
Mike dengan geram segera berbalik dan pergi dari hadapan Linda yang tersenyum sinis padanya.
Dengan cuek Linda pun berbalik dan melangkah masuk kembali kedalam gedung perkantorannya.
Mike masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman depan gedung perkantoran.
Wajahnya terlihat penuh amarah, kebencian pada Linda terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam.
Mike menyalakan mesin mobilnya, diletakkannya tangannya di atas setir mobil.
Kemudian, mobil dijalankannya dengan kecepatan tinggi, pergi meninggalkan gedung perkantoran Linda.
Linda melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya, dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.
Kemudian dia mengambil ponsel yang ada di atas meja kerja, dia menelpon Gavlin.
"Kamu dimana Vlin ?" Ujar Linda bertanya pada Gavlin yang di teleponnya.
"Di rumah." Jawab Gavlin singkat dari seberang telepon.
"Kita ketemuan di cafe Seruni yuk, aku bete." Ujar Linda lagi di telepon.
"Aku gak bisa sekarang." Ujar Gavlin dari seberang teleponnya.
"Gimana kalo ntar sore, habis maghrib kita ketemu, mau ya? Please..." Ujar Linda ditelepon dengan suara manjanya pada Gavlin.
"Okay." Jawab Gavlin singkat dari seberang telepon.
"Thank ya, sampe ketemu, daah Gavlin." Ujar Linda, dia menutup teleponnya, meletakkan ponselnya dan tersenyum senang.
Gavlin meletakkan ponsel diatas meja besar yang ada di dalam gedung luas.
Ada 2 ponsel tergeletak di atas meja. 1 ponsel digunakan saat Gavlin menyamar menjadi Yanto.
Gavlin kemudian memandang patung lilin pesanan Bramantio yang hampir selesai dikerjakannya. Tinggal 20 persen lagi lalu finishing.
Gavlin yang juga di kenal dengan nama Yanto sebagai seniman pembuat patung Lilin terlihat serius memandangi patung lilin hasil buah karyanya.
"Sebentar lagi selesai, dan aku bisa menyaksikan dengan jelas semua kegiatan dia." Ujarnya.
Matanya menatap dengan tatapan tajam pada patung lilin berwujud Dewi Hera.
Sore itu, menjelang maghrib, terlihat Linda sedang menyetir mobilnya dijalan raya.
Linda tidak mengetahui jika saat ini, dia sedang di ikuti dari belakang.
Sebuah mobil melaju dibelakangnya, tidak jauh dari mobilnya.
Di dalam mobil yang mengikuti Linda terlihat Zulfan menyetir, dia adalah anak buah Samsul, kelompok preman yang terkenal sadis.
Zulfan di tugasi Samsul untuk memgikuti, memata matai serta mengawasi Linda.
Mobil Linda terus melaju menyusuri jalan raya, dia terlihat asyik mendengarkan sebuah lagu dari tape didalam mobilnya.
Wajah Linda terlihat senang, dia tak sadar kalau saat ini, dirinya sedang di ikuti.
Mobil Linda tiba di depan halaman cafe Seruni, Cafe yang menjadi langganan dia dan Maya.
Di cafe ini juga dia akan bertemu dengan Mike, seperti yang sudah mereka janjikan sebelumnya.
Linda turun dari dalam mobilnya yang terparkir dihalaman depan cafe.
Linda melangkah santai dengan senyum senang menuju ke dalam cafe.
Sementara Zulfan memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Linda.
Lalu Zulfan keluar dari dalam mobil, dia berdiri di sudut luar cafe, menatap ke dalam cafe.
Zulfan mengintip Linda dari tempat persembunyiannya. Dia segera mengambil ponsel dari kantong celananya.
Zulfan mengarahkan ponselnya ke arah dimana Linda berada saat ini, dia mengabadikan semua yang di lihatnya.
Di dalam cafe, Linda melangkah mendekati sebuah meja, di kursi sudah ada Gavlin duduk santai menunggu kedatangannya, Linda mendekati Gavlin dan menyapanya.
"Hai Vlin." Sapa Linda dengan lembut dan ramah.
Gavlin tersenyum padanya, Gavlin berdiri lalu menarik sebuah kursi agar Linda duduk.
