
Bramantio duduk di sofa ruang kerjanya, wajahnya terhenyak kaget, dia syock, matanya tajam melihat ke arah televisi plasma android yang tergantung di dinding ruang kerjanya.
Di televisi tengah di tayangkan berita penemuan kepala Samsul, tokoh Pemimpin Mafia Wolf Gank. Dalam berita di kabarkan, Kepala di temukan oleh Wijaya di kantornya, Kepala Samsul tanpa badannya.
Bramantio mematikan televisi, dengan emosi marah dia lempar remote ditangannya.
"Kepaaraaaattt !!" Teriak Bramantio berdiri.
Wajah Bramantio terlihat sangat marah, wajahnya memerah menahan segala luapan amarahnya yang menggebu gebu.
Dia marah, mengetahui Samsul telah mati.
"Satu persatu orang orang dekatku mati !! Siaall...Siaaaalll !!" Teriak Bramantio melampiaskan amarahnya.
Dia berfikir, siapa orang yang telah membantai dan membunuh anaknya Mike, juga Samsul beserta anggota genk mafianya.
Bramantio terlihat geram, dia sangat marah, dia bertekat akan mencari pelaku pembantaian Mike dan Samsul.
"Kepala Samsul di kirim ke Wijaya, itu artinya Pelaku sedang kasih peringatan sama Wijaya !" Ujar Bramantio berfikir.
"Siapa orang itu? Kenapa dia juga mengincar Wijaya setelah membunuh Samsul?!" Ucap Bramantio lagi.
Dia bicara dengan dirinya sendiri, berfikir, apa motif orang yang membunuh Samsul mengirimkan Wijaya kepala Samsul yang terpenggal.
Bramantio memikirkan, masalah dan dendam apa yang sudah dilakukan Samsul bersama Wijaya, hingga pelaku memberi peringatan keras pada Wijaya dengan mengirimkan kepala Samsul.
Bramantio juga menduga, kematian Samsul masih ada hubungannya dengan kematian Mike, anaknya.
Bramantio bingung, siapa pelaku tersebut.
Dia juga marah pada Mike, anaknya, karena ulah Mike yang tak sabaran membunuh Linda, semua ini terjadi.
Bramantio yakin, jika saja Mike tidak membunuh Linda, tentu pelaku tidak akan beraksi dan bertindak membantai dan membunuh orang orang terdekatnya.
Bramantio menghempaskan tubuhnya di sofa, dia bingung, tak tahu harus bagaimana menyikapi semua permasalahan yang terjadi.
Dia tak tahu, siapa orang yang telah membantai Samsul.
---
Mobil mobil Patroli datang ke Markas Wolf Gank siang itu.
Melihat begitu banyak polisi yang datang, anggota anggota wolf genk kocar kacir.
Mereka yang baru saja berkabung dan kehilangan pemimpin mereka ,Samsul, harus berhadapan dengan Polisi yang sudah mengendus dan mengincar mereka.
Sudah lama Polisi mengincar wolf genk yang terus mengedarkan narkoba kepada remaja remaja di sekolah.
Sejak salah satu anggota wolf genk tertangkap tangan sedang mengedarkan narkoba di sekolahan, Polisi mengejar Samsul dan anggotanya.
Polisi bertekat memutuskan rantai jaringan pengedaran narkoba Samsul yang semakin luas dan besar.
Anggota anggota Wolf Gank yang tertangkap polisi meronta dan berusaha melawan, mereka menyerang para petugas kepolisian.
Perlawanan sengit diberikan anggota anggota wolf genk, Perkelahian massal antara anggota wolf gank dan polisi pun terjadi.
Ditengah tengah perkelahian, Gatot yang berdiri di tengah tengah antara anggota wolf gank dan polisi yang sedang berkelahi menembakkan pistolnya ke udara.
Seketika, anggota anggota wolf gank terdiam, dengan cepat para petugas polisi mengacungkan pistol mereka pada anggota anggota wolf gank.
Anggota anggota wolf gank tak berdaya, polisi pun meringkus dan memborgol tangan mereka semua.
Ucok, salah satu anak buah Samsul berlari menyerang Gatot dengan beringas, dia menyerang Gatot dengan Kapak di tangannya.
Gatot menghindar, hampir saja dia terkena sabetan golok Ucok, jika sedikit saja dia lengah, maka tubuhnya akan terluka di tebas golok.
Ucok dengan kalap membabi buta menyerang Gatot, Gatot berusaha menghindar dan melawan.
