
Gavlin murka, wajahnya merah padam, matanya terbelalak lebar, dia berdiri dengan penuh kemarahan.
"Mati kaaamuuu...maaaatiiii Bedeeeebaaaaahhh Siaaaallllaaaaannn!!" Gavlin mengamuk.
Dia menembaki Jafar dengan pistol ditangannya, seluruh tubuh Jafar dipenuhi lubang tertembus peluru, satu peluru melesat di dahi Jafar.
Jafar pun seketika terjungkal, rebah ditanah dan mati.
Gavlin mendekati Jafar, dia masih kalap, Gavlin terus menembaki Jafar yang sudah mati sampai pelurunya habis. Tak puas karena pistolnya kosong, dibuangnya pistolnya, dan diambilnya pistol Jafar dari tangannya, lalu, Dengan amarah yang meluap luap, Gavlin berdiri didepan mayat Jafar dan menembaki seluruh tubuh dan kepala Jafar. Seluruh tubuh Jafar dari kepala hingga kaki tertembus peluru. Gavlin lantas membuang pistol Jafar, karena sudah tak ada pelurunya lagi.
Gavlin lantas segera berlari ke arah Maya yang terkulai tak berdaya di atas tanah, Gavlin duduk di tanah dan mengangkat tubuh Maya, dia memangku tubuh Maya yang tampak kesulitan bernafas, dan menahan rasa sakit di bagian dada dan perutnya.
"May...Bertahanlah...Bertahanlah!" ujar Gavlin, menangis sedih.
Gavlin memangku tubuh Maya diatas pahanya, dia melihat, darah mengalir banyak di tubuh Maya, Maya terengah engah, tangannya yang lemah berusaha menggapai dan meraih wajah Gavlin.
Gavlin memegangi tangan Maya yang berlumuran darah, dia arahkan tangan Maya ke wajahnya, Maya berusaha tersenyum, walau dia sulit untuk tersenyum karena menahan rasa sakitnya.
Maya mengelus lembut wajah Gavlin, Gavlin menangis sedih melihat kondisi Maya yang terluka parah ditembak Jafar.
"Vlin...Ma...af...kan...aku..." ujar Maya, dengan nafas terengah engah.
"Ma...af...kan...aku...bu...at...kamu ... kecewa..." nafas Maya semakin terengah engah.
"Kamu jangan banyak bicara May. Kamu harus tetap sadar May. Bertahanlah!" ujar Gavlin menangis.
"A...ku...men...cin...taimu...Yan...to." Maya pun lantas menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Untuk yang terakhir kalinya Maya menyebut nama Gavlin dengan nama kecilnya, yakni 'Yanto', Gavlin menangis melihat Maya.
Maya lalu mati dalam pangkuan Gavlin, Gavlin panik melihat Maya terkulai lemas tak berdaya dan sudah tak bergerak.
"Maaaayyy...Maaaayaaaa!! Banguun Maaayy...Baaannnggguuun!!" teriak Gavlin.
Gavlin mengguncang guncang tubuh Maya, namun Maya tetap tak bergerak, Gavlin pun akhirnya teriak, karena dia tahu, Maya sudah mati.
"Tiiiiidddddaaaaaaaaakkkkk!!!" teriak Gavlin histeris.
Gavlin memeluki tubuh Maya, didekapnya erat sambil dia menangis sejadi jadinya meratapi kematian Maya dalam pelukannya.
Gatot yang terbaring di tanah, tampak lemah tak berdaya, nafasnya terengah engah, Gatot berusaha melihat Maya yang mati dalam pangkuan Gavlin, Gatot menangis, melihat kematian anaknya.
Tiba tiba, nafas Gatot sesak, dia memegangi dadanya, Gatot meringis, lalu mengerang dan kejang sesaat, kemudian, dia sudah tak bergerak, dia sudah meregang nyawa. Luka di bagian dadanya mengeluarkan darah, peluru Jafar menembus jantungnya, Gatot pun mati, terkapar ditanah.
Gavlin tak tahu kalau Gatot sudah mati, karena dia terus meratapi mayat Maya yang dia peluk erat.
"Mayaaa...kenapa kamu pergi...kenapa kamu tinggalkan akuu?!! Setelah belasan tahun aku mencarimu dan menemukanmu, mengapa kamu pergi lagi dariku May, kenapaaaa?!!" teriak Gavlin melampiaskan amarah dan kesedihannya.
Gavlin terisak isak menangis sedih, dia terus meraung raung meratapi kematian Maya, wanita yang selama ini sangat dia cintai.