Tiba tiba Linda mengecup pipi Gavlin, Gavlin sedikit kaget karena sikap Linda.
Linda tersenyum menatap wajah Gavlin, lalu duduk di kursi yang sudah di siapkan Gavlin.
Setelah Linda duduk, Gavlin pun duduk di kursinya. Zulfan yang mengintai Linda berhasil mengambil gambar saat Linda mengecup pipi Gavlin.
"Makasih ya Vlin." Ujar Linda.
Linda tersenyum lembut menatap wajah Gavlin, ada kerinduan di hati Linda pada Gavlin yang tersenyum menatapnya.
"Makasih untuk apa?" Tanya Gavlin ramah.
"Untuk keberanianmu menghalangi Bramantio memukulku." Ujar Linda, Gavlin tersenyum mengangguk.
"Maafin aku ya, gara gara kamu bela aku, kamu di pecat." Ujar Linda menatap wajah Gavlin dengan tatapan bersalahnya, dia memegang tangan Gavlin.
"Nggak apa kok, aku memang udah niat pengen berhenti kerja, udah capek ngadepin sikap Bramantio yang arogan, selalu marah padaku." Ujar Gavlin.
"Kebetulan aja ada kejadian itu, ya udah, pas waktunya buat aku berhenti." Ujar Gavlin tersenyum.
"Iya, tapi kamu terus gak ada kerjaan ?" Tanya Linda.
"Nyantai aja, ntar juga dapat kerjaan lain. Biasa gitu, gak usah kamu pikirin." Ujar Gavlin tersenyum.
Zulfan terus mengabadikan moment pertemuan Linda dan Gavlin itu.
"Ya tapi aku jadi ngerasa salah aja sih bikin kamu nganggur." Ujar Linda.
"Bukan salahmu, kenapa kamu jadi nyalahin dirimu? Aku gak apa Lin, justru aku senang udah gak jadi supirnya Bram lagi." Ujar Gavlin.
Gavlin menatap wajah bersalah Linda, Gavlin tersenyum pada Linda.
"Kamu kerja di kantorku aja gimana Vlin ? Biar kita bisa dekat dan ketemu tiap hari, mau kan?" Ujar Linda menawarkan pekerjaan pada Gavlin.
"Makasih Lin, tapi aku lebih nyaman kalo kerja dengan orang lain." Ujar Gavlin pada Linda.
__ADS_1
"Tapi..." Ujar Linda, dia tak jadi melanjutkan bicaranya karena Gavlin memotong ucapannya.
"Gak ada tapi tapian, aku bukan orang yang harus di kasihani Lin, aku bisa usaha sendiri, aku bisa cari kerjaan lain tanpa bantuan dan rasa kasihan kamu." Ujar Gavlin.
"Maafin aku, aku cuma mau bantuin kamu." Ujar Linda tertunduk merasa salah pada Gavlin.
"Hei...Lin...kamu kenapa jadi baper? Aku gak marah ke kamu, makasih atas perhatianmu, tapi maaf, aku gak bisa menerima tawaranmu." Ujar Gavlin.
Gavlin menatap wajah Linda dengan senyumannya, Linda akhirnya luluh begitu melihat senyuman Gavlin yang gagah itu.
Senyuman dan tatapan lembut Gavlin serta keramahan sikapnya yang membuat Linda jatuh hati dan tergila gila pada Gavlin.
Linda terus memandangi wajah Gavlin yang tengah tersenyum padanya.
"Tahan...tahan Vlin...jangan bergerak, kamu tetap diam." Ujar Linda melarang Gavlin untuk menggerakkan badannya.
"Kenapa?" Tanya Gavlin heran.
"Senyum lagi Vlin, ayo senyum, biarkan aku memandangi wajah dan senyuman kamu beberapa menit lagi, aku ingin memandangimu." Ujar Linda.
Linda bersikap manja pada Gavlin yang tertawa mendengar ucapan Linda padanya.
"Ada ada aja kamu Lin, gak enak diliat banyak orang." Ujar Gavlin sambil melirik pada pengunjung pengunjung yang ada di dalam cafe.
"Aku gak perduli mereka Vlin." Ujar Linda cuek dan terus menatapi wajah Gavlin.
