
Gavlin berjalan menyusuri trotoar jalanan, dia melangkah melewati Mini Market.
Tempat dia biasa belanja persediaan makan dan minuman untuk disimpan dirumahnya.
Maya yang hendak berjalan keluar tak sengaja melihat Gavlin berjalan di luar melewati Mini Market.
Dengan cepat Maya melangkah keluar dari dalam Mini Market sambil menenteng belanjaannya, dia mengejar Gavlin.
Diluar Mini Market, Maya melihat Gavlin yang berjalan menjauh, dia berfikir sejenak, kemudian dia berjalan, mengikuti Gavlin.
Maya berjalan dengan menjaga jarak dari Gavlin, agar Gavlin tidak mengetahui jika dirinya sedang mengikutinya.
Gavlin berbelok ke sebuah gang yang ada di samping ruko dekat Mini Market, Maya terus melangkah mengikutinya.
Gavlin melangkahkan kakinya menyusuri gang di ikuti Maya di belakang, tidak jauh darinya.
Gavlin menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah yang berlantai dua.
Saat Gavlin hendak membuka pintu rumahnya, tiba tiba Maya sudah berada tepat dibelakangnya.
"Hai Vlin." Sapa Maya, membuat Gavlin kaget, karena tak menyangka kehadiran Maya.
Gavlin berbalik dan menatap wajah Maya yang tersenyum manis padanya.
Gavlin berusaha menyembunyikan rasa kagetnya pada Maya, dia sebenarnya tak ingin Maya mengetahui rumahnya.
Namun, karena saat ini Maya sudah ada dihadapannya, berdiri dengan sikap ramah dan senyum manisnya, membuat Gavlin tak bisa berbuat apa apa.
"Kok tau aku di sini ?" Tanya Gavlin menatap Maya.
"Pas di Mini Market gak sengaja aku liat kamu jalan tadi, ya udah aku ikuti aja ." Ujar Maya santai dan cuek. Gavlin mengangguk.
"Kok kamu tumben, siang siang jalan, mobilmu mana ?" Tanya Maya pada Gavlin.
"Ya di ambil yang punya, itu kan bukan mobilku, aku cuma supir." Ujar Gavlin.
"Iya tau, maksud aku, kok kamu gak kerja, biasanya jam segini kan kamu masih kerja, wara wiri nganterin bosmu." Ujar Maya. Gavlin tersenyum.
"Udah nggak." Jawab Gavlin singkat tersenyum pada Maya yang heran mendengar jawabannya.
"Maksud kamu?" Tanya Maya menatap lekat wajah Gavlin.
"Aku berhenti kerja, mulai hari ini aku udah gak jadi supir pribadi keluarga pak Bramantio lagi." Ujar Gavlin.
Gavlin tetap bersikap tenang tanpa ada rasa kecewa sedikitpun pada dirinya, Maya yang malah kaget mendengarnya.
"Kok bisa ? Kamu yang minta berhenti ataau...di pecat ?" Tanya Maya ragu ragu bertanya pada Gavlin yang tersenyum memandangnya.
"Aku di pecat." Ujar Gavlin tersenyum menatap Maya.
"Oh, maaf." Ujar Maya merasa tidak enak hati pada Gavlin yang tersenyum dengan sikap tenangnya.
Saat itu, Gatot yang sedang mengendarai mobilnya dan melintas dijalanan dekat dengan rumah Gavlin tersebut melihat Maya.
Maya di lihat gatot sedang berdiri bersama Gavlin di depan sebuah rumah.
"Maya ? Gavlin ? Sedang apa mereka di situ ?" Ujarnya dari dalam mobil.
Matanya memperhatikan ke arah Maya dan Gavlin yang berdiri di depan rumah.
Gatot menghentikan mobilnya di pinggir jalan tidak jauh dari rumah Gavlin, dari dalam mobil dia mengawasi anaknya yang sedang bersama Gavlin.
