VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Meletakkan Jabatan


__ADS_3

Gavlin tersenyum senang dan puas melihat berita yang tersajikan di televisi.


"Mampus kamu sekarang Binsar, kamu gak akan aman dan gak bakal bisa bergerak leluasa lagi sekarang." ujar Gavlin, tertawa puas.


Gavlin lantas berdiri dari duduknya di kursi, dia beranjak dan hendak mematikan televisi. Namun langkahnya terhenti, karena saat ini, televisi tengah menampilkan berita penting lainnya.


Gavlin pun berdiri terdiam, dia melihat ke televisi yang sedang menayangkan "Breaking News". Gavlin heran, dia lantas kembali duduk di kursinya.


"Wah, ada berita penting apa lagi ini?" ujar Gavlin, menatap ke televisi.


Seorang pembaca berita terlihat di televisi sedang membacakan sebuah berita, Gavlin tersentak kaget, saat si pembaca berita mengatakan bahwa saat ini Presiden Adiwinata tengah bersiap siap akan menggelar Konferensi pers atau jumpa pers, digedung kepresidenan.


"Wah, seru nih. Mau apa tuh Presiden, tiba tiba gelar jumpa pers segala." ucap Gavlin, tersenyum sinis.


Gavlin pun lantas dengan serius menonton berita di televisi.


Tampak di layar televisi, sang Presiden tengah bersiap siap berdiri di podium untuk memberi pernyataan kepada seluruh rakyatnya.


Gavlin serius memperhatikan sang Presiden yang tampil di layar televisi. Lalu, Sang Presiden pun memulai pernyataannya.


"Demi kesejahteraan, kedamaian seluruh rakyat di negara ini, maka, saya sebagai Presiden akan mengundurkan diri mulai saat ini juga." ujar sang Presiden, dalam pernyataannya ditelevisi.


Gavlin tersentak kaget mendengar pernyataan sang Presiden, dia tak menyangka, jika Presiden akhirnya berani meletakkan jabatannya sebagai presiden yang sudah dijabatnya selama dua periode ini.


"Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang telah terjadi dalam negara ini, dan saya bersedia di periksa oleh pihak kepolisian mau pun kejaksaan serta penyidik anti korupsi jika saya terlibat dalam tindak kejahatan organisasi Inside, saya akan menjalani pemeriksaan dengan sebaik baiknya." ucap sang Presiden, dengan legowo dan tegar.


"Semoga, dengan keputusan saya mengundurkan diri sebagai presiden membuat suasana di negara ini menjadi kondusif dan lebih bak, tidak ada lagi kerusuhan yang terjadi di mana mana." ucap sang Presiden dengan tegas dan penuh keyakinan dalam dirinya.


Gavlin bertepuk tangan mendengar pidato presiden yang menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan presiden.


"Ahaaay... Gak nyangka, kamu berani bertanggung jawab atas semua perbuatanmu." ujar Gavlin, tertawa senang dan puas.


Gavlin lantas berdiri dan beranjak mendekati televisi, lalu, dia mematikan televisi, dia sudah cukup puas dengan apa yang sudah dia lihat.


"Bagus, satu persatu akhirnya terungkap, mudah mudahan saja, jejak sang presiden di ikuti para mentrinya untuk melepaskan jabatan mereka dan mengakui kejahatan mereka didepan umum." ujar Gavlin, tersenyum puas.


Gavlin lantas pergi dari ruangan itu, wajahnya tampak sangat senang sekali, karena apa yang sudah dia lakukan membuahkan hasil, dan salah satunya, presiden akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya.


Di ruang kantornya, tampak Binsar sangat marah sekali saat melihat berita di televisi, di mana Adiwinata sebagai presiden menyatakan pengunduran dirinya.


"Keparaaat kamu Adi !! Pengecuuuttt!!" teriak Binsar penuh amarah.


Dia melemparkan remote ke televisi, hingga mengenai kaca layar tv dan hancur berantakan, Binsar tak bisa membendung kekecewaan dan amarahnya pada Adiwinata.


Binsar lantas segera mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, dan dia lalu menghubungi Adiwinata.


"Hallo? Kamu sudah gila ya Adi? Kenapa kamu membuat pernyataan yang gegabah seperti itu?!" bentak Binsar, penuh amarah ditelepon.


"Maaf, saya tidak mau bicara dengan anda lagi." ucap Adiwinata dari seberang telepon.


Adiwinata menutup teleponnya, mengetahui teleponnya di matikan Adiwinata begitu saja, Binsar pun lantas semakin murka, dia mengamuk, melemparkan ponselnya hingga hancur.


"Kepaaaaraaattt!!" teriak Binsar penuh amarah.


Pintu ruangan di ketuk, lalu, Ramon membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kantornya.


"Bapak tadi manggil saya, ada apa?" tanya Ramon, berdiri disamping Binsar yang duduk di sofa dengan wajah penuh amarah.


