VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pertemuan Gavlin dan Indri


__ADS_3

Di sebuah ruangan, terlihat Malik dengan mengenakan pakaian rapi dan setelan jas serta memakai kaca mata hitam membuka pintu kerangkeng kandang, Lalu dia menarik paksa keluar Binsar yang kedua tangannya terborgol ke depan.


Binsar keluar dari dalam kerangkeng kandang sempit yang berukuran hanya setubuhnya itu, Dia menghela nafas lega, karena sudah keluar dari kerangkeng anjing yang sangat menjijikkan baginya.


Di tangan Malik ada tas koper kecil yang didalamnya berisi bom rakitan milik Gavlin. Malik sengaja membawa bom tersebut. Malik segera membawa Binsar keluar dari dalam ruangan tersebut.


 


Sementara itu, terlihat Indri tidak tenang duduk di jok depan mobilnya. Dia terus resah dan gelisah , tak sabar ingin segera cepat sampai dan bertemu Gavlin.


Rifai yang menemaninya dan menyetir mobil melirik Indri yang resah dan gelisah itu.


"Sebaiknya kamu tenang, In. Sebentar lagi juga kita sampai di tujuan, dan kamu bisa ketemu Gavlin." ujar Rifai, sambil menyetir mobilnya.


"Ya, tapi aku takut, kita terlambat dan Gavlin pergi lalu melakukan bunuh diri, aku gak mau itu terjadi, Fai." ujar Indri, dengan wajah memelas menoleh dan menatap wajah Rifai yang menyetir mobil itu.


Rifai diam, dia tak mau membantah perkataan Indri yang tampak sangat khawatir pada Gavlin. Dia tetap menyetir mobilnya dengan tenang, sementara, Indri terus saja duduk gelisah.


 


Di sebuah desa Piana, tepatnya di kaki bukit, terlihat sebuah pesawat terbang sudah menunggu, dan seorang pilot berdiri di dekat pesawat, dia menunggu kedatangan Binsar.


Sesaat kemudian, sebuah mobil datang dan berhenti tidak jauh dari pesawat , dari dalam mobil Binsar yang kedua tangannya di borgol melihat ke arah pesawat.


"Mau kamu bawa kemana aku? Kenapa bukan si Gavlin yang membawaku?!" ujar Binsar , melihat pada Malik yang duduk di jok depan dan menyetir mobil, sementara Binsar duduk di sampingnya.


"Aku menggantikan Gavlin. Kamu akan di pulangkan ke negaramu dan mendapat hukuman yang seberat beratnya disana. Gak akan ada yang bisa menolongmu." ucap Malik, menatap tajam wajah Binsar yang duduk di sampingnya itu.


Binsar diam dan tersenyum sinis, dia terus menatap pesawat , dan tampak Binsar sedang memikirkan sesuatu hal saat ini.


Malik segera turun dan keluar dari dalam mobilnya, lalu, dia segera mengeluarkan Binsar juga dari dalam mobil dan membawanya ke pesawat. Tak lupa Malik menenteng tas koper kecil berisi bom rakitan.

__ADS_1


 


Dan pada Akhirnya, Indri tiba di rumah yang selama ini di tempati Gavlin, dan rumah itu pemberian Aamauri, untuk di tempati Gavlin selama dia berada di Paris, Prancis.


Dari dalam mobil Indri melihat rumah tersebut, Rifai mematikan mesin mobilnya dan menoleh pada Indri.


"Kita udah sampai , In." ujar Rifai.


Indri tak berkata kata , dia langsung cepat membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobilnya. Rifai melihat Indri yang sudah berlari ke arah rumah, dia lantas keluar dari dalam mobilnya, dan berjalan menyusul Indri.


Indri membuka pintu rumah yang tak terkunci itu, karena Malik memang sengaja tidak menguncinya, sebab dia tahu, Indri pasti akan datang menemui Gavlin di rumah itu.


Indri cepat masuk ke dalam rumah, di belakangnya, Rifai juga ikut masuk ke dalam rumah tersebut.


Pintu tertutup, Indri berjalan menyusuri seluruh ruangan di dalam rumah, Dia membuka kamar kamar, mencari Gavlin, namun, Gavlin tak di temukannya.


