VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Benih benih Cinta


__ADS_3

Mayat Gatot dan Maya di keluarkan dari dalam tanah kuburan oleh petugas penyidik kepolisian yang menggali kuburan tersebut.


Andre benar benar terkejut melihat mayat Gatot dan Maya terbujur kaku di atas tanah. Para petugas Medis segera mengangkat mayat Gatot dan Maya, lalu meletakkannya di atas tandu, lalu mereka bergegas membawa mayat Gatot dan Maya.


"Siaal !! Itu benar benar kuburannya Gatot dan anaknya!" ujar Andre geram dan kesal.


Andre lantas segera pergi dari kebun belakang rumah Gatot, Para Petugas Ahli Forensik yang sudah selesai menyelidiki mayat Gatot dan Maya juga segera meninggalkan kebun, lalu di ikuti para petugas penyidik kepolisian.


Tanah galian kuburan di biarkan saja terbuka, dan petugas polisi tidak menimbun lubang itu lagi.


Dengan wajah kesal Andre masuk ke dalam mobilnya, lalu, dia segera pergi meninggalkan rumah Gatot, tak berapa lama, mobil ambulance yang membawa mayat Gatot dan Maya juga pergi. Lalu di ikuti mobil petugas tim ahli forensik dan mobil para petugas penyidik kepolisian.


---


Keesokan harinya, Andre datang ke ruang kantor Richard untuk memberikan laporan atas apa yang dia temukan di rumah Gatot.


"Bagaimana?" tanya Richard, dengan wajah serius dan penasaran.


Richard ingin tahu hasil apa yang sudah di dapat Andre dari rumah Gatot, Andre berdiri didepan meja kerja Richard, dimana Richard duduk di kursi kerjanya.


"Kami menemukan mayat Gatot dan anaknya di kebun belakang rumah Gatot, Pak." ujar Andre, memberi laporan.


"Apaaa?!!" Richard terhenyak kaget.


Richard marah, dia memukul meja kerjanya melampiaskan amarahnya.


"Kurang ajar ! Pasti Gavlin yang membunuh mereka !" tuduh Richard dengan geram dan marah.


Richard mengambil kesimpulan, bahwa yang membunuh Gatot dan Maya adalah Gavlin, sebab sebelumnya dia tahu, Gavlin sangat murka pada Gatot dan terlihat ingin sekali membunuh Gatot.


"Tim Forensik sedang mengautopsi mayat Gatot dan anaknya Pak. Mencari bukti kematian mereka!" jelas Andre.


"Ya, kabari saya jika kalian sudah menemukan bukti bukti." jelas Richard.


"Dan selidiki, cari tau, siapa pelaku pembunuhan Gatot dan anaknya, walau saya yakin mereka di bunuh Gavlin, tapi setidaknya, kita harus punya bukti kuat buat menangkap Gavlin!" tegas Richard, dengan wajahnya yang serius.


"Baik, Pak." jawab Andre, mengangguk hormat.


"Lacak orang yang bernama Sarono, cari terus dimana Gavlin bersembunyi saat ini!" tegas Richard, memberi perintah.


"Siap !" Jawab Andre, sambil memberi hormat pada Richard.


Lantas, Andre pun pamit dan pergi keluar dari dalam ruang kantor Richard. Richard tampak geram dan marah.


"Siaaal...siaaalll...siaaaalll !! Gagal rencanaku menangkap Gatot dan menjebak Gavlin menggunakan Gatot!!" ujar Richard dengan emosi amarahnya.


Lalu Richard terdiam, untuk sesaat dia terlihat berfikir. Dia lantas mengingat sesuatu hal, Richard pun lantas tersenyum sinis.


"Ahaa !! Kayaknya Gavlin sedang mengejar dan mencari Herman dan komplotannya, ya, aku yakin, Gavlin pasti akan memburu Herman!" ujarnya dengan wajah senang.


"Hmm...kalo begitu, aku harus mengawasi Herman, kalo benar Gavlin datang menemui Herman, aku akan bisa menangkap Gavlin, sekaligus Herman!" ujar Richard tersenyum senang.


"Ya, aku akan mengawasi pergerakan Herman dan komplotannya, aku yakin, salah satu diantara mereka akan menjadi target Gavlin berikutnya!" Lanjut Richard bicara dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia lantas tersenyum senang, dia tampak sedang berfikir dan merencanakan sesuatu untuk mengawasi Herman dan juga Jack serta Peter.


---


Karena masa berlaku kasus pembunuhan 18 tahun lebih yang lalu sudah kadaluwarsa, maka, Herman, Peter dan Jack pun kembali ke kantor mereka masing masing dan bekerja seperti biasanya lagi.


