
Gavlin lantas menghela nafasnya, dia kemudian menatap tajam kembali wajah Malik.
"Lik, Kalo kamu bunuh Pria itu, terus Indri akhirnya tau setelah di selidiki polisi, bahwa kamu pelakunya, dan dia tau , kalo kamu teman baikku, pasti Indri akan berfikir, kalo aku yang menyuruhmu membunuh teman Pria nya itu!" ujar Gavlin mencoba memberi penjelasan pada Malik.
"Aku gak ingin Indri salah paham, lalu membenciku, karena kamu membunuh teman Prianya, Lik." Lanjut Gavlin.
"Tolong, jangan buat masalah baru untukku, Lik." tegas Gavlin, menatap lekat wajah Malik.
Malik lantas diam, dia menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya yang sempat marah dan kesal karena sikap Gavlin yang aneh itu.
"Ya, tapi aku minta padamu, kamu jangan bersikap aneh terus seperti ini, kalo kamu janji, aku gak akan membunuh teman Pria pacarmu itu." ucap Malik, menatap tajam wajah Gavlin yang berdiri di hadapannya.
"Ya." Jawab Gavlin datar.
"Jangan iya iya aja, tapi kamu tetap aja jadi galau, sedih ,gak bersemangat, Vlin. Ingat !! Kamu jauh jauh datang ke Prancis ini mau apa?!" ujar Malik, mencoba mengingatkan Gavlin.
"Maksud dan tujuanmu datang ke sini kan untuk balas dendam, Vlin? Mencari dan memburu musuh besarmu yang bernama Binsar!" lanjut Malik menjelaskan pada Gavlin.
"Tapi kok kamu malah berubah pikiran, dan jadi lebih mengurus masalah hatimu? Kamu terjebak dengan perasaanmu sendiri, sehingga gak bisa berfikir waras lagi, Vlin!" tegas Malik, menatap tajam wajah Gavlin.
"Ingat, Aku mau menemanimu, dan sudah menjalankan semua permintaanmu untuk mencari keberadaan si Binsar di negara ini, demi persahabatan kita Vlin, dan aku juga mau, kamu bisa membalaskan dendam orang tuamu!" ujar Malik, memberi pengertian pada Gavlin.
"Aku mohon, buang dulu perasaan galau, sedih , kecewa dan apapun juga yang ada di hatimu saat ini, Focuslah kepada tujuan awalmu!!" tegas Malik, menatap tajam wajah Gavlin yang hanya berdiri diam saja dihadapan Malik.
"Tolong, jangan habiskan waktumu dengan melamun dan larut dalam rasa galau dan kekecewaan terus, karena pacarmu sudah ada Pria lain di sisinya, Vlin." ujar Malik, menjelaskan dan memberi pengertian pada Gavlin.
"Aku akan tinggalkan kamu sendirian saat ini, dan aku berharap, besok, kamu sudah kembali seperti awal kita ketemu, gak seperti ini lagi." lanjut Malik, menyatakan pada Gavlin.
"Aku pergi, Vlin. Aku mau ke markasku dulu." jelas Malik.
"Ya." Jawab Gavlin dengan suara datar.
Malik menghela nafasnya, lalu dia berbalik badan dan segera keluar dari dalam kamar hotel tempat Gavlin menginap itu.
Gavlin lantas menghempaskan tubuhnya di sofa, wajahnya masih tampak sedih, dia diam dan tercenung.
Terlintas kembali dalam ingatannya, saat pertama kali dia bertemu dan berpapasan dengan Indri di depan lift lobby hotel.
"Aroma parfum yang kamu pakai, gak akan bisa ku lupakan, In. Kamu ingat dulu? Kalo aku bilang, aku sangat menyukai aroma parfummu, dan memintamu, agar jangan pernah mengganti jenis dan merk parfum yang kamu pakai." Gumam Gavlin, bicara sendiri dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Sudah hampir dua tahun kita berpisah, In. Dan saat kita bertemu lagi tanpa sengaja, kamu masih memakai parfum yang sama. Karena itu aku mengenalimu, selain aku gak akan bisa melupakan wajahmu, dan cara berjalanmu." ungkap Gavlin, lirih dan getir.
Gavlin lantas menghela nafasnya dengan berat, dia tersenyum getir mengingat Indri di kerumuni para wartawan dan wartawati.
