gavlin bicara di dalam hatinya. Gavlin berusaha bersikap tenang.
"Kebetulan aja kali May, aku ngomong gitu." Ujar Gavlin.
"Iya kali ya, tapi beneran Vlin, sama banget omongannya.' Ujar Maya.
Kamu tau gak siapa yang bilang kalo kebiasaan aku itu bengong?" Tanya Maya menatap wajah Gavlin.
Gavlin menggelengkan kepalanya.
"Itu loh Vlin, Yanto, si Pembuat patung lilin yang terkenal, masa kamu gak tau sih?" Ujar Maya pada Gavlin.
"Nggak, aku benar benar gak tau, aku bukan pecinta seni, apalagi patung, gak ngerti." Ujar Gavlin tersenyum.
"Kapan kapan deh, aku ajak kamu ketemu dia, aku kenali." Ujar Maya.
Gavlin bengong, dia diam, "Apa? Maya mau ngenali dia dengan dirinya sendiri ? Oh iya, Maya kan gak tau kalo Yanto itu ya aku juga." Kata suara hati Gavlin.
"Yuk ah, kita jalan lagi, bisa sampe pagi ngobrol terus di sini." Ajak Gavlin.
Gavlin sengaja mengalihkan pembicaraan agar Maya tidak terus membahas tentang sosok Yanto kepadanya.
Maya mengangguk, mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka kerumah Maya.
Mike masuk kedalam ruang kerja Bramantio, dia menemui papahnya, wajahnya terlihat kesal.
"Pah, pecat supir papah si Gavlin itu, jangan biarkan dia ada di kantor atau dirumah kita lagi, aku gak suka dia kerja di kantor kita !" Ujar Mike dengan wajah marah.
"Papah udah pecat dia, karena membela si Wijaya dan anaknya waktu papah datang ke proyeknya." Ujar Bramantio santai.
Bramantio membaca berkas laporan pengeluaran keuangan bulanan perusahaan diatas meja. Mendengar Gavlin sudah dipecat, wajah Mike senang.
"Bagus, rasain, jadi pengangguran kamu Gavlin !" Ujar Mike geram.
"Aku pergi dulu Pah." Ujar Mike.
"Mau kemana kamu? " Tanya Bramantio.
"Ada urusan yang harus aku bereskan hari ini juga." Jawab Mike sambil berjalan keluar dari dalam ruang kerja papahnya.
Melihat kepergian anaknya begitu saja, Bramantio berfikir, dia tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan anaknya saat ini.
Maya dan Gavlin masih berjalan bersama menyusuri trotoar, mereka berbelok ke sebuah gang kecil.
Maya sengaja memilih jalan lewat gang kecil, memotong jalan, agar lebih cepat sampai dirumahnya.
Di pinggir jalan ada pengamen sedang bernyanyi, Gavlin menghentikan langkahnya.
Maya yang melihat Gavlin berhenti jadi ikut berhenti, Gavlin mengeluarkan uang sepuluh ribu dari kantong celananya.
Dia memberikannya pada pengamen yang lantas mengangguk berterima kasih pada Gavlin.
Lalu Gavlin melangkahkan kakinya kembali, berjalan , Maya pun mengikutinya.
"Suaranya bagus ya Vlin, pas lagi nyanyiin lagunya." Ujar Maya sambil terus berjalan disamping Gavlin.
Gavlin mengangguk, dia membenarkan perkataan Maya, karena suara pengamen itu bagus Gavlin memberikannya uang tadi.
Linda menyetir mobilnya, keluar dari gedung perkantorannya siang itu.
Sepasang mata terlihat sudah menunggu dan mengintainya, Melihat Maya menyetir mobilnya pergi meninggalkan gedung perkantorannya.
Sosok pria yang ternyata Mike segera mengikuti Linda, dia menyetir mobilnya.
__ADS_1
Mata Mike menatap ke depan, sambil menyetir, dia terus melihat ke mobil Linda yang ada di depannya, melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang.
