VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Penculikan Prawira


__ADS_3

Prawira baru saja mengakhiri rapat dewannya bersama anggota anggota dewan parlemen yang hadir dalam rapat anggota dewan tersebut dalam membahas sebuah undang undang.


Tampak para anggota dewan parlemen membubarkan diri masing masing, mereka bergegas keluar dari dalam ruang rapat.


Banyak para wartawan dan kameraman mengabadikan moment rapat internal anggota dewan parlemen tersebut.


Prawira lantas berjalan keluar juga dari ruang rapat tersebut, para wartawan dan kameraman segera menghampiri dan mengerumuni Prawira.


Prawira terus berjalan di koridor gedung parlemen, dia menolak menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh para wartawan dan wartawati yang ingin mendapatkan berita darinya.


Prawira tak mau di wawancarai, dia tak senang, wajahnya terpampang jelas di dalam televisi atau media cetak lainnya, lalu dikenal luas oleh masyarakat umum.


Prawira terus berjalan, dia lalu keluar dari dalam gedung parlemen , melangkahkan kakinya dengan cepat, menuruni anak tangga halaman gedung parlemen, dan berjalan terus menuju tempat parkir mobilnya.


Para petugas keamanan yang berjaga jaga di depan halaman gedung parlemen menghalangi para wartawan dan wartawati serta para kru kameraman yang hendak mengejar Prawira.


Para wartawan dan wartawati pun tampak kecewa, sebab, mereka tidak mendapatkan berita dari Prawira, Prawira benar benar bungkam, dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Prawira menghampiri mobilnya yang terparkir di parkiran khusus ketua dewan parlemen. Saat dia hendak membuka pintu mobilnya, tiba tiba saja, sudah muncul seorang pemuda bertubuh gemuk dan gempal, dengan rambut ikal dan kaca mata bacanya yang tebal, serta kumis tipisnya.


Pemuda bertubuh gemuk dan gempal itu seorang wartawan juga, sama seperti yang lain, namun, dia tak berbaur dengan para wartawan dan wartawati dalam memburu berita.


Dia punya cara sendiri, lebih memilih menunggu tokoh yang akan di wawancarainya di parkiran mobil, dengan begitu, dia berfikir, akan bebas mewawancarai tokoh tersebut.


"Selamat siang , Pak." ujar Pemuda Gemuk dan gempal, memberi hormat.


Suara sang Pemuda bertubuh gemuk dan gempal itu berat dan ngebass, Prawira tersentak kaget, karena tiba tiba saja di tegur sang Pemuda gemuk.


"Siapa kamu? Ngagetkan saya saja." ujar Prawira jengkel.


"Maaf, Pak. Saya wartawan dari surat kabar 'Blokothok', Saya sengaja menunggu Bapak di sini, karena saya ingin bertanya pada bapak tentang suatu hal." ujar Sang Pemuda gemuk.


"Oh, ya. Sebelumnya, perkenalkan, nama saya Fahmi Novriza." ujar sang Pemuda gemuk dan bertubuh gempal, memperkenalkan dirinya.


"Maaf, saya gak ada waktu." ujar Prawira.


Prawira menolak Fahmi, karena dia memang tak mau di wawancarai, Prawira lantas ingin membuka pintu depan mobilnya, namun, Fahmi, sang pemuda gemuk bergeser dan berdiri di depan pintu masuk, menghalangi Prawira.


"Apa apaan ini, jangan halangi saya, minggir !!" Hardik Prawira, semakin kesal.


"Maaf, Pak, sebentar saja, gak sampe lima menit, saya janji." ujar Fahmi, Wartawan bertubuh gemuk dan gempal.


Prawira pun diam, dia menatap wajah Fahmi yang tampak berharap padanya agar dia mau di wawancarai, Prawira pun lantas menghela nafasnya. Lalu, dia bertanya pada Fahmi Novriza.


"Apa yang mau kamu tanya? Cepat katakan!" tegas Prawira.


Prawira melihat sekelilingnya, suasana di halaman parkir mobil tampak hening dan sepi, hanya ada dia dan Fahmi, wartawan yang akan mewawancarainya.

__ADS_1


"Bagaimana kasus 18 tahun lalu saat Bapak menjadi Jaksa penuntut, apakah persidangan akan di buka kembali? Saya dapat informasi, bahwa barang bukti baru sudah di temukan, dan salah satu bukti, mengarah pada Bapak, sebagai salah satu tersangka. Bagaimana tanggapan Bapak dalam menyikapi hal ini?" tanya Fahmi, memberondong pertanyaan pada Prawira.