Sebenci apapun Gavlin, sesakit apapun hati Gavlin atas perbuatan Maya, namun, ketulusan dan kemurnian cinta yang di tanamnya dihati sejak kecil pada Maya mengalahkan semua rasa kebencian dan sakit hatinya.
Melihat orang yang selama ini dia dambakan dan rindukan serta cintai mati, dia pun hanya bisa meratapi dan menangis sejadi jadinya.
__ADS_1
"Mengapa kamu menjadi tameng diriku May? Mengapa kamu membiarkan dirimu di tembak Jafar dan menolongku, kenapaaaa?!!" teriak Gavlin menangis sejadi jadinya.
"Kenapa gak kamu biarkan saja aku tertembak May, dengan begitu, kamu tetap hiduuup !!" ujar Gavlin menangis sambil memeluki tubuh Maya yang sudah terbujur kaku.
Kesedihan muncul dalam jiwa Gavlin, dia yang seorang psikopat, yang biasanya tidak punya rasa kasihan, maupun sedih, dan dianggap raja tega, tak berdaya dihadapan wanita yang dicintainya.
Jiwa psikopatnya tenggelam, berganti dengan jiwa lemah penuh kesedihan, meratapi kematian Maya, wanita yang sangat dia cintai.
---
Di teras rumah bilik kayunya, tampak Indri duduk tercenung, matanya sesekali melihat ke arah jalan, dia tampak resah dan gelisah, karena Gavlin belum juga kembali kerumahnya.
Sarono keluar dari dalam rumahnya, dia melihat Indri duduk di pinggir teras dan tercenung diam. Sarono lantas mendekatinya. Sarono lalu duduk disamping Indri.
Indri kaget, dia tersadar dari lamunannya, melihat Bapaknya duduk disampingnya.
"Eh, Bapak." sapa Indri.
"Kamu ngapain ngelamun disini?" tanya Sarono.
"Gak apa apa, Pak. Indri mau ngadem aja." ujar Indri, tersenyum lembut.
"Nungguin Gavlin ya? Hayo ngaku?" goda Sarono.
"Iih, Nggaklah Pak. " ujar Indri.
Wajahnya berubah merah merona, dia malu karena di goda Bapaknya, yang tahu, kalau dia memang sedang menunggu Gavlin.
"Iya, sih Pak." Ujar Indri.
"Tapi, Pak. Kok Perasaan Indri aneh ya, kayak ngerasa gimana gitu , pas Indri ingat Gavlin." ujar Indri.
"Aneh gimana?" tanya Sarono heran.
"Indri juga gak tau, Pak. Tapi, kalo ingat Gavlin, Indri kok mau nangis gitu Pak. Gak tau kenapa, tiba tiba aja Indri ngerasa sedih dan mau nangis. Kenapa ya Pak?" tanya Indri, dengan wajah polos dan bingungnya.
"Entah, Bapak gak tau, mungkin karena kamu ada hati dan perasaan suka sama Gavlin." goda Bapaknya.
"Iih, Bapak, malah ngajak becanda, Indri serius Pak." ujar Indri.
"Bapak kan tau, Indri punya firasat yang kuat, ingat gak dulu, waktu Mama mau meninggal? Sebelumnya kan Indri punya firasat yang gak baik tentang Mama, dan akhirnya, firasat Indri benar." jelas Indri serius.
"Iya, Bapak ingat.." Angguk Sarono, tersenyum lembut.
"Firasat Indri gak enak, Pak. Kayaknya Gavlin lagi mendapat masalah diluar sana, yang membuatnya sedih." ungkap Indri.
"Gak usah mikir yang negatif, dan gak usah juga terlalu mencemaskan Gavlin. Bapak yakin, Gavlin bisa menjaga dirinya sendiri." ujar Sarono, mengingatkan Indri.
"Iya, Pak." Angguk Indri.
"Ya, sudah, Bapak ke dalam lagi, udaranya dingin, anginnya kencang." ujar Sarono.
"Iya, Pak." ujar Indri.
__ADS_1
Sarono lantas berdiri, sebelum dia beranjak pergi, Sarono melihat Indri yang masih duduk di pinggir teras.
"Kamu jangan lama lama disini, ntar kena angin duduk, anginnya kencang, gak sehat lama lama diluar angin anginan." jelas Sarono.
"Iya, Pak. Sebentar lagi Indri masuk ke dalam kok." ujar Indri, tersenyum lembut menatap wajah Sarono. Sarono lantas pergi meninggalkan Indri sendirian duduk dipinggir teras rumahnya.