Indri tak menyerah, dia terus mencari Gavlin, Dia berjalan ke belakang rumah dengan di ikuti Rifai yang berjalan dibelakangnya.


Indri lalu masuk ke sebuah ruangan yang pintunya tertutup dan seperti pintu rumah koboy , Dia mendorong pintu dan segera masuk ke dalam ruangan yang ada dibelakang rumah tersebut.


Saat Indri sudah berada di dalam ruangan, dia berdiri terdiam untuk sesaat, dia syock melihat sosok orang yang terikat di sebuah kursi dengan seluruh wajahnya di tutupi kain hitam.


"Gavliiinn!!" Teriak Indri, memanggil Gavlin.


Orang yang terikat itu adalah Gavlin. Saat dia jatuh pingsan di pukul Malik, Dia di ikat Malik diruangan itu. Dan Malik sengaja menutup wajah dan kedua matanya agar Gavlin saat sadar tak bisa melihat apapun juga.


"Indriii!!" Ujar Gavlin, yang duduk di kursi dengan kondisi tubuhnya terikat dan tak bisa bergerak.


Gavlin bukan mengenali suara Indri, namun, dia bisa mengetahui kalau yang datang adalah Indri, dari wangi harum parfum yang di pakai Indri.


"Ya, Vlin. Ini aku, Indri!!" ujar Indri senang.

__ADS_1


Indri cepat menghampiri Gavlin yang terikat di kursi, Indri lalu melepaskan ikatan dan membuka kain penutup wajah dan mata Gavlin.


Setelah penutup wajahnya terbuka, Gavlin melihat dengan sangat jelas wajah Indri yang berdiri dihadapannya.


"Indriii?! Darimana kamu tau, kalo aku di sini?" Tanya Gavlin heran menatap wajah Indri.


"Dari Malik , teman kamu, Dia yang memberitahu aku alamatmu ini." ungkap Indri, menatap wajah Gavlin.


Tatapan kedua mata Indri penuh kerinduan pada diri Gavlin, begitu juga dengan Gavlin.


"Kenapa kamu di ikat di sini, Vlin?" tanya Indri sambil melepaskan ikatannya.


"Malik yang melakukannya, Dia pasti punya rencana lain." ujar Gavlin datar.


Tak ada Rifai diruangan itu, Dia sengaja menunggu di depan pintu masuk ruangan tersebut, dan memberi kesempatan pada Indri untuk berduaan dengan Gavlin dan menyelesaikan kesalah pahaman mereka berdua.


"Vliin... Jangan pergi lagi, Aku rindu kamu." ujar Indri, menatap lekat wajah Gavlin yang duduk di kursi dan ikatannya sudah terlepas semua dari tubuhnya.


"Maafkan Aku , In. Aku gak mau merusak kebahagiaanmu dan mengganggu hubunganmu dengan Pria itu." ungkap Gavlin, dengan getir, menatap sedih wajah Indri.


"Kamu salah paham padaku, Vlin. Pria itu bukan pacarku, dan bukan juga suamiku! Aku gak pernah menjalin hubungan dengan Pria manapun, selama ini, aku tetap menunggumu datang menemuiku!!" ungkap Indri, dengan wajah sedihnya.


Gavlin melihat, di kelopak mata Indri sudah muncul butiran butiran air mata yang mengambang dan siap jatuh membasahi pipinya.


"Lantas, Siapa Pria yang selalu ada di sisimu dan menemani kamu itu, In?!" tanya Gavlin, menatap sendu wajah Indri yang berdiri dihadapannya.


"Dia saudara sepupuku, Vlin. Namanya Rifai, aku memang memintanya untuk menemaniku selama aku menjalani pameranku di kota Paris ini." ungkap Indri menjelaskan dengan serius pada Gavlin.


"Vlin, selama ini, aku sangat mencintaimu, setiap hari aku selalu menantimu, Aku gak pernah bisa melupakanmu, aku selalu merindukanmu." ujar Indri, menumpahkan segala macam perasaan cinta dan kerinduannya pada Gavlin.


Gavlin terdiam, dia hanya mampu memandangi wajah Indri yang tak kuasa menahan kesedihannya , dan lalu menangis.

__ADS_1


Gavlin sadar, dia sudah salah paham dan berprasangka buruk pada Indri, Dia menatap lembut wajah Indri yang menangis dihadapannya itu.


__ADS_2