
Yanto berjalan gontai menyusuri ruangan didalam rumahnya yang keseluruhannya dalam keadaan gelap.
Dia sengaja dan terbiasa berada di ruang gelap, tidak menyukai rumahnya terang benderang.
Dalam keadaan gelap dia bisa menikmati suasana, mendapatkan kenyamanan dan ketenangan.
Yanto sedang berjalan masuk ke ruang kamar, melangkah mendekati papan tulis besar yang berisi photo orang orang yang akan di burunya.
Yanto menempelkan sebuah gambar hitam putih wajah sosok orang, gambar itu berwarna hitam, tanpa ada mata, mulut, hidung, atau pun rambut.
Dia membuat sebuah tanda tanya dengan spidol merah di atas photo sosok orang yang masih misterius.
Di bawah photo dia menulis, "Sutoyo", dia menamakan photo itu, karena belum mengetahui sosok wajah Sutoyo sebenarnya.
Dia membuat tanda tanya, dia bertekat untuk segera mencari orang yang bernama Sutoyo itu, dia menghela nafasnya.
"Dimana kamu bersembunyi Sutoyo?" Ujarnya pada photo yang tak berwujud wajah orang tsb.
Raut wajahnya menyimpan dendam yang begitu besarnya pada Sutoyo.
Di hari lainnya, tampak Bramantio marah, dia merobek kertas yang berisi tentang tagihan dari pihak bank, agar dia segera melunasi hutang hutangnya.
"Satu satunya jalan, bapak harus menjual salah satu aset perusahaan." Ujar Surya.
"Maksud kamu?" Tanya Bramantio.
"Melepaskan saham yang bapak miliki, agar bisa melunasi hutang hutang bank, dan mengajukan pinjaman lagi." Ujar Surya.
Bramantio terlihat marah, dia pusing memikirkan kondisi keuangannya yang jadi kacau sejak Wijaya memgambil alih proyek dan para investor perusahaannya.
Sehingga pembangunan yang sedang dikerjakannya menjadi terbengkalai karena kekurangan modal. Wajah Bramantio geram.
"Kamu atur pertemuan dengan para pemegang saham perusahaan, Saya akan menyampaikan dalam rapat." Ujar Bramantio.
"Saya akan menjual saham salah satu anak perusahaan kepada salah seorang diantara mereka yang mau membeli sahamnya." Ujar Bramantio.
Tidak ada jalan lain baginya, solusi satu satunya dia harus rela kehilangan satu anak perusahaan miliknya, daripada hancur seluruhnya.
"Sampaikan juga pada Mike, agar dia segera melepaskan anak perusahaan Galileo yang dipegangnya."
"Baik Pak, akan saya kerjakan." Ujar Surya.
Surya lalu pamit memberi hormat, lantas pergi keluar dari ruang kantor Bramantio.
Bramantio menggebrak meja dengan tangannya, melampiaskan amarahnya.
Bramantio lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, dia menelpon.
"Siapkan mobil, saya mau pergi." Ujar Bramantio pada Gavlin yang dia telepon.
Lalu Bramantio memasukkan ponselnya ke dalam kantong jasnya, segera berdiri dan beranjak dari duduknya, melangkah cepat keluar dari dalam ruang kantornya.
Gavlin sudah menunggu di halaman gedung perkantoran Bramantio yang menjulang tinggi dan megah.
Bramantio keluar dari dalam gedung, berjalan mendekati Gavlin yang sudah menunggunya, berdiri di samping mobil sedan mewah milik Bramantio.
Begitu Bramantio mendekat, dengan cepat Gavlin membuka pintu belakang mobil.
Dengan langkah cepat dan wajah menahan amarah Bramantio masuk ke dalam mobil lalu duduk di jok belakang.
Gavlin menutup kembali pintu belakang mobil, dia segera berjalan dan masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobilnya.
Dari kaca spion depan mobil Gavlin melirik pada Bramantio yang terlihat duduk dengan wajah menyimpan amarah.
"Kita mau kemana pak ?" Tanya Gavlin pada Bramantio.
"Jalan saja, nanti saya yang arahkan kemana tujuannya !" Ujar Bramantio dengan nada keras pada Gavlin yang mengangguk.
Gavlin lantas menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan gedung perkantoran Bramantio.