Mata Indri melihat kejalan lagi, dia berharap Gavlin muncul, namun, di jalanan tak ada siapa siapa, Indri kecewa, dia lantas menghela nafasnya, lalu, dia pun beranjak dari tempat duduknya, lantas, dia berjalan masuk ke dalam rumahnya.
---
Di kebun belakang rumah Gatot, Gavlin sedang menguburkan Maya, dia menggali dua lubang di kebun itu. Satu untuk Maya, dan satunya untuk Gatot.
Ya, Gavlin tahu, jika Gatot juga mati terbunuh, saat dia mengangkat tubuh Maya dan hendak dikuburkannya di kebun belakang rumah Gatot, dia lebih dulu melihat kondisi Gatot, setelah dia memastikan, bahwa Gatot sudah mati, dia lantas membawa mayat Maya ke belakang rumah, lalu, setelah itu, dia juga membawa mayat Gatot.
Sementara, mayat Jafar dibiarkannya tergeletak dihalaman rumah, dia punya rencana lain untuk mayatnya Jafar, karena itu dia tak menguburkan mayatnya.
Gavlin selesai menguburkan mayat Maya dan juga mayat Gatot, dia menancapkan sebuah kayu, di atas tanah makam Maya dan juga Gatot.
Gavlin berdiri sesaat, dia memandangi gundukan tanah makam Maya dan Gatot secara bergantian, wajahnya tampak masih menyimpan duka yang mendalam, atas kematian Maya. Gavlin masih belum bisa menerima kematian Maya, walau pun dia sudah membunuh jafar, yang menembak Maya, namun dia belum puas.
Gavlin lantas meninggalkan makam Maya dan Gatot, dia masuk ke dalam rumah Gatot, lalu bergegas berjalan cepat ke depan rumah.
Gavlin keluar dari dalam rumah Gatot, dia lantas menggotong tubuh Jafar yang sudah menjadi mayat, di bawanya mayat Jafar ke mobilnya, yang dia parkir di pinggir jalan, tak begitu jauh dari rumah Gatot.
Gavlin tiba di mobilnya, dia lantas melemparkan mayat Jafar sembarangan ke bagasi mobil pick upnya. Lalu, dia bergegas masuk ke dalam mobil.
Sesaat kemudian, mobil pun mulai berjalan, dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Gavlin menyetir mobil dengan wajahnya yang tegang dan masih menyimpan amarah serta duka mendalam.
---
Malam harinya, Indri semakin gelisah, karena Gavlin belum juga pulang, sementara hari semakin malam, dia berdiri di jendela rumahnya, dan mengintip keluar rumahnya, menunggu Gavlin.
Sarono berdiri di dekatnya, dia tersenyum melihat tingkah Indri yang gelisah menunggu Gavlin, Sarono paham, kalau anaknya resah dan sedang menanti kedatangan Gavlin, dia tahu, anaknya punya perasaan suka pada Gavlin, namun dia tutupi, karena mungkin merasa malu, karena dia wanita.
Sarono lantas pergi, dia membiarkan Indri yang masih berdiri resah di depan jendela menunggu pulangnya Gavlin.
"Iiih...kenapa dia belum pulang juga sih?" Gumam Indri jengkel.
Indri lantas berjalan dan duduk di sofa, wajahnya tampak jengkel menunggu Gavlin yang tak kunjung pulang juga kerumahnya.
Tiba tiba Indri tersadar, dia lantas menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Duuuuhhh...aku kenapa siih?? Kenapa aku jadi gelisah gini ? Gavlin itu kan bukan siapa siapa aku? Ngapain juga aku gelisah nungguin dia pulang?!!" Ujar Indri, bicara sendiri.
"Iiihhh...malu Indriii...maluuu..." ujarnya lagi, sambil menepuk nepuk pipinya pelan.
Indri tampak malu, karena dia tersadar, dan tak tahu, mengapa dia resah dan gelisah, karena Gavlin tak kunjung datang kerumahnya.
Indri tak tahu, apa yang dirasakannya saat ini dhatinya, dan dia juga bingung, mengapa dia gelisah terus karena Gavlin tidak di lihatnya dan belum pulang juga.
Indri mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lantas, dia beranjak dari duduknya, Indri lalu bergegas jalan dan masuk ke dalam kamarnya.
Indri masuk kedalam kamarnya, dan menutup pintu kamar, lalu, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, Indri mengambil bantal, lalu, menutup wajahnya dengan bantal, dia sepertinya malu pada dirinya sendiri, karena gelisah menunggu Gavlin, yang bukan siapa siapa dia.
__ADS_1