VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Proyek Besar


__ADS_3

Manager Hotel sudah lama berdiri menunggu kedatangan Bramantio.


Bramantio, Pemilik Hotel Hera yang megah dan mewah tersebut berjalan mendekati Manager Hotel yang menyambut kedatangannya.


Bramantio lalu melangkah cepat, dia langsung mendekati Manager Hotel.


"Sudah datang orangnya ?" Tanya Bramantio pada Manager Hotel.


"Belum Pak." Jawab Manager Hotel pada Bramantio.


"Saya tunggu di ruangan saya, kalau tamunya sudah datang, kamu segera antar dia nemui saya." Ujar Bramantio memberi perintah.


"Baik Pak." Jawab Manager Hotel.


Bramantio lalu segera melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan Manager Hotel.


Bramantio berdiri di depan lift, diam menunggu, beberapa saat pintu lift hotel terbuka, Bramantio segera masuk kedalam lift, pintu lift kembali tertutup.


Manager Hotel segera berbalik setelah kepergian Bramantio, dia berjalan kebagian Receptionis.


Dia menunggu tamu yang sengaja di undang Bramantio datang untuk bertemu dengannya.


Di dalam ruangannya yang terlihat mewah, Bramantio duduk di kursi, dia menelpon seseorang.


"Bagaimana ? Sudah kamu tugaskan samsul dan anak buahnya buat mencari pembunuh itu ?" Tanya Bramantio di teleponnya.


"Baik, kasih kabar saya untuk perkembangannya nanti." Ujar Bramantio lagi di teleponnya.


Lalu setelah itu, dia mematikan teleponnya, meletakkan ponsel diatas meja kerja yang panjang dan lebar terbuat dari kayu jati kokoh.


   Yanto melangkah masuk ke dalam hotel, dengan penampilan senimannya.


Dengan rambut panjang, memakai topi, berkumis tipis dan berjenggot tebal dengan memakai jaket dan celana jeans belel.


Yanto berjalan cuek, Manager Hotel yang melihat kedatangannya segera menghampirinya.


"Dengan bapak Yanto ?" Tanya Manager Hotel.


Yanto hanya mengangguk tersenyum tanpa menjawab, Manager Hotel senang akhirnya orang yang ditunggu bosnya datang juga.


"Mari saya antar, Bapak sudah menunggu diruangannya." Ujar Manager Hotel.


Sikapnya sopan pada Yanto yang mengangguk dengan memandang seluruh ruangan hotel yang tampak megah dan mewah itu.


Manager Hotel segera berjalan menuju lift di ikuti Yanto yang berjalan santai dibelakangnya.


Manager Hotel menekan tombol naik lift, berdiri menunggu, sesaat kemudian pintu lift terbuka.


Manager Hotel mempersilahkan Yanto untuk masuk kedalam lift, Yanto melangkah masuk ke dalam lift di ikuti manager hotel.


Pintu lift tertutup, Manager Hotel menekan tombol nomor 35, Yanto yang berdiri di pojokan dalam lift melihat nomor lantai yang di pilih Manager Hotel.


Manager Hotel menoleh pada Yanto yang berdiri dengan tenang di pojokan.


"Saya salah satu penggemar karya karya patung lilin bapak, waktu pameran di taman kota, saya juga datang." Ujar Manager Hotel pada Yanto.


Yanto melirik pada Manager Hotel yang berdiri tepat di samping dia berdiri.


"Terima kasih sudah datang ke pameran patung lilin saya." Ujar Yanto.


Dia tersenyum ramah pada Manager Hotel yang terlihat mengeluarkan buku kecil dan pulpen dari dalam kantong jasnya.


"Maaf, saya boleh minta tanda tangannya ?" Ujar Manager hotel.


Yanto mengambil buku kecil dan pulpen dari tangan Manager Hotel, lalu membuka lembaran buku kecil, membubuhi tanda tangan dirinya di kertas buku kecil.


Wajah Manager Hotel terlihat senang karena berhasil mendapatkan tanda tangan Yanto, pematung lilin yang sangat terkenal.


Yanto lalu memberikan buku kecil yang sudah ditanda tanganinya beserta pulpen pada Manager Hotel yang menerimanya dengan senang.