"Kamu udah makan Vlin ?" Tanya Maya mengalihkan pembicaraan.
"Belum sih. Tapi aku mau istirahat." Ujar Gavlin tersenyum pada Maya.
"Ayolah, temani aku makan, ini udah pas jam makan siang, aku lapar." Bujuk Maya.
"Tadi memang niatku habis belanja keperluan pribadiku di mini market mau ke cafe langganan." Ujar Maya tersenyum menatap Gavlin yang diam berfikir.
"Ayolah. Kan biasanya kalo libur kamu juga makan siang di cafe Seruni, langgananmu itu." Ujar Maya menatap wajah Gavlin yang terlihat berfikir itu.
Dari dalam mobilnya, Gatot masih tetap terus mengawasi mereka berdua.
"Ah, kelamaan mikir kamu, ayo ikut aku." Ujar Maya.
Maya kesal melihat Gavlin yang hanya diam berdiri di tempatnya, Maya menarik tangan Gavlin, mengajaknya agar Gavlin mengikutinya.
Gavlin mau tak mau mengikuti Maya, dia membiarkan tangannya di tarik Maya.
Mata Gatot terbelalak saat tangan Maya memegang tangan Gavlin, dia memperhatikan dengan serius.
Maya berjalan dengan Gavlin sambil terus berpegangan tangan. Setelah Maya dan Gavlin menjauh, dengan cepat Gatot menjalankan mobilnya.
Gatot mengikuti, ingin tahu, kemana Maya dan Gavlin pergi, Gatot menyetir mobil dengan pelan menyusuri jalanan.
Gatot mengikuti Maya dan Gavlin yang berjalan di atas trotoar pinggir jalan.
Di dalam ruang kantor Bramantio, terlihat Surya, Asisten Manager berdiri disamping meja kerja.
Bramantio duduk di kursinya dengan wajah penuh amarah. Tak berapa lama masuk Mike, anaknya ke dalam ruang kantor menemui Bramantio.
"Ada apa memanggilku pah ?" Tanya Mike sambil berjalan cuek mendekati Bramantio yang duduk menatapnya dengan wajah menahan marah.
"Kamu batalkan semua perjanjian kontrak kerjasama dengan perusahaan Wijaya." Ujar Bramantio geram.
"Tapi pah? Kerjasama itu kan sudah berjalan tahunan?" Ujar Mike kaget mendengar ucapan papahnya.
"Papah gak mau tau ! Papah mau, hari ini juga kamu memutuskan hubungan kerjasama dengan Wijaya !" Bentak Bramantio.
"Papah gak mau lagi berurusan dengan dia mulai saat ini!" Ujar Bramantio berdiri dari duduknya di kursi menatap tajam wajah Mike.
"Membatalkan kontrak perjanjian itu gak mudah Pah, apalagi sudah berjalan bertahun tahun, dan sudah menghasilkan." Ujar Mike.
"Aku harus tau masalahnya apa, agar bisa membuat alasan yang benar saat memutuskan ikatan kerjasama dengan perusahaan om Wijaya ." Ujar Mike.
Mike menatap wajah Bramantio, dia tahu papahnya emosi saat ini, dan itu pasti ada hubungannya dengan Wijaya.
"Papah minta kamu memutuskan hubungan kerjasama perusahaan kita dia agar Wijaya paham, bahwa dia selama ini berada di bawah kendali papah !" Bentak Bramantio.
"Papah mau lihat, bagaimana dia bisa mengembangkan bisnisnya tanpa ada campur tangan dan kerjasama dengan papah !" Ujar Bramantio geram.
"Dia mengancam papah, akan menghancurkan hidup papah, dia lupa, dia bisa besar seperti sekarang ini karena ada campur tangan papah !" Bramantio marah.
"Anaknya yang kurang ajar juga sudah berani melecehkan dan merendahkan papah, menginjak harga diri papah !" Ujar Bramantio.
"Dan papah tidak aka bisa menerima, apalagi memaafkan mereka ! Mereka harus hancur !" Ujar Bramantio lagi.