Di jalan raya, sepanjang perjalanan, Bramantio diam masih menyimpan amarahnya.
Sesekali Gavlin meliriknya dari kaca spion depan mobil, dia tahu, ada sesuatu yang terjadi dan sedang di fikirkan bosnya itu.
Karena dia melihat raut wajah Bramantio begitu terlihat tegang menahan amarahnya.
Mobil yang di setir Gavlin terus melaju di jalanan, dia mengendarai mobil mengikuti petunjuk Bramantio yang mengarahkannya ke tempat tujuan.
Di lokasi tanah kosong yang luas, terlihat Wijaya sedang mengamati para pekerja yang sedang mengerjakan pembangunan proyeknya.
Dia terlihat kagum dengan hasilnya, kerangka bangunan yang di lihatnya begitu kokoh, wajahnya terlihat senang.
Di sisi lain, sebuah mobil berhenti, dari dalam mobil, keluar Bramantio lalu berjalan cepat.
Gavlin kaget melihat sikap Bramantio yang tidak menunggunya membukakan pintu untuknya.
Segera Gavlin mematikan mesin mobil dan keluar dari dalam mobil, dia berjalan mengikuti dan menyusul Bramantio yang sudah berjalan cepat penuh amarah itu.
Mata Gavlin memperhatikan seluruh area tanah kosong yang luas, dia juga melihat kerangka bangunan berdiri dengan kondisi 15 persen sudah jadi.
Bramantio yang berjalan cepat melangkah mendekati Wijaya yang berdiri memandangi bangunan yang belum jadi.
Bramantio segera meraih kerah baju Wijaya, menatapnya tajam, Wijaya kaget melihat kedatangan Bramantio kelokasi pembangunannya secara tiba tiba.
"Kurang ajar kamu Wijaya ! Kamu sengaja melakukan semuanya untuk menghancurkan aku ?!" Ujar Bramantio marah.
Wijaya terlihat marah dan menepiskan tangan Bramantio yang mencekal kerah bajunya.
Tangan Bramantio terlepas dari kerah baju Wijaya, Wijaya merapikan pakaian, tersenyum sinis menatap Bramantio yang terlihat begitu marah.
"Kenapa kamu tiba tiba datang merengek padaku Bram ?" Ujar Wijaya dengan sikap santai dan cueknya.
Dia tersenyum sinis menatap Bramantio, Gavlin hanya berdiri di belakang Bramantio, diam tak bereaksi, dia hanya memperhatikan kedua orang itu sedang ribut.
"Ingat Wijaya, aku akan membalas semua perbuatanmu ! Aku akan menghancurkanmu, aku akan membuatmu kehilangan semua aset asetmu !" Bentak Bramantio.
Bramantio melampiaskan amarahnya pada wijaya. Wijaya tersenyum sinis, dia santai menghadapi Bramantio.
__ADS_1
"Kamu kira aku takut dengan ancamanmu Bramantio ?" Ujar Wijaya sinis.
"Kamu lupa, aku tahu semua rahasiamu ?" Ujar wijaya sinis pada Bramantio yang menatap wajahnya dengan sorot mata tajam penuh amarah.
"Kamu lupa dengan yang terjadi di bar karaoke dulu ? Kamu lupa bagaimana adikmu Jafar memaksa pemandu lagu untuk melayani ***** bejatnya?" Bentak Wijaya.
"Kamu lupa, karena pemandu lagu menolaknya, Jafar mengamuk lalu memperkosa dan menikam tubuhnya tepat di depan mata aku dan kamu?" Ujar Wijaya lagi.
Bramantio terdiam mendengar semua perkataan Wijaya padanya itu.
"Hati hati Bram, aku bisa saja membongkar rahasiamu, dan memberi tahu polisi kejadian sebenarnya!" Ancam Wijaya.
"Apa maksudmu?!" Bentak Bramantio.
"Akan ku bilang, kalo Jafar, adikmu yang membunuh dan memperkosa pemandu lagu di bar karaoke 18 tahun lalu, dan kamu menutupi kasusnya." Ujar Wijaya.
Wijaya menatap sinis Bramantio yang terdiam, tampak wajah Bramantio menahan geramnya.
"Tapi kamu juga terlibat Wijaya!" Bentak Bramantio.