"In, aku senang, mengetahui kamu sukses, aku senang, melihat kamu di kerumuni para wartawan yang ingin mewawancaraimu, aku bahagia melihatmu, akhirnya, kamu telah berhasil mewujudkan cita citamu selama ini." ucap Gavlin , bersungguh sungguh.
"In, membaca suratmu dulu saat aku kembali kerumahmu, Aku akan tetap menunggumu, dan aku yakin, kita akan bertemu lagi, dan benar, kita benar benar ketemu lagi." ucap Gavlin, dengan tulus dan sepenuh hatinya.
"Namun, pertemuan kita ini gak seperti yang aku bayangkan selama ini." ujar Gavlin, lirih dan getir.
"Kamu ternyata gak menepati janjimu sendiri yang bilang akan tetap menungguku, kamu malah sudah punya pria lain sebagai pengganti diriku." lanjut Gavlin, bicara sendiri.
"Mengapa kamu berpaling dariku dan gak menunggu aku datang mencarimu, In?" ucap Gavlin bersedih hati.
"Apa karena kamu merasa lama menungguku? Atau, apa kamu berfikir, bahwa aku telah mati? Sehingga kamu memberikan hatimu kepada Pria lain dan melupakan aku?" ungkap Gavlin, dengan perasaan yang sangat perih dan sedih.
"In. Jika dia memang kekasihmu, berbahagialah bersamanya." ucap Gavlin, bersungguh sungguh dan dengan ketulusan hati.
Gavlin menghela nafasnya, dia lalu berdiri dari duduknya di sofa, lantas, dia melangkahkan kakinya ke tempat tidur berukuran besar yang ada dikamar itu.
Lalu, Gavlin merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan nyaman, kedua matanya menatap langit langit kamar, wajahnya masih terlihat sedikit gundah dan galau.
"Walau kamu sudah ada Pria lain, tapi aku akan tetap mencintaimu selamanya, dan cintaku padamu akan aku bawa sampai aku mati nanti." ungkap Gavlin, lirih dan getir.
Gavlin lantas menghela nafasnya, perlahan lahan, kedua matanya mulai menutup, dan Gavlin mencoba memejamkan matanya dan tidur, menghilangkan segala macam beban pikirannya.
Namun, Gavlin tak bisa juga tidur, dia gelisah, dirinya masih juga teringat pada Indri, seakan dia belum sepenuhnya bisa melepaskan Indri dan merelakan Indri pada Pria lain.
Karena cinta, Gavlin lemah, dia mudah goyah karena cintanya pada wanita, seperti saat ini, melihat orang yang di cintai dan ditunggu tunggunya, Gavlin langsung galau dan patah hati, dia malah jadi melupakan misinya datang ke Prancis untuk memburu Binsar.
Gavlin benar benar terjebak dalam perasaan cintanya, andai saja dia tak bertemu Indri di hotel tempatnya menginap, tentulah dia tak akan menjadi galau dan bersikap seperti sekarang ini.
Dan sikap aneh Gavlin itulah yang membuat Malik sempat kesal dan marah pada Gavlin.
Gavlin tiba tiba bangun dan duduk di atas kasurnya, dia lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"In, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa melupakan dan menghilang dari bayangan dan ingatanmu, In?!" Gumam Gavlin lirih dan getir.
Gavlin menghela nafasnya dengan berat, wajahnya terlihat semakin bersedih, dia terus mengingat Indri, tak bisa melupakannya begitu saja, walau dia sudah melihat langsung , kalau Indri sudah bersama Pria lain, namun , rasa cintanya pada Indri masih tetap ada didalam hati dan jiwanya, dan tak akan hilang.
__ADS_1
---
Keesokan harinya, terlihat Indri , dengan di dampingi Pria bertubuh kekar sedang menggelar jumpa pers, para reporter, wartawan dan wartawati ramai berkumpul di ruang pertemuan hotel yang sengaja disewa untuk menggelar acara jumpa pers dan sesi tanya jawab tersebut.
Malik hadir diantara para wartawan dan wartawati yang berebut ingin mendapatkan berita dan informasi dari Indri, seorang Desainer muda yang sangat terkenal dan sukses, karirnya langsung melejit cepat saat dia memenangkan kejuaraan lomba desainer pakaian pengantin satu setengah tahun yang lalu, setelah itu, karirnya terus menanjak naik, dan dia menjadi salah seorang desainer yang sangat disegani dan di hormati di Prancis, khususnya di kota Paris tersebut.