__ADS_1
Bramantio teriak marah melampiaskan emosi amarahnya yang terus bergejolak dalam dirinya, Mike terdiam menatap wajah papahnya yang marah.
"Baik Pah, Mike akan menuruti perintah papah." Ujar Mike pada Bramantio yang mengangguk menahan geramnya.
"Dan soal Linda, biar menjadi urusanku pah. Papah tenang aja, aku yang akan mengurusnya." Ujar Mike pada papahnya.
Mike yang juga merasa tersinggung dengan ucapan dan sikap Linda, anaknya Wijaya menjadi geram.
Hubungan baik antara Bramantio dan Wijaya puluhan tahun kandas karena gagalnya pernikahan Mike dan Linda.
Penolakan Linda berbuntut panjang, menyebabkan keretakan hubungan persahabatan yang terjalin selama ini antara Linda dan Mike.
Persahabatan yang terjalin lama, kini telah berubah menjadi permusuhan.
Dan itu melibatkan kedua orang tua mereka, yang sama sama tersinggung dengan sikap dan ucapan saat lamaran berlangsung waktu itu.
"Aku pamit pah." Ujar Mike pada papahnya yang mengangguk lalu duduk kembali di kursinya, Mike berjalan keluar dari ruang kantor Bramantio.
"Kamu hubungi Samsul, bilang, ada tugas untuk dia dan anak buahnya." Ujar Bramantio pada Suryo, yang dari tadi diam berdiri disamping meja kerja Bramantio.
"Baik pak, segera saya hubungi." Ujar Surya.
Surya lantas pamit dan pergi meninggalkan Bramantio sendiri, Surya pun melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruang kantor.
Bramantio terlihat menyeringai, matanya memerah, dia begitu marahnya pada Wijaya.
Maya dan Gavlin sudah berada di dalam cafe, dari luar cafe, Gatot mengamati Maya dan Gavlin yang duduk berduaan.
Mata Gatot terus mengawasi, Pelayan datang membawakan makanan dan minuman yang di pesan Maya dan Gavlin.
Lalu Pelayan segera pergi meninggalkan Gavlin dan Maya berduaan.
"Di makan Vlin, mumpung masih panas." Ujar Maya tersenyum pada Gavlin yang mengangguk dan tersenyum juga padanya.
"Oh ya Vlin, aku boleh tau, masalahnya apa kamu dipecat pak Bramantio?" Tanya Maya menatap wajah Gavlin.
"Sepele sih buatku, tapi buatnya mungkin hal besar." Ujar Gavlin dengan sikap santai dan cuek.
"Maksudnya gimana ?" Tanya Maya ingin tahu.
"Pak Bramantio ribut besar dengan pak Wijaya, bapaknya Linda di lokasi proyek bangunan pak Wijaya." Ujar Gavlin mencoba menjelaskan pada Maya.
"Terus?" Tanya Maya penasaran menatap lekat wajah Gavlin.
"Saat itu, pak Bram marah besar, dia mau mukul pak Wijaya, datang Linda mencegahnya, singkatnya, Linda ngomelin pak Bram." Ujar Gavlin.
Gavlin pun menceritakan kejadiannya pada Maya yang diam mendengarnya.
"Linda menyerang pak Bram dengan ucapan ucapan yang membuat pak Bram tersinggung, merasa di lecehkan dan di rendahkan Linda." Ujar Gavlin.
"Karena tersinggung dan marah, pak Bram mau mukul Linda, aku mencegahnya, menahan tangannya agar dia gak mukul Linda." Ujar Gavlin.
"Ohya ?!" Ujar Maya kaget.
"Iya, aku cuma gak mau pak Bram memukul seorang wanita, tapi dia salah paham, malah ngamuk dan mukul aku." Ujar Gavlin tersenyum.
"Laah, kamu di pukulnya?!" Ujar Maya kaget.
