
Gavlin sudah semakin sehat dan luka lukanya juga sudah sembuh, namun, untuk mengembalikan stamina dan kebugaran tubuhnya, dia harus banyak bergerak, karena berminggu minggu, dia hanya terbaring dan tak bergerak.
Gavlin pun mulai berolah raga, setiap hari, pagi dan sore, dia selalu berolah raga, Gavlin tampak berusaha keras untuk benar benar pulih seperti semula dan bugar kembali.
Terkadang, jika tak ada pekerjaan menjahit, Indri menemani Gavlin yang berolah raga di depan rumah bilik kayunya. Selain itu, Indri juga rajin menyiapkan kain handuk untuk mengelap keringat Gavlin, serta makanan dan minuman, jika Gavlin beristirahat sehabis berolah raga, dia bersama Indri menikmati makanan dan minuman, mereka selalu duduk berdua di teras rumah, saat Gavlin selesai berolah raga.
Hari ke hari, kedekatan antara Gavlin dan Indri semakin terlihat jelas, tak ada lagi rasa canggung Indri mau pun Gavlin, mereka sudah semakin saling mengenal satu sama lainnya, dan semakin akrab.
Di lain harinya, saat itu, di pagi hari, selepas subuh, Sarono sudah bersiap siap hendak pergi, dia keluar dari dalam rumahnya.
Gavlin yang sedang berolah raga, berlatih ilmu bela dirinya melihat pak Sarono yang mau pergi.
"Mau belanja Pak?" tanya Gavlin.
"Iya. Mulai sekarang, Bapak gak jualan di pasar lagi, Bapak mau keliling saja jualan sayurnya." ujar Sarono.
"Loh, memang kenapa gak jualan di pasar lagi?" tanya Gavlin heran.
"Sewa Kiosnya naik, dan sekarang harus bayar dimuka dua tahun langsung, Bapak gak ada duit buat bayar uang sewanya selama dua tahun langsung, apalagi harganya naik dua kali lipat." ujar Sarono sedih.
"Oh, begitu." ujar Gavlin, mengangguk mengerti dan paham.
"Ya, sudah, Bapak berangkat dulu nak Gavlin, biar gak kesiangan." ujar Sarono.
"Ya, Pak. Hati hati." ujar Gavlin.
Sarono mengangguk, mengiyakan peringatan Gavlin, lantas dia pun masuk ke dalam mobil tuanya, lalu, mobil bergerak dan pergi meninggalkan Gavlin sendirian.
Gavlin lantas melanjutkan latihan ilmu bela dirinya, dia melatih lagi gerakannya, agar dia mulai terbiasa lagi. Indri datang membawakan makanan. Dia meletakkan makanan dan minuman di pinggir teras, lalu, Indri pun duduk di pinggir teras, memperhatikan Gavlin yang latihan ilmu bela diri.
Di hari lainnya, tampak Gavlin bersama Indri pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, Gavlin sengaja ikut dengan Indri dan menemaninya membeli kain kain untuk kebutuhan menjahitnya, karena Gavlin merasa jenuh diam terus di rumah Sarono.
Dia ingin menyegarkan pikirannya, makanya dia pun ikut dengan Indri, Indri dengan senang hati mengajak Gavlin ikut bersamanya.
"Kamu kalo belanja kain selalu di sini In?" tanya Gavlin, sambil berjalan.
"Iya, udah langganan lama, selain itu, cuma di tempat ini satu satunya yang menjual kain kain bahan dan lengkap. Ada sih di tempat lain, cuma, jauh banget dari rumah, harus dua jam ke kota." ujar Indri, tersenyum sambil berjalan.
Gavlin dan Indri terus berjalan, Gavlin diam, dia tampak sedang berfikir, ada sesuatu hal yang tengah di pikirkannya saat ini.
Indri lantas masuk ke sebuah toko bahan bahan kain, Gavlin pun mengikutinya, saat mereka masuk ke dalam toko, banyak pelanggan di dalamnya, sedang memilah milah bahan kayu dan membelinya.
Gavlin mengamati seluruh ruangan toko bahan kain tersebut, dia lantas mengikuti Indri yang sedang mencari cari bahan kain yang di butuhkannya.
Gavlin diam, dia terus mengikuti Indri, Indri tengah memilah milah bahan kain, Gavlin berdiri disamping Indri, memperhatikan Indri yang sedang menanyakan harga bahan kain permeternya.
Gavlin diam mendengarkan pembicaraan Indri bersama pelayan toko.
Beberapa lama mereka berada dalam toko, Indri pun lantas menyudahi membeli bahan bahan kain, karena dia sudah merasa cukup.
"Kok cuma sedikit beli bahannya? Kenapa gak sekalian? Mumpung di sini, mendingan kamu kan nyetock bahan kain dirumah, dari pada harus bolak balik ke sini, jauh loh In, dari rumahmu ke sini, makan waktu sejam kesini naik motormu tadi." ujar Gavlin serius.
"Pengennya sih begitu, tapi uangku gak cukup Vlin. Gak apa apa kok, biar aja, aku udah biasa bolak balik ke sini, kan udah resiko pekerjaanku?" ujar Indri tersenyum.