"Terima kasih, akhirnya saya punya tanda tangan bapak, dan bisa berdiri dekat di samping bapak, ngobrol begini." Ujar Manager Hotel tersenyum.


Yanto pun tersenyum. menatapnya. Pintu hotel terbuka, mereka tiba di lantai 35, lantai dimana ruangan Bramantio berada.


Yanto segera melangkah keluar dari dalam lift di ikuti manager hotel, pintu lift kembali tertutup. 


"Lewat sini pak." Ujar Manager Hotel dengan sopan pada Yanto.


Dia menunjuk ke arah kiri, Yanto pun mengikuti Manager Hotel berjalan.


Setibanya di depan ruangan yang biasa dipakai kerja dan istirahat Bramantio jika datang ke hotel miliknya itu, Manager Hotel mengetuk pintu.


Terdengar dari dalam ruangan suara Bramantio menyuruhnya masuk.


Manager Hotel segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan di ikuti Yanto yang berjalan dibelakangnya.


Di dalam ruangannya, Manager Hotel mendekati Bramantio yang masih duduk di kursi kerjanya.


"Pak Yanto sudah datang Pak." Ujar Manager Hotel.


Bramantio melihat Yanto yang berdiri di dekat pintu masuk mengamati seluruh ruangan, lalu Bramantio berdiri dari duduknya.


"Terima kasih sudah mengantar beliau." Ujar Bramantio pada Manager Hotel yang mengangguk.


"Saya permisi pak." Ujar Manager Hotel, Bramantio mengangguk.


Manager Hotel segera melangkah keluar ruangan, Bramantio berjalan mendekati Yanto yang masih berdiri ditempatnya memandangi seisi ruangan.


"Apa kabar pak Yanto, terima kasih sudah mau menyempatkan waktu datang menemui saya." Ujar Bramantio.


Dia tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya, Yanto pun menyalami Bramantio, dia tersenyum.


"Saya sangat mengagumi buah karya brilian anda, sempurna." Bramantio kagum.


"Patung patung lilin yang saya liat begitu sama, seperti manusia hidup, ajaib." Ujar Bramantio memberikan pujian pada Yanto yang tersenyum mendengar pujian dari Bramantio.


"Terima kasih." Ujar Yanto dengan sikap dingin dan tenangnya.


"Silahkan duduk pak Yanto." Ujar Bramantio.


"Panggil saja saya bung Yanto, saya canggung dipanggil bapak." Ujar Yanto pada Bramantio yang tertawa.

__ADS_1


"Baiklah, mari bung, silahkan duduk." Ujar Bramantio.


Dia mengajak Yanto untuk duduk di sofa mewah yang ada didalam ruangan itu, Yanto duduk di salah satu sofa, Bramantio juga duduk di sofa lainnya.


"Bapak menginginkan apa dari saya?" Ujar Yanto bertanya.


Dia tidak mau basa basi berlama lama bicara, dia sengaja bertanya agar Bramantio segera menyampaikan hal yang utama mengundangnya ke hotel Hera.


"Begini bung Yanto, saya ingin, bung membuatkan saya sebuah patung lilin berwujud dewi Hera, saya ingin patung itu terlihat mewah, indah." Ujar Bramantio.


"Saya akan meletakkannya di tengah tengah ruangan di lantai lobby hotel." Ujar Bramantio.


"Agar seluruh tamu yang datang dan menginap di hotel berdecak kagum karena melihat keindahan patung lilin dewi Hera tersebut." Ujar Bramantio pada Yanto.


"Berapa ketinggian patung yang bapak inginkan saya buat ?" Tanya Yanto pada Bramantio.


"Saya ingin tinggi patung lilin itu sekitar 3 meter, berdiri kokoh." Ujar Bramantio.


"Apa tidak menyentuh dak lantai bagian atas hotel nantinya jika setinggi itu ?" Tanya Yanto.


"Oh tentu tidak bung, antara lantai satu dengan lantai lain di atasnya itu berjarak 7 meter ketinggiannya, jadi saya pastikan aman." Ujar Bramantio.


"Sebelumnya, saya sudah membuat patung Dewi Hera yang terbuat dari keramik kaca." Ujarnya.