"Kamu yang memberikan ide gila pada adikku, kamu yang menyuruh agar Jafar mengejar wanita itu yang melarikan diri dengan tubuh terluka." Ujar Bramantio marah.
"Kamu jangan pura pura Wijaya, kamu juga ada di lokasi, karena kamu yang menghubungi Jafar saat dia dan Sumantri mengejar wanita itu." Bentak Bramantio.
"Kamu bersembunyi dan sengaja mengirimkan pesan, menyuruh Jafar untuk menjebak laki laki yang menemui wanita itu." Ujar Bramantio.
"Karena ide gilamu, Jafar membuat video dan memfitnah laki laki itu sebagai pelaku pembunuhan dan pemerkosaan!" Ujar Bramantio.
Bramantio membuka semua rahasia yang 18 tahun mereka simpan selama ini.
Mendengar semua itu, Gavlin terhenyak kaget, dia tak percaya, dirinya mendengarkan langsung kejadian yang menimpa bapaknya dari mulut Bramantio dan Wijaya.
Gavlin diam diam mengepalkan jari jari tangannya dengan kuat, dia sangat geram.
Ingin saat itu juga dia menghajar Bramantio dan Wijaya, melampiaskan segala dendamnya.
Namun saat itu dia mengurungkan dirinya, karena melihat kedatangan Linda, anak Wijaya yang berjalan mendekat kearah mereka berdiri.
Bramantio mencekik leher Wijaya yang terlihat tersenyum sinis menatap dirinya.
"Coba saja Bram, siapa yang lebih dulu hancur, aku atau kamu ?" Ujar Wijaya.
"Biadab kamu Wijaya !" Bentak Bramantio.
Dia mengangkat tangan hendak memukul Wijaya yang tersenyum sinis dan bersikap tenang itu, Linda yang mendekat segera teriak.
"Hentikan !!" Teriak Linda lalu cepat berjalan mendekati papahnya.
Melihat kedatangan Linda, Bramantio melepaskan cengkraman tangannya dari leher Wijaya.
"Apa apaan ini Om ? Apa maksudnya? Apa Om masih menyimpan dendam karena aku menolak lamaran Om menikahi Mike?!" Ujar Linda.
Linda membentak dengan suara keras, Bramantio diam menatap tajam wajah Linda.
"Mikir Om ! Harusnya Om malu, Om gak bisa memaksakan kehendak om sesuka hati !" Linda meluapkan marahnya.
"Diam kamu ! Kamu jangan ikut campur ! Kamu gak tau apa apa !" Ujar Bramantio membentak Linda.
"Kenapa aku gak boleh ikut campur? Urusan papah akan menjadi urusanku juga, begitu sebaliknya !" Ujar Linda.
"Oh, aku tahu, Om marah sama papah karena tiba tiba semua investor Om bergabung dengan papah." Ujar Linda.
"Karena mereka berbalik memberikan modal dan berinvestasi di perusahaan papah?" Ujar Linda tersenyum sinis.
"Aduh Om, Om kan orang bisnis, harusnya paham dengan semua ini." Ujar Linda sinis.
Bramantio menatap wajah Linda dengan tatapan tajam, dia terlihat geram menahan luapan emosi marahnya pada Linda yang menyepelekan dirinya.
"Oh ya, satu hal lagi, soal perusahaan papah yang berhasil memenangkan tender, itu semua ideku." Ujar Linda Sinis.
"Aku yang melobby semuanya hingga perusahaan kami yang mendapatkan proyek itu." Ujar Linda.
"Apa Om tersinggung? Tidak terima dengan kegagalan dan kekalahan Om ?" Tanya Linda. Bram diam.
"Ayolah Om, dalam bisnis itu biasa, kalah tender hal biasa, itu artinya, perusahaan kami lebih baik daripada perusahaan om yang bobrok !" Sindir Linda sinis.
"Kalian hanya orang orang bobrok yang selalu melakukan segala cara, berbuat licik untuk mendapatkan proyek !" Hina Linda.
"Aku tahu semua permainan licik bisnis kalian dari Mike !" Ujar Linda dengan mata yang melotot menatap tajam Bramantio.
"Sudah, sudah Lin, tidak perlu lagi menanggapi dia, lebih baik kita tinggalkan dia." Ujar Wijaya pada anaknya.