"Kalo ada uang, apalagi bahan kain yang mau kamu beli In?" tanya Gavlin serius.
"Aku mau beli bahan kain sutra sih, ada rencana, aku mau buat baju gaun pengantin, dan ikut dalam pameran." ujar Indri.
"Oh ya? Kamu bisa merancang gaun pengantin?" tanya Gavlin serius.
"Iya. Aku udah buat beberapa rancangan polanya. Cuma gak aku kerjain, soalnya belum ada uang buat beli bahan kainnya." ujar Indri, tersenyum.
Gavlin diam, dia tak berkata kata, Gavlin lantas pergi meninggalkan Indri, Indri bengong, melihat Gavlin pergi meninggalkannya.
Gavlin berjalan dan berhenti di depan bahan bahan kain , dia membaca tulisan yang ada, dan dia tahu, bahwa di tempatnya berdiri khusus bahan kain berjenis kain sutera asli.
"Saya mau beli kain sutera ini mbak." ujar Gavlin serius.
__ADS_1
Indri melihat Gavlin berdiri dan bicara dengan pelayan toko, Indri heran, lantas dia mendekati Gavlin.
"Mau berapa meter ?" tanya pelayan toko.
"Satu gulung ini, saya beli semua." tegas Gavlin.
"Oh, baik. Tunggu sebentar, saya hitung total harganya semua." ujar Pelayan toko.
Pelayan Toko lantas bergegas untuk menghitung harga kain sutera dalam satu roll gulungannya. Indri berdiri disamping Gavlin.
"Kamu kok beli banyak bahan kainnya Vlin?" tanya Indri heran.
"Udah, tenang aja. Pokoknya nanti, aku harus liat kamu buat gaun pengantin hasil desainmu!" tegas Gavlin.
"Iya." Angguk Indri.
Indri pun diam dan tak membantah perkataan Gavlin, dia hanya menuruti Gavlin.
Pelayan menghampiri Gavlin, lalu dia memberikan secarik kertas yang berisi nota pembelian dan pembayaran.
"Silahkan ke kasir untuk membayarnya." ujar Pelayan toko.
"Baik, terima kasih." ujar Gavlin.
Gavlin mengambil lembar nota pembelian dari tangan pelayan toko, lalu, dia berjalan ke arah kasir, Indri diam mengikuti Gavlin.
Gavlin mengambil dompetnya, lalu, dikeluarkannya kartu kredit unlimitednya, lalu, di kasihnya ke kasir. Gavlin membayar lunas semua bahan kain sutera yang di belinya dengan kartu kreditnya.
Indri syock, melihat angka di layar monitor, dia kaget melihat harga bahan kain sutera yang begitu besar, beberapa juta lebih.
"Mahal banget harganya?" ujar Indri berbisik.
"Udah, kamu tenang aja." bisik Gavlin.
Indri pun diam, tapi matanya masih melihat ke total harga yang dibayarkan Gavlin. Indri tampak bingung, karena Gavlin bisa membayar semahal itu.
"Sebaiknya kamu naik taksi saja In, biar aku naik motor, soalnya banyak belanjaanmu." ujar Gavlin tersenyum.
"Belanjaanmu yang banyak, bukan aku." ujar Indri tertawa kecil.
"Loh, tapi kan untuk kamu juga." ujar Gavlin tertawa.
"Ya sudah, itu ada taksi mangkal, kebetulan, kita dekati yuk." ujar Gavlin.
Lantas mereka berdua bergegas mendekati taksi yang sedang mangkal di pinggir trotoar, supir taksi yang sedang berjongkok di pinggir trotoar melihat Gavlin dan Indri datang sambil membawa banyak bahan bahan kain ditangan mereka.
"Mau bawa penumpang apa masih mau istirahat Pak?" tanya Gavlin.
"Oh, nggak istirahat, narik kok. Ayo mari." ujar Supir taksi.
Supir lantas masuk ke dalam mobilnya, dinyalakannya mesin mobil, lalu, dia membuka pintu bagasi mobil, Gavlin dan Indri lantas meletakkan bahan bahan kain di dalam bagasi mobil. Setelah menutup pintu bagasi, indri pun lantas masuk ke dalam mobil taksi, dia duduk di jok belakang.
"Hati hati dijalan ya Pak." ujar Gavlin.
"Siap !" ujar Supir taksi.
Lantas, mobil taksi pun berjalan dan pergi meninggalkan Gavlin, Indri melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Gavlin, Gavlin pun tersenyum melambaikan tangannya melihat Indri di dalam taksi dan sudah menjauh.
Gavlin pun lantas bergegas ke parkiran motor, untuk mengambil motor Indri.
---
Mobil taksi tiba di rumah Sarono, Indri lantas keluar dari dalam mobil, pintu bagasi terbuka, Indri lantas mengeluarkan belanjaannya dari dalam bagasi, dia meletakkannya di teras rumahnya, Supir membantu Indri mengeluarkan bahan bahan kain dari dalam bagasi mobilnya.