Indri terlihat tersenyum ramah menyambut para wartawan dan wartawati yang mewawancarainya, dan dia juga berusaha untuk menjawab ramah semua pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan para wartawan dan reporter, satu persatu pertanyaan di jawab Indri dengan lugas dan lancar.
Malik terus mengamati Indri yang memberi penjelasan pada para wartawan yang hadir. Malik lalu melihat pada Pria bertubuh kekar. Dia perhatikan, Pria itu selalu ada di sisi Indri, berdiri disampingnya, tak pernah sedikit pun Pria itu terlihat menjauh dari indri.
Malik juga mengamati Pria tersebut dengan seksama, dia melihat, kedua mata Pria bertubuh kekar itu liar mengamati sekitar ruangan dan memperhatikan para wartawan dan wartawati yang tengah menggelar sesi tanya jawab dengan Indri.
Malik memperhatikan, gelagat Pria itu lebih kepada seorang Pengawal Pribadi, dan bukan sebagai kekasih, Malik berfikir demikian, karena melihat sikap teman Pria Indri itu selalu terlihat waspada dan siaga berdiri disamping Indri yang tengah sibuk melayani pertanyaan pertanyaan dari para wartawan dan wartawati.
"Aku harus mencari tau, hubungan si Indri dengan Pria itu!" ujar Malik, bicara pelan pada dirinya sendiri.
Lalu, Malik terus mengamati indri, dia ikut mendengarkan penjelasan dan pernyataan Indri, Malik pun akhirnya tahu, bahwa kehadiran Indri di hotel tersebut, karena dia menginap dan akan menggelar pameran tunggal desainernya di salah satu gedung yang cukup terkenal di kota paris dan biasa menggelar acara fashion show dari desainer desainer terkenal internasional.
Dari pernyataan Indri yang menceritakan kisah awal mulanya dia berada di Paris dan sukses sebagai Desainer, Malik jadi tahu sedikitnya tentang diri Indri.
"Saya bisa sukses dan berhasil memenangkan kejuaraan lomba desain pakaian pengantin karena seseorang yang gak bisa saya lupakan sampai detik ini." ungkap Indri.
"Karena kebaikan dan dukungan Pria itu saya bisa menjadi seperti saat ini, dan, saya gak tau, dimana dia, apakah masih hidup, atau tidak." ujar Indri, dengan wajah sedihnya.
Malik terdiam mendengar pernyataan dan penjelasan Indri tersebut, dia berfikir keras, apakah yang dimaksud Indri adalah Gavlin?
Malik menjadi semakin penasaran saja pada pernyataan Indri tersebut,.
"Maaf, Apakah Pria itu bernama Gavlin?!" tanya Malik.
Tiba tiba Malik menyeruak maju kedepan, menerobos para wartawan, dan bertanya pada Indri. Mendengar pertanyaan Malik, Indri tersentak kaget, lalu cepat menoleh pada Malik yang bertanya.
"Saya tanya, apakah orang yang anda maksud adalah Gavlin? Pacar anda yang sudah terpisah beberapa tahun ini?!" tanya Malik lagi pada Indri.
"Ya, Pria itu Gavlin, dia kekasih hatiku, dan sekarang, kami terpisah, saya gak tau dimana dia." jawab Indri.
Bibir Indri bergetar saat menyebut nama 'Gavlin' , ada getar kerinduan yang sangat mendalam di hatinya, dia tiba tiba ingat akan Gavlin, Indri juga heran, kenapa Malik bisa tahu, kalau Pria yang dimaksud Indri memang Gavlin.
Indri hendak bertanya pada Malik dari mana dia tahu tentang Gavlin, namun, dia sudah tak melihat Malik lagi ditempatnya tadi saat memberi pertanyaan padanya.
__ADS_1
Indri heran mencari cari ke seluruh ruangan pertemuan itu, namun Malik tak ada, dia sudah menghilang dari kerumunan para wartawan dan wartawati, pergi dari ruang pertemuan tersebut, karena dirinya sudah mendapatkan jawaban semuanya dari Indri tadi. Dan dia ingin memberitahukannya pada Gavlin, setidaknya, agar Gavlin tenang, karena Indri masih mengingat dirinya.