Wijaya yang dari tadi diam dan tersenyum sinis menatap Bramantio, mengajak Linda agar pergi meninggalkan Bramantio.
Bramantio semakin marah, dia tersinggung dengan semua ucapan Linda tentang dirinya dan Mike, anaknya.
Linda menolak ajakan papahnya, dia masih marah pada Bramantio, dia belum puas melampiaskan uneg unegnya.
"Tunggu Pah, ada yang masih ingin ku bilang sama dia !" Ujar Linda menyebut Bramantio dengan sebutan "Dia".
Hal itu membuat Bramantio geram atas kekurang ajaran Linda padanya.
"Dengar ya Om ! Ini akibatnya, karena Om telah menghina dan merendahkanku saat itu!" Bentak Linda.
"Begitu Om menyinggung perasaanku, maka saat itu juga aku tidak akan pernah melupakannya." Linda marah.
"Aku membalas dengan cara lain atas ucapan Om padaku saat itu !" Ujar Linda.
"Dan caraku, dengan jalan mengambil semua proyek proyek dari perusahaan Om!" Ujar Linda tersenyum sinis.
"Satu lagi Om, ada baiknya Om cek siapa nanti yang akan membeli saham anak perusahaan yang bernama Galileo milik om itu." Linda tersenyum sinis.
"Aku sudah mendengar rencana om menjual saham perusahaan Galileo itu!" Ujar Linda mengejek sinis Bramantio.
Bramantio terhenyak kaget, karena begitu cepat tersebar rencana dia menjual saham perusahaan Galileo miliknya.
Bramantio tidak bisa lagi menahan kesabarannya, rasa amarahnya sudah memuncak dan berada di ubun ubun kepalanya.
__ADS_1
Dengan cepat dia menggerakkan tangannya, hendak memukul Linda yang di nilainya sudah lancang pada dirinya.
"Lancang kamu !!" Ujar Bramantio geram pada Linda.
Saat tangan Bramantio bergerak ke arah wajah Linda hendak menamparnya.
Dengan gerak cepat, Gavlin yang dari tadi hanya diam berdiri dibelakang Bramantio segera menangkap tangan Bramantio.
Gavlin mencegahnya agar tidak menampar dan memukul Linda.
Linda melirik pada Gavlin, dia tersenyum pada Gavlin yang ada di lokasi itu.
Bramantio terlihat marah karena Gavlin memegang tangannya, menghalangi dia memukul Linda.
"Lepaskan tanganku !" Ujar Bramantio marah pada Gavlin.
"Tidak pak, saya tidak akan membiarkan bapak melakukan hal tercela itu ." Ujar Gavlin pada Bramantio.
"Lancang kamu ! Berani kamu membangkang dan menghalangiku?!" Bentak Bramantio pada Gavlin yang bersikap tenang.
Wijaya merangkul tubuh Linda, Linda tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak takut dengan Bramantio.
Apalagi ada Gavlin, dia merasa dirinya aman, karena Gavlin pasti membelanya.
"Maaf Pak, tidak baik bapak memukul seorang wanita, apalagi ditempat umum seperti ini." Ujar Gavlin.
"Banyak orang yang menyaksikan, dan itu bisa mempersulit bapak nantinya." Ujar Gavlin mencoba memberi penjelasan agar Bramantio tenang.
Namun Bramantio semakin marah, dia hentakan tangannya, hingga tangan Gavlin terlepas.
Dengan cepat dia berbalik dan menatap wajah Gavlin, lalu memukul wajah Gavlin sekuat kuatnya, melampiaskan emosi amarahnya pada Gavlin.
"Berani beraninya kamu ceramahi aku ! Cuma supir mau sok jadi bijak dan pahlawan !" Ujar Bramantio memukul Gavlin.
Gavlin menerima pukulan keras Bramantio, dia tidak bergeming sedikitpun.
Gavlin tetap berdiri di tempatnya, Linda kaget melihat Gavlin di pukul.
Saat hendak mencegah Bramantio agar tidak memukul Gavlin, Wijaya menahannya, memberi isyarat agar Linda tidak ikut campur antara Gavlin dan Bramantio.
"Silahkan bapak lampiaskan emosi bapak pada saya, asal jangan memukul seorang wanita." Ujar Gavlin berdiri menatap wajah Bramantio yang sangat marah itu.