Maya menatap lekat wajah Gavlin.
Dengan reflek dia memegang wajah Gavlin, ingin melihat apakah wajah Gavlin terluka.
Maya tak sadar dengan sikapnya saat ini, karena kaget mendengar Gavlin di pukul.
Maya tanpa sadar memegangi wajah Gavlin dengan refleknya khawatir Gavlin terluka.
Gatot yang mengawasi Maya dari luar cafe terbelalak matanya melihat Maya malah agresif sebagai cewek, memegang pipi Gavlin.
Gatot melihat Tangan Gavlin memegang jemari tangan Maya yang berada di pipinya, Gavlin mencegah Maya menyentuh pipinya.
"Gak ada yang luka kok May." Ujar Gavlin tersenyum menatap Maya.
Maya menatap wajah Gavlin, untuk sesaat mata mereka berdua beradu pandang, saling tatap tatapan, terdiam.
Suasana hening sesaat karena mereka berdua sama sama diam saling bertatapan mata, Melihat hal itu, terlihat wajah Gatot tidak senang.
"Waah...waah...berabe ini, kalo dibiarkan bisa berlanjut ke adegan tujuh belas plus plus." Ujar Gatot.
Gatot lalu cepat berjalan masuk ke dalam Cafe mendekati Maya dan Gavlin yang masih diam bertatapan mata.
"Ehm...May...kamu di sini ?" Tegur Gatot berpura pura kaget dan seperti tak sengaja bertemu anaknya.
Mendengar suara Gatot, Maya dan Gavlin sama sama tersadar, mereka cepat melepaskan pegangan tangannya.
Maya lalu melihat Gatot yang sudah berdiri tersenyum di samping mejanya.
"Ayaah? Kok Ayah bisa ke sini sih?" Tanya Maya dengan wajah heran pada Gatot yang nyengir tersenyum padanya.
"Ayah lapar, jadi mampir kemari, eh, gak sengaja liat kamu ada disini." Ujar Gatot membuat alasan pada Maya.
"Apa kabar Vlin?" Ujar Gatot menyapa Gavlin.
"Baik Om." Jawab Gavlin tersenyum ramah pada Gatot.
Gatot menarik sebuah kursi lalu duduk disamping Gavlin, melihat itu, Maya terlihat sebal.
Maya memberi isyarat mata agar ayahnya tidak duduk di situ, Gatot pura pura tidak melihat isyarat mata Maya.
"Kalian sengaja janjian ya, bisa berduaan di sini." Ujar Gatot menatap Gavlin.
"Ah, nggak kok Om, kebetulan aja kami ketemu di sini, sama sama mau makan." Ujar Gavlin.
Gavlin tersenyum dan berusaha tenang di depan Gatot yang menatapnya tajam. Dia tahu Gavlin berbohong.
"Kalian gak ada hubungan khususkan ?" Tanya Gatot lagi pada Gavlin, Maya kaget mendengar pertanyaan ayahnya.
"Ayah apa apaan sih, sana pesan makanan, katanya mau makan? Atau, Ayah sengaja ya ngikutin aku ke sini?!" Ujar Maya menatap tajam wajah Gatot.
"Nggak, nggak, ngapain juga ayah ngikutin kamu, kurang kerjaan, mending ngikuti penjahat dapat bonus duit daripada ngikuti kamu." Ujar Gatot.
Gatot sengaja menggoda dan meledek anaknya yang terlihat cemberut.
"Ayah ganggu deh." Ujar Maya sebal menatap lekat wajah Gatot.
Melihat wajah Maya yang sebal itu, Gatot tersenyum, sementara Gavlin hanya diam, dia meminum air soda yang dipesannya. Gatot lalu berdiri dari duduknya.
"Kalian lanjut deh obrolannya, Ayah mau pesan makanan dulu." Ujar Gatot.
__ADS_1
Gatot menatap Maya lalu melirik Gavlin yang tersenyum melihatnya. Gatot berjalan pergi meninggalkan Gavlin dan Maya berduaan.
