VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pablo Menyelamatkan Malik


__ADS_3

Pablo cepat membawa Malik keluar dari dalam pesawat, dengan tubuhnya yang tinggi besar dan kekar, mudah bagi Pablo menggotong tubuh Malik.


Sambil berlari lari menggotong tubuh Malik, Pablo membawa Malik ke mobilnya. Sesampainya di mobil, Malik langsung di rebahkan di jok belakang mobilnya.


"Mana kunci mobilmu?" Tanya Pablo pada Malik.


"Mau apa?" tanya Malik heran.


"Kamu nyimpan mayat di dalam bagasi mobilmu kan? Aku akan memindahkan mayat itu ke dalam pesawat, agar nanti, pas pesawat meledak bersama Binsar, orang orang yang menemukan mayatnya mengira itu kamu atau Gavlin!" Ujar Pablo menegaskan.


"Oh, iya. Memang rencanaku begitu. Kamu bisa tau apa yang aku pikirkan." Ujar Malik pada Pablo.


"Karena Aku melihat , apa yang kamu lakukan pada orang yang kamu bunuh itu." Ungkap Pablo.


"Oh, ya?" Ujar Malik, terperanjat kaget.


"Gak usah di bahas, cepat, mana kuncinya, kamu harus segera di obatin." Ujar Pablo.


Malik lantas buru buru mengambil kunci mobilnya dari dalam kantong celana, lalu, Dia memberikan kunci pada Pablo.


"Tunggu di sini, Aku akan cepat menyelesaikan semua ini." Ujar Pablo, menatap serius wajah Malik.


"Oh, sebentar." Ujar Malik. Teringat akan sesuatu hal.


"Ada apa?" Tanya Pablo, menatap tajam wajah Malik.


Malik lantas mengambil dompetnya, dengan kondisi lemahnya karena perutnya terluka parah , Malik mengambil kartu identitas milik Gavlin dan memberikannya pada Pablo.


"Ambil dan bawa ini, tolong nanti kamu simpan kartu identitas ini ke dalam kantong celana mayat orang yang aku bunuh itu." Ujar Malik, menyerahkan kartu identitas ditangannya.


"Milik siapa kartu ini?" Tanya Pablo, menatap heran wajah Malik.


"Milik Gavlin, Aku sengaja mengambilnya , untuk menyamarkan kematian Gavlin, jika mayat orang itu ditemukan nanti, Polisi akan mengira itu mayat Gavlin, karena mereka akan menemukan kartu identitas milik Gavlin ini." Ungkap Malik, menjelaskan pada Pablo.


"Oh, begitu, baiklah." Ujar Pablo, mengambil kartu identitas milik Gavlin itu dan menyimpannya di dalam kantong celananya.


"Kamu tunggu di sini, ya." Ujar Pablo.


"Ya." Jawab Malik, mengangguk lemah pada Pablo.


Pablo lalu cepat menutup pintu belakang mobil, lalu bergegas berjalan menuju mobil milik Malik yang di parkir tak jauh dari tempat pesawat parkir.


Dari dalam mobil, Malik berusaha duduk di jok belakang mobil, Dia meringis memegang perutnya yang dibalut kemeja Pablo, dengan susah payah Malik duduk.


Tak berapa lama, dari dalam mobil Dia melihat Pablo bergegas lari lari naik ke dalam pesawat sambil menggotong mayat orang yang di bunuh Malik. Dia melihat Pablo masuk ke dalam pesawat.

__ADS_1


Di dalam pesawat, Pablo cepat meletakkan tubuh mayat di samping Binsar yang masih dalam kondisi pingsan duduk di bangkunya. Wajah Mayat itu rusak parah , Pablo lantas bergegas pergi meninggalkan mayat tersebut bersama Binsar, Dia masuk ke dalam kabin pilot.


"Kamu tunggu lima belas menit dari sekarang, lalu, silahkan berangkatkan pesawat ini." Ujar Pablo, pada Pilot.