"Aku lapar, mau pesan makanan, kamu mau makan gak?" Ujar Gavlin pada Linda.
Gavlin berdiri dari duduknya, sengaja menghindar agar Linda tidak terus memandangi wajahnya, Linda kecewa.
"Ya pesenin deh, apa yang kamu makan, aku makan nanti." Ujar Linda cemberut.
Gavlin tersenyum melihat Linda yang cemberut, dia lantas berjalan meninggalkan Linda yang duduk di kursinya.
Linda melirik Gavlin, dia tersenyum senang, ada rasa bahagia yang begitu besar dihati Linda saat ini karena bertemu dan bisa melihat Gavlin lagi.
Sementara itu, di luar cafe, Zulfan yang mengintai dan mengabadikan moment pertemuan Linda dan Gavlin segera bergegas jalan dan masuk ke dalam mobilnya.
Zulfan mengirimkan gambar gambar dan video yang direkam di ponselnya ke sebuah nomor telepon yang tertera di ponselnya.
Setelah dia selesai mengirimkan photo photo dan video, dia menyimpan ponselnya ke dalam kantong baju.
Zulfan lalu menyalakan mesin mobil untuk kemudian menjalankan mobilnya pergi dari cafe Seruni.
Di meja kerjanya, Mike menerima pesan yang di kirimkan Zulfan, dia segera membuka kotak pesan di ponselnya.
Mike melihat dan mengamati photo photo yang di kirim Zulfan, dia melihat photo satu persatu.
Mike melihat photo Linda sedang mengecup Gavlin, berpegangan tangan , dan photo kebersamaan Linda dan Gavlin.
Mike terlihat wajahnya memerah karena terbakar rasa cemburu, dia lalu membuka file video yang juga di kirimkan Zulfan ke ponselnya.
Mike lantas melihat adegan video yang menunjukkan kemesraan antara Gavlin dan Linda.
Video itu tak ada suara, karena Zulfan mengambilnya dari luar cafe dan posisinya jauh dari Linda.
Mike tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang di bicarakan Linda dan Gavlin dalam video yang di tontonnya di ponsel.
"Jadi pacarmu Gavlin ? Cuma seorang supir? Seleramu rendah Linda, dia gak selevel denganku." Ujar Mike.
Mike tertawa sinis merendahkan Gavlin yang ternyata sudah menjadi pacar Linda.
"Aku ingin tau, bagaimana sikapmu sama si Gavlin, kalo dia jadi pengangguran nantinya." Ujar Mike.
Wajahnya terlihat geram, dia tidak tahu kalau Gavlin sudah di pecat oleh papahnya.
Mike berencana untuk memecat dan membuat Gavlin jadi pengangguran.
Fikir Mike, dengan begitu, dia berfikir Linda pasti akan berbalik dan mendekat kembali padanya, Mike berfikir, dia menyeringai tersenyum licik.
Linda dan Gavlin sudah di luar cafe Seruni, Gavlin mengantar Linda ke mobilnya yang terparkir dihalaman depan cafe.
Sementara, mobil Zulfan sudah tidak ada di halaman parkir cafe, Zulfan sudah lebih dulu pergi meninggalkan Linda dan Gavlin.
"Aku antar kamu pulang ya Vlin, pleaasee..." Ujar Linda pada Gavlin yang berdiri diam berfikir.
"Ayo dong Vlin, mau ya aku antar, aku ingin tau rumah kamu, masa aku gak tau rumah pacarku?" Ujar Linda menatap manja dan tersenyum pada Gavlin.
"Aku belum siap menyambut kamu dirumahku." Ujar Gavlin tersenyum lembut pada Linda.
"Kenapa memangnya ?" Tanya Linda.
"Rumahku berantakan, belum sempat kurapikan, nanti kamu kaget dan jadi gak nyaman didalam rumah." Ujar Gavlin memberi alasan, Linda tersenyum.
"Kirain apaan, tenang aja, aku gak apa kok, nanti aku bantuin beresin rumahmu." Ujar Linda tersenyum pada Gavlin.
Gavlin masih diam berdiri, dia berfikir, jauh dalam hatinya dia tak ingin Linda masuk ke dalam rumahnya, karena ada sesuatu di dalam rumahnya.