Gatot lalu memesan makanan dan minuman, sesekali dia berbalik dan melihat ke arah Maya dan Gavlin.
"Ayahmu kayak jin, tiba tiba muncul." Ujar Gavlin tersenyum pada Maya.
"Kayak Jailangkung, datang gak dijemput, pulang gak di antar." Ujar Maya tertawa, Gavlin ikut tertawa.
Gatot menoleh ke arah Gavlin dan Maya, dia heran melihat Maya dan Gavlin tertawa.
Pelayan memberikan makanan dan minuman pada Gatot yang lantas menerimanya.
Lalu Gatot memberikan uang pada kasir, membayar makanan dan minuman yang dipesannya, setelah itu dia berbalik melihat Maya dan Gavlin.
"May, Ayah tinggal dulu ya." Ujar Gatot dengan suara sedikit keras dari meja kasir.
Maya menoleh dan melihat ayahnya yang berdiri menenteng plastik berisi makanan dan minuman.
"Gak makan di sini Yah ?" Tanya Maya.
"Nggak, Ayah mau tugas lagi. Kalian lanjut ya." Ujar Gatot.
"Vlin, jangan macam macam sama Maya loh." Ujar Gatot pada Gavlin.
"Siap Om." Ujar Gavlin tersenyum pada Gatot.
Maya tertawa melihat sikap ayahnya itu, Gatot lantas berjalan keluar dari dalam cafe.
Gatot pergi meninggalkan dan membiarkan anaknya berduaan bersama Gavlin di dalam cafe.
"Ayahmu keliatan sangat sayang sama kamu May, dia perhatian dan keliatan khawatir dengan kamu." Ujar Gavlin pada Maya.
"Iya, aku tahu, aku bahagia jadi anaknya Vlin." Ujar Maya.
"Cuma ya itu, karena rasa sayangnya begitu besar dan takut kenapa napa denganku, dia jadi sedikit ketat ngawasi aku." Ujar Maya tersenyum.
"Maksudnya?" Tanya Gavlin.
"Ayah itu pasti ingin tau siapa saja orang yang berteman denganku, kemana aku pergi." Maya cerita.
"Kalo telat dikit aja pulang ke rumah, dia sibuk nyari tau, nelpon aku, nanyain ke teman teman kantor, pokoknya ribet sendiri deh dia." Ujar Maya tertawa.
Gavlin mengangguk angguk tersenyum menatap wajah Maya yang terlihat bahagia saat menceritakan tentang Gatot, ayah angkatnya itu.
Dalam hati kecil Gavlin, ada sesuatu yang ingin ditanyakannya pada Gatot, tapi dia belum menemukan waktu yang tepat untuk dapat bicara berduaan dengan Gatot.
Gatot ingin bertanya tentang kejadian 17 tahun lalu, bahkan setahun sebelum kejadian yang menimpa dirinya, tentang ibu dan bapaknya.
Gavlin menarik nafasnya, dia lalu menikmati makanannya bersama Maya yang juga mulai makan.
Di depan pintu masuk gedung perkantoran Wijaya dan Linda, Mike teriak teriak penuh amarah.
Mike Marah karena dirinya tidak di izinkan untuk masuk ke gedung perkantoran.
Mike di halangi oleh dua Petugas Satpam yang berjaga di pintu masuk.
"Minggir kalian ! Aku ada urusan dengan Linda, Minggir !" Ujar Mike.
Mike berusaha mendorong tubuh seorang Satpam yang menghalangi jalannya.
"Bapak tidak di izinkan datang dan masuk ke kantor ini." Ujar Satpam 1 pada Mike yang terlihat marah.
"Apa hak kalian melarang saya ?!" Bentak Mike dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Kami di beri hak oleh bu Linda untuk melarang bapak." Ujar Satpam 1 lagi pada Mike.