"Baik." Jawab Pilot mengangguk.


Pablo lantas keluar dari kabin pilot, Dia bergegas keluar dari dalam pesawat, dan berlari cepat menuju ke mobilnya.


Malik melihat Pablo berlari lari mendekat, Pablo tiba, Dia langsung masuk ke dalam mobilnya, dan langsung menyalakan mesin mobilnya.


"Sudah beres?" Tanya Malik.


"Sudah. kita pergi sekarang, jangan sampai ada yang melihat kita di sini." Ujar Pablo.


"Ya." Angguk Malik, dengan lemah.


Pablo lalu segera menjalankan mobilnya, mereka lantas pergi meninggalkan lokasi tersebut. Bertepatan dengan kepergian mereka , datang mobil Gavlin ke lokasi tersebut.


Sambil menyetir mobilnya meninggalkan lokasi tersebut, Pablo menekan tombol di remote yang ada padanya, Pablo mengaktifkan bom.


Di dalam pesawat, bom mulai aktif, dan waktu mulai berjalan mundur untuk bersiap siap meledak, Binsar masih dalam kondisi pingsan, sehingga tak tahu, jika bom sudah di aktifkan untuk meledakkan dirinya di dalam pesawat.


Mereka berselisih jalan, saat mobil Pablo menghilang pergi dari lokasi, mobil Gavlin yang datang bersama Indri dan Rifai tiba di lokasi.


---


Singkat cerita , Malik sudah mendapatkan perawatan dari Dokter pribadi Pablo, Dokter tersebut sering mengobati anggota anggota ganknya Pablo yang terluka parah, Dan Malik ditangani Dokter khusus gank Mafia Pablo.


Luka di perut Malik sudah di jahit dan diperban, Pablo duduk di samping ranjang, sementara, Malik duduk bersandar di ranjangnya.


"Kalo aku liat dan perhatikan dari sikap Dokter yang mengobatiku, Dokter sangat menghormati kamu, dan Aku duga, kamu bukan anggota biasa gank mafiamu , tapi, kamu ketua dan pemimpin gank mafianya kan?!" Ungkap Malik pada Pablo.


"Hahaha...! Kamu bisa menebak dengan benar! Ya, Memang Aku pimpinan gank mafiaku, dan pak Wicak sahabat baikku, karena beliau yang memintanya, Aku langsung turun tangan sendiri mengawasi Gavlin." Ujar Pablo menjelaskan.


"Siapa pak Wicak?" tanya Malik heran.


"Beliau pimpinan gank Mafia di negara tempat tinggal Gavlin, dan Gavlin menjadi anggota ganknya, sekaligus jadi anak angkat pak Wicak. Itu sebabnya, Beliau meminta bantuanku, karena khawatir dengan keselamatan diri Gavlin." Ungkap Pablo, memberi penjelasan pada Malik.


"Oh, ya, Aku tau pak Wicaksono, Gavlin pernah bilang, kalo Dia bergabung dengan gank mafia nomor satu di negaranya." Ujar Malik.


"Terus, mengapa kamu bisa mengikutiku?!" Tanya Malik, menatap tajam wajah Pablo dan ingin tahu.


"Aku mengikuti Gavlin sejak pertempuran antar gank mafia kalian di restoran jepang, Aku terus mengikuti kalian, terutama Gavlin." Jelas Pablo, menatap serius wajah Malik.


"Lalu, Aku juga mengikuti dan mengawasi kalian sampai ke markas gank mafia kalian." Lanjut Pablo menjelaskan.

__ADS_1


"Tanpa sepengetahuan siapapun, Aku melihat aksimu memukul Gavlin dan membuatnya pingsan, lalu mengikat Gavlin dan membawa pergi Binsar." Jelas Pablo.