Jika Linda melihat semuanya, pasti Linda akan jatuh pingsan karena kagetnya.
Untuk itu Gavlin berfikir mencari alasan agar Linda tidak memaksanya untuk mengizinkan Linda main kerumahnya saat ini.
"Kok diam Vlin, ayolah, boleh ya, aku janji deh, gak ngerusuh didalam rumahmu." Ujar Linda.
Linda menatap lekat wajah Gavlin, tatapan matanya memohon manja agar Gavlin mengizinkannya datang kerumah Gavlin.
Gavlin akhirnya menghela nafasnya, dia lalu menatap wajah Linda.
"Baiklah, tapi untuk saat ini, aku minta maaf, kita ngobrolnya nanti di luar aja ya, di teras rumah." Ujar Gavlin tersenyum menatap Linda yang cepat mengangguk.
"Siap bos ! Aku gak perduli kita ngobrol dimana, pokoknya berduaan sama kamu, dan aku tau rumah kamu." Ujar Linda.
Wajahnya tersenyum senang karena akhirnya Gavlin memberikan izin padanya untuk mengetahui rumah Gavlin.
Linda menarik tangan Gavlin agar segera masuk kedalam mobil, Gavlin mengikutinya.
Mereka masuk ke dalam mobil, Linda segera menyalakan mesin mobilnya.
Linda melirik dan tersenyum pada Gavlin yang duduk di jok depan, disamping dirinya yang menyetir mobil.
Linda lalu menjalankan mobilnya, mereka pergi dari lokasi Cafe Seruni menuju rumah Gavlin.
Sesampainya di rumah Gavlin, Linda menghentikan mobilnya, lalu mereka berdua keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Gavlin mengajak Linda untuk masuk ke halaman rumahnya, Linda mengamati rumah Gavlin yang berlantai dua itu.
Rumah asri dengan halaman kecil dan juga teras kecil didepan rumahnya.
Mobil Linda terparkir di depan rumah, di pingggir jalan depan rumah Gavlin.
"Duduk dulu Lin, aku ke dalam sebentar." Ujar Gavlin.
Linda mengangguk dan duduk di kursi yang ada di teras depan rumah Gavlin.
Linda memandangi sekitar rumah, sementara Gavlin membuka pintu rumah lalu cepat masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
Di dalam rumahnya, dengan cepat Gavlin mengunci pintu, agar Linda tidak bisa diam diam membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.
Di kursinya, Linda menoleh ke jendela rumah, mencoba melihat kedalam rumah Gavlin.
Linda mengintip dari jendela rumah, pandangan matanya tidak bisa melihat jelas ke dalam rumah karena terhalang oleh horden jendela rumah Gavlin.
Linda akhirnya berpindah tempat, mencari celah agar bisa lebih jelas mengintip ke dalam rumah Gavlin.
Dari sudut jendela samping rumah Gavlin, Linda berusaha mengintip ke dalam rumah.
Dengan samar samar, karena pandangan matanya terhalang oleh kain horden jendela di dalam rumah dia melihat ke dalam rumah.
Linda melihat seperti sosok seorang pria tua sedang duduk di sebuah kursi.
Linda kaget, dia mencoba menegaskan kembali pandangannya.
Tapi matanya tidak bisa melihat jelas, apakah yang di lihatnya itu sosok pria tua atau sesuatu yang lain, Linda terdiam sesaat dan berfikir.
"kayak bapak bapak, apa itu orang tuanya Gavlin ?" Gumam Linda berfikir.
Linda lantas mengintip kembali dari celah jendela, tapi dia tetap tidak bisa melihat jelas, hanya samar samar dan tidak utuh apa yang di lihatnya.
Gavlin keluar dari dalam rumahnya, menutup pintu rumahnya.
Gavlin heran karena Linda tidak ada di teras depan rumahnya, Gavlin meletakkan botol minuman dan toples berisi makanan ringan di atas meja.
Dia mencari cari, Gavlin berjalan ke halaman depan rumahnya, mencari Linda ke mobilnya.
Tapi Linda tidak ada di mobilnya yang masih terparkir didepan rumahnya.
Gavlin berbalik dan melangkah ke teras depan rumahnya, dia melihat tas kecil yang dibawa Linda ada di kursi tempat Linda duduk.