"Tapi patung itu sudah hancur, karena ada kejadian tragis yang menimpa patung itu." Ujar Bramantio.


Ekspresi wajah Bramantio terlihat menyimpan kekecewaan karena patung yang sengaja dibuatnya dari keramik kaca hancur.


Yanto menatap wajah Bramantio.


"Untuk membuat sesuai dengan keinginan bapak itu, saya butuh waktu yang cukup lama." Ujar Yanto.


"Dan juga biaya yang sangat mahal tentunya untuk bahan bahan yang diperlukan." Ujar Yanto.


"Saya harus menyewa kendaraan saat membawa patung lilin ke hotel ini nantinya." Ujar Yanto pada Bramantio.


"Oh, bung jangan khawatir soal biaya, berapapun uang yang bung Yanto minta, akan saya penuhi." Ujar Bramantio sombong.


"Yang penting, patung lilin itu sesuai dengan yang saya inginkan, dan saya puas." Ujar Bramantio tersenyum pada Yanto.


Ada kebanggaan dan rasa sombong dalam diri Bramantio saat mengatakan soal biaya dan uang.


Dia menganggap uang bukanlah masalah dan hambatan, karena dia memang memiliki semua itu, hartanya berlimpah.


Bramantio lalu berdiri, dia berjalan ke meja kerjanya, membuka laci meja, lalu mengambil selembar kertas cek, dan sebuah pulpen berharga mahal.


Setelah dia menutup kembali laci di meja kerjanya, Bramantio segera duduk kembali di dekat Yanto duduk, dia memberikan lembaran cek pada Yanto.


Bramantio meletakkan lembaran cek bersama pulpen berharga mahal diatas meja.


"Silahkan bung Yanto langsung yang menulis nominalnya, tulis di cek ini berapapun yang bung Yanto minta, akan saya penuhi." Ujar Bramantio.


Bramantio tersenyum bangga dengan sikap menyombongkan dirinya.


Yanto diam, berfikir sejenak, matanya menatap pada lembaran cek yang ada di atas meja didepannya.


Yanto kemudian melirik Bramantio yang sedang tersenyum menatapnya.


Bramantio memberi isyarat agar Yanto segera menuliskan nominal angka yang dia mau atas upah membuat patung lilin sesuai pesanan Bramantio.


Dia lalu mengambil lembaran cek, menuliskan nominal angka yang dia minta pada Bramantio.


Setelah dia selesai menuliskan angka nominal pada lembaran cek, dia menunjukkan angka itu pada Bramantio.


Bramantio melihat pada lembaran cek yang tergeletak diatas meja, mengambil lembaran cek, melihat angka yang tertulis.


Dia tersenyum dan tertawa saat melihat angka nominal yang di tulis Yanto dalam lembar cek tersebut.


Angka nominal yang tertulis cukup mahal, tertulis "650 juta". Bramantio lalu meletakkan kembali lembaran cek diatas meja, memberikannya pada Yanto.


"Baik, saya setuju dengan harga itu, silahkan diambil ceknya bung." Ujar Bramantio pada Yanto yang mengangguk.


Dia lalu mengambil dan menyimpan lembaran cek tersebut, memasukkannya kedalam kantong jaketnya.


"Jadi, kapan bung mulai membuatnya." Tanya Bramantio pada Yanto.


"Mungkin dalam beberapa hari kedepan, saya harus membeli dan menyediakan semua bahan bahan yang diperlukan."Ujar Yanto.


"Bung tahu wujud sosok dewi Hera? Jika belum tau, saya ada menyimpan photonya." Ujar Bramantio.


"Tidak perlu pak, saya bisa mencarinya di internet." Ujar Yanto tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, kita deal, saya akan menunggu hasil karya bung." Ujar Bramantio, Yanto mengangguk tersenyum.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Ujar Yanto yang lantas berdiri dari tempat duduknya, Bramantio juga berdiri, dia menyalami Yanto.


"Sampai jumpa lagi bung." Ujar Bramantio tersenyum, mereka berjabatan tangan.


Yanto lalu berbalik, melangkah pergi keluar ruangan meninggalkan Bramantio yang tidak mengantarkannya keluar.