__ADS_1
Serangan Ucok yang kalap membuat Gatot tak punya pilihan lain selain menembakkan pistolnya.
Gatot pun menembak Ucok dengan pistolnya berkali kali, Ucok terjerembab jatuh ketanah, golok terlepas dari tangannya.
Sesaat kemudian, Ucok pun mati, Gatot mendekati mayat Ucok, setelah dia yakin Ucok tewas, Gatot menyimpan pistolnya kembali di sarung pistol yang menempel di pinggangnya.
"Bawa mayat orang ini !" Perintah Gatot pada Teguh.
"Siap Komandan !" Ujar Teguh hormat.
Para petugas polisi membawa para anggota anggota wolf gank ke mobil tahanan polisi.
Lalu, Gatot bersama para petugas kepolisian dan juga Teguh pergi meninggalkan markas Wolf Gank.
Setelah para anggota anggota wolf gank semuanya berhasil ditangkap, dan pemimpinnya, Samsul, mati terbunuh, maka Wolf Gank pun hanya tinggal nama saja.
Jaringan Mafia terbesar dan nomor satu tersebut kini sudah terkubur, lenyap dan meninggalkan nama besarnya saja.
Kejadian yang menimpa Wolf Gank tentu saja membuat huru hara di antara kelompok kelompok Mafia lainnya.
Setelah kehancuran 2 Mafia terbesar, Wolf Gank dan Genk Tiger, maka tak ada lagi pemimpin mafia.
Dan hal itu membuat pemimpin pemimpin mafia lainnya berambisi untuk mengambil wilayah dan berkuasa menjadi pemimpin dan orang nomor satu di jaringan mafia.
Pertikaian antar genk mafia tak dapat di hindari, dan itu mengakibatkan Polisi akan semakin di repotkan ke depannya.
---
Di gudang yang besar dan luas, Yanto yang sedang mengukir patung lilin tampak sedang menerima telepon dari seseorang.
"Jadi, semua anggota wolf gank sudah ditangkap?" Ujar Yanto di telepon.
Wajah Yanto terlihat serius, sorot matanya terlihat tajam dan dingin.
"Ok, thanks infonya, kabari aku lagi, jika polisi bergerak dan mengincarku." Ucap Yanto di telepon.
Lalu Yanto menutup teleponnya, mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang.
Orang yang menelpon Yanto adalah orang yang selama ini memberikan informasi dan bocoran tentang penemuan dan apa yang akan di lakukan polisi.
Dari orang tersebutlah Yanto mengetahui sepak terjang polisi, terutama Gatot, yang sedang serius mengincar dan memburunya.
Sebab selalu mendapatkan informasi yang akurat, Yanto bisa menjalankan semua misi balas dendamnya dengan sempurna tanpa meninggalkan jejak.
Dia tahu, kapan harus bergerak dan bertindak, dan kapan dia harus diam menahan diri, itu semua karena info dari seseorang tersebut.
Siapa orang yang selalu memberikan informasi akurat tentang pergerakan dan penyelidikian Gatot dan kepolisian?
Jati diri sosok orang yang bertindak sebagai informan Yanto akan terungkap jauh di bab bab akhir nantinya.
---
Jauhari menerobos masuk ke ruang kerja Bramantio, siang itu dia mendatangi Bramantio.
Bramantio kaget melihat Jauhari datang ke ruang kerjanya.
"Maaf Pak, saya sudah mencoba menahan bapak ini, tapi beliau memaksa masuk, katanya, beliau kenal baik dengan bapak." Ujar Suryo, Asisten Manager Bramantio.
"Iya, gak apa, kamu bisa tinggalkan kami." Ujar Bramantio.
"Baik Pak." Ujar Suryo memberi hormat.
Suryo lantas pergi keluar dari ruang kerja Bramantio.
Bramantio menghampiri Jauhari yang berdiri dengan wajah tegang dan ketakutan.
Ditangan Jauhari ada secarik kertas lusuh yang berisi tentang pembakaran rumah Sanusi sekitar 18 tahun lebih yang lalu.
__ADS_1
"Apa maksudmu datang ke sini ?!" Tanya Bramantio kesal.
"Kamu tau, kalo wartawan sampe tau kamu datang menemui ku, mereka mengira, bahwa selama ini, akulah orang yang berada di belakangmu, sehingga kamu sukses menjabat sebagai kepala desa selama 2 periode." Ujar Bramantio kesal.