Mobil Linda terus melaju dijalan raya, Mike dibelakangnya terus mengikuti Linda, Mike sambil menyetir menelpon seseorang.
"Aku sedang mengikutinya, kamu bersiap siap di ujung jalan Kartini, begitu aku bilang dia mendekat, cepat lakukan tugasmu." Ujar Mike.
Mike menutup teleponnya, wajahnya terlihat menyimpan amarah dan dendam serta sakit hati pada Linda yang sudah menghina dan merendahkannya.
Dia ingin, saat ini, memberi pelajaran pada Linda. Membalas penghinaan Linda padanya.
Mobil Linda berbelok ke jalanan lain, Mike terus mengikutinya dari belakang.
Mobil Linda berhenti di sebuah toko roti, Mike yang melihat mobil Linda berhenti dan parkir di halaman depan toko roti segera menghentikan mobilnya.
Mike memarkir mobilnya berjauhan dengan mobil Linda, agar Linda tidak melihatnya.
"Mau apa dia di toko roti?" Gumam Mike melihat Linda masuk kedalam toko roti.
Dari dalam mobilnya, Mike terus mengawasi Linda, dia tak mau Linda lolos darinya saat ini.
Sementara itu, Gavlin dan Maya tiba di rumah Maya, mereka duduk di kursi teras bagian sisi samping rumah Maya yang berbentuk dua muka.
"Tunggu ya Vlin, aku ke dalam dulu." Ujar Maya.
"Gak usah repot repot May, aku bentar lagi juga langsung pulang." Ujar Gavlin.
"Gak repot, cuma air doang yang mau aku bawain." Ujar Maya nyengir menatap Gavlin.
Gavlin tersenyum memandang Maya yang sudah berbalik masuk ke dalam rumahnya.
Gavlin yang duduk di kursi teras memandangi bunga bunga yang banyak di halaman rumah Maya.
Gavlin baru menyadari jika Maya menyukai bunga. Tiba tiba terlintas dalam ingatannya, dimana dia mengingat, Maya, teman kecilnya juga menyukai bunga.
Seringkali dulu dia menemani teman kecilnya menanam bunga didalam pot bunga. "Dia pasti kamu May, aku menemukanmu." Gumamnya dalam hati..Dia tersenyum senang.
Maya keluar dari dalam rumah dengan membawa botol air minum dan gelas ditangannya.
Maya meletakkan gelas di atas meja yang ada di teras, lalu menuangkan air kedalam gelas.
"Minum Vlin, kamu pasti haus, capek jalan tadi." Ujar Maya.
Gavlin mengangguk tersenyum, dia lalu mengambil gelas berisi air, meminumnya sampai habis.
Maya nyengir melihat Gavlin yang langsung menghabiskan air minumnya.
"Nambah airnya Vlin?" Tanya Maya.
"Udah, cukup. Ntar kebanyakan malah kebelet pipis lagi." Ujar Gavlin nyengir.
Maya mendengarnya mencibir pada Gavlin.
Ponsel Gavlin berbunyi, Gavlin mengambil ponselnya.
Gavlin melihat di layar ponselnya nama Linda, Gavlin ragu untuk menerima panggilan telepon.
"Siapa Vlin ? Kok gak diangkat, siapa tau penting." Ujar Maya.
"Linda, aku malas ngomong sama dia." Ujar Gavlin.
"Gak boleh gitu. Kasihan Linda, mungkin ada yang mau dia bilang ke kamu." Ujar Maya.
Gavlin terdiam, sesaat kemudian dia lalu menekan tombol menerima panggilan telepon. Dengan malas malasan dia bicara di ponselnya.
"Ya Lin, kenapa?" Ujar Gavlin.
Ada rasa cemburu yang muncul dihati Maya, dia menghela nafasnya, menepiskan rasa cemburunya yang tiba tiba muncul tanpa diharapnya.
