
Joko Sambodo tampak keluar dari dalam restoran, dia berjalan santai menuju mobil sedannya yang ada di parkiran khusus restoran.
Joko membuka pintu mobil, lalu, dia bergegas masuk ke dalam mobilnya, mesin mobil menyala, lantas, Joko pun menjalani mobilnya.
Joko Sambodo pergi meninggalkan restoran miliknya, dia hendak pulang kerumahnya.
Di kejauhan, di tempat yang sedikit sepi, tampak Yanto, menunggu di dalam mobilnya. Dia tengah mengintai, menunggu dan mengawasi Joko Sambodo.
Saat Yanto melihat Joko Sambodo masuk ke dalam mobilnya, Yanto pun tersenyum licik. Dia senang, melihat Joko Sambodo masuk ke mobilnya.
Karena itu artinya, Joko akan pergi, dan dia berniat, untuk mengikuti Joko Sambodo. Mobil Joko Sambodo tampak berjalan keluar dari halaman restoran.
Yanto pun membenarkan letak topi dan kaca matanya, lalu, dia memegang stir mobilnya, dia tampak bersiap siap.
Mobil Joko Sambodo berbelok ke arah berbeda dengan Yanto menunggu, melihat kepergian mobil Joko, dengan cepat, Yanto pun lantas segera menjalankan mobilnya.
Joko Sambodo tampak tenang dan santai menyetir mobilnya, dia tak tahu, jika di belakang, mobil Yanto sedang mengikuti mobilnya.
Wajah Yanto tampak tegang didalam mobilnya, dia terlihat geram dan menahan amarahnya, Yanto terus memacu mobilnya, dia terus mengikuti mobil Joko Sambodo.
Mobil Joko Sambodo berhenti di perempatan jalan raya yang cukup lebar dan luas, karena lampu lalu lintas menyala merah.
Mobil Yanto berhenti tepat di samping mobil Joko Sambodo, Yanto membuka kaca jendela pintu depan mobilnya, dia lalu membunyikan klaksonnya.
Dari dalam mobilnya, Joko mendengar suara klakson mobil berbunyi, dia menoleh ke samping, dia melihat, ada Yanto yang tengah melihat ke arahnya.
Joko sambodo pun cepat membuka kaca jendela pintu depan mobilnya, Joko Sambodo tampak senang melihat Yanto.
"Mau pulang Pak Yanto?!" tanya Joko Sambodo, sedikit berteriak, dari dalam mobilnya.
"Iya, Pak. Bapak ke arah mana?!" tanya Yanto, juga berteriak, agar suaranya terdengar oleh Joko Sambodo.
"Saya belok ke kanan, Pak. Rumah saya sudah gak jauh dari sini." Ujar Joko Sambodo, dari dalam mobil.
"Oh, kita searah. Saya juga mau ke kanan jalan." Teriak Yanto, dari dalam mobilnya.
Klakson mobil lain berbunyi, mereka memberikan tanda, bahwa lampu lalu lintas sudah menyala hijau, dan mereka ingin, Yanto dan juga Joko segera menjalankan mobilnya.
Melihat lampu sudah menyala hijau, Yanto dan juga Joko Sambodo pun sama sama segera menutup kaca jendela pintu depan mobil.
Mereka berdua lantas segera menjalankan mobilnya, mereka berdua sama sama berbelok ke arah kanan jalan.
Joko Sambodo tak tahu, jika Yanto hanya pura pura searah dengan Joko Sambodo, dia tak tahu, jika sebenarnya, Yanto sengaja mengikuti dia.
Joko membunyikan klakson mobilnya, dia memberi isyarat pada Yanto, karena mobilnya mendahului mobil Yanto.
Yanto tersenyum menyeringai licik di dalam mobilnya, melihat mobil Joko melintas melewati mobilnya. Mobil Joko Sambodo melaju cepat di depan Yanto.
Saat mereka tiba di jalanan yang sangat sepi, Yanto pun menambah kecepatan mobilnya, dengan kencang, dia menyetir mobilnya.
Saat melintas mendekati mobil Joko Sambodo, Yanto pun membunyikan klaksonnya pada Joko Sambodo. Yanto memberi isyarat, karena dia akan mendahului mobil Joko Sambodo.
Dari dalam mobilnya, tampak Joko Sambodo tertawa senang melihat mobil Yanto melintas dan melewati mobilnya. Joko melihat, mobil Yanto melaju dengan sangat kencang, meninggalkan mobilnya.
__ADS_1
Mobil Yanto melesat cepat, meninggalkan mobil Joko Sambodo, yang tertinggal jauh di belakangnya.