Gavlin diam sesaat dan berfikir, lalu berjalan ke arah samping rumahnya.
Linda yang berusaha melihat kedalam rumah Gavlin tidak menyadari kedatangan Gavlin.
Linda terlihat asyik mengintip, Gavlin yang datang melihat Linda mengintip di jendela heran.
"Kamu ngapain Lin ?" Tanya Gavlin.
Gavlin heran melihat Linda mengintip di jendela, raut wajah Gavlin menunjukkan rasa cemas.
Linda yang mendengar suara Gavlin kaget karena tak menyadari kedatangan Gavlin.
Dengan cepat Linda berdiri dan menatap Gavlin yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ah, aku cuma mau liat isi rumahmu, penasaran aja, iseng Vlin, dari pada lama nungguin kamu." Ujar Linda pada Gavlin yang diam menatap lekat wajah Linda.
"Apa yang kamu lihat di dalam rumahku ?" Tanya Gavlin dengan tatapan penuh curiga.
Gavlin ingin tahu, apakah Linda melihat sesuatu hal di dalam rumahnya.
"Ah, nggak, aku gak liat apa apa kok." Ujar Linda menatap Gavlin dengan wajah serius meyakinkan Gavlin yang terus menatapnya lekat.
"Seharusnya kamu gak mengintip Lin, itu gak sopan." Ujar Gavlin menatap lekat wajah Linda.
"Maaf, aku salah." Ujar Linda menunjukkan raut wajah rasa bersalahnya pada Gavlin.
"Kamu yakin gak liat apa apa di dalam rumahku?" Tanya Gavlin lagi.
Gavlin ingin memastikan pada Linda apakah dia benar benar tidak melihat apapun.
Linda menggelengkan kepalanya, Gavlin akhirnya berbalik, dia melangkah tinggalkan Linda yang lantas segera berjalan mengikutinya.
Gavlin lalu duduk di kursi yang ada di teras depan rumahnya, dia menuangkan air ke dalam gelas yang dibawanya.
Lalu dia meletakkan kembali botol minuman diatas meja, Gavlin membuka penutup toples berisi makanan ringan yang ada di atas meja bersama air minum.
Gavlin memberikan gelas yang berisi air minum pada Linda yang duduk kembali di kursinya.
Linda meletakkan tas kecil diatas pahanya, tas kecil yang tergeletak di kursi saat dia mengintip tadi.
Linda meminum air yang disediakan Gavlin untuknya, kemudian meletakkan kembali gelas yang sudah kosong di atas meja.
"Maaf Vlin, aku tadi, cuma..." Ujar Linda menatap wajah Gavlin, dia ragu dan takut Gavlin marah.
"Cuma apa Lin ?" Tanya Gavlin heran.
Gavlin menatap Linda dengan tatapan penuh curiga, ada sesuatu yang berusaha disembunyikan dan dikatakan Linda padanya.
Gavlin tahu dari sikap Linda.
Linda menghela nafasnya, lalu menatap wajah Gavlin.
"Cuma, aku tadi samar samar kayak liat ada bapak bapak duduk di dalam rumahmu." Ujar Linda.
Dia mencoba jujur berterus terang pada Gavlin, mendengar itu Gavlin kaget.
Namun Gavlin berusaha menyembunyikan kagetnya agar Linda tidak mengetahui reaksinya, Gavlin berusaha tetap bersikap tenang dan santai.
"Itu cuma perasaanmu, kamu salah liat, yang di dalam rumah cuma aku, gak ada siapa siapa." Ujar Gavlin.
Gavlin lantas menuangkan air ke dalam gelas lainnya, Gavlin lalu minum.
"Iya kali ya, gak tau juga deh, mungkin juga yang aku liat itu kamu, soalnya samar sih, gak jelas, kehalang horden jendela." Ujar Linda.
Linda lantas tersenyum nyengir menatap Gavlin yang tersenyum padanya.
Jauh dalam hatinya Gavlin merasa lega karena Linda tidak melihat kebenaran dari isi di dalam rumahnya.
Gavlin tidak ingin siapapun mengetahui rahasia yang ada didalam rumahnya.
__ADS_1