"Bangsaaat !! Lancang kamu !! Mulai hari ini juga kamu aku pecaaat !!" Teriak Bramantio.
Bramantio mengamuk marah pada Gavlin yang tetap dengan sikap tenangnya menanggapi perkataan Bramantio.
Linda terhenyak mendengarnya, ada rasa bersalah pada dirinya karena dirinya Gavlin jadi kehilangan pekerjaannya.
Gavlin dengan sikap tenangnya merogoh kantong celananya, dia mengambil kunci mobil, lalu menyerahkan kunci mobil ditangannya pada Bramantio.
Melihat kunci mobil ditangan Gavlin, segera Bramantio mengambil kunci mobil itu.
"Saya serahkan mobil pada bapak, terima kasih selama ini sudah menerima saya dengan baik sebagai supir keluarga bapak." Ujar Gavlin.
Gavlin lalu tersenyum pada Bramantio yang meludah jijik padanya.
Gavlin melirik ludah Bramantio yang jatuh ke tanah, dekat disamping dia berdiri.
Gavlin tersenyum menatap Bramantio, sekilas dia melirik Linda.
Lalu mata gavlin menatap Wijaya sesaat, kemudian berbalik, melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga.
Linda hendak mengejar Gavlin, namun di cegah Wijaya, menggelengkan kepalanya.
"Biarkan dia." Ujar Wijaya.
"Tapi pah..." Ujar Linda , suaranya memelas, dia merasa bersalah, melihat ke arah Gavlin yang berjalan sudah menjauh.
Bramantio berbalik dan menatap wajah Wijaya , lalu matanya tertuju pada Linda.
"Aku akan membalas semua penghinaanmu, dan Ingat Wijaya ! Tunggu saja, tidak akan lama lagi, kamu akan hancur !!" Ujar Bramantio geram.
"Silahkan Bram, aku tunggu waktunya !" Ujar Wijaya santai dengan senyum sinisnya pada Bramantio.
"Ya, liat saja nanti, kamu bakal mendekam di penjara karena keterlibatanmu dulu !" Bentak Bramantio .
" Aku akan membuat kejaksaan beserta kepolisian untuk memasukkanmu ke penjara !" Ancam Bramantio.
Bramantio menatap tajam wajah Wijaya yang masih dengan sikap santainya.
Linda kaget mendengar perkataan Bramantio, dia tidak paham dengan semua yang dimaksud Bramantio yang ingin memasukkan papahnya ke penjara. Linda melirik Wijaya.
"Tenang aja, papah gak apa." Bisik Wijaya ditelinga Linda yang berdiri disampingnya.
Bramantio lalu segera berbalik, pergi meninggalkan Wijaya dan Linda yang melihatnya masuk kedalam mobilnya.
Bramantio menjalankan mobilnya dengan ngebut, menyetir mobil sendiri.
Bramantio pergi meninggalkan lokasi dengan membawa sejuta amarah dalam dirinya.
"Kamu kenal dengan supir Bram tadi?" Tanya Wijaya setelah kepergian Bramantio.
"Kenal Pah, dia pacarku." Ujar Linda mengangguk dan berterus terang pada papahnya.
"Pacar ?" Tanya Wijaya lagi, dia kaget mendengarnya, Wijaya menatap wajah Linda yang mengangguk tersenyum.
"Iya, aku serius dengannya, biar dia cuma supir, tapi aku cinta." Ujar Linda tersenyum.
"Dia lebih baik dari pria manapun, apalagi jika dibandingkan dengan Mike , jauh paah." Ujar Linda pada Wijaya yang mengangguk paham.
"Pantesan kamu keliatan cemas saat dia di pecat, dia juga gak pake mikir membela kamu dengan menahan Bramantio yang mau memukulmu." Ujar Wijaya.
Linda mengangguk tersenyum, dia senang karena Gavlin membela dirinya yang ingin di pukul Bramantio.
Rasa cinta semakin besar tumbuh dalam jiwa Linda melihat Gavlin yang telah menunjukkan bahwa dia sosok pria sejati.
Sementara itu Wijaya terdiam, ada sesuatu yang dia fikirkan, dia melirik wajah Linda yang terlihat sedang tersenyum senang itu.
__ADS_1