"Maaf Pak, Saya terpaksa, saya bingung harus kemana, saya takut, nyawa saya terancam !" Ujar Jauhari ketakutan.
"Apa maksudmu?!" Tanya Bramantio heran.
"Ini Pak." Ujar Jauhari.
Jauhari memberikan secarik kertas dari tangannya, Wajah Bramantio heran melihat kertas di tangan Jauhari.
"Kertas apa itu?" Tanya Bramantio heran.
Bramantio tidak mau mengambil kertas tersebut, sebab dia lihat kertas itu usang dan lusuh.
"Baca Pak, bapak akan tau nantinya." Ujar Jauhari serius.
Bramantio menatap tajam wajah Jauhari yang terlihat sangat ketakutan tersebut.
Bramantio masih ragu, di hatinya dia bertanya tanya, kertas apa yang ditangan Jauhari, mengapa Jauhari ingin dia membaca isi dari kertas lusuh tersebut.
"Kamu jangan main main sama saya Jauhari !" Bentak Bramantio kesal.
"Saya gak sedang main main Pak, saya serius !" Ujar Jauhari dengan wajah panik.
"Ada orang yang sengaja melemparkan kaleng ke saya malam malam, saya mengambil kertas ini dari dalam kaleng yang dilemparkan orang itu !" Ungkap Jauhari dengan wajah yang sangat ketakutan sekali.
Mendengar penjelasan Jauhari, Bramantio pun lantas mengambil kertas dari tangan Jauhari.
Dengan cepat Bramantio membuka lipatan kertas usang dan lusuh itu lalu membaca tulisan di dalam kertas.
Mata Bramantio terbelalak lebar, dia syock , Bramantio terperanjat kaget saat membaca tulisan di kertas usang dan lusuh itu.
"Keparaaaatt !! Siapa orang yang memberikan ini ke kamu !!" Bentak Bramantio.
Bramantio seketika marah, saat membaca tulisan di kertas.
"Itu berita tentang kebakaran rumah Sanusi sekitar 18 tahun lebih yang lalu Pak." Ujar Jauhari.
"Dan saya yakin, orang itu sengaja mengirimkannya ke saya, karena dia tau, saya salah satu pelaku pembakaran rumah Sanusi dulu !" Ungkap Jauhari penuh ketakutan.
"Dan dia sedang memberikan peringatan ke kamu !" Ucap Bramantio dengan geram.
"Iya Pak, Tolong saya Pak, tolong, lindungi saya ! Saya gak mau mati Pak !!" Ujar Jauhari ketakutan.
Wajah Jauhari begitu sangat ketakutan, dia merengek memohon, agar Bramantio mau memberinya perlindungan, agar dia aman.
"Itu artinya pelaku ada hubungannya dengan kejadian pembakaran rumah Sanusi 18 tahun lalu?" Gumam Bramantio geram.
Bramantio berfikir keras, mencari tahu pelakunya. Jauhari berdiri gemetar ketakutan.
"Siapa kamu?! Kenapa bersembunyi di belakangku? Datanglah, mari bermain bersamaku !" Bramantio berteriak di dalam kantornya.
Di dalam ruangan kamar sempit dan gelap, duduk di kursi depan layar monitor control cctv, seseorang tersenyum sinis menatap layar monitor.
Di dalam layar monitor, ada Bramantio bersama Jauhari di ruang kerjanya.
"Aku akan segera datang menemui kamu Bramantio, santai saja ! Nikmatilah permainanku." Ujar Orang tersebut.
Matanya terus menatap layar monitor yang didalamnya menampilkan gambar Bramantio bersama Jauhari yang datang meminta perlindungan pada Bramantio.
Bramantio tidak pernah tahu, jika selama ini ada mata yang selalu mengintai dan mengawasinya selama dia berada diruang kerjanya.
Orang yang sedang mengawasi layar monitor ternyata Yanto, ya, dia sedang menonton Bramantio dan Jauhari, dari cctv yang memang sebelumnya sudah dia sembunyikan di ruangan kerja Bramantio.
Salah satu cctv yang disembunyikan Yanto ada pada Patung diri Bramantio yang tergeletak di pinggir meja kerjanya.
__ADS_1
Dari cctv cctv yang di pasangnya, Yanto bisa dengan jelas melihat, bahkan mendengar pembicaraan Bramantio di ruang kerjanya.
Yanto tersenyum sinis menatap layar monitor. Tatapan matanya tajam, wajahnya terlihat dingin dan bengis.