Prawira terhenyak kaget, dia syock, untuk sesaat dia hanya bisa terpaku diam, dia sama sekali tak menyangka, jika Fahmi, sang wartawan akan bertanya tentang kasus 18 tahun dan mengungkit keterlibatan dirinya.


"Bagaimana, Pak? Apa Bapak tidak mau menjelaskannya?" tanya Fahmi, dengan wajah serius.


Prawira menatap geram dan menahan kesalnya pada Fahmi, karena berani menanyakan kasus 18 tahun lalu padanya, dan Fahmi juga berani mengatakan, bahwa dirinya adalah salah satu tersangka dari kasus lama tersebut.


"Dari mana kamu tau tentang itu?" tanya Prawira, dengan wajah tegang, geram menahan marahnya.


"Jawab saja pertanyaan saya. Bapak gak perlu tau, dari mana saya mendapatkan informasi tersebut. Bisa saya pastikan, bahwa informasi yang saya terima akurat dan nyata adanya!" tegas Fahmi, dengan wajah serius menatap wajah Prawira.


"Kasus itu sudah kadaluwarsa, gak bisa lagi di bawa ke persidangan!!" tegas Prawira.


"Kenapa Kadaluwarsa? Bukankah tanggal kejadian 18 tahun lalu saya hitung sebenarnya baru berakhir 3 minggu lagi dari sekarang?" tanya Fahmi.


"Hitungan dari mana yang menyatakan bahwa kasus tersebut sudah berakhir karena kadaluwarsa?!" tanya Fahmi.


Prawira terdiam, dia benar benar sangat geram pada Fahmi, yang terus menyerang dirinya dengan pertanyaan pertanyaan.


Prawira merasa terpojok, dia pun lantas mendorong tubuh Fahmi, agar dia bisa masuk ke dalam mobilnya.


"Minggir!! Sudah cukup wawancaranya!!" bentak Prawira marah.


Dengan kasar Prawira mendorong tubuh gemuk dan gempal Fahmi, Fahmi pun terdorong sedikit, lalu dia menggeser tubuhnya, memberi ruang agar Prawira bisa membuka pintu dan masuk ke dalam mobilnya.


Fahmi tampak tersenyum sinis, dia menatap tajam Prawira yang tengah membuka pintu depan mobilnya, tangan kanan Fahmi bergerak cepat mengambil sesuatu dari tas pinggangnya.


Fahmi dengan cepat menyuntikkan obat bius ke leher Prawira, Prawira tersentak kaget, lalu, seketika, dia pun pingsan.


Saat tubuh Prawira hendak ambruk jatuh ke tanah, dengan cepat, Fahmi memegangi tubuh Prawira. Lantas, di seretnya tubuh Prawira, dan menendang pintu depan mobil Prawira hingga tertutup.


Dengan langkah cepat, Fahmi pun lantas menyeret tubuh Prawira, di bawanya Prawira ke mobilnya.


Lalu, dengan satu tangannya, dia membuka pintu bagasi mobil yang sengaja tak di kuncinya dan sudah terbuka sedikit.


Fahmi sudah mempersiapkan sebelumnya, dia memang berencana menculik Prawira, jika dia punya kesempatan.


Dan saat ini, Fahmi punya kesempatan, dengan mudah dia membius Prawira, dan lantas menculiknya.


Fahmi lantas mengangkat tubuh Prawira yang pingsan, di masukkannya ke dalam bagasi mobil.


Lalu, dia segera menutup mulut Prawira dengan lakban yang ada di dalam bagasi, lantas, dia juga mengikat kedua tangan dan kedua kaki Prawira, kemudian, dia segera menutup pintu bagasi mobil.


Lalu, Fahmi pun bergegas berjalan ke depan mobilnya, lantas, dia membuka pintu depan mobil, sebelum dia masuk ke dalam mobil, di amatinya seluruh area halaman parkir, dia berjaga jaga, mana tahu ada orang yang melihatnya menculik Prawira.


Setelah dirasanya aman, dan tak ada siapa siapa di area parkiran, dengan cepat, Fahmi pun masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Sesaat kemudian, mesin mobil pun menyala, lalu, mobil segera berjalan, pergi meninggalkan halaman parkir gedung parlemen, dengan membawa Prawira yang pingsan di bius, di dalam bagasi mobilnya.