Dan Herman sudah tidak tinggal dan bersembunyi ditempat persembunyiannya, dia sudah kembali kerumahnya, walau pun dia harus menambah keamanan dan penjagaan dirumahnya. Herman mengerahkan penjaga keamanan dua kali lipat dari sebelumnya. Agar dia selalu di jaga ketat. Dan kemana pun dia pergi, dia selalu didampingi para pengawalnya.


Herman sengaja melindungi dirinya sendiri, sebab dia tahu, Gavlin masih terus memburunya, dan dia tak ingin di tangkap dan dibunuh Gavlin, jika dia sendirian. Dengan adanya pengawalan , Herman merasa aman.


Peter masuk ke dalam ruang kerja Herman, dia lantas menghampiri Herman yang sedang duduk santai di meja kerjanya sambil melihat pada laptopnya.


"Aku dapat informasi, kalo Gatot dan anaknya sudah mati!" ujar Peter dengan wajah serius memberikan laporan pada Herman.


"Gatot mati? Siapa yang membunuhnya?!" tanya Herman kaget.


"Dari informasi anak buahku yang menyamar ke anggota Richard dan Andre, katanya, di sekitar rumah Gatot ditemukan jejak dan darah Jafar, selain darah Gatot juga Maya, anaknya Gatot!" jelas Peter, serius menjelaskan.


"Selain itu, jejak Gavlin juga di temukan di rumah Gatot, di sebuah pacul, yang ditemukan di kebun belakang rumah Gatot!" lanjut Peter memberi laporan.


"Lantas, siapa yang membunuh Gatot dan anaknya? Apa Gavlin yang membunuh Gatot dan anaknya, juga Jafar?" ujar Herman bertanya dan berfikir.


"Entahlah, menurut anak buahku, pihak Andre masih menyelidiki kematian Gatot, mereka menunggu hasil dari lab dan tim Forensik." jelas Peter.


"Sepertinya, ada pertempuran besar yang terjadi antara Gatot, Jafar dan juga Gavlin, yang membuat kematian Gatot serta anaknya!" ujar Herman mengambil kesimpulan.


"Lantas, bagaimana dengan Jafar? Apa dia masih hidup?!" tanya Herman, dengan wajah penasaran dan ingin tahu.


"Entahlah, belum bisa dipastikan, hanya ditemukan darah Jafar saja, dan orangnya menghilang, Tim Andre sedang mencari Jafar, juga Gavlin!" tegas Peter, dengan wajah serius menjelaskan.


"Baik, aku akan mengingatkan Jack, agar dia bisa melindungi dirinya sendiri dari incaran Gavlin!" ujar Peter.


"Dan kamu, tolong cari tau, dimana keberadaan Jafar, kita butuh Jafar, karena, selama Jafar masih hidup, dia berbahaya buat kita, dia akan membongkar semua rahasia kejahatan kita di masa lalu!" tegas Herman memberi perintah pada Peter.


"Baik, akan ku tugaskan anak buahku mencari Jafar!" ujar Peter.


"Ya." Angguk Herman.


"Aku pergi dulu." ujar Peter.


"Silahkan, cepat kabari aku, jika kamu dapat info baru dari anak buahmu!" ujar Herman.


"Pasti, aku pasti akan memberitahu kamu!" tegas Peter.


Lalu, Peter pun pergi keluar dari dalam ruang kerja Herman, Herman bersandar di kursi kerjanya, dia lantas menghela nafasnya.


"Akhirnya Gatot mati juga. Tinggal Richard dan Jafar yang menjadi penghalang, jika mereka berdua mati seperti Gatot, maka selamanya aku akan aman !" ujar Herman, bicara pada dirinya sendiri didalam ruang kerjanya.


"Aku harus bisa menjatuhkan Richard, Richard tidak boleh berkuasa menjadi Kapolri ! Bagaimana pun caranya, aku harus menghabisi Richard, karena dia memburuku dan berusaha menjebloskan aku ke dalam penjara!!" ujar Herman, geram dan menahan amarahnya pada Richard.


---


Di rumah bilik kayu milik Sarono, saat ini, malam hari, dan Indri sedang menjahit di ruang tengah, diam diam, Gavlin berdiri disamping tembok pembatas ruang tengah, dia memperhatikan Indri yang sedang serius menjahit pakaian pesanan orang.

__ADS_1


Gavlin tersenyum lembut menatap Indri, lalu, dia melihat pada patung manekin, di patung manekin sudah terpajang pakaian hasil jahitan Indri, Gavlin pun tampak senang melihatnya. Dia bangga sekaligus kagum dengan usaha dan hasil kerja Indri.