Setelah selesai, sang supir pun lantas segera masuk ke dalam mobilnya, lalu, mobil pun segera pergi meninggalkan rumah bilik kayu Sarono.
Sarono keluar dari dalam rumahnya, dia menghampiri Indri yang sedang merapikan bahan bahan kainnya dan hendak membawanya masuk.
__ADS_1
"Wah, ngeborong kamu In?" ujar Sarono, tersenyum senang.
"Gavlin yang beliin Pak." ujar Indri, tersenyum senang.
"Oh ya? Terus, Gavlin mana? Kok kamu malah pulang naik taksi sendirian?" tanya Sarono heran.
"Gavlin naik motor Pak, kalo kami naik motor, kan gak bisa bawa bahan bahan kain sebanyak ini." ujar Indri tersenyum.
"Iya juga ya." ujar Sarono.
"Ya, udah, mari Bapak bantu bawa masuk ini semua." ujar Sarono.
"Iya, Pak. Terima kasih." ujar Indri, tersenyum senang.
Lalu, Indri dan Sarono pun membawa bahan bahan kain ke dalam rumah mereka.
Dua buah motor datang ke rumah Sarono, motor motor berhenti di halaman rumah Sarono.
Lalu, 3 Pria bertubuh kekar dan berwajah sangar turun dari atas motor, mereka berjalan ke teras rumah Sarono dan berdiri di depan teras.
"Saroooonnnoooo !!" teriak Amir, dengan wajah garang dan marah.
"Wooooiiiii Pak tuuuuaaa keluaaaarrr !!!" teriak Tarman.
Tak berapa lama, Sarono pun bergegas keluar dari dalam rumahnya dan menemui ke tiga Pria bertubuh kekar yang berdiri di depan teras rumahnya.
Sarono berdìri di hadapan mereka bertiga, ke tiga nya menatap wajah Sarono dengan galak.
"Bayar hutang hutang pinjamanmu sekarang juga!! Kamu udah telat 4 bulan dari perjanjianmu!!'bentak Amir marah.
"Mmm...maaf...Saya minta waktu lagi, tolong, saya belum ada uang." ujar Sarono memelas.
"Mau kapan kamu bayar?!! Hutangmu hampir 6 juta, dan selama 4 bulan nunggak bunga berjalan, dan hutangmu menjadi 9 juta bersama bunganya!!" bentak Tarman penuh emosi marah.
Indri dari dalam rumahnya mengintip dari balik horden jendela rumah, dia tampak takut, dan juga khawatir dengan keselamatan Bapaknya.
"Tolong minta waktu sebulan lagi, Saya pasti akan melunasinya!" ujar Sarono memohon.
"Aaaah, itu saja selalu alasanmu!! Aku gak percaya !!" bentak Amir marah.
"Sita semua barang barang di dalam rumahnya, ambil dan bawa semuanya!!" ujar Amir.
"Baik !" jawab Hendro.
Lantas Hendro dan Tarman hendak masuk ke dalam rumah, Sarono menghalangi mereka berdua.
"Tolong, jangan ambil barang barang kami, Saya mohon!!" ujar Sarono memelas dan memohon.
"Aaah!! Minggir kamu!!" bentak Hendro.
Hendro mendorong tubuh Sarono hingga tersungkur ke tanah, Indri yang mengintip dari balik horden jendela kaget, dia cemas.
"Bapaaaakkk !!" teriak Indri histeris.
Dia pun segera lari keluar dan menghampiri Bapaknya yang terbaring di tanah dengan meringis kesakitan, Indri memeluk tubuh Bapaknya, dia melihat tangan Bapaknya terluka dan berdarah, karena terseret tanah saat jatuh.
"Ada barang bagus nih! Aku rasa kalo kita bawa anak gadisnya ini, hutangnya bisa lunas!!" ujar Hendro, tersenyum picik.
Mereka bertiga pun tertawa, Tarman lantas mau memegang tangan Indri dan mengangkatnya. Tiba tiba terdengar suara bentakan dari kejauhan.
"Jangan lakukan itu Setaaaaannn!!" teriak Gavlin penuh amarah.
Ketiga Pria bertubuh kekar kaget mendengar bentakan Gavlin, mereka melihat, di kejauhan, Gavlin duduk di atas motor maticnya dengan wajah marah.
Gavlin marah, saat dia datang kerumah, dia melihat Sarono terjatuh di tanah, dan Indri mau di sakiti.
Gavlin menatap tajam ke tiga Pria bertubuh kekar itu, sorot mata Gavlin penuh amarah, seketika, Iblis yang ada di dalam diri Gavlin bangun dan bangkit.
__ADS_1
Indri dan Sarono melihat Gavlin, mereka berdua saling pandang dan heran, karena wajah Gavlin terlihat berubah menyeramkan dan merah padam. Jiwa Pribadi lain dalam diri Gavlin merasa terusik dengan perbuatan tiga Pria kasar, yang beraninya hanya pada orang tua lemah dan seorang gadis saja. Ke tiga Pria bertubuh kekar tampak geram dan marah menatap Gavlin yang duduk di atas motornya.