Yanto melihat dari kaca spion dalam mobilnya, dia melihat ke arah mobil Joko Sambodo yang ada jauh di belakangnya.
Dengan sikap dingin dan tenangnya, Yanto pun mengambil sebuah remote control mini dari dalam dashboard mobilnya.
Sambil terus menyetir mobilnya, tangan kiri Yanto memegang remote control mini. Yanto kemudian tersenyum menyeringai jahat.
"Bye...bye...Joko ! Hancurlah bersama kehinaanmu!!" Ujar Yanto menyeringai jahat.
Yanto lantas menekan tombol on dari remote control mini ditangannya.
Di dalam mobilnya, Joko Sambodo dengan santainya terus menyetir mobilnya, lampu menyala dari bom yang ada dibawah mobil Joko, pertanda, bom telah di aktifkan.
tiba tiba saja, mobil Joko Sambodo meledak.
Dari kaca spion dalam mobilnya, Yanto melihat, mobil Joko Sambodo meledak, melompat terbang tinggi dan terbakar.
Mobil Joko Sambodo yang meledak terbang tinggi, lalu terjatuh ke aspal jalan raya yang sepi. Mobil Joko Sambodo meledak, dan langsung terbakar.
Di dalam mobilnya yang sudah terbalik dan hancur remuk redam di atas aspal jalanan, tampak Joko Sambodo berdarah darah karena luka parah, akibat mobilnya meledak.
Dia tampak lemas, tak berdaya, seketika, Joko Sambodo pun menghembuskan nafasnya, dia mati, di dalam mobilnya.
Bensin mobil tampak tumpah dan mengalir di aspal jalanan. Api segera menjalar, melalap bensin yang tumpah, lalu, beberapa saat kemudian, Mobil Joko Sambodo kembali meledak hebat dan terbakar.
Seluruh mobil habis terbakar di lalap api yang terus membesar, dan Joko Sambodo pun mati terpanggang di dalam mobilnya.
Saat dia di luar restoran mewah milik Joko Sambodo, dia tahu, dimana letak mobil Joko Sambodo berada.
Karena di halaman parkir, dia melihat, di tempat parkir khusus, ada tertulis di plang papan, "Parkir khusus Pemilik Restoran".
Karena membaca tulisan tersebutlah, Yanto tahu mobil Joko Sambodo. Dan dengan hati hati, tanpa di ketahui orang lain, Yanto pun segera menempelkan sebuah bom di bawah mobil Joko Sambodo.
Yanto sengaja meletakkan bom di mobil Joko Sambodo, karena dia berencana, akan membunuh Joko, dan Joko Sambodo tidak pernah tahu, jika sebelumnya, bom sudah terpasang di bawah mobilnya.
Di dalam mobilnya, tampak Yanto tertawa terpingkal pingkal kesenangan, dia tampak begitu senang dan bahagia. Sebab, dia dengan mudahnya, berhasil membunuh Joko Sambodo.
Tanpa basa basi, tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada Joko Sambodo bahwa dia Yanto kecil dulu, dan anaknya Sanusi yang dibunuh Joko Sambodo bersama Wijaya dan Sutoyo di dalam penjara, Yanto pun membantai Joko Sambodo.
Dengan cara keji dan sangat sadis, Yanto meledakkan Joko Sambodo bersama mobilnya. Dia puas.
Walaupun dia pernah gagal meledakkan Bramantio dari dalam rumahnya, namun, rasa kecewanya cukup tergantikan, dia sedikit terhibur, karena dia berhasil meledakkan Joko Sambodo.
Api terus membakar seluruh mobil Joko Sambodo, tak lama kemudian, mobil pemadam kebakaran pun tiba di lokasi kejadian.
Dari cctv yang terpasang di sekitar jalanan, Polisi melihat jelas ledakan mobil Joko Sambodo, karena hal itu, Polisi cepat datang ke lokasi kejadian, dengan meminta bantuan pemadam kebakaran dan juga petugas para medis.
Tampak pengendara mobil lainnya di jalanan itu ramai berhenti melihat mobil Joko Sambodo yang habis terbakar di tengah tengah jalanan.
Jalanan yang tadinya malam itu sepi, seketika menjadi ramai, karena banyaknya orang yang melihat mobil Joko Sambodo mengalami kebakaran yang hebat.
Dengan cepat, petugas pemadam kebakaran segera memadamkan api yang terus membakar mobil Joko Sambodo.
__ADS_1
Setelah seluruh api sudah berhasil dipadamkan, petugas pemadam kebakaranpun segera berkemas dan pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Lalu, beberapa petugas paramedis, bergerak, mereka berusaha mengeluarkan mayat Joko Sambodo yang sudah mati dan hangus terbakar di dalam mobil.