"Jahitanmu rapi, In. Dan Desain pakaianmu pun bagus bagus, sangat berkelas, aku doakan, suatu hari nanti, kamu akan sukses dan menjadi desainer yang terkenal. Aku akan mendukung langkahmu menuju kesuksesan!" Gumam bathin Gavlim bicara.


Tiba tiba Indri menghentikan menjahitnya, lalu dia langsung berdiri dan berbalik hendak berjalan keluar dari ruang tengah. Indri terperanjat kaget, karena melihat Gavlin yang berdiri disamping tembok pembatas ruangan.


Gavlin juga kaget, karena dia habis melamun, dia tak menyangka, kalau Indri beranjak dari tempatnya dan hendak pergi.


"Gavlin? Ngapain kamu berdiri di situ?" tanya Indri heran.


"A...aku...tadi..." Gavlin tampak gugup dihadapan Indri.


"Kamu sengaja mengintipku lagi menjahit ya? Hayo ngaku?!" ujar Indri, tersenyum senang.


"Hehe, iya, In. Aku penasaran aja, kok udah malam, kamu masih kerja aja." ujar Gavlin tertawa kecil dan mengaku.


"Soalnya baju ini harus selesai malam ini juga Vlin, aku udah janji, kalo besok, bajunya udah bisa diambil. Aku gak mau buat kecewa pelangganku." ujar Indri, tersenyum senang.


"Oh, begitu. Pantesan kamu gak berhenti menjahit, seharian sampe larut malam begini, terus duduk di mesin jahit aku perhatikan." ujar Gavlin.


"Ya, namanya juga usaha, Vlin. Demi menyenangkan hati pelanggan dan menepati janji, ya harus berjuang, agar gak membuat kecewa orang." jelas Indri tersenyum lembut.


"Iya, in." jawab Gavlin, tersenyum pada Indri.


"Kamu kenapa belum tidur, Vlin?" tanya Indri heran.


"Aku baru selesai membereskan senjata senjataku, dan menyiapkannya, untuk kubawa pergi." ujar Gavlin.


"Pergi? Kamu mau pergi?" tanya Indri kaget.


"Ya, In. Aku harus pergi, kalo aku terus diam dirumah ini, aku gak bisa membalaskan dendam almarhum orang tuaku." jelas Gavlin.


Indri terdiam, dia pun lantas tertunduk, dia menyimpan kesedihan di dalam dirinya, dia tak ingin Gavlin pergi, tapi di sisi lain, dia tak bisa mencegah kepergian Gavlin yang memang harus membalas dendamnya.


"Kapan kamu perginya?" tanya Indri, dengan menyembunyikan wajah kesedihannya.


"Besok In." jawab Gavlin, tersenyum lembut.


"Besook?!" Indri terhenyak kaget.


Dia tak menyangka, secepat itu Gavlin akan pergi, kepergian Gavlin terlalu mendadak bagi Indri.


"Kok mendadak Vlin?" tanya Indri, dengan sedikit kecewa.


"Gak mendadak In. Aku udah bilang Bapakmu dua hari lalu, kalo besok aku mau pergi dari sini." ujar Gavlin menjelaskan.


"Tapi, aku kan gak tau." ujar Indri.


Indri tertunduk, wajahnya semakin sedih, Gavlin tersenyum lembut memandang wajah Indri, dia tahu, Indri sedikit kecewa dan sedih, karena dia akan pergi meninggalkan Indri juga Bapaknya.


Gavlin memegang dagu Indri lembut dengan tangannya, lalu, diangkatnya kepala Indri. Lantas, Gavlin menatap lembut wajah Indri yang tampak menyimpan kesedihan di wajahnya, lalu Gavlin pun tersenyum lembut. Dari senyuman dan tatapan mata Gavlin, terpancar sinar kasih sayang pada Indri.


Benih benih cinta mulai tumbuh di hati Gavlin, dan dia sudah bisa melupakan Maya, dan merasakan kalau dirinya jatuh cinta pada Indri, karena selama ini Indri yang telah mengurusnya dan baik padanya.

__ADS_1


Wajah Gavlin lantas mendekat ke wajah Indri, Indri hanya diam tak bergerak, berdiri tepat didepan Gavlin, matanya menatap mata Gavlin yang semakin mendekat ke wajahnya.


Lalu, perlahan, bibir Gavlin menyentuh bibir Indri, Gavlin mengecup lembut bibir Indri, kedua mata Indri pun terpejam, dia membiarkan bibir Gavlin menyentuh bibirnya, lalu, dengan perlahan dan penuh kelembutan, Gavlin pun ******* bibir Indri, sesaat Indri hanya diam, lalu, dia pun membalas, dan mereka pun berciuman. Melepaskan segala rasa yang ada dalam diri mereka berdua.


__ADS_2