Mobil meluncur di jalan raya dengan kecepatan sedang, Fahmi yang sambil tetap menyetir mobil tampak tersenyum senang.


Wajahnya terlihat menunjukkan kepuasan, karena dia berhasil menculik Prawira, Ketua dewan parlemen, orang penting dalam parlemen negara.


Fahmi pun lantas bersiul siul kesenangan, sambil terus menyetir mobilnya, dan mobil pun terus melaju, menyusuri jalan raya yang tampak ramai.


---


Mobil Fahmi masuk ke pekarangan halaman sebuah pabrik gula yang sudah tak terpakai dan tak terawat selama berpuluh puluh tahun.


Mobilnya berhenti tepat di depan Pabrik gula tak terawat itu, lalu, dengan cepat, dia pun bergegas keluar dari dalam mobilnya, dan berlari ke belakang mobilnya.


Lalu, di bukanya pintu bagasi mobil, dia melihat kedalam bagasi, tampak Prawira masih dalam keadaan pingsan di dalam bagasi dengan kondisi mulut di lakban dan tangan serta kaki terikat lakban.


Dengan cepat, Fahmi mengangkat tubuh Prawira, untuk mengeluarkannya dari dalam bagasi. Lalu, Fahmi pun menurunkan tubuh Prawira ketanah dengan melemparkannya begitu saja.


Tubuh Prawira pun terhempas di tanah, lalu, Fahmi cepat menutup pintu bagasi mobilnya. Lantas, dia menarik tangan Prawira, dan di tarik serta di seretnya tubuh Prawira.


Fahmi lantas masuk ke dalam pabrik gula tak terawat dan tak terpakai sambil menyeret tubuh Prawira yang pingsan di tanah.


Dia terus berjalan masuk ke dalam Pabrik yang terlihat gelap dan sangat kotor, begitu banyaknya debu debu berterbangan, saat, Fahmi menyeret tubuh Prawira di dalam pabrik tersebut.


Selain itu, dalam pabrik juga di penuhi banyaknya sarang laba laba, itu menunjukkan, bahwa bangunan itu sudah benar benar sangat tua dan usang, terlihat jelas, bahwa pabrik tak bertuan, dan tak terurus selama bertahun tahun.


Fahmi menemukan gudang pabrik gula tersebut, karena dia mencarinya di internet, sebelum dia menculik Prawira, tentunya dia harus punya tempat yang benar benar sangat aman, dan tak terjangkau oleh manusia.


Dan Fahmi menemukan pabrik gula tersebut, dia merasa cocok dengan tempat tersebut setelah dia datang dan melihat sendiri ke pabrik gula tersebut.


Karena itu, dia membawa Prawira ke Pabrik gula, karena sangat aman, dan tak pernah ada manusia yang menjamahnya selama bertahun tahun.


Fahmi berdiri di samping tubuh Prawira yang terbaring di tanah dalam kondisi pingsan akibat di bius.


Fahmi kembali tersenyum sinis menatap wajah Prawira yang pingsan itu.


"Selamat datang di pengadilanku, Prawira, di sinilah, Aku akan menyidangmu!" ujar Fahmi, dengan suaranya yang berat dan ngebass.


Tatapan matanya tampak dingin, menatap wajah Prawira, dia lantas menyeringai jahat, Lalu, Fahmi berjalan ke sebuah meja.


Di atas meja, sudah tersedia semua peralatan peralatan lengkap, di lantai, samping meja, terlihat sebuah alat pemanggangan.


Fahmi sudah menyiapkan sebelumnya semua peralatan yang akan di gunakannya nanti pada Prawira.


Fahmi lantas mengambil rantai yang sangat panjang, lalu, dia menyeret lantai tersebut di lantai, lalu, di lemparkannya rantai ke atas tiang yang memalang di atas atap pabrik.


Lalu, Fahmi menarik rantai ke bawah, setelah itu, dia mengikatkan rantai ke tangan Prawira, dia mengikat Prawira dengan rantai tersebut.

__ADS_1


Lalu, dengan cepat, dia menarik tubuh Prawira yang sudah terikat rantai dengan kuat, tubuh Prawira pun perlahan lahan naik ke atas atap pabrik.


Lalu, tubuh Prawira menggantung tepat di hadapan Fahmi, kemudian, Fahmi pun mengikat sisa rantai ke sebuah tiang kayu kokoh yang ada di dalam ruangan pabrik tersebut.


__ADS_2