Dengan susah payah, akhirnya para petugas medis berhasil mengeluarkan mayat Joko Sambodo dari dalam mobilnya yang meledak terbakar itu.
Dengan cepat, para medis menggotong mayat Joko Sambodo dengan menggunakan tandu, mereka segera membawa mayat Joko Sambodo, kedalam mobil ambulance.
Lalu, mobil ambulance segera melaju, pergi meninggalkan lokasi kejadian, membawa mayat Joko Sambodo, untuk di lakukan autopsi pada mayatnya.
Petugas Medis akan bekerja sama dengan tim Forensik mengautopsi mayat Joko Sambodo, untuk mencari tahu, penyebab kematian Joko Sambodo, apakah ada hal lain, selain dia mati terbakar di dalam mobilnya.
Tampak para petugas tim penyidik kepolisian dengan serius mencari bukti bukti di sekitar mobil Joko Sambodo yang sudah hangus terbakar dan menyisakan puing puing, serta body body mobil yang tak ikut terbakar.
Seorang petugas penyidik kepolisian pun menemukan barang bukti, berupa pecahan serpihan bom, yang ada di bawah mobil Joko Sambodo.
Petugas penyidik kepolisian pun segera mengamankan barang bukti yang ditemukan itu. Sementara, Petugas Polisi lainnya, berdiri dan berjaga jaga di depan garis pembatas kepolisian.
Mereka berjaga jaga, agar orang orang yang ada di sekitar lokasi kejadian, tidak mendekat ke mobil yang sudah terbakar itu.
---
Yanto masuk ke dalam rumahnya, dia lantas menghempaskan tubuhnya di sofa. Wajahnya tampak sangat senang sekali.
"Aku udah membunuh orang orang yang meracuni dan membunuhmu, Paak!!" Teriak Yanto dengan senangnya di dalam ruang tamu rumahnya.
Yanto tampak bahagia, karena dia sudah membunuh Joko Sambodo dan juga Wijaya, pelaku yang telah meracuni Bapaknya, hingga Bapaknya harus mati, meregang nyawa.
"Tinggal Bram, Jafar, Sutoyo, dan juga Ronald! Ya, tunggu aja, giliran kalian akan segera tiba. Bersiaplah menghadapi kematian kalian!!" Tegas Yanto dengan wajah geram dan marahnya.
Yanto menyeringai buas, dia tampak sangat marah sekali, terlihat jelas, dendam membara masih menyala nyala di dalam jiwanya.
Yanto lantas melepaskan topi yang dipakainya, lalu, dia juga melepaskan rambut panjang palsunya. Lalu, dia meletakkan wig rambut panjang dan topinya di atas meja yang ada di ruang tamu tersebut.
Kemudian, Yanto pun melepaskan kumis dan jenggot palsunya, kini, Yanto telah kembali menjadi sosok Gavlin. Dia juga melepaskan kaca matanya, dan meletakkan kaca mata di atas meja.
Karena menyamar memakai jenggot, kumis dan rambut panjang palsu, tampak sekali perbedaan antara sosok Yanto dan Gavlin.
Yanto yang sosoknya berambut gondrong, identik dengan seniman, sementara Gavlin, tampil dengan sosok pemuda gagah dan klimis.
Perbedaan yang sangat mencolok, hingga membuat para musuh musuhnya, tidak bisa membedakan antara Yanto dan Gavlin.
Bramantio dan komplotannya mengira, bahwa Yanto dan Gavlin orang berbeda, dan mereka berfikir, bahwa Yanto dan Gavlin, bekerjasama berdua untuk membunuh mereka semua.
Yanto atau Gavlin tampak tertawa puas, dia tampak sangat lega sekali, karena berhasil membunuh Joko Sambodo tanpa ada halangan apapun.
"Aku bahagiaaaa, aku puaaaasss!! Mampuuus kamuuu Joookooo!! Matilah dengan rasa penasaranmu!!" Teriak Yanto, atau Gaviln dengan senangnya.
Yanto, atau Gavlin tampak senang, karena, musuh musuhnya tinggal sedikit, dan tak lama lagi, dia akan membunuh mereka semua.
Setelah Dia nanti berhasil membunuh para musuh musuhnya tersebut, Yanto, atau Gavlin berniat, akan menjalani hidupnya seperti orang normal pada umumnya.
Dia ingin hidup tenang dan nyaman, bersama Maya, kekasih hati yang sangat dia cintai selama hidupnya.
__ADS_1