Setelah kepergian Yanto, Bramantio segera berbalik, dia berjalan ke arah meja kerjanya, lalu duduk.


Wajahnya terlihat senang karena sudah berhasil meminta Yanto, pematung lilin yang terkenal membuatkan patung dewi Hera untuknya.


Bagi Bramantio, keberadaan patung dewi Hera harus ada di Hotel Megah yang juga dinamainya Hera itu.


Karena dia yakin, dengan adanya patung Hera, sebagai simbol kekayaan dan kejayaan, maka hotelnya akan mendapatkan kejayaan.


Sementara itu, Yanto yang berjalan di koridor hotel menuju lift mengamati seluruh ruang koridor.


Dia melihat ke atas plafon ruangan, matanya melihat bahwa ruangan koridor dipenuhi dengan cctv.


Cctv dipasang tiap sudut, sama seperti di dalam ruangan kerja Bramantio. Ada beberapa cctv yang terpasang.


Yanto tiba di depan lift, dia menekan tombol turun, berdiri menunggu, sesaat kemudian pintu lift terbuka, segera Yanto masuk ke dalam lift.


Di dalam lift, terlihat Yanto tersenyum senang, dia menekan tombol bernomor lantai lobby hotel.


Kemudian dia mengambil lembaran cek dari kantong jaketnya, melihat cek tersebut.


Terlihat wajahnya senang karena mendapatkan uang sebanyak itu, lalu Yanto segera menyimpan lembaran cek itu ke dalam kantong jaketnya.

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Yanto cepat melangkah keluar dari dalam lift, dia berjalan menyusuri ruangan lobby hotel.


Sudah tidak ada Manager Hotel terlihat di lobby itu, Yanto berjalan santai dengan senyum bahagia keluar hotel.


   Sore hari, Gavlin menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, didalam mobil, di jok belakang ada Bramantio yang diam cuek.


Bramantio memejamkan matanya, sesekali Gavlin melirik Bramantio yang memejamkan mata, mencoba untuk tidur didalam mobil.


Gavlin melihat dari kaca spion depan mobil, kali ini Gavlin menjalankan mobilnya dengan baik.


Bramantio terlihat merasa nyaman duduk didalam mobil, karena cara mengendara Gavlin sekarang lebih lembut dari sebelumnya.


   Di ruang kerjanya, Linda sedang menelpon, dia terlihat sedikit kesal karena teleponnya tidak juga diangkat.


"Angkat dong Vlin, please, aku kangen, pengen ketemu kamu, aku mau ngomong penting sama kamu." Ujar Linda cemberut.


Dia mencoba kembali menelpon ke nomor telepon Gavlin, diam menunggu nada panggilan, tapi tidak juga ada respon teleponnya diterima Gavlin.


Linda kesal, dia tidak menyerah, terus mencoba dan mengulang menelpon Gavlin.


Gavlin yang sedang menyetir menjadi risih karena ponselnya terus berbunyi didalam kantong celananya.


Bramantio merasa terganggu dengan suara bunyi telepon Gavlin yang menyala dan mati berkali kali.


"Bisa nggak sih, kamu matikan tuh hape, berisik, saya terganggu suaranya!" Bentak Bramantio, dia marah pada Gavlin.


"Maaf pak, maaf." Ujar Gavlin.


Lalu dia mengambil ponsel dari kantong celananya, dengan posisi dia memegang stir dengan satu tangan.


Gavlin cepat mematikan ponselnya agar tidak bisa di hubungi lagi, lalu menyimpan ponsel ke dalam dashboard mobil.


Kemudian melanjutkan menyetir mobil yang melaju dijalan raya dengan kecepatan tinggi.


Di ruang kerjanya, Linda sangat kesal karena mengetahui Gavlin mematikan teleponnya.


"Iiiih, gak ngertiin perasaan aku deh." Ujar Linda cemberut karena dia tidak bisa menghubungi Gavlin.


Linda lalu berdiri, mengambil tas kecil yang ada diatas meja, memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya.


Lalu dia segera pergi keluar dari ruang kerjanya.


Di luar ruang kerjanya, Linda bertemu dengan Sekretarisnya.


"Batalin semua janji hari ini, saya mau pergi." Ujar Linda.