Ramon melihat ponsel yang hancur di lantai, dia juga melihat kaca televisi sudah hancur juga. Ramon tahu, Binsar saat ini murka dan sangat marah sekali.


"Selidiki dan cari orang yang telah menyebarkan rekaman cctv itu!! Habisi dia !!" bentak Binsar, memberi perintah.


"Baik, Pak. Akan saya buru orang itu." ujar Ramon.

__ADS_1


"Ya, sudah, pergi sana, tinggalkan saya!" hardik Binsar marah.


"Baik, Pak." ujar Ramon.


Ramon memberi hormat, lalu dia bergegas pergi keluar dari dalam ruang kantor, Binsar tampak mukanya masih memerah, karena amarahnya sudah mencapai ubun ubunnya, kemarahannya sudah tak terbendung lagi.


"Adiwinata, kamu akan mendapatkan akibat dari perbuatanmu ini!!" ujar Binsar, dengan geram dan penuh amarah.


---


Di tempat berkumpulnya para pendemo saat ini, mereka terlihat bersorak sorai kesenangan, suasana menjadi sangat riuh, mereka saling bersalaman dan berpelukan.


Para pendemo senang, karena aksi protes mereka membuahkan hasil yang baik, Presiden akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya.


"Kita berhasil, kita berhasil!!" teriak para pendemo.


"Presiden mundur, Presiden mundur!!" teriak para pendemo penuh semangat.


Suasana duka cita terlihat diantara para pendemo, kebahagiaan tampak jelas di raut wajah mereka semuanya, walau penuh luka dan sangat lelah dalam menjalankan aksi protesnya beberapa hari ini, tapi mereka puas, sebab, usaha mereka tidak sia sia, mereka berhasil menggulingkan pemerintahan Adiwinata sebagai presiden.


---


Binsar keluar dari dalam gedung kementrian, dia berjalan menuju halaman gedung, sebuah mobil datang menghampirinya.


Binsar lantas bergegas masuk kedalam mobil, saat dia duduk di dalam mobil, dia kaget, karena melihat banyak orang orang yang datang dan berjalan masuk kehalaman gedung kementrian.


"Mau apa mereka?" tanya Binsar, kaget.


"Saya gak tau, Pak." jawab Supir pribadinya.


"Ya, sudah, cepat pergi dari sini." Perintah Binsar.


"Baik, Pak." ujar sang Supir.


"Turun...turuuun...!!" teriak orang orang berdiri di hadapan mobil Binsar.


Beberapa orang melemparkan telur telur busuk ke mobil Binsar, Binsar kaget melihat aksi massa yang marah dan beringas itu.


"Ayo cepat pergi!!" perintah Binsar.


"Tapi, Pak. Mereka menghadang mobil, berdiri didepan." ujar sang Supir, bingung.


"Saya gak perduli, kalo mereka gak minggir , kamu tabrak saja mereka!!" bentak Binsar marah.


"Tapi Pak...


"Gak ada tapi tapian, ikuti saja perintah saya!!" bentak Binsar marah, memotong bicara supirnya.


"Baik, Pak." ujar sang Supir.


Akhirnya, mau tak mau, sang Supir pun harus menuruti perintah Binsar sebagai majikannya. Dia membunyikan klakson mobil, agar para pendemo yang datang dan menghadang mobil segera minggir dan memberi jalan.


Namun, para massa yang berkerumun banyak itu tak bergeming, mereka tak ada yang minggir, tetap menghadang mobil. Dan beberapa orang terus melempari mobil dengan telur telur busuk , hingga mobil Binsar dipenuhi cairan telur telur busuk.


"Ayo cepat pergi, tunggu apa lagi?!!" bentak Binsar penuh amarah.


"I...iya Pak." jawab sang Supir gugup.


Mau tak mau, akhirnya sang supir pun menginjak gas mobilnya, mobil langsung melaju cepat kedepan dan menabrak orang orang yang berdiri didepannya.


Melihat itu, para massa akhirnya minggir dan menghindar dari mobil, mereka tak mau di tabrak, dan mobil Binsar pun langsung melaju cepat, pergi meninggalkan para massa yang tampak marah itu.


"Kita lanjutkan besok lagi aksi kita!! Kita datangi rumahnya besok!!" ujar pemimpin demo pada rekan rekannya.

__ADS_1


"Ya." sorak para massa yang berdiri berkerumun.


Mereka akhirnya membubarkan diri karena Binsar sudah pergi, mereka sengaja datang ke kantor Binsar, untuk menuntut Binsar, agar dia juga mau turun dan meletakkan jabatannya sebagai menteri dan penasehat presiden.


Binsar tahu hal itu, namun, dia tak mudah ditakut takuti, Binsar tak akan mau mundur dari jabatannya saat ini.


---


Andre menemui Chandra yang sedang ditahan di kejaksaan, mereka bertemu di ruang pertemuan, antara pengunjung dan tahanan.