"Aku capek Lin, mau istirahat dirumah." Ujar Gavlin bicara di teleponnya.
"Kalo kamu gak bisa nemani aku jalan jalan, aku kerumah kamu ya." Ujar Linda dari seberang telepon.
"Memang mau kemana sih Lin?" Ujar Gavlin menghela nafasnya.
"Aku mau ajak kamu ke tempat wisata pemandian air panas yang baru di buka Vlin, sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu." Ujar Maya di teleponnya.
"Ya udah deh, aku tunggu." Jawab Gavlin malas malasan.
Dia lalu mematikan telepon dari Linda, menyimpan ponselnya kedalam kantong celana. Gavlin lalu menatap wajah Maya yang berdiri menunggunya.
"Aku pulang dulu ya May, Linda maksa ketemuan, gak tau mau ngomongin apa. Maaf ya May." Ujar Gavlin berdiri menatap Maya.
"Gak apa lagi Vlin, Makasih ya udah traktir aku, terus ngantar sampe kerumah."Ujar Maya tersenyum memandang wajah Gavlin.
"Makasih juga airnya, aku pamit ya." Ujar Gavlin tersenyum, Maya mengangguk dan tersenyum juga.
Gavlin melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan Maya yang memandangi kepergian Gavlin dari rumahnya.
Setelah Gavlin menghilang dari pandangannya, Maya mengambil botol air minum dan gelas di atas meja, membawanya masuk kedalam rumahnya.
Di halaman parkir depan toko roti, Linda yang baru selesai menelpon Gavlin memasukkan ponselnya kedalam tas.
Ditangannya ada 1 bungkus plastik besar, di dalamnya ada kotak berukuran besar berisi roti yang baru saja dia beli di toko roti.
Dari dalam mobilnya, Mike masih terus mengawasi Linda. Mike mengamati pergerakan Linda.
"Nelpon siapa si Linda? Senyam senyum ditelpon, pasti sama si Gavlin." Gumam Mike geram.
Mike melihat Linda yang membuka pintu depan mobilnya lalu masuk kedalam mobilnya, Mike bersiap siap, dia menyalakan mesin mobilnya, diam menunggu.
Mobil Linda mulai berjalan, pergi meninggalkan toko roti, Mike segera menyetir mobilnya, dia mengikuti Linda.
Mobil Linda melaju di jalan raya, Mike menyetir mobilnya, terus mengikuti Linda.
Mobil Linda berbelok dipertigaan jalan, Mike terus mengikutinya, dia ingin tahu, kemana tujuan Linda saat ini.
Saat itu lampu lintas berwarna merah, Linda menghentikan mobilnya tepat di batas garis zebra cross.
Mike menghentikan mobilnya di belakang mobil Linda, mobil mereka terhalang dengan satu mobil lain.
Sesaat kemudian, Lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau, Linda segera menginjak gas mobilnya.
Linda pun melanjutkan perjalanannya, Mike cepat mengikutinya.
Gavlin tiba di rumahnya, dia berdiri di teras rumahnya, menghela nafasnya.
"Aku harus nunggu Linda di sini, jangan sampe dia maksain lagi masuk ke dalam rumah." Gumam Gavlin.
Dia lantas duduk di kursi yang ada di teras rumahnya, menunggu kedatangan Linda yang mau menjemputnya.
Di kantor kepolisian, Teguh menemui Gatot yang sedang membaca berkas kasus di meja kerjanya.
Teguh lantas segera memberikan sebuah map ditangannya pada Gatot.
"Apa ini ?" Tanya Gatot mengambil map yang diberikan Teguh.
__ADS_1
"Hasil visum lab, Sidik jari yang ditemukan pada kedua pisau cocok dengan sidik jari Guntur, adiknya Bramantio, juga ada sidik jari Sumantri" Ujar Teguh.
Teguh memberi laporan. Gatot terlihat senang mendengar kabar baik dari Teguh.