"Baik bu." Jawab Sekretaris dari meja kerjanya.


Linda berjalan cepat, masuk ke dalam lift untuk segera keluar dari kantornya.


Wajahnya terlihat menunjukkan kekesalan karena tidak berhasil bicara dengan Gavlin.


   Mobil berhenti di halaman rumah luas dan mewah bagai istana milik Bramantio.


Gavlin selesai mengantar pulang Bramantio.


Gavlin segera keluar dari dalam mobil, berjalan dan membuka pintu belakang mobil.


Bramantio keluar dan berjalan ke arah rumahnya dengan sikap cuek tanpa memandang pada Gavlin yang menunduk memberi hormat padanya.


Gavlin menutup pintu belakang mobil, melirik pada Bramantio yang berjalan ke arah rumahnya yang luas dan megah itu.


Gavlin menarik nafasnya, dia lalu masuk ke dalam mobil, Gavlin mengambil ponselnya dari dashboard, menghidupkan ponselnya kembali.


Lalu dia melihat dilayar, ada 25 panggilan tak terjawab tertulis, panggilan telepon dari Linda.


"Mau apa sih ini anak, sampe berkali kali nelpon, bikin aku dibentak si Bramantio aja." Ujar Gavlin sedikit kesal.


Dia lalu mengantongi ponselnya kedalam kantong pakaiannya, menyalakan mesin mobil, lalu segera menjalankan mobil, pergi meninggalkan rumah Bramantio.


   Linda menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sedang melampiaskan kekesalannya dijalan raya.


Wajahnya terlihat kesal, Linda berbelok ke jalan raya lainnya, mobilnya terus melaju.


Hingga pada saat lampu merah menyala, dia segera menginjak rem dan menghentikan mobilnya tepat di belakang garis penyebrangan jalan pejalan kaki.


Saat Linda menunggu lampu lalu lintas berganti hijau, sebuah mobil berhenti disamping mobil Linda.


Linda menoleh kesamping, dia melihat mobil yang baru datang dan berhenti disampingnya, dia melihat didalam mobil Gavlin yang menyetir.


"Gavlin...!" Ujarnya dengan wajah senang begitu melihat Gavlin.


Linda hendak membuka kaca jendela pintu mobil, tapi mobil Gavlin sudah berjalan.


Linda melihat lampu lalu lintas sudah berganti hijau, dia tidak jadi membuka kaca jendela pintu mobil.


Dengan cepat dia menjalankan mobilnya, mengejar mobil Gavlin yang sudah lebih dulu berjalan.


Linda menginjak gas, menambah kecepatan mobilnya agar dia bisa menyusul mobil Gavlin.


Saat dia melihat mobil Gavlin melaju di depan, mobil Linda semakin mendekat.


Lalu dengan cepat dan gerakan yang cekatan Linda membanting stir melewati mobil Gavlin.


Mobil Linda sekarang berada di depan mobil Gavlin yang kaget melihat tiba tiba mobil Linda menyalip.


"Gila tuh orang, mau mati !" Ujar Gavlin kesal.


Dia kaget karena mobilnya di salip, mobil Linda sudah menjauh, lalu Linda menghentikan mobilnya.


Kemudian Linda segera keluar dari dalam mobilnya, berdiri menunggu dijalanan yang sepi itu.


Mobil Gavlin melaju mendekat ke arah Linda menunggu, dari dalam mobil Gavlin melihat sosok Linda yang berdiri di belakang mobilnya.


Dengan cepat Gavlin menginjak rem, menghentikan mobilnya tidak jauh dari posisi mobil Linda berhenti.


Gavlin cepat turun dari dalam mobil dengan wajah kesal karena merasa sedang di intimidasi dengan di hadang oleh seorang wanita yang berdiri dijalanan.


Saat Gavlin berjalan mendekat, dia kaget begitu tahu bahwa yang berdiri menunggunya Linda.


"Linda ?! Ngapain kamu begini ?" Ujar Gavlin heran menatap Linda.

__ADS_1


Linda berdiri diam, tatapan matanya tajam memandang wajah Gavlin.


Melihat sikap diam Linda membuat Gavlin semakin heran, dia bingung, apa maksud Linda bersikap aneh padanya?


__ADS_2