"Ada apa kamu nemui aku?" tanya Chandra, dengan sikap dingin dan cueknya menatap wajah Andre.


"Kamu sudah dengar kabar berita penting?" tanya Andre.


"Nggak. Dari mana aku bisa tau berita apa, kalo aku ada di dalam tahanan." ujar Chandra tersenyum kecut.


"Beberapa hari ini, ada aksi demo besar besaran yang dilakukan seluruh masyarakat, mereka protes dan meminta mundur presiden dari jabatannya." ujar Andre, memberi penjelasan.


Chandra cuek saja mendengar penjelasan Andre itu, Andre terus bercerita.


"Sebelumnya, masyarakat dikejutkan dengan sebuah berita dan tayangan langsung ditelevisi, yang menayangkan semua aksi kejahatan organisasi Binsar, diantaranya ada Binsar dan presiden dalam tayangan tersebut." jelas Chandra.


"Rakyat heboh, dan suasana menjadi rusuh, langsung aksi protes digelar dimana mana, dan pada akhirnya, presiden Adiwinata memberi pernyataan dalam Konferensi pers atau jumpa pers nya, dia melepaskan jabatannya sebagai Presiden." tegas Andre menjelaskan.


"Presiden mengundurkan diri?" ujar Chandra kaget.


"Ya. Karena mungkin dia merasa malu, karena dirinya juga ada dalam tayangan itu, ikut dalam rapat tertutup organisasi Inside yang sedang merencanakan tindak kejahatan mereka dalam menjuali aset negara." jelas Andre.


"Oh, rekaman itu, aku tau semuanya." ujar Chandra.


"Ini pasti kerjaannya Gavlin, Gavlin pasti sengaja memberikan rekaman cctv kepada seluruh media, yang akhirnya menayangkan rekaman itu." ujar Chandra.


"Ulah Gavlin?!" Andre tersentak kaget.


"Ya, siapa lagi yang punya flash disk rekaman cctv kejahatan organisasi Inside? Selain aku, kamu, Samuel, Gavlin juga punya." ungkap Chandra.


"Dan aku tau pikiran Gavlin, dia sengaja menyebarkan rekaman itu, agar rakyat langsung yang mengadili Binsar dan komplotannya." tegas Chandra.


"Dan sepertinya rencana Gavlin kali ini berhasil, dia telah menjatuhkan presiden, dan aku yakin, saat ini, pasti Binsar juga sedang dikejar kejar para pendemo untuk juga meletakkan jabatannya." ujar Chandra tersenyum sinis.


"Oh, ternyata Gavlin yang ada dibelakang layar." ujar Andre, mengangguk mengerti dan paham.


"Jangan salahkan Gavlin, dia bertindak seperti itu, karena kecewa dengan kinerja kalian sebagai polisi yang seharusnya bisa menangkap Binsar dan komplotannya." tegas Chandra.


"Ya, aku tau. Dan aku sadar, jika kami berhasil menangkap komplotan Inside, pasti aksi demo dan kerusuhan gak akan terjadi dimana mana. Kami memang salah dalam hal ini." ucap Andre, penuh rasa bersalah, karena gagal membongkar kejahatan organisasi Inside.


"Apa Gavlin pernah datang menemui kamu, selama kamu ada di dalam tahanan kejaksaan ini?" tanya Andre.


Andre menatap lekat wajah Chandra, dia ingin tahu, apakah sebelum merencanakan semua ini, Gavlin datang menemui Chandra terlebih dulu.


"Tidak, Gavlin gak pernah menemuiku. Aku juga gak tau, dia dimana tinggal saat ini." ujar Chandra.


"Oh, begitu." ujar Andre, mengangguk mengerti dan paham.


"Baiklah, Chan. Kalo begitu, aku pamit pulang dulu , terima kasih sudah mau menemuiku." ucap Andre, bersungguh sungguh dan serius.


"Ya." Jawab Chandra datar.


Andre lalu berdiri dari duduknya di kursi, begitu juga dengan Chandra, Chandra memberitahu penjaga, bahwa waktunya sudah selesai, dan Chandra pun dibawa penjaga lagi untuk dimasukkan kedalam tahanan kembali.


Andre lantas pergi keluar dari ruang pertemuan itu, dia tampak sedang memikirkan Gavlin, dia tak menyangka, jika semua ini hasil pekerjaan Gavlin.


Dan Gavlin sudah berhasil menghancurkan dan memporak porandakan organisasi Inside, dengan munculnya rekaman kejahatan organisasi Inside di depan umum, tak ada lagi tempat buat Binsar bisa bersantai santai. Jika dia berada ditempat umum, dia pastilah akan mendapat hinaan dan cibiran dari masyarakat umum yang pastinya sangat membenci dirinya sebagai otak dari kejahatan yang ingin menjual seluruh aset negara.

__ADS_1


__ADS_2