"Bilang Linda , aku datang mau ketemu dia ! Aku mau bicara dengannya soal bisnis !!" Ujar Mike dengan suara keras teriak pada kedua satpam.
"Baik, silahkan bapak tunggu dan diam ditempat." Ujar Satpam 2 lalu pergi masuk ke dalam gedung perkantoran untuk menghubungi Linda, pimpinan perusahaan.
Mike terlihat mengatur nafasnya, berdiri ditempatnya menatap tajam wajah Satpam 1 yang berdiri di tengah tengah pintu masuk.
Satpam 1 terus menghalangi Mike agar tidak bisa lari dan masuk ke dalam gedung perkantoran.
Beberapa menit Mike menunggu, keluar Linda dari dalam gedung perkantoran menemui Mike. Linda dengan wajah kesalnya segera melangkah mendekati Mike.
"Apa maksudmu buat keributan di kantorku ?!" Ujar Linda dengan kesalnya pada Mike.
"Keterlaluan kamu Linda ! Kamu udah bertindak jauh diluar batas !" Ujar Mike.
"Apa maksudmu?" Tanya Linda menantang Mike.
"Kamu udah berani menghina dan menginjak harga diri keluargaku, dan aku gak terima semua ini!" Ujar Mike marah pada Linda.
"Kok kamu marah? Semua yang aku bilang kenyataan." Linda tersenyum sinis.
"Aku juga bilang semua yang kamu cerita ke aku, tentang bagaimana kalian pake cara licik buat dapatin proyek dan memenangkan tender selama ini." Ujar Linda sinis.
"Trik itu aku gunakan buat ambil alih tender kalian, dan berhasil, apa salah aku ikuti caramu?" Ujar Linda dengan cuek pada Mike yang geram.
"Keterlaluan kamu May ! Kamu udah menghancurkan hidupku, apa salahku padamu?" Tanya Mike. Linda diam tersenyum sinis.
"Kenapa kamu begitu benci padaku, hanya karena aku mencintaimu dan ingin menjadikan kamu istriku kita bermusuhan?" Tanya Mike menatap wajah Linda.
"Karena aku gak suka di bohongi apalagi di tipu sama laki laki yang cuma bermulut manis di depanku tapi hatinya busuk!" Bentak Linda.
"Diam diam dekati aku, pura pura jadi sahabat, eh ternyata bermaksud pengen memiliki aku bahkan perusahaanku !" Ujar Linda sinis.
"Sudahlah Mike, jangan ganggu hidupku lagi, aku udah bahagia bersama pacarku." Ujar Linda pada Mike yang terhenyak mendengar perkataan Linda padanya.
"Pacar ?" Tanya Mike.
"Iya, kenapa? Gak suka aku punya pacar?" Tanya Linda menatap sinis Mike.
"Kamu gak kan jadi milik siapapun Linda, aku akan pake segala cara agar kamu kembali padaku, bertekuk lutut dan memohon untuk aku nikahi!" Ujar Mike marah.
"Aku akan membuat dirimu menuruti semua kemauanku!" Ujar Mike meluapkan emosinya .
"Silahkan kamu pacaran dengan pria manapun, tapi jangan pernah tidur dan berhubungan badan !" Ujar Mike.
"Hanya aku yang akan menyentuh dan menyetubuhi kamu nanti !" Mike menatap tajam wajah Linda.
"Aku udah tidur dengan pacarku, kami udah bersetubuh, kami melakukan **** berkali kali, dan aku miliknya !" Ujar Linda.
Linda tersenyum sinis pada Mike yang semakin kaget mendengar itu, dia berdiri dan terdiam ditempatnya.
Mike menatap tajam wajah Linda, dari raut wajahnya terlihat Mike menahan amarah dan rasa cemburunya mendengar pengakuan Linda.
Sementara Linda hanya cuek saja berdiri didepannya, Satpam yang ada diantara mereka hanya berdiri diam ditempatnya.
__ADS_1
Satpam berpura pura tidak mendengarkan pertengkaran Mike dan Linda.