
Gavlin tersenyum menatap lekat wajah Sarono yang tampak tegang menunggu jawaban Gavlin, sementara Indri, duduk diam, memperhatikan Gavlin.
"Ya, Pak. Itu photo saya." ujar Gavlin santai.
Indri pun terperanjat kaget, karena Gavlin mengakui, bahwa photo dalam poster yang ada di atas meja adalah dirinya. Sarono menghela nafasnya.
"Itu sebabnya, kamu tertembak dan luka parah ?" tanya Sarono.
"Ya, Pak. Saya di khianati oleh orang yang sangat saya percaya." ungkap Gavlin, dengan wajah kecewa.
"Di khianati?" tanya Sarono, heran tak mengerti.
"Saat itu, saya sedang mengejar pelaku pembunuhan berantai, tapi, pas saya mau menghajar orang itu, polisi malah menembak saya." ujar Gavlin.
"Yang buat saya sakit hati, Gatot, komandan kepolisian hanya diam saja, gak mencegah anak buahnya yang menembak saya, sehingga saya jatuh kesungai." jelas Gavlin getir.
"Apa hubunganmu dengan Gatot, komandan polisi itu?" tanya Sarono.
"Dia telah menyelamatkan nyawa dan hidup saya waktu saya kecil, Pak. Gatot yang bawa saya ke rumah sakit dan panti asuhan, sehingga saya di adopsi." jelas Gavlin.
Indri terdiam, dia menyimak penjelasan Gavlin yang cerita tentang dirinya, Sarono menatap tajam wajah Gavlin, dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang Gavlin.
"Berarti, Gatot memburumu sampe sekarang?" tanya Sarono serius.
"Gatot sudah mati, Pak." jelas Gavlin.
"Mati?!" Sarono kaget, begitu juga dengan Indri.
"Ya, dia di bunuh Jafar, pelaku pembunuhan berantai." jelas Gavlin.
"Itu sebabnya, beberapa hari ini saya gak pulang ke sini, karena saya menyelesaikan masalah saya dengan Gatot dan juga Maya, tapi, dia terbunuh, dan saya menguburkannya." ujar Gavlin, menjelaskan dengan serius.
"Lantas, siapa Maya?" tanya Sarono.
"Anak angkat Gatot, Pak. Dia di adopsi sejak kecil, Maya teman dekat saya waktu kecil dulu. Dan dia, pacar saya." ungkap Gavlin.
Mendengar perkataan Gavlin, Indri menundukkan wajahnya, ada kesedihan dalam dirinya, saat tahu, Gavlin sudah punya pacar yang bernama Maya. Sarono melirik Indri, dia tahu, anaknya kecewa mengetahui Gavlin ada pacar, sebab, Sarono tahu, Indri punya perasaan suka pada Gavlin, namun disembunyikannya.
"Lantas, kenapa kamu gak membawa Maya kesini? Bukankah Bapaknya sudah meninggal?" tanya Sarono.
"Maya juga meninggal, Pak." jawab Gavlin, dengan wajah sedih menjelaskan.
"Meninggal? Kenapa?!" tanya Sarono kaget.
Indri juga terperanjat kaget, dia tak menyangka, Maya, Pacar Gavlin sudah meninggal, di tatapnya wajah Gavlin, Indri melihat raut wajah Gavlin sedih saat cerita tentang Maya, pacarnya yang sudah meninggal dunia itu.
"Jafar mau menembak saya, tapi, Maya malah menghalanginya, dia jadi tameng saya dan tertembak, lalu mati." ujar Gavlin, lirih dan getir.
Gavlin menundukkan wajahnya, dia menahan kesedihannya saat mengingat akan kematian Maya. Indri iba dan prihatin pada Gavlin yang bersedih.
"Boleh Bapak tau, mengapa kamu jadi Buronan kepolisian?" tanya Sarono.
Dengan hati hati dan takut Gavlin tersinggung, Sarono bertanya baik baik pada Gavlin. Gavlin menghela nafasnya, lalu, dia menatap lekat wajah Sarono.
"Dulu, lebih dari 18 tahun lalu, Bapak dan Ibu saya di bunuh Jafar dan teman temannya, mereka para pejabat, dan orang orang penting." ujar Gavlin, mulai bercerita.
__ADS_1
"Bapak dulu kerja di kantor Bramantio dan Jafar, sebagai Manager keuangan, Bapak melihat kecurangan dikantor, pencucian uang, bisnis fiktif dan sebagainya. Singkatnya, Bapak gak setuju dengan apa yang dilakukan Bram dan Jafar, Bapak berniat melaporkannya ke pihak kepolisian dan kejaksaan." jelas Gavlin.
"Bram berusaha membujuk Bapak, Bapak gak mau, dia mengundurkan diri, dan memilih bekerja menjadi penyapu jalanan, Bram dendam, dia takut, Bapak membongkar kejahatan dia bersama Jafar dan teman teman bisnisnya yang lain seperti Wijaya dan Guntur." jelas Gavlin.