"Aku lantas mengikuti kamu, yang membawa Binsar, Aku ingin tau, apa yang akan kamu lakukan, sampai akhirnya, Aku liat kamu masuk ke pesawat, dan Aku mengikutimu, selanjutnya, seperti yang sudah kamu ketahui." Ungkap Pablo, memberi penjelasan dengan serius pada Malik.


"Oh, begitu. Pantasan kamu bisa ada di pesawat." Ujar Malik.


"Aku berterima kasih dan berhutang nyawa padamu, karena telah menyelamatkanku." Ucap Malik, bersungguh sungguh menatap wajah Pablo.


"Kamu gak ada hutang apapun padaku, semua ini Aku lakukan demi membantu sahabatku pak Wicak yang ingin anak angkatnya, Gavlin selamat." Ujar Pablo, tersenyum ramah pada Malik.


"Iya." Ujar Malik lemah.


"Kamu istirahatlah, kamu jangan pergi kemana mana, harus tetap berdiam diri di dalam rumahku ini, sampai kondisimu sehat lagi dan situasi aman nantinya.


"Iya." Jawab Malik, mengangguk lemah, menatap wajah Pablo.


Pablo lantas berbalik badan dan pergi meninggalkan Malik sendirian , Malik menghela nafasnya dan memegang luka di perutnya yang sudah di jahit dan di perban, lalu, Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, mencoba untuk istirahat dan tidur.


--- Flash Back berakhir ---


Gavlin dan Pablo diam mendengarkan serius cerita Malik tentang kejadian di dalam pesawat dari awal hingga berakhir dengan meledaknya pesawat saat terbang di angkasa.


"Kalo gak ada Pablo, Aku benar benar sudah mati meledak di dalam pesawat, dan bisa saja Binsar berhasil lolos serta melarikan diri." Ujar Malik.


"Maafkan Aku Vlin. Aku ceroboh dan lengah, sehingga Binsar bisa melukaiku dengan mudahnya dan hampir saja dia lolos." Ujar Malik, menatap wajah Gavlin dengan raut wajah yang bersalah karena hampir gagal membunuh Binsar,menggantikan posisi Gavlin.


"Aku gak menyalahkanmu, Lik. Walau Aku gak puas karena bukan Aku sendiri yang membunuh Binsar, tapi Aku lega dan senang, karena akhirnya, pembunuh Bapakku mati juga." Ujar Gavlin, dengan wajah seriusnya menjelaskan pada Malik.


"Iya, Vlin. Semua berkat bantuan Pak Pablo. Beliau ini sahabat bapak angkatmu, pak Wicak, dan beliau ini bukan anggota gank mafia biasa, tapi, beliau pemimpin langsung gank mafia miliknya." Ungkap Malik, menjelaskan pada Gavlin.


"Oh, ya? Terima kasih pak Pablo, sudah membantu kami dan menolong Malik." Ujar Gavlin, memberi hormat pada Pablo.


"Santai saja, ini semua demi pak Wicak, sahabat baikku." Ujar Pablo, tersenyum ramah menatap wajah Gavlin.


"Ya, Pak." Jawab Gavlin, mengangguk.


"Terus, Mayat siapa yang kamu bunuh dan menjadikannya seolah Aku yang mati?" Ujar Gavlin, bertanya pada Malik yang duduk bersandar diatas ranjangnya.


"Kamu ingin tau, bagaimana Aku memutuskan membunuh orang itu dan menjadikannya martir, menggantikan posisimu mati dalam pesawat?!" Ujar Malik, bertanya pada Gavlin.


"Ya, Aku mau tau." Ujar Gavlin, menatap serius wajah Malik.


"Baiklah, Akan aku ceritakan dan jelaskan semuanya pada kalian, bagaimana akhirnya Aku membunuh orang itu." Ujar Malik.


Gavlin diam, begitu juga Pablo, mereka menunggu Malik untuk kembali bercerita tentang kematian orang yang dibunuh Malik tersebut.

__ADS_1


__ADS_2