"Kena kamu sekarang Guntur, sebentar lagi kamu Bram, aku pasti akan segera mendapatkan bukti bukti kejahatanmu." Ujar Gatot.
"Segera tangkap Guntur ! Cari dia sampai dapat, selidiki , dimana Guntur saat ini bersembunyi ! Jangan sampai lolos!" Ujar Gatot memberi perintah pada Teguh.
"Siap komandan !" Ujar Teguh.
Dia lalu pergi meninggalkan Gatot yang lantas merapikan berkas berkas kasus yang berserakan di atas meja kerjanya.
Setelah rapi, Gatot segera melangkah keluar dari ruang kerjanya juga.
Sementara itu, Mike masih terus mengikuti Linda , saat Mike melihat Linda membawa mobilnya ke sebuah jalan di perempatan, dia menyeringai.
"Sudah ku duga, dia pasti mau kerumah si Gavlin." Ujarnya.
Mike dengan cepat memakai Headset Bluetooth Wireless ke telinganya, dia lalu menelpon seseorang.
"Bersiap, dia sudah dekat, Ingat, jangan sampe lolos, tetap aktifkan hapemu." Ujar Mike bicara melalui Headset Bluetooth Wirelessnya.
Sambil menyetir, mata Mike terus mengawasi mobil Linda yang melaju di jalan raya.
Mike melihat mobil Linda akan berbelok ke arah kanan seperti yang dia duga.
"Benar dugaanku, dia ke arah sana!" Ujarnya.
Melalui ponselnya, Mike segera memberitahu pada orang yang ditugaskannya menunggu Linda.
"Sekarang, lakukan tugasmu, dia sudah belok ke arahmu !" Ujar Mike bicara melalui Headset Bluetooth Wireless yang menempel di telinganya.
Mike lalu berbelok ke arah lain, dia sengaja meninggalkan Linda, tidak mengikutinya lagi.
Karena sudah menyerahkannya pada orang yang ditugaskannya menunggu Linda di sisi jalan lain.
Mobil Linda melaju dengan kecepatan sedang, wajahnya terlihat tersenyum senang.
Diatas jok sampingnya, ada bungkusan plastik besar, yang di dalamnya ada kotak besar berisi roti aneka rasa, dia akan memberikan roti pada Gavlin.
Tiba tiba dari arah berlawanan, sebuah mobil Truck melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Linda.
Linda tak menyadari, jika mobil Truck itu sengaja mengarah ke mobilnya.
Linda kaget melihat mobil truck dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya.
Semakin dekat, Linda panik, belum sempat dia banting stir untuk menghindar, mobil truck sudah lebih dulu menabrak mobil Linda.
Mobil Linda seketika terlempar dan berguling guling terbalik dijalan raya.
Karena benturan yang sangat keras antara mobilnya dan mobil Truck yang sengaja menabraknya, menyebabkan mobil Linda rusak parah dan hancur.
Di dalam mobilnya yang dalam posisi terbalik, Linda terlihat kesakitan.
Dari pelipis dan kepalanya mengeluarkan darah segar, tubuh Linda tidak bisa bergerak.
Dia berusaha melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya, tapi Linda kesulitan membukanya. Tubuhnya lemah.
Linda lalu meraih tas yang ada di dekatnya, karena sebelumnya tasnya diletakkannya di jok depan, disamping dia bersama dengan bungkusan berisi kotak roti.
Dengan tangan gemetaran dan terluka, Linda mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Dia lalu membuka layar ponselnya, mencari nama dari kontak teleponnya.
Setelah dia menemukan nama di kontak telepon, Linda segera menelpon.
"To...toloong...aku...Vlin..." Ujar Linda terbata bata dengan suara lemahnya.
Di teras rumahnya, Gavlin menerima telepon dari Linda, Gavlin terlihat bingung mendengar suara Linda yang aneh, seperti lemah dan terbata bata.
"Lin...kamu kenapa? suaramu kurang jelas, kamu dimana sekarang,Lin?" Ujar Gavlin di teleponnya.
Dari dalam mobilnya Linda berusaha menguatkan dirinya, dia kembali bicara di telepon.
"To...long...aku...aku ke...celakaan...Vlin...di jal...jalan...kartini...dekat rumahmu." Ujar Linda.
Suaranya semakin melemah, ponsel ditangannya terlepas dari tangannya, tangannya jatuh terkulai lemas.
"Lin...Lin...tunggu aku...tunggu aku...aku akan segera datang...bertahan Lin...!!" Ujar Gavlin dengan suara keras.
Gavlin panik mendengar Linda kecelakaan di jalan yang jaraknya sebenarnya sudah dekat dengan rumahnya.
Gavlin dengan cepat berlari pergi dari rumahnya, wajahnya cemas, dia ingin cepat sampai agar bisa segera menolong Linda.
Dari mobil Linda yang rusak dan hancur dan terbalik,terlihat di aspal jalanan sudah berceceran bensin yang tumpah dari tangki bensin mobil Linda.
Linda di dalam mobil tidak bisa bergerak, tubuhnya lemah, matanya hampir terpejam.
Samar samar dia melihat sosok Pria keluar dari dalam mobil truck yang menabraknya.
Pria itu berdiri di jalan, menatap kearah Linda, Linda melihat wajah sosok pria yang ternyata Zulfan, orang suruhan Mike.
Mike membayar Zulfan untuk membunuh Linda dengan cara kecelakaan, agar kematian Linda ditetapkan karena kecelakaan.
Linda semakin melemah, perlahan lahan, mata Linda terpejam, dia tak sanggup lagi untuk membuka matanya, Linda pingsan dengan luka parah.
Zulfan terlihat menyeringai tersenyum puas melihat mobil Linda yang hancur.
Dia juga melihat Linda sudah tak berdaya didalam mobilnya. Zulfan lantas dengan cepat kembali ke mobil trucknya.
Lalu dia segera membawa pergi mobil truck meninggalkan Linda sendiri yang sudah tak berdaya.
Tidak ada seorang pun yang datang menolong Linda saat ini, karena memang seperti biasanya, jalanan yang di lalui Linda sepi.
Karena Mike tahu jalanan ke arah rumah Gavlin itu selalu sepi tiap harinya, Mike menyuruh Zulfan untuk melakukan tugasnya membuat kecelakaan di jalan itu.
Percikan percikan api mulai terlihat dari mobil Linda yang rusak parah.
Percikan api menyambar bagian bagian mobil yang mudah terbakar, menjalar cepat membakar sisi lainnya.
Lalu, api dengan cepatnya menjalar ke arah tumpahan bensin di aspal jalanan.
Gavlin berlari kencang tiba di lokasi kejadian kecelakaan, dia melihat mobil Linda yang terbalik dalam keadaan rusak parah.
Gavlin mempercepat larinya mendekati. Wajah Gavlin terlihat tegang.
Ada kecemasan pada dirinya, dia ingin segera menemui dan menolong Linda.
Saat Gavlin berlari hendak mendekati mobil Linda, saat itu juga mobil Linda meledak, karena terbakar. Gavlin kaget, dia terhenyak.
"Lindaaaaaa...!!" Teriak Gavlin melihat mobil meledak dan dengan cepat membakar seluruh mobil dan Linda.
Gavlin terhenyak, dia syock, berdiri terdiam, matanya terbuka lebar, dari matanya terlihat kobaran api yang membakar seluruh mobil.
Mata Gavlin berkaca kaca, lalu menetes air mata tanpa dia sadari, dia tak bisa menyelamatkan Linda.
__ADS_1
Dengan mata kepalanya sendiri, dihadapannya, Linda mati terbakar didalam mobil, Gavlin menangis, meratapi kematian Linda yang tragis.