"Karena itu, Bapak di bunuh, dia lantas dijebak dan di tuduh sebagai pemerkosa dan pembunuh gadis pemandu lagu di bar, padahal, Jafar yang membunuh gadis itu." jelas Gavlin, menahan geramnya saat cerita.
"Dan ibu, juga di bunuh Jafar, karena dia menyaksikan langsung, Jafar membunuh pacarnya di dalam kantornya." lanjut Gavlin cerita.
"Setelah itu, Bram membayar warga warga kampung rawas, untuk membakar rumah Bapak. Dan saat warga membakar rumah, saya bersama adik saya dan Maya ada di dalam rumah." jelas Gavlin.
"Kami berhasil keluar dan selamat dari kebakaran rumah, cuma saya terpisah dengan Maya. Disitulah Gatot menyelamatkan saya, dan ternyata, Gatot juga yang menyelamatkan Maya, lalu menjadikannya anak." ujar Gavlin menjelaskan.
"Saat saya tinggal di luar negri dan di adopsi, saya banyak belajar ilmu pengetahuan, dan juga bela diri, saya selalu teringat akan kejadian di masa kecil saya. Lalu, terlintas di benak saya, untuk membalas dendam." jelas Gavlin serius.
"Setelah saya punya banyak uang dan modal, saya pun kembali ke Indonesia, untuk memulai balas dendam saya." jelas Gavlin.
"Satu sisi saya menjadi seniman pembuat patung lilin bernama Yanto, dan di sisi lain, saya menjadi Gavlin, yang sempat jadi supir Bramantio, untuk memata matainya, namun akhirnya saya dipecat Bramantio, karena dia tak senang saya jadi supir pribadinya." jelas Gavlin.
"Kamu Yanto si pembuat patung lilin yang terkenal itu?" tanya Indri kaget.
"Ya, In." jawab Gavlin.
"Kok beda penampilannya? Aku tau Yanto si seniman itu, dia terkenal, tapi, dia gak mirip sama kamu." jelas Indri serius memperhatikan wajah Gavlin.
"Karena, saat menjadi Yanto, aku menyamar In. Aku memakai rambut panjang palsu, serta jenggot dan kumis palsu dan kaca mata minusku." jelas Gavlin.
"Ya, Yanto seperti itu penampilannya." jelas Indri.
"Sudah, cukup In. Tolong lanjutkan ceritamu nak Gavlin." ujar Sarono.
"Intinya saya mulai balas dendam Pak. Satu persatu musuh Bapak saya bunuh, mulai dari Guntur, Wijaya, semua warga di kampung rawas sampai Bram dan Jafar saya bunuh." ujar Gavlin menjelaskan.
"Jadi, kamu pelaku pembakaran dan pembantaian rumah dan warga perkampungan rawas itu?" tanya Sarono.
"Iya, Pak. Saya melakukannya, untuk membalas perbuatan warga warga itu yang telah membakar rumah saya." jelas Gavlin.
"Sebelum membantai dan membunuh, saya meneror warga warga kampung rawas, menebar ketakutan pada mereka semua." lanjut Gavlin menjelaskan.
"Bapak kok tau?" tanya Indri heran.
"Ramai beritanya, Bapak sempat baca di surat kabar, tentang kejadian di kampung rawas itu. Sebelum terjadi pembunuhan, kampung itu sering menemui kemunculan hantu hantu dan hal hal gaib lainnya. Hampir satu bulan orang orang dipasar selalu cerita soal kejadian itu." jelas Sarono.
"Oh." Angguk Indri paham.
"Ya, Pak. Saya yang membuat semuanya, untuk meneror mereka, agar mereka percaya, jika kampungnya ada hantu, dengan begitu, saya mudah membunuh mereka, karena mereka sudah ketakutan, dan memilih diam dirumah masing masing." jelas Gavlin.
Sarono mengangguk angguk mengerti dan paham, sementara Indri diam tertunduk karena ditegur Bapaknya. Indri merasa bersalah, karena memotong pembicaraan Bapaknya bersama Gavlin.
"Lantas, apa dendammu sekarang ini sudah terbalas nak Gavlin?" tanya Sarono, dengan wajahnya yang serius dan ingin tahu.
"Belum Pak. Masih ada beberapa orang yang tersisa, dan mereka itu orang orang penting dan mempunyai kekuasaan serta jabatan tinggi di pemerintahan, mereka dulu yang ada dibelakang Jafar dan Bramantio, mereka telah membebaskan Jafar dari tuduhan pembunuhan Bapak saya." jelas Gavlin dengan wajah seriusnya.
Sarono terdiam, untuk sesaat, dia berfikir, Indri menatap wajah Gavlin, dia merasa iba sekaligus prihatin dengan apa yang sudah dialami Gavlin saat dia masih kecil dulu, Indri tak menyangka, betapa menderitanya masa kecil Gavlin dulu.
"Bapak diam, apa Bapak takut dengan saya karena tau saya buronan dan pembunuh?" tanya Gavlin.
__ADS_1
"Apa saya kamu liat takut padamu nak Gavlin?" tanya Sarono menatap lekat wajah Gavlin.
"Nggak Pak. Bapak biasa saja menyikapinya saya liat, hanya, saya heran, mengapa Bapak tiba tiba diam." ujar Gavlin.
"Saya lagi berfikir, betapa berat beban yang kamu pikul saat kecil dulu, dimana kamu harus melihat kenyataan, rumah di bakar, dan bapak serta ibumu di bunuh." jelas Sarono.
"Saya lagi berfikir, wajar kalo kamu menaruh dendam yang begitu besar, mengingat penderitaan kamu sangat besar." jelas Sarono.
"Terima kasih, Pak. Bapak mau memahami diri saya." jelas Gavlin, tersenyum senang.
"Ya, nak Gavlin. Bapak cuma mendoakan, mudah mudahan kamu bisa mewujudkan semua harapan dan niatmu, dan segera selesai masalah dendammu." jelas Sarono.
"Ya, Pak." jawab Gavlin, tersenyum senang.
"Lantas, apa rencanamu ke depan?" tanya Sarono ingin tahu.
"Mencari keberadaan musuh musuh saya, Pak. Untuk membalas dendam pada mereka semua." jelas Gavlin.
"Memangnya mereka tidak bekerja di kantornya? bukankah kamu bilang, mereka orang penting dan pejabat?" tanya Sarono.
"Ya, Pak. Saya belum menyelidiki mereka, terakhir yang saya tau, salah satu diantara mereka bersembunyi." ujar Gavlin.
"Dan dari Om Gatot, saya tau, kalo mereka sedang di selidiki polisi mengenai kasus pembunuhan Bapak saya dulu, makanya mereka bersembunyi." lanjut Gavlin menjelaskan.
"Oh, seperti itu." ujar Sarono, mengangguk paham.
"Ya, Pak." ujar Gavlin.
"Maaf Pak. Mungkin saya gak akan berlama lama tinggal di sini." jelas Gavlin.
"Kenapa?!" tanya Indri.
Indri yang malah bertanya, kenapa Gavlin tak mau berlama lama tinggal bersama mereka, Indri sebenarnya tak ingin Gavlin pergi, dia mau, Gavlin tetap tinggal bersama mereka, agar dia bisa selalu dekat dengan Gavlin. Namun, Indri tak berani berkata jujur, dia malu pada Gavlin, jika mengutarakan isi hatinya pada Gavlin duluan.
"Saya gak mau melibatkan Bapak dan Indri dalam masalah saya nantinya." jelas Gavlin.
"Melibatkan apa maksudnya?" tanya Sarono, tak mengerti.
"Saya ini kan buronan Pak. Pastinya polisi terus mencari keberadaan saya, dan saya gak ingin, Polisi bisa melacak dan menemukan saya di rumah Bapak." jelas Gavlin.
"Lalu, Polisi polisi datang ke sini, untuk menangkap saya, dan mereka pastinya akan menangkap Bapak juga Indri, karena menganggap kalian berdua komplotan saya, dan polisi pasti menuduh Bapak sengaja menyembunyikan saya dan gak bilang ke polisi tentang saya." jelas Gavlin, dengan wajahnya yang khawatir.
Indri terdiam mendengar penjelasan Gavlin. Sementara Sarono tersenyum memandangi wajah Gavlin yang tampak khawatir pada dirinya dan Indri.
"Saat menolongmu dan mengobatimu, Bapak tau, kamu pasti ada masalah, sehingga tertembak dan luka parah, Bapak juga melihat gimana garangnya kamu menghajar para rentenir yang menagih hutang ke sini." jelas Sarono.
"Dan saat itu, Bapak mulai berfikir, apa kamu salah seorang penjahat, napi yang melarikan diri, seperti yang Bapak baca di surat kabar dan liat di televisi." lanjut Sarono menjelaskan.
"Kalopun benar, pasti polisi memburumu, dan Bapak pun sudah siap dengan segala resikonya, karena sudah menolongmu, dan membiarkan kamu tinggal dirumah ini. " tegas Sarono menjelaskan.
"Tapi, Saya gak mau terjadi apa apa dengan Bapak dan indri, kalo saya terus di sini, Pak." ucap Gavlin serius.
"Gak apa apa nak Gavlin, Bapak dan Indri bisa menjaga diri kami. Kamu boleh tinggal disini selamanya." ujar Sarono, tersenyum.
"Bapak juga gak takut, kalo pun akhirnya polisi menemukan rumah ini sebagai persembunyian kamu, lalu polisi menangkap Bapak, Bapak siap menghadapinya." tegas Sarono, bersungguh sungguh.
__ADS_1
Indri tertunduk diam, dia melirik Bapaknya yang bicara serius dengan Gavlin. Gavlin pun terdiam mendengarkan